2

Menjadi Muda Kembali


Udin (56 tahun, hehe kayak nulis di koran2) sedang merenung sendiri di ruang tamunya yang mungil. Besok akhir pekan, sebaiknya apa yang ia lakukan untuk mengisi liburan? Saya lelah sekali, besok saya ingin istirahat. Ia baru saja pulang dari tempat bekerjanya di sebuah kantor ibu kota. Karena kelelahan, ia pun tertidur sangat pulas.

Beberapa jam kemudian dia terbangun di tengah malam. Ia mencoba mencari saklar lampu di tengah kegelapan. Akhirnya saklar lampu berhasil ditemukan. Lampu 35 watt langsung menerangi ruang tamu sederhananya. Kemudian dia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Ia mulai membilas kedua tangannya di wastafel, membasuh muka, hingga kaki (kebiasaan buruk: wudhu di wastafel :p). Ketika dia mengangkat kepala untuk menatap banyangannya di cermin, dia terkejut. Wajah keriput yang biasanya menyapa di cermin tak ada, digantikan oleh sebuah wajah pemuda tegap dan tampan. Kemudian bayangan di cermin itu berbicara kepadanya, “Jangan takut.. Saya ingin meminjamkan tubuh saya selama sehari untuk Anda. Silakan beraktivitas seperti biasanya. Besok, semua akan kembali seperti semula.”

Sang Bapak tua sangat senang sekali. Dengan tubuh muda ini, saya akan bisa melakukan segalanya dengan lebih baik. Nah, besok saya akan membersekan rumah, membenarkan genteng bocor, membuat pagar tanaman. Hahaha, senangnya punya tenaga anak muda!

Esoknya Sang Bapak bangun pagi-pagi sekali. Ia kemudian langsung menyiapkan alat-alat pertukangan miliknya: palu, paku, obeng, tangga. Ia akan memulai pekerjaan dengan membenarkan genteng yang bocor. Tangga pun disandarkan pada tepi tembok rumah. Sang Bapak mulai menaiki tangga. Anak tangga pertama dilewati. Anak tangga kedua. Anak tangga ketiga. Anak tangga keempat. Sang Bapak melihat ke bawah. Wah, tinggi sekali! Padahal baru setengah jalan. Bagaimana nanti kalau jatuh? Bahkan tubuh tegap ini kalau jatuh pun akan mengalami kesakitan luar biasa! Ah, sebaiknya aku melakukan pekerjaan yang lain dulu.

Sang Bapak pun pergi ke halaman rumahnya. Ia ingin membuat sebuah pagar tanaman yang indah. Ia mengambil kaleng cat dari dalam rumahnya. Warnanya beraneka ragam: merah, kuning, hijau, cokelat, putih. Sang Bapak mulai memaku potongan kayu-kayu. Setengah jam kemudian, pagar pun telah jadi. Hmm, enaknya warna apa ya? Haaah, aku akan membuat pelangi yang indah. Tapi tunggu dulu, rumah Bu Ade warna pagarnya putih. Rumah Pak Sadikin juga putih. Hei, hampir semua pagar tanaman di kompleks ini warnanya putih! Pak Lurah tidak mengatur warna pagar warganya sih.. Tapi kalau saya mengecat dengan warna-warna mencolok, pasti akan ditertawakan dan dianggap norak! Baiklah saya akan mengecat dengan warna putih saja!

Akhirnya pagar pun selesai. Susunan kayu itu ditancapkan ke tanah, sehingga pemandangannya bersanding dengan pagar-pagar putih lainnya. Sang Bapak pun masuk ke dalam rumah, mengambil sapu lidi dan pengki. Ia memutuskan untuk membersihkan halaman rumahnya. Walaupun rumah itu sederhana, halamannya sangat luas, dan ditumbuhi banyak pohon lebat. Dan rerontokan dedaunan bertumpuk-tumpuk di sana sini.

Sang Bapak memulai menyapu segundukan daun di bawah pohon mangga. Sampah-sampah itu kemudian dimasukkannya ke dalam karung. Hampir satu jam dihabiskan Sang Bapak untuk membersihkan halaman. Ia melihat berkeliling. Ternyata halaman ini luas sekali. Sudah lama saya menyapu, bahkan belum setengah halaman yang terjamah. Harus berapa lama lagi saya menyapu? Sudah ah! Saya lelah!

Sang Bapak pun masuk kembali ke dalam rumah. Kemudian ia menuju kamar mandinya untuk membersihkan diri. Ia bergumam kepada diri sendiri di depan cermin, “Hah, ternyata tubuh muda pun sama saja! Mudah capek!”

Bayangan dalam cermin kemudian membalas perkataannya, “Bukan tubuh mudalah yang menentukan. Tapi jiwa yang muda. Jiwa muda tidak pernah merasa takut akan tantangan dan tuntutan tanggung jawab. Pemuda tidak pernah takut melakukan hal yang berbeda, selama masih dalam batasan. Pemuda tidak mudah putus asa. Jiwa muda tidak akan cepat kelelahan. Sekarang aku akan mengembalikan tubuhmu. Ingat, walaupun nanti engkau akan beraktivitas dengan tubuh renta itu, jiwalah yang akan menentukan.”

=================================================================================

Saya sering mempertanyakan perkataan orang-orang di sekitar saya. Banyak yang berkata, “Saya mah udah tua, udah nggak bisa ngurusin hal kayak gitu lagi”, “Saya udah tua, semangatnya gak bisa kayak dulu lagi”, atau “saya mah udah tua, gak bisa mikirin masalah itu lagi”.

Dan saya pun tergelitik untuk berjanji: saya akan tetap muda!

3

Hitung


Dodi sedang bersantai di ruang tamu, sembari membaca buku cerita kesukaannya. Lembar demi lembar dia habiskan. Ketika ia membalik halaman ke-51, Ibu memanggilnya dari dapur, “Dodi, sini Nak, bantu ibu”

Dodi yang sedang asyik membaca merasa terganggu, namun ia pun bangkit dan berjalan ogah-ogahan menuju dapur. “Dodi, tolong belikan minyak goreng setengah liter di warung depan ya.. Ini uangnya.”

Dodi menjawab, “tapi ada upahnya, ya Bu..”, dan segera berlari keluar rumah. Sang Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Dodi pun kembali beberapa menit kemudian dan menyerahkan minyak goreng terbungkus plastik itu kepada ibunya.

Malam itu Dodi sekeluarga makan bersama-sama. Makanan sederhana itu disulap Ibu menjadi luar biasa. “Bu, Dodi mau tambah lagi”, kata Dodi dengan mulut penuh ikan goreng. Ibu senang sekali melihat anaknya makan dengan lahap.

Sebelum tidur, Dodi menghampiri ibunya, dan memberikan sebuah kertas. Ibu membaca tulisan di kertas itu, dan wajahnya menjadi kuyu.

Menyapu rumah → Rp2.000

Membereskan meja makan → Rp1.500

Membelikan minyak goreng → Rp2.000

Mengajari adik matematika → Rp4.000

Ibu kemudian membalik kertas itu, dan menuliskan sesuatu

Menyiapkan sarapan Dodi → Rp5.000

Membereskan kamar Dodi →Rp7.500

Mencucikan seragam sekolah Dodi → Rp6.000

Menyiapkan makan siang Dodi →Rp5.000

Menyiapkan makan malam Dodi → Rp10.000 (karena Dodi tambah dua kali)

Kertas itu penuh dengan tulisan Ibu. Dodi hanya termangu memandangnya. Tapi Ibu lalu mencoretkan sebuah tanda silang besar di kertas itu, dan menuliskan besar-besar ‘GRATIS’. Mata Dodi berair. Kemudian Ibu memeluknya dengan hangat.

_sedang.bertanya-tanya.kenapa.dzikir.harus.dihitung-hitung_