3

Saya Sedang Tidak Kreatif


Hari ini lagi-lagi ada tugas mengarang. Kenapa Pak Basuki senang sekali memberikan tugas ini?

Tahukah Bapak? Saya lagi tidak kreatif. Otak saya lagi buntu. Mau bukti?

Ketika sholat fardhu, surat-surat pendek yang saya baca hanyalah lima surat terakhir di juz 30. Hanya itu yang terpintas di otak saya. Saya sedang tidak kreatif memikirkan yang lainnya.

Selesai sholat, saya berdoa, yang saya lafalkan hanyalah doa kepada kedua orang tua yang saya hapalkan sejak kelas 1 SD. Saya sedang tidak imajinatif untuk memikirkan yang lainnya.

Ketika mengobrol dengan Tuhan, saya tidak mampu memikirkan kata yang lebih indah daripada “Gue”. Saya sedang tidak kreatif memikirkan yang lainnya.

Ketika beraktivitas sehari-hari, saya hanya menjalaninya sebagai rutinitas. Saya sedang tidak kreatif mencari alasan lainnya yang lebih bermakna.

Saya sedang tidak kreatif. Masih tidak percaya? Masih perlukah bukti yang lain? Saya rasa tidak.

0

Cakar


Hai namaku Elsa. Aku lahir tanggal 17 Februari 2004. Hari ini usiaku genap tiga bulan. Aku sekarang sudah dapat berjalan dengan lancar. Aku dapat berlari. Bahkan aku dapat memanjat ban mobil dan tidur di atasnya. Rambut-rambut putih-oranyeku telah tumbuh dengan lebat, tidak kuyu seperti saat aku baru lahir. Ibuku bernama Pussy. Dia ibu yang baik. Dia mengajariku berbagai macam hal: menggali tanah, mengendus makanan, memanjat, bahkan mengeong! Dulu suaraku kecil dan mencicit (aneh bukan? Mana ada kucing yang mencicit? Yah, tapi itu hanya perumpamaan suara yang kecil). Sekarang aku sudah dapat meraung (seharusnya kucing tidak meraung kan? Seperti biasa, itu hanya perumpamaan).

Hari ini aku senang sekali. Saking senangnya, aku mencakar-cakari banyak hal, mulai dari pohon, ban mobil, keset, sampai ekor ibuku sendiri. Tapi dia tidak marah kok.. Dia suka mengajakku bermain dengan mengibaskan ekor-ekornya. Aku senang karena aku sudah semakin mahir mencakar. Lalu aku melihat sebuah helaian kertas berwarna putih tertiup angin dan terbang ke arahku. Aku penasaran sekali. Aku pun mengejarnya. Senang-senang-senang sekali. Tinggal satu loncatan lagi, aku sudah akan mendapatkan kertas putih itu. Kukumpulkan seluruh tenagaku di kaki belakang, kudorong dengan penuh kekuatan, dan aku melompat tinggi. Kualirkan kekuatan ke otot-otot jari kaki depanku. Aku tidak tau apa nama ototnya. Di bangsa kami tidak ada sekolah formal, jadi aku tidak bisa belajar IPA. Kukeluarkan cakarku dan kusambar kertas itu. Yap, kena! Aku mencakar-cakar-cakar. Cakar lagi-lagi-lagi, hingga kertas itu berubah menjadi serpihan. Senangnya bisa bermain. Senang-senang-senang!

“Elsa, ck ck ck ck.. Sini! Mau ayam nggak?”

Woaa, majikanku memanggil. Majikanku sangat baik. Dia selalu memberi aku dan ibuku makanan enak yang aromanya juga enak. Setelah aku makan, biasanya aku mendekatinya, dan dia akan mengelus-elus kepalaku. Aku selalu senang jika dielusnya, bahkan tidak jarang aku tertidur. Dia juga pernah mengajakku jalan-jalan naik sepeda. Walaupun aku ketakutan dan ahanya bisa meringkuk di ujung keranjang sepeda.

“Elsa, Pussy, sini..”

Dia mengulurkan secuil daging ayam kepada ibuku, yang dilahap dengan cepat oleh ibuku. Kemudian dia menyuir secuil lagi dan menyodorkannya kepadaku. Lalu, entah kenapa muncul dorongan aneh dari dalam diriku, dan aku dengan sekuat tenaga mencakar cuilan daging tersebut. Dan karena itu hanya cuilan, majikanku juga terkena cakaran. Dia kaget dan melonjak ke belakang. Aku melihat darah merah menetes dari ujung jarinya.

Tidak, tidak, maafkan aku majikan! Aku menyesal. Aku menyesal sekali. Sangat-sangat-sangat menyesal!

============================================================

Anda punya “free will”. Kadang-kadang “kekuatan” kita melukai lingkungan kita. Kadang-kadang “kekuatan” kita “menyakiti” Tuhan kita.

2

Balas Dendam


Aku meremas kertas yang telah satu jam ini kutulisi dengan penuh kekesalan. Lalu kulemparkan kertas malang itu ke dalam tong sampah. Huh, buat apa marah-marah dan berkesal-kesal ria, sampai nyoret-nyoret berlembar-lembar kertas, cuma gara-gara hal itu sih? Baiklah, aku akan bertekad untuk balas dendam. Daripada kupendam sendiri, ya, lebih baik kubalaskan dendam ke orang itu. Biar dia tau siapa sebenarnya aku.

***

“Ratna, coba kamu maju ke depan, kerjakan soal ini,” Ibu Nuning menunjukkan spidol white board-nya kepadaku. Aku pun maju ke depan kelas dengan langkah malas-malasan. Kukerjakan soal di papan tulis dengan setengah hati. Mood-ku hari itu sedang buruk.

Setelah selesai, aku kembali ke tempat dudukku. Bu Nuning mengamati coretan-coretan rumus dan angka yang kutuliskan di papan tulis. Ia kemudian menoleh ke arahku, “yakin jawabnnya sudah benar?”

Aku menjawab dengan sombongnya, “yakin, Bu!”

“Sepertinya kamus harus mengulang kembali belajar di kelas satu SD ya? Masuk ITB bisa, tapi menjumlahkan angka tidak bisa! Mana ada lima belas tambah tujuh sama dengan seratus lima puluh tujuh?!” Bu Nuning mungkin semakin sewot dengan sikap sombongku tadi. Tapi aku kesal setengah mati.

***

Hah, aku berhasil balas dendam ke Bu Nuning. Nilai A besar tertulis di transkrip nilaiku untuk mata pelajaran yang ia ajarkan. Aku berhasil balas dendam. Aku belajar sungguh-sungguh, supaya ia tahu aku tidak bodoh. Aku telah balas dendam.

======================================================

Metode balas dendam yang bagus adalah dengan menunjukkan kinerja kita yang terbaik bukan? Heran dengan orang yang membunuh, menyiksa, dkk hanya untuk sebuah balas dendam -___-“

1

Penguntit!


Temanku, Roni, selalu membuat sensasi di kelas. Temanya selalu sama, tentang mata-mata dan kawan-kawannya. Pagi ini dia membuat heboh seisi kelas. Pelajaran pertama telah berjalan hampir setengah jam. Tiba-tiba ia menyerobot ke kelas, dengan napas terengah-engah. Pak guru sejarah yang sedang menggambarkan bentuk beliung persegi menoleh seketika.

“Maaf, Pak.. Saya tadi dikuntit orang. Saya liat di spion motor saya, ada truk besar ngikutin saya terus. Saya takut diculik, Pak. Akhirnya saya terpaksa muter-muter dulu untuk mengecoh si truk, Pak. Di tengah jalan, truk itu udah nggak ngikutin lagi. Eh, pas di depan gerbang, ketemu lagi sama truk itu. Ternyata truk itu mau nganterin komputer baru untuk lab komputer,” Roni langsung nyerocos.

Kontan seluruh kelas tertawa.

Beberapa hari kemudian, sebelum bel masuk berbunyi, Roni dan geng-nya sudah berkumpul di deretan belakang bangku kelas. Walaupun niat mereka bisik-bisik, suaranya terdengar pula ke seluruh kelas.

“Kemaren gue dapet telepon teror! Pas gue angkat nggak ada yang ngomong. Yang kedengeran Cuma suara derung bajaj,” seru Roni.

“Wah, kayaknya lo bener-bener diikutin deh, Ron!”

“Jangan-jangan ada yang mau nyulik!”

Beberapa hari kemudian, kembali ia membuat heboh teman-teman sekelas.

“Oi, temen-temen, jangan pulang dulu! Dengerin cerita gue dulu!”

“Cerita apaan, Ron?”

“Kemaren, gue ikutan Bokap gue ngaji ke rumah ustadz Asep (ustadz Asep, namanya dipinjem yaa). Di akhir  Bokap gue ngobrol-ngobrol panjang lebar sama si Ustadz. Dan akhirnya, tau nggak?”

“Apaan?”

“Akhirnya gue tau siapa yang selama ini nguntit gue.”

“Hah, siapa? Siapa?”

“Yang selalu ngikutin gue kemana pun, yang selalu ngeliatin kerjaan gue, yang merhatiin gue walaupun gue lagi tidur.”

“Siapa tuh?”

“Malaikat Rakib dan Atid…”

3

Remind Me, Please!


Hai kenalkan, saya Lulu. Saya murid kelas 6 SD. Sekolah saya ada di dekat rumah lho.. Jadi setiap hari saya jalan kaki ke sekolah. Mau tau hobi saya? Hobi saya baca buku (terutama komik dan majalah Bobo),  nonton (saya suka banget nonton film buatan Pixar), dan makan. Makanan kesukaan saya: eskrim! Donat! Siomay!

Nah, sekian dulu perkenalannya. Saya mau menceritakan kisah saya beberapa hari belakangan ini (ini tugas dari Bu Guru nih..).

Senin.

Senin saya berangkat sekolah jam setengah tujuh. Sebenarnya perjalanan sekolah cuma sekitar lima menit. Tapi saya datang lebih cepat supaya bisa jajan donat dulu di warung depan sekolah. Asyik! Saya membeli sebuah donat dan memasukkannya ke dalam plastik. Kemudian saya taburi gula banyak-banyak-banyak. Hmmm.. Saya makan donat di depan kelas. Setelah selesai makan, saya buang sampah plastiknya ke bawah pot pohon pedang-pedangan (saya kasih nama begitu, soalnya daunnya mirip pedang, hoho). Seperti telah melakukan kejahatan, saya celingak-celinguk melihat kanan-kiri. Ups, ternyata Pak Guru Olahraga melihat saya! Tapi beliau hanya berlalu menuju ruang penyimpanan bola. Saya menganggapnya, berarti tidak masalah jika saya membuang sampah di sana.

Selasa.

Selasa, sepulang sekolah, saya langsung main ke rumah Rosi. Rosi tidak mempunyai kakak maupun adik. Rumahnya besar. Kamarnya besar dan warnanya pink. Saya senang jika bermain ke sana. Di sana banyak buku bacaan yang asyik-asyik. Saya langsung mengambil satu buku bersampul gambar kuda poni putih. Kemudian saya membacanya di sana. Rosi juga mengambil buku. Kini  sebuah buku bergambar putri salju sudah berpindah ke tangannya. Ia kemudian naik ke tempat tidur dan membacanya sambil menelungkup. Kemudian Mbak Eki, pengasuh Rosi datang sambil membawakan dua gelas es teh. Rosi langsung bangkit dengan girang dan meminum es teh tersebut sambil berdiri dan dengan tangan kiri. Saya ingin melihat reaksi Mbak Eki atas kelakuan temanku ini. Ayo, Mbak, marahin dong! Tapi Mbak Eki hanya berlalu sambil membawa nampannya, kembali ke dapur. Saya menganggapnya, nggak apa-apa kalau kita baca sambil tiduran. Nggak apa-apa kalo kita makan dengan tangan kiri, sambil berdiri pula!

Rabu.

Hari ini saya langsung pulang ke rumah setelah sekolah bubar. Kemarin Mama marah-marah, karena saya pergi main tanpa ijin terlebih dahulu. Sebelum pulang saya jajan eskrim dulu. Saya masuk rumah dengan masih memegang eskrim di tangan kiri saya. Melihat itu, Mama marah lagi. “Lulu, Mama kan udah bilangin, jangan makan sambil berdiri. Makan dengan tangan kanan.”

Saya hanya mengangguk.

Setelah eskrimnya habis, saya melemparkan stik eskrim tersebut ke teras. Kakak saya sedang memberi makan kucing di teras. Dia kemudian mengambil stik eskrim tersebut sambil menggeleng-geleng kepada saya. Dia membuangnya ke tempat sampah.

Malam harinya saya mengerjakan PR matematika di kamar.  Saya siapkan hal-hal berikut: buku PR, buku cetak, penggaris, pensill,, penghapus, dan bantal! Saya mengerjakan PR sambil menelungkup di bantal. Hampir semua nomor telah saya kerjakan, ketika Papa masuk kamar. Biasanya Papa pulang cepat dan membantu saya dan kakak mengerjakan PR. Tapi katanya hari ini dia ada rapat penting. Papa langsung menarik saya berdiri dan mengangkat saya ke meja belajar. Kemudian dia juga mengantarkan peralatan belajar saya (kecuali bantal, tentunya), ke meja belajar. “Nanti matanya rusak, sayang..” Lalu, dia memeriksa PR saya dan tersenyum, “Wah, pintar anak Papa. Tapi ini ada yang aneh! Apa coba?” Dia menunjuk ke satu baris di buku PR. “Oiya, Pa! Enam kali tiga itu delapan belas, bukan dua empat!”

Hari ini saya belajar banyak hal. Jangan buang sampah sembarangan. Makan jangan sambil berdiri. Makan dengan tangan kanan. Jangan belajar sambil tiduran. Dan enam kali tiga itu sama dengan delapan belas, bukan dua puluh empat 😀