2

Emansipasi


Kartini pernah bercita-cita untuk bersekolah sampai jenjang yang tinggi. Namun sistem yang berlaku saat itu tidak memperbolehkan wanita untuk bersekolah. Maka timbullah yang namanya emansipasi wanita. Sehingga sistem kini pun berubah. Wanita sekarang bahkan dapat menuntut ilmu hingga menjadi profesor.

Kini, banyak wanita lainnya (atau yang akrab dipanggil “akhwat”), menolak untuk menghadiri rapat malam hari, karena rapat malam berarti pulang malam. Namun sistem yang berlaku saat ini tidak mendukungnya. Rapat tetap diadakan malam hari. Dan si akhwat tetap tidak dapat mengikuti rapat tersebut, sehingga kurang dapat berkembang. Siapakah yang salah? Prinsip tidak pulang malam sang akhwat? Takdirnya menjadi seorang akhwat? Atau sistem yang membiasakan rapat malam tersebut?

Saya inginkan emansipasi akhwat!

Merdeka!!! \(^o^)/

Advertisements
1

Autis lo!


Teman-teman sekelasku di sekolah ini sangat kompak. Satu sama lain saling akrab. Bahkan kami tidak segan-segan saling menghina-hina. Namun ada satu orang yang cukup ‘berbeda’ di mataku. Susan.

Suatu hari di masa-masa ujian. Lapangan basket kosong. Semua sibuk belajar. Bahkan pergi ke kantin pun, anak-anak membawa buku lima senti meter di depan matanya (*anak-anak, kebiasaan ini tidak baik, jangan ditiru ya 😀 karena bisa menambah minus mata dan tabrakan di mana-mana).

Andi, teman sekelasku juga, yang duduk di depan Susan, tiba-tiba menoyor kepala teman sebelahnya, “Autis lo! Soal gitu aja gak bisa jawab!”. Sam, yang nggak mau kalah, balas menjitak kepala Andi, “Ndi, soal yang ini mah udah dari tadi selesai! Yang gue tanyain tuh yang ini, autis!”

Tiba-tiba Susan menggebrak meja. Lalu ia lari ke kamar mandi. Untung sedang jam istirahat, sehingga tidak banyak yang memperhatikan.

Beberapa bulan kemudian.

Susan, aku, Reni, dan Chintya sedang makan siang di kantin. Tiba-tiba Chintya nyeletuk, “eh, pindah ke meja itu yuk, temenin Laras. Kasian dia autis sendirian”. Reni dan Chintya segera mengambil mangkok mi yaminnya dan pindah. Susan hanya duduk terdiam sambil menunduk. Aku menunggunya. Dia tak kunjung bangkit, sehingga aku pun mendekatinya kembali.

Ternyata kedua matanya yang bulat telah berair. Melihatku datang, ia langsung mengelap matanya dengan ujung jilbab.

“Kenapa, San?”, aku penasaran

“Mereka nggak pernah ngerasain…”, kalimatnya menggantung

“Ngerasain apa?”

“Mereka nggak pernah ngerasain gimana rasanya punya adik penderita autis…”

=====================================

“Seorang Muslim yang sejati ialah bila orang lain merasa aman dari gangguan lidah dan tangannya”

(HR Bukhari dan Muslim)

=====================================

**cerita di atas hanya fiktif saja. Terinspirasi oleh seorang teman SMA dan teman kuliah**

1

Benci


Waktu itu 18 April 2010 sore hari. Saya sedang berbincang-bincang dengan seorang akhwat rumah Ceria. Lalu, tiba-tiba saya berkata padanya tentang suatu hal.

Awalnya begini, sering di angkot yang saya naiki, remaja-remaja putri SMA, bahkan SMP asik bergosip tentang sesuatu. Sesuatunya itu nggak jauh-jauh dari satu kata: COWOK. Kemudian di angkot dengan merek yang sama (namun waktu yang berlainan), saya mendengar dua pemuda yang ngobrol dengan asiknya. Namun singgahlah obrolan mereka di telinga saya, yang membuat saya sangat-sangat sakit hati. Intinya mereka membicarakan tentang “nyokap yang kuno”.

Tak jarang pula anak kecil yang meneriaki temannya dengan kata-kata, “anjing!”, “bangsat”, dsb, dsb.

Back to the topic.. Jadi yang saya katakan pada teman saya itu adalah: “Sar, nanti kalau aku udah punya production house sendiri, atau udah jadi menkominfo Indonesia, tolong ingetin aku kalo saat ini aku sangat benci pada pertelevisian Indonesia!”

Yah, begitulah.. Sekarang ini semakin banyak manusia Indonesia, terutama remaja-remaja yang sudah tercuci otaknya dengan tayangan-tayangan di televisi. Mereka menganggap pacaran di usia SD itu biasa, bermesraan di depan umum itu biasa, berhubungan badan di luar nikah itu biasa, membentak orang tua itu biasa, menyumpahi dengan isi kebun binatang itu biasa, dsb, dsb. Mereka mendapatkan semua itu mayoritas dari televisi.

Itu yang membuat saya bercita-cita untuk mendirikan perusahaan production house sendiri, atau memiliki stasiun televisi sendiri, atau menjadi menkominfo Indonesia. Saya ingin anak-anak Indonesia diberikan tayangan televisi yang bermutu.