Hitung


Dodi sedang bersantai di ruang tamu, sembari membaca buku cerita kesukaannya. Lembar demi lembar dia habiskan. Ketika ia membalik halaman ke-51, Ibu memanggilnya dari dapur, “Dodi, sini Nak, bantu ibu”

Dodi yang sedang asyik membaca merasa terganggu, namun ia pun bangkit dan berjalan ogah-ogahan menuju dapur. “Dodi, tolong belikan minyak goreng setengah liter di warung depan ya.. Ini uangnya.”

Dodi menjawab, “tapi ada upahnya, ya Bu..”, dan segera berlari keluar rumah. Sang Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Dodi pun kembali beberapa menit kemudian dan menyerahkan minyak goreng terbungkus plastik itu kepada ibunya.

Malam itu Dodi sekeluarga makan bersama-sama. Makanan sederhana itu disulap Ibu menjadi luar biasa. “Bu, Dodi mau tambah lagi”, kata Dodi dengan mulut penuh ikan goreng. Ibu senang sekali melihat anaknya makan dengan lahap.

Sebelum tidur, Dodi menghampiri ibunya, dan memberikan sebuah kertas. Ibu membaca tulisan di kertas itu, dan wajahnya menjadi kuyu.

Menyapu rumah → Rp2.000

Membereskan meja makan → Rp1.500

Membelikan minyak goreng → Rp2.000

Mengajari adik matematika → Rp4.000

Ibu kemudian membalik kertas itu, dan menuliskan sesuatu

Menyiapkan sarapan Dodi → Rp5.000

Membereskan kamar Dodi →Rp7.500

Mencucikan seragam sekolah Dodi → Rp6.000

Menyiapkan makan siang Dodi →Rp5.000

Menyiapkan makan malam Dodi → Rp10.000 (karena Dodi tambah dua kali)

Kertas itu penuh dengan tulisan Ibu. Dodi hanya termangu memandangnya. Tapi Ibu lalu mencoretkan sebuah tanda silang besar di kertas itu, dan menuliskan besar-besar ‘GRATIS’. Mata Dodi berair. Kemudian Ibu memeluknya dengan hangat.

_sedang.bertanya-tanya.kenapa.dzikir.harus.dihitung-hitung_

Advertisements

3 thoughts on “Hitung

  1. kenapa dzikir harus dihitung-hitung… biar manusia yang pelit, malas, dan tidak bersyukur ini setidaknya bisa menetapkan batas minimal mengingat Tuhannya.. hehe.. Makanya Rasulullah disebutkan istighfar tidak kurang dari 70 kali sehari dan riwayat2 lain yang menyebutkan batas minimal tasbih, tahmid, dan sebagainya.

    • Soalnya kata temenku, dia denger ustadz di radio bilang: dzikir itu kayak minum obat, harus pas hitungannya. Gak boleh kurang gak boleh lebih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s