0

Bikin cerpen pas jaman TPB


Seorang anak hendak mengadakan piknik bersama teman-teman SDnya. Pagi itu ibunya sudah sibuk ke sana kemari menyiapkan bekal. Anak itu, yang melihat ibunya sibuk sendiri, keheranan. Bawa ini, bawa itu, bikin berat aja! Ketika ibunya tidak mengetahui, si anak kecil mengeluarkan semua persiapan yang dibawakan ibunya dari dalam tas; makan siang, payung, minuman. Ah, nanti juga bisa minta teman!

Ketika sampai di tempat tujuan, ia dan teman-temannya langsung bermain-main dengan riangnya. Mereka bersenda gurau. Ketika waktu istirahat tiba, semua anak mengeluarkan bekal makan siang masing-masing, kecuali si bocah kecil kita tadi. Teman-temannya sudah kelelahan bermain, sehingga merasa sangat lapar. Semua makan dengan lahap, tanpa sedikit pun mau berbagi dengannya. Dia pun pasrah, duduk sambil menahan lapar.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Tapi tiba-tiba hujan turun. Anak-anak lain langsung mengeluarkan payung atau jas hujan, dan berlari menuju kemah. Anak kecil ini tidak berani menantang hujan deras. Ia terduduk sendirian di bawah pohon jati, diam-diam menitikkan air mata. Kenapa tidak ada yang mau berbagi dengannya? Pelan-pelan rasa sesal menyusup. Kenapa ia tidak membawa bekal yang cukup untuk perjalanan ini?

2

Surat untuk Mbak Artis


Saya pernah mendapat cerita dari seorang senior. Begini ceritanya:

Lima menit sebelum RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi akan resmi ditolak, tiba-tiba seorang anggota sidang, seorang ibu berkata dengan lantang, “Pimpinan sidang, mohon beri saya waktu lima menit untuk menampilkan sesuatu!”. Pimpinan sidang menyetujuinya. Sang ibu pun menampilkan sebuah presentasi. Dalam slide-slide-nya ditampilkan persentase seks bebas yang ada di Indonesia, persentase anak usia sekolah yang telah melakukan hubungan suami-istri di luar nikah, dan fakta-fakta yang sejenisnya. Pasti sebagai seorang ibu, wanita anggota sidang yang menampilkan slide-slide itu, sangat pedih melihat angka-angka tersebut. Dia ingin RUU APP segera disahkan. Untuk melindungi anak-anak Indonesia.

Lalu, saya mencoba merasuki perasaan ibu-ibu Indonesia lainnya, yang mungkin anak-anaknya telah menjadi korban pornografi dan pornoaksi. Yang mungkin tidak punya kuasa lebih untuk berbicara di sidang. Yang mungkin tidak tau harus mengadu kepada siapa. Kemudian, saya tuliskan surat ini sebagai wujud empati.

Kepada Mbak-mbak artis ibu kota.

Mbak, saya hanyalah seorang wanita berpendidikan rendah dengan wawasan terbatas. Saya juga bukan ustadzah yang mengerti banyak tentang agama. Saya hanya seorang ibu dengan satu orang putri, satu orang putra, dan satu orang suami.

Mbak, mungkin Mbak tidak ingin tau. Saya hanya ingin mengatakannya pada mbak. Anak sulung saya, Wati, sekarang berada di rumah sakit untuk kelainan jiwa. Saya tidak tau bagaimana anak saya itu dapat sembuh. Penyakit ini diawali dengan kelahiran seorang anak dari rahimnya. Seharusnya itu menjadi sebuah kebahagiaan. Namun tidak bagi kami, Mbak.. Karena bahkan Wati tidak mengenal siapa ayah dari anak yang dilahirkannya. Wati hanya mengingat wajah orang jahat itu, yang baru pernah sekali dilihatnya pada peristiwa naas yang menimpanya.
Lalu, Mbak.. Semoga Mbak masih mau melanjutkan membaca curahan hati saya ini. Anak bungsu saya, Mbak.. Kini ia harus mendekam di penjara selama sepuluh bulan. Lebih parah lagi, kini ia tidak bisa melanjutkan sekolahnya lagi, karena DO. Mbak tau apa penyebabnya? Wawan tertangkap ketika sedang membeli VCD film porno dari teman-temannya.

Lalu, Mbak mau mendengar satu fakta lagi? Mbak, sekarang saya telah menjadi janda.. Suami saya meninggal karena terinjak-injak massa di sebuah pertunjukkan dangdut. Menurut teman suami saya yang ada di sana, suasana tiba-tiba menjadi sangat rusuh ketika Mbak berhenti berjoget dan keluar dari panggung. Suami saya yang sedang berjualan mie ayam tidak dapat menghindar dari serbuan massa karena harus menyelamatkan gerobaknya.

Mbak, hidup saya jadi hancur berantakan sekarang. Bukan. Saya bukan ingin menyalahkan Mbak-mbak artis semuanya.. Saya bahkan nggak tau harus menyalahkan siapa.. Saya cuma ingin meminta beberapa hal kepada Mbak.. Tolong jaga kehidupan-kehidupan lain, Mbak, supaya jangan sampai hancur seperti kehidupan saya.. Mbak, tolong, jangan gunakan pakaian yang kekurangan bahan lagi.. Tolong, jangan beraksi tidak senonoh di atas panggung-panggung dan acara-acara televisi lagi..
Terima kasih Mbak udah mau membaca surat saya ini. Semoga Mbak mau mengabulkan permintaan saya. Demi, anak-anak kita, Mbak..

**Surat di atas hanya karangan saya aja, bukan berdasarkan kisah nyata. Atau mungkin ini merupakan kisah nyata seseorang ya?**

0

Inget pelajaran PKN


Tiba-tiba teringat sebuah perkataan dosen PKN:

Politik itu berasal dari kata poly dan tic (gak tau tulisannya kayak gimana). Poly berarti banyak, sedangkan tic artinya kepentingan. Jadi politik maksudnya kegiatan mengurusi kepentingan orang banyak.

Trus, trus, saya pernah dapet materi tentang politik (siyasah) dalam Islam.

Siyasah dalam Islam adalah (backsound-nya: jreng jreng jreng!) model cara memerintah dan menjalankan negara, mengurusi urusan-urusan umat manusia untuk mencapai kemaslahatan dunia dan akhirat dengan berpedoman pada syariat Islam dan nilai-nilai kebajikan yang sejalan dengan syariat Islam.

Lalu, Ibnul Qayyim, juga berkata, “Siyasah adalah sesuatu yang membuat manusia lebih dekat kepada kemaslahatan/kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan, meskipun tidak diletakkan Rasulullah SAW, dan tidak diturunkan oleh wahyu, atau dengan kata lain tidak ada siyasah kecuali dengan syariat.”

So, saya jadi berpikir kembali tentang beberapa umat Islam yang sangat antipati terhadap yang namanya politik, padahal Islam jelas-jelas memerintahkan untuk memperhatikan kemaslahatan umat.

Rasul saja ketika di penghujung hayatnya masih mengucapkan, “ummati, ummati!”. Bukankah itu menunjukkan betapa pentingnya memikirkan masalah (tentunya dengan solusinya :D) umat? Lalu, kenapa kita masih enggan berpolitik? Atau, mengapa kita masih menggunakan frame berpikir politik yang tidak sesuai dengan Islam?

1

Iseng-iseng ^^


Suatu hari saya, istri, dan anak-anak pergi berjalan-jalan ke taman mini. Kami jarang sekali bisa berkumpul bersama-sama seperti ini. Anak-anak senang bukan main, hingga pada malam hari mereka tidur larut. Saya dan istri pun mempersiapkan segalanya. Yah, hampir segalanya telah kami persiapkan. Namun ada satu hal yang terlupakan. Dan hal itu merupakan hal yang penting.

Kami pergi pada pagi hari, membawa tas besar yang berisi makanan untuk piknik. Kami pergi dengan menggunakan mobil Avanza silver milikku. Kami sampai di taman mini kebanggaan orang Jakarta itu dua jam kemudian. Sementara anak-anak bermain, saya membentangkan tikar di bawah salah satu pohon, sedangkan istri saya menyiapkan perbekalan. Kami makan dengan lahap, menatapi langit, memandangi pohon-pohon, hingga tak terasa sore telah menjelang.

Saya cepat-cepat mengendarai mobil untuk pulang, karena besok anak-anak harus sekolah. Mereka belum mengerjakan tugas sekolah mereka, katanya.

Sesampainya saya di gerbang depan rumah, saya heran, karena pagar itu terbuka sangat lebar. Yoni, si penjaga rumah tidak ada di posnya. Saya segera berlari ke dalam rumah. Keadaan rumah saya tidak dapat didsekripsikan lagi. Semua berantakan. Yang lebih aneh lagi, televisi, kulkas, radio stereo, dan perabotan-perabotan kami lenyap semuanya.

Saya memaki-maki petugas satpam yang bertugas menjaga rumah saya. Kemana aja sih tuh satpam? Tidur terus ya???

Baru kemudian saya sadari, sudahkah saya melatih satpam saya dengan baik? Bukankah selama ini saya hanya menuntut kerjanya saja? Tanpa memberi kemampuan kepadanya. Lalu, bukankah akibat euforia ‘jalan-jalan bersama keluarga’ pula lah saya lengah mengunci pintu rumah. Ya, saya yang gagal menjaga rumah saya sendiri, akibat terlalu senang berpergian..

11 Maret 2010

di “rumah saya”

2

Si Miku dan Si Ondo (hanya fiktif ^.^v)




Keluarga kami memiliki seekor kambing dan seekor sapi. Si kambing namanya Ondo, sedangkan sisapi, khusus adikku yang memberinya nama, bernama Miku. Kami sangat menyayangi hewan-hewan peliharaan kami. Setiap hari ayah membawakan rumput kualitas terbaik untuk mereka berdua. Aku, kakakku, dan adikku sering bermain-main dengan mereka sepulang sekolah. Si Miku adalah kesayangan adikku. Seminggu sekali adikku memandikan Miku di sungai yang berjarak lima kilometer dari rumah.

Kehadiran Miku dan Ondo di rumah kami (lebih tepatnya di kandang rumah kami) menambah kehangatan di tengah keluarga. Tapi itu tak bertahan lama. Seminggu lagi hari raya Idul Qurban akan tiba. Kegembiraan perayaan itu mendatangkan sebuah konsekuensi bagi keluarga kami. Ayah memutuskan untuk menunaikan kewajiban zakatnya dengan berkurban. Dan ayah memutuskan pula bahwa yang akan disembelih adalah si Miku. Adikku menangis meraung-raung ketika keputusan itu diumumkan di rumah. Ia menuding ayah tidak adil, karena Ondo tidak ikut disembelih.

Kakakku membela ayahku. Ia mengatakan bahwa Ondo belum cukup umur untuk disembelih. Ia mengatakan bahwa daging Miku akan lebih membantu orang yang kelaparan dibandingkan Ondo. Adikku masih tidak rela. Sampai saat penyembelihan tiba, ia masih menangis meraung-raung. Aku merasa tidak nyaman di rumah. Dulu kami sering bermain bersama-sama. Kini kakak dan adikku tidak saling bersenda gurau lagi. Bahkan mereka saling menyindir.

Ketegangan itu berlanjut sampai malam hari. Daging kurban kami telah dibagikan ke warga yang membutuhkan. Malam itu ayah mengajak adikku bicara. “Dik, tau tidak? Nanti di jembatan shirat, mungkin  Mikulah yang akan membawa adik di atas punggungnya menuju surga. Sekarang itu hanya perlu diwujudkan dengan sebuah keikhlasan.”

2

Cerpen waktu SD


Lagi teringat cerpen-cerpen pas jaman SD. Yang biasanya ada di buku paket yang dipinjemin perpustakaan. Ada salah satu cerita yang menurut saya keren banget.. Saya coba ceritain di sini yaaa.. Maknanya sama tapi ceritanya diubah2 dikit (maklum lah, udah lupa, jaman SD..)

Seorang petani tua duduk di bawah pohon ceremai. Ia beristirahat setelah penat seharian mambajak sawah. Sambil mengipas-ngipaskan tangan ia menatap buah pohon yang ada di atasnya. Buah itu kecil dan berwarna hijau muda.

Iseng-iseng sang Petani berpikir, “Kok Tuhan tidak adil ya? Buah ceremai ini kecil, tapi pohonnya sangat besar. Sedangkan buah semangka yang besar, tumbuh dari pohon menjalar yang lemah dan kecil. Seandainya ditukar, pasti akan lebih adil”

Dia masih terus mengipas-ngipaskan tangan. Tiba-tiba sebuah buah ceremai kecil yang belum matang jatuh ke matanya.

Ciuuuuuung, puk! Aaah, sakitnya! Matanya kini bengkak dan berair.

“Ah, Tuhan memang adil. Seandainya yang jatuh tadi adalah buah semangka, aku tak tau apa yang akan terjadi”

Karena Allah yang telah menciptakan semuanya, pasti ia tau apa yang terbaik, yang akan membuat kesetimbangan tercipta.. Allah juga tau apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia. Untuk itu ia buatkan sistem hidup terbaik, yang telah dijabarkan dengan sangat baik melalui Al Qu’an dan Rasulnya.