1

Mahasiswa Kuning


“Teman-teman, sebelum kita pergi, mari kita berdoa dulu. Semoga apa yang kita lakukan dapat menjadi social pressure untuk pemerintah! Semoga gak ada lagi anak yang putus sekolah gara-gara gak punya uang! Semoga Indonesia bisa menjadi Negara berpendidikan! Yak, berdoa dipersilakan!”

Sesaat suasana hening.

“Oke, berdoa dipersilakan selesai”, Prisma, sang komandan lapangan sekaligus orator mencukupkan doanya.

Hari ini kami, para mahasiswa sebuah perguruan tinggi, akan memperjuangkan suara kami di depan gedung DPR. Ini aksi kami yang kedua kalinya, sejak aksi pertama di gedung sate. Suara apa yang ingin kami bawa? Anti RUU BHP. Ya! Calon undang-undang baru, yang menurut kami, akan merampas kesempatan belajar warga miskin di Indonesia.

Kami pergi ke Jakarta dengan menyewa sebuah bis. Tas ransel besarku kulemparkan ke kursi belakang, dan aku pun duduk di sebelah sang danlap.

“Kok sepi banget yah?”

“Pada ijin mendadak. Ada yang lagi kuis, ada yang nganterin adeknya, trus si Indra tadi sakit perut katanya”, Prisma melihat berkeliling.

Bis dengan kapasitas lima puluh orang, yang kami pesan, hanya terisi setengahnya, itu pun setengah dari setengah yang tadi, terisi oleh tas-tas ransel besar.

Kami berangkat pukul enam, di saat suhu Bandung masih mencapai tujuh belas derajat Celsius. Kutarik retsleting jaket jinsku sampai ke dagu, dan kupakai lagi jas almamaterku di luarnya. Kusenderkan bahuku di sandaran kursi, dan menengok ke samping. Prisma hanya diam menatap lurus ke depan, dengan pandangan yang tidak jelas maknanya. Entah sedih. Atau marah. Atau ketakutan.

Aku dan Prisma sudah saling mengenal sejak tingkat pertama kuliah. Kami pertama bertemu di salah satu divisi kepanitiaan Pemilu Presiden. Dahulu dia adalah mahasiswa lugu, yang belum mengenal kemahasiswaan. Sejak saat itu kami sering bersama di berbagai acara kemahasiswaan, kaderisasi mahasiswa baru, kajian, rapat, sampai aksi. Kami banyak belajar bersama. Kini, kami sudah ada di tingkat empat, dan dia telah banyak berubah, jauh lebih dewasa dan kritis. Semangatnya untuk memperjuangkan Indonesia banyak mempengaruhi kami. Makanya dia sering diberi tanggung jawab sebagai orator di perjuangan-perjuangan kami menyuarakan pendapat.

Dua jam kemudian, kami telah keluar dari pintu tol Jakarta. Keringat mulai membanjiri leher. Aku membuka jas almamater dan jaket jins bututku. Suhu udara di Jakarta panas, dan bertambah panas saja. Tak heran, banyak orang di Jakarta cepat naik emosinya. Senggol sedikit, langsung main pukul.

Seperempat jam berlalu, dan mulai terlihatlah gedung DPR yang berdiri dengan angkuhnya, memandangi sekeliling dengan congkak, seakan berkata, “Ayo coba lawan aku kalau kau bisa”.

Kami turun di sini, masih jauh dari gedung DPR berada. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kak. Beberapa orang yang kami temui, ketika puncak hijau gedung mulai terlihat, hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Di depan pagar hitam gedung DPR, terlihatlah lautan warna kuning cerah. Teman-teman seperjuangan telah menunggu kami. Sudah lama, kemahasiswaan kami tertidur. Oleh mahasiswa lain, kemahasiswaan kami dicap sudah kehilangan taringnya, tidak seperti mahasiswa kuning, yang selalu jadi barisan paling depan dalam perjuangan membela rakyat. Tapi, anggapan itu akan segera hilang. Kami akan segera bangun. Kami akan bangkit kembali!

Rusman, sang danlap dari para mahasiswa, sedang berorasi di atas sebuah mobil bak terbuka. Tangan kanannya memegang pengeras suara, sementara tangan kirinya menunjuk-nunjuk dengan tegas ke arah gedung angkuh itu. Mahasiswa-mahasiswa kuning lainnya sesekali meneriakkan “betul!” atau “wuuuu” mengomentari ucapannya.

Tiba saatnya Prisma untuk berorasi. Dia maju dengan langkah tegap menuju mobil bak. Ketika lewat di sampingku, ia berkata, “Pakai jas almamaternya, bos!” Dan aku pun kelabakan mencari jas itu di tasku. Ah, ia kutinggalkan di bis.

Hanya beberapa menit berselang sejak Prisma menyampaikan salam pembuka orasinya, tiba-tiba terdengar suara ribut di ujung kiri massa. “Gak bisa gitu dong, Pak. Gerobak saya ringsek nih.. Saya gak bisa jualan lagi. Anak saya udah nunggak bayaran sekolah tiga bulan!”, protes si bapak kurus berpakaian kaos kumal. Gerobak mie ayamnya terserempet oleh motor patroli polisi yang terburu-buru, ingin ikut andil dalam pengamanan aksi.

“Udah sana, minggir dulu!”, ujar si polisi kekar.
Mahasiswa kuning yang berada di sekitar situ kontan mengamuk melihat perilaku polisi tersebut. Beberapa orang menghadang si polisi, protes atas ulah aparat negara yang semena-mena. Tapi kemudian, sekelompok polisi lainnya mendatangi tempat itu dan mendorong-dorong mahasiswa-mahasiswa yang mengerubungi teman mereka. Kerusuhan pun bertambah besar. Eko, koordinator lapangan kami berteriak-teriak, “PERGI! PERGI! Jangan bikin rusuh!”

Aku terseret gelombang kuning yang bergerak menjauhi tempat kerusuhan. Terdengar letusan senjata. Beberapa mahasiswi berteriak histeris. Di tengah panasnya Jakarta ini, kemarahan satu orang dapat dilipatgandakan menjadi kerusuhan dalam sekejap.
Para penanggung jawab dari tiap kampus berteriak-teriak menyuruh tenang dan pergi secepat mungkin. Orang-orang di sekelilingku berlari, saling dorong. Mataku mulai kabur, berkunang-kunang. Eko menarikku menuju tempat bis kami tadi terparkir. Setelah aku dan Eko memasuki bis, aku melihat teman-teman yang lain sudah ada di dalam bis. Keringat mengalir deras di wajah mereka. Ketakutan tercetak dalam lekuk-lekuk wajah mereka.

“Mana Prisma???” aku teringat, Prisma masih ada di atas mobil bak ketika kerusuhan itu terjadi.

“Mana Prisma??????” yang lainnya bertanya.

“Sebentar, gue cari. Kalian tunggu aja di sini!”, perintah Eko. Lalu ia pun melepaskan jas almamaternya dan berlari kembali ke arah medan tempur.

Sudah lewat setengah jam, Eko belum juga kembali. Toni, adik kelasku di kemahasiswaan, sudah mulai tak sabar, “Ayo, kita susul aja!”

“Jangan, kan perintahnya tetap diam di sini!”

“Hei, itu Eko!”

Tapi Eko hanya datang sendiri sambil menunduk. “Ko, di mana Prisma??” Toni bertanya.
“Prisma sudah dijemput Tuhan. Dia kena peluru nyasar”. Kami terperanjat. Tiba-tiba hening. Tak berapa lama kemudian terdengar satu-dua isak tangis.

Beberapa tahun kemudian.

Aku masih dapat melihat dengan jelas gambaran peristiwa itu. Suasana hening, isak tangis, kemeja Prisma berlumuran darah, keranda yang ditutupi kain hijau, kuburannya yang ramai oleh teman-temanku, bahkan oleh banyak mahasiswa kuning.

Aku masih dapat mengingatnya sekarang. Tangisan teman-teman, kemarahanku, kekecewaanku, ketakutanku, penolakanku ketika diajak ikut aksi lagi. Ketakutanku akan kematian melarangku untuk ikut aksi lagi.

Namun kenapa baru sekarang aku menyadari, semua orang pasti akan menghadapi kematian? Yang berbeda adalah cara masing-masing menjemput kematian itu. Apakah ia dijemput ketika sedang memperjuangkan nasib bangsanya, berdiri dengan tegak, gagah berani. Ataukah ia dijemput dalam keadaan diam, terbaring, tak berdaya karena dimakan penyakit mematikan, seperti aku sekarang.

Cerpen ini dibuat sebagai hukuman atas keterlambatan menghadiri rapat. Cuma rekayasa belaka, piss (^^)v
Semoga bisa lebih disiplin

Advertisements