1 November 2009


Tas ransel Doraemon yang kusandang berguncang-guncang ketika kuberlari. Rambut yang ikal, bergoyang-goyang di kepalaku, semakin mengusut. Deru jantungku memburu, seolah-olah jantung tersebut memiliki kaki dan ikut berlari bersamaku. Dan di ujung jalan itu, aku melihatnya. Apa yang dikatakan temannya ternyata benar. Sahabat sejak kecilku tengah menangis tersedu-sedu di hadapan dua orang anak SMP. Seorang di antara dua anak bertubuh bongsor sibuk merogoh-rogoh tas merahnya.

“Ditaro di mana uangnya?!?!”

“Mama bilang, aku nggak boleh bawa uang banyak-banyak ke sekolah Kak..”

“Heh, anak kecil! Mau gue pukul ya?”

Aku bingung bukan main. Apa yang harus Lia lakukan, ya Allah? Lia harus nolongin temen Lia.. Tapi lawannya gede-gede banget.

Aku bergerak maju, selangkah demi selangkah yang ragu-ragu. Selangkah lagi.. Selangkah lagi.. Aku menengok ke kanan dan kiri, mengharap datangnya pertolongan. Kemana Bapak tukang sapu yang biasanya duduk-duduk di sini? Mana sih kakak-kakak mahasiswa yang biasanya lewat di sini?

Aku masih melangkah. Selangkah lagi.. Selangkah lagi.. Menengok ke kanan. Lalu ke kiri. Tiba-tiba bayangan Mama berkelebat di depanku.

“Mama bilang juga apa? Jangan berantem lagi, Lia! Lihat nih akibatnya! Kamu tuh anak perempuan, Lia! Masih kelas 1 SD hobinya udah berantem…”, mama membersihkan luka dii pelipisku dengan wajah cemas.

“Lia cuma mau nolongin temen Lia, maaa”, seruku di antara isak tangis.

Kelebatan bayangan itu kemudian digantikan oleh bayangan lain.

“Li, hah.. hah.. si Ana hah.. hah.. lagi dipalak hah.. hah.. sama Kak Iwan. Hah.. hah.. Ada temennya juga!”, Romi, teman sekelasku terengah-engah menyampaikannya di depan pintu gerbang sekolah. Sepertinya ia berlari dari tempat kejadian sampai sekolah.

Aku yang baru tiba pun langsung berlari pergi ke tempat ini.

“Oi, Lia! Jangan sok jagoan deh! Ntar kalo kamu dipukulin gimana?”, teriak temanku yang lain.

Langkahku terhenti sejenak. Sakitnya luka di pelipisku tiba-tiba terasa menyengat lagi, padahal ia sudah sembuh dua bulan yang lalu. Aku takut membayangkan kalau Kak Iwan memukulku lagi. Aku takut membayangkan sakit seperti apa lagi yang akan kualami. Aku takut membayangkan ejekan teman-teman sekelas, “Sok jagoan sih!”. Aku takut membayangkan wajah mama yang cemas bercampur marah.

Tapi, ya Allah, Lia juga takut membayangkan jika Ana dipukuli kakak-kakak preman itu. Lia takut  mendengar tangis Ana. Lia takut melihat luka yang akan Ana peroleh.

Allah, bagaimana ini?

Aku kembali melangkah. Selangkah lagi.. Selangkah lagi.. Selangkah lagi.. Masih mengharap bala bantuan datang. Kusiapkan diriku agar tak terlihat takut, agar tak menangis. Tapi, bagaimana pun aku cuma anak kecil, gemetar di lututku tak sangggup kusembunyikan.

Ayo Lia, jangan takut, jangan nangis. Jangan gemetaran gitu! Gumam menyemangati-diri-sendiri-yang-tak-mempan.

Beberapa langkah lagi aku sudah akan berada di medan pertempuran. Teman Kak Iwan yang sedang mengeluarkan buku-buku dari tas merah melihat ke arahku. Kemudian ia menyenggol Kak Iwan yang mengepalkan tinju di depan ana. Kini mereka berdua melihat ke arahku, tersenyum menang.

Aku maju. Selangkah lagi.. Selangkah lagi.. Kutegakkan punggungku. Kudongakkan kepalaku. Tolonglah, air mata, jangan keluar dulu ya.. Nanti Lia bisa keki duluan..

“Mau apa lo? Mau gue pukul lagi? Sini, minta duit!”

“Nggak mau!”, aku berteriak sambil mengepalkan tinju juga. Haduh, pemandangan yang menyedihkan. Seorang gadis kecil, mengepalkan tinju ke arah anak-anak SMP berbadan bongsor.

Lari? Jangan lari? Pukul? Jangan pukul? Nangis? Jangan! Teriak? Lari? Jangan lari? Takut? Nangis? Jangan! Pukul? Mana bisa? Lari aja? Lari nggak ya? Nangis? Apa nangis aja ya? Lari? Pukul? Pukul aja deh!

“Hei, hei, kalian lagi ngapain? Iwan, kau mau palak anak orang lagi ya?”, seorang bapak setengah baya bergegas menghampiri kami. Aku mengenalinya sebagai Abang tukang becak yang sering mengantar mama ke pasar.

Ya, akhirnya penyelamat datang! Sekarang Lia bisa berdiri di tepi panggung pertempuran, sambil menyoraki Sang Penyelamat.

Ahad, 1 November 2009,

setelah pengumpulan berkas pendaftaran calon ketua Pemilu Raya KM ITB 2010.

Terima kasih kepada saudara-saudariku,

yang telah menyelamatkanku dari pertempuran berbahaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s