0

Mimpi KM ITB 2010/2011


Mahasiswa merupakan salah satu komunitas kampus yang memiliki karakteristik tersendiri. Keberadaannya di kampus tergabung dengan komponen masyarakat kampus lain, yaitu dosen dan karyawan, yang memiliki tugas dan peran tersendiri. Namun, mahasiswa adalah salah satu entitas perguruan tinggi yang mempunyai peran spesial. Mahasiswa adalah entitas utama yang dibina oleh sebuah perguruan tinggi.

Mahasiswa adalah bagian dari pemuda yang biasanya mereka mempunyai semangat yang tinggi dalam melakukan berbagai kegiatan. Pemuda juga mempunyai kegemaran untuk berkomunitas. Terlihat di kampus kita ini, banyak sekali komunitas yang ada. Dari komunitas berbentuk himpunan mahasiswa jurusan, unit kegiatan sesuai minat dan bakat, sampai pada kelompok-kelompok kecil yang hanya berlandaskan kesamaan saja. Adanya komunitas ini seharusnya membuat mahasiswa lebih produktif dengan apa yang ingin dicapainya. Adanya perbedaan komunitas ini juga seharusnya membuat kerjanya saling melengkapi satu sama lain. ITB sebagai perguruan tinggi unggulan, menjadi wajar bila mahasiswanya berasal dari berbagai daerah dengan sifat yang beragam juga. Dari minat, bakat, kebiasaan, dan sebagainya. ITB pun semakin berwarna.

Namun, masalah timbul saat perbedaan-perbedaan itu tidak dikolaborasikan hingga akhirnya menjadi sinergi. Banyak yang melihat bahwa komunitas mereka masing-masing sudah dapat mencapai tujuannya. Namun, mereka tidak sadar oleh tujuan yang menyatukan semua komunitas mahasiswa ITB tersebut. Menurut konsepsi KM ITB, tujuan organisasi kemahasiswaan ini adalah 1) menjadi wadah pengembangan diri mahasiswa untuk membentuk lapisan masyarakat masa depan yang profesional, intelek, humanis, dan religius. Untuk ini dibutuhkan pembukaan wahana yang seluas-luasnya bagi partisipasi-aktif anggota sehingga semua aktivitas kemahasiswaan merupakan proses pembelajaran dan pemberdayaan seluruh mahasiswa, 2) Mewujudkan karya nyata mahasiswa dalam perjuangan menata kehidupan bangsa. Untuk ini maka akar aktivitas mahasiswa, yaitu intelektualitas, kemandirian, dan kebenaran ilmiah harus benar-benar dijaga dalam roda gerak organisasi kemahasiswaan, dan 3) Menjadi wadah bagi upaya pemenuhan kebutuhan dasar mahasiswa yag meliputi pendidikan, kesejahteraan, dan aktualisasi diri.

Kenyataan yang ada saat ini harusnya memacu kita semua untuk terus bersatu dan berkolaborasi dalam pencapaian tujuan bersama itu. Namun sekarang, potensi besar yang kita miliki tidak terberdayakan dengan optimal. Mengapa hal ini terjadi? Kurangnya kepercayaan, baik antarelemen kemahasiswaan, maupun dari elemen yang ada di ITB kepada kemahasiswaan terpusat.

Berangkat dari kondisi yang demikian, sudah semestinyalah Kabinet KM ITB yang mendatang dapat mengembalikan kembali kepercayaan mahasiswa kepada fungsi kemahasiswaan terpusat, sebagai wadah pemersatu. Di sanalah awal momen mahasiswa dapat bersinergi untuk KM ITB yang lebih solid dan mapan.

Agar dapat meningkatkan semangat ber-KM ITB, mahasiswa (yang nota bene mengambil peran di lembaga atau kegiatan masing-masing) harus memiliki rasa kepemilikan yang kuat terhadap kemahasiswaan terpusat, serta kepercayaan kepada orang-orang yang bergelut di dalamnya. Hal ini dapat diwujudkan dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Memfasilitasi himpunan dan unit yang ada
  2. Manajemen isu di kalangan kampus
  3. Pemberdayaan unit dan himpunan

KM ITB terdiri atas kerajaan-kerajaan kecil bernama himpunan dan unit. Masing-masing di antaranya memiliki otonominya sendiri, tanpa pengaruh lembaga lain. Ketika Kabinet KM ITB ingin masuk ke dalamnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan memfasilitasi mereka, sesuai kebutuhan yang mereka harapkan. Setelah kepercayaan mulai tumbuh, perlu adanya upaya untuk merekrut partisipasi dari lembaga, yaitu dengan memberdayakan mereka sesuai kompetensi yang mereka miliki. Agar kepercayaan dan kontribusi bertahan lama, perlu adanya rekayasa sosial kampus yang baik. Rekayasa sosial dapat dibangun dengan manajemen isu yang baik.

Sambil membangun internal yang solid, Kabinet juga perlu melakukan gerakan eksternal, baik horisontal maupun vertikal. Tentunya semua arah gerak Kabinet (yang membawa nama KM ITB) harus dikaji mendalam dan disosialisasikan kepada seluruh elemen KM ITB. Tak lupa pula, ajaklah mereka untuk berkontribusi, agar rasa kepemilikan lebih besar.

Advertisements
1

Manusia Asal Ada


“Ni, lo udah ngerjain tugas blom? Nyamain jawaban dong!”

Aku pun mengeluarkan selembar kertas lusuh dari dalam saku jaket, “Nih.. Ntar tolong langsung kumpulin sekalian yak?”

“Iiih, tugas apaan kayak gini? Gak ada kertas lain apa? Tulisan juga udah kayak ceker ayam!”

“Yaelah, yang penting ngerjain. Udah ya, gue mau ke si Mira dulu”

*****

Adzan dzuhur sudah berkumandang dua jam yang lalu, aku masih sibuk dengan tugas makalahku.

“Haduuuh, lima belas menit ladi di-upload! Arghhhh! Komputernya nge-hang lagi!”

Tepat beberapa detik sebelum deadline pun aku mengumpulkan tugas. Setelah itu aku langsung meluncur menuju kamar mandi, berwudhu untuk shalat.

“Ni, shalat apa senam tuh? Cepet-cepet banget?”

“Yang penting udah shalat! Dari pada nggak sama sekali kan??”

*****

“Ani Rahmawati,lulus dengan IPK dua koma tiga satu”, jantungku masih berloncat-loncatan ketika turun dari podium. Ini bukan podium biasa, di sinilah tempat aku dan teman-temanku berganti gelar menjadi sarjana. Kulihat ayahku duduk terdiam di kursi tengah. Memang IPK-ku tidak bisa dibilang memuaskan, tapi yah, yang penting lulus!

*****

“Bu, aku lapar”, anak sulungku merengek-rengek di kakiku. Kusodorkan sebuah piring besi berisi nasi kemarin dan sebuah tempe. “Bu, aku gak mau makan ini!”.

“Sudah, yang penting ada makanan kan?!”

*****

0

ANJING


Pada suatu sore, langit cerah, bunga-bunga bermekaran, senja menyemburatkan warna jingga (aduh, lebay banget sih..)

Sang tokoh utama kita sedang duduk termenung di bawah pohon. Tiba-tiba lewatlah sekelompok anak muda yang baru saja pulang sekolah.

“Eh, gimana tadi ujian, bisa gak?”

“Anjing, susah banget soalnya! Gue paling Cuma bisa setengahnya.” (sang tokoh utama kita, yang merasa terpanggil pun menengok dengan takzimnya).

“Lo kemaren main aja sih, gak buka buku sama sekali..” (sang tokoh utama masih memandangi dua anak muda itu).

Setelah mereka pergi, dia pun kembali meletakkan dagu di atas tanah, bengong lagi. Tak beberapa lama kemudian, lewatlah segerombolan preman dengan wajah sangar dan tangan bertato.

“Anjrit, gue tadi ditegur polisi di lampu merah!”, kata preman dengan codet di pipi (sang tokoh utama kita terpesona, namanya dipanggil lagi, nama beken lagi!).

“Kasian amat sih lo! Gue tadi berhasil nodong ibu-ibu di gang sukun. Anjir uangnya bergepok-gepok, bro!”, kata preman dengan tato kuda nil di lengan (tokoh utama kita pun makin gembira, mendengar namanya disebut lagi).

Bunyi sirine memecahkan keheningan sore, pak polisi dengan motor patrolinya sedang berkeliling wilayah jajahan.

“Anjing, polisi! Ayo kabur!”. Kedua preman itu pun lari tunggang langgang, diikuti tatapan kagum tokoh utama yang sedang kege-eran (saking ngefansnya sama tokoh utama kita, namanya berkali-kali disebut).

Dari ujung jalan, terlihatlah dua orang anak kecil berjalan dengan riang. Tiba di bawah pohon, mereka terhenti.

“Ih, anjingnya lucu bangeeeet..”

“Iya, bawa pulang yuk…”

Mereka pun pulang dengan membawa pergi tokoh utama kita di pelukan (anak kecil aja bisa menggunakan kata anjing pada tempatnya).

0

1 November 2009


Tas ransel Doraemon yang kusandang berguncang-guncang ketika kuberlari. Rambut yang ikal, bergoyang-goyang di kepalaku, semakin mengusut. Deru jantungku memburu, seolah-olah jantung tersebut memiliki kaki dan ikut berlari bersamaku. Dan di ujung jalan itu, aku melihatnya. Apa yang dikatakan temannya ternyata benar. Sahabat sejak kecilku tengah menangis tersedu-sedu di hadapan dua orang anak SMP. Seorang di antara dua anak bertubuh bongsor sibuk merogoh-rogoh tas merahnya.

“Ditaro di mana uangnya?!?!”

“Mama bilang, aku nggak boleh bawa uang banyak-banyak ke sekolah Kak..”

“Heh, anak kecil! Mau gue pukul ya?”

Aku bingung bukan main. Apa yang harus Lia lakukan, ya Allah? Lia harus nolongin temen Lia.. Tapi lawannya gede-gede banget.

Aku bergerak maju, selangkah demi selangkah yang ragu-ragu. Selangkah lagi.. Selangkah lagi.. Aku menengok ke kanan dan kiri, mengharap datangnya pertolongan. Kemana Bapak tukang sapu yang biasanya duduk-duduk di sini? Mana sih kakak-kakak mahasiswa yang biasanya lewat di sini?

Aku masih melangkah. Selangkah lagi.. Selangkah lagi.. Menengok ke kanan. Lalu ke kiri. Tiba-tiba bayangan Mama berkelebat di depanku.

“Mama bilang juga apa? Jangan berantem lagi, Lia! Lihat nih akibatnya! Kamu tuh anak perempuan, Lia! Masih kelas 1 SD hobinya udah berantem…”, mama membersihkan luka dii pelipisku dengan wajah cemas.

“Lia cuma mau nolongin temen Lia, maaa”, seruku di antara isak tangis.

Kelebatan bayangan itu kemudian digantikan oleh bayangan lain.

“Li, hah.. hah.. si Ana hah.. hah.. lagi dipalak hah.. hah.. sama Kak Iwan. Hah.. hah.. Ada temennya juga!”, Romi, teman sekelasku terengah-engah menyampaikannya di depan pintu gerbang sekolah. Sepertinya ia berlari dari tempat kejadian sampai sekolah.

Aku yang baru tiba pun langsung berlari pergi ke tempat ini.

“Oi, Lia! Jangan sok jagoan deh! Ntar kalo kamu dipukulin gimana?”, teriak temanku yang lain.

Langkahku terhenti sejenak. Sakitnya luka di pelipisku tiba-tiba terasa menyengat lagi, padahal ia sudah sembuh dua bulan yang lalu. Aku takut membayangkan kalau Kak Iwan memukulku lagi. Aku takut membayangkan sakit seperti apa lagi yang akan kualami. Aku takut membayangkan ejekan teman-teman sekelas, “Sok jagoan sih!”. Aku takut membayangkan wajah mama yang cemas bercampur marah.

Tapi, ya Allah, Lia juga takut membayangkan jika Ana dipukuli kakak-kakak preman itu. Lia takut  mendengar tangis Ana. Lia takut melihat luka yang akan Ana peroleh.

Allah, bagaimana ini?

Aku kembali melangkah. Selangkah lagi.. Selangkah lagi.. Selangkah lagi.. Masih mengharap bala bantuan datang. Kusiapkan diriku agar tak terlihat takut, agar tak menangis. Tapi, bagaimana pun aku cuma anak kecil, gemetar di lututku tak sangggup kusembunyikan.

Ayo Lia, jangan takut, jangan nangis. Jangan gemetaran gitu! Gumam menyemangati-diri-sendiri-yang-tak-mempan.

Beberapa langkah lagi aku sudah akan berada di medan pertempuran. Teman Kak Iwan yang sedang mengeluarkan buku-buku dari tas merah melihat ke arahku. Kemudian ia menyenggol Kak Iwan yang mengepalkan tinju di depan ana. Kini mereka berdua melihat ke arahku, tersenyum menang.

Aku maju. Selangkah lagi.. Selangkah lagi.. Kutegakkan punggungku. Kudongakkan kepalaku. Tolonglah, air mata, jangan keluar dulu ya.. Nanti Lia bisa keki duluan..

“Mau apa lo? Mau gue pukul lagi? Sini, minta duit!”

“Nggak mau!”, aku berteriak sambil mengepalkan tinju juga. Haduh, pemandangan yang menyedihkan. Seorang gadis kecil, mengepalkan tinju ke arah anak-anak SMP berbadan bongsor.

Lari? Jangan lari? Pukul? Jangan pukul? Nangis? Jangan! Teriak? Lari? Jangan lari? Takut? Nangis? Jangan! Pukul? Mana bisa? Lari aja? Lari nggak ya? Nangis? Apa nangis aja ya? Lari? Pukul? Pukul aja deh!

“Hei, hei, kalian lagi ngapain? Iwan, kau mau palak anak orang lagi ya?”, seorang bapak setengah baya bergegas menghampiri kami. Aku mengenalinya sebagai Abang tukang becak yang sering mengantar mama ke pasar.

Ya, akhirnya penyelamat datang! Sekarang Lia bisa berdiri di tepi panggung pertempuran, sambil menyoraki Sang Penyelamat.

Ahad, 1 November 2009,

setelah pengumpulan berkas pendaftaran calon ketua Pemilu Raya KM ITB 2010.

Terima kasih kepada saudara-saudariku,

yang telah menyelamatkanku dari pertempuran berbahaya.