Cakar


Hai namaku Elsa. Aku lahir tanggal 17 Februari 2004. Hari ini usiaku genap tiga bulan. Aku sekarang sudah dapat berjalan dengan lancar. Aku dapat berlari. Bahkan aku dapat memanjat ban mobil dan tidur di atasnya. Rambut-rambut putih-oranyeku telah tumbuh dengan lebat, tidak kuyu seperti saat aku baru lahir. Ibuku bernama Pussy. Dia ibu yang baik. Dia mengajariku berbagai macam hal: menggali tanah, mengendus makanan, memanjat, bahkan mengeong! Dulu suaraku kecil dan mencicit (aneh bukan? Mana ada kucing yang mencicit? Yah, tapi itu hanya perumpamaan suara yang kecil). Sekarang aku sudah dapat meraung (seharusnya kucing tidak meraung kan? Seperti biasa, itu hanya perumpamaan).

Hari ini aku senang sekali. Saking senangnya, aku mencakar-cakari banyak hal, mulai dari pohon, ban mobil, keset, sampai ekor ibuku sendiri. Tapi dia tidak marah kok.. Dia suka mengajakku bermain dengan mengibaskan ekor-ekornya. Aku senang karena aku sudah semakin mahir mencakar. Lalu aku melihat sebuah helaian kertas berwarna putih tertiup angin dan terbang ke arahku. Aku penasaran sekali. Aku pun mengejarnya. Senang-senang-senang sekali. Tinggal satu loncatan lagi, aku sudah akan mendapatkan kertas putih itu. Kukumpulkan seluruh tenagaku di kaki belakang, kudorong dengan penuh kekuatan, dan aku melompat tinggi. Kualirkan kekuatan ke otot-otot jari kaki depanku. Aku tidak tau apa nama ototnya. Di bangsa kami tidak ada sekolah formal, jadi aku tidak bisa belajar IPA. Kukeluarkan cakarku dan kusambar kertas itu. Yap, kena! Aku mencakar-cakar-cakar. Cakar lagi-lagi-lagi, hingga kertas itu berubah menjadi serpihan. Senangnya bisa bermain. Senang-senang-senang!

“Elsa, ck ck ck ck.. Sini! Mau ayam nggak?”

Woaa, majikanku memanggil. Majikanku sangat baik. Dia selalu memberi aku dan ibuku makanan enak yang aromanya juga enak. Setelah aku makan, biasanya aku mendekatinya, dan dia akan mengelus-elus kepalaku. Aku selalu senang jika dielusnya, bahkan tidak jarang aku tertidur. Dia juga pernah mengajakku jalan-jalan naik sepeda. Walaupun aku ketakutan dan ahanya bisa meringkuk di ujung keranjang sepeda.

“Elsa, Pussy, sini..”

Dia mengulurkan secuil daging ayam kepada ibuku, yang dilahap dengan cepat oleh ibuku. Kemudian dia menyuir secuil lagi dan menyodorkannya kepadaku. Lalu, entah kenapa muncul dorongan aneh dari dalam diriku, dan aku dengan sekuat tenaga mencakar cuilan daging tersebut. Dan karena itu hanya cuilan, majikanku juga terkena cakaran. Dia kaget dan melonjak ke belakang. Aku melihat darah merah menetes dari ujung jarinya.

Tidak, tidak, maafkan aku majikan! Aku menyesal. Aku menyesal sekali. Sangat-sangat-sangat menyesal!

============================================================

Anda punya “free will”. Kadang-kadang “kekuatan” kita melukai lingkungan kita. Kadang-kadang “kekuatan” kita “menyakiti” Tuhan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s