0

Misteri Tas Hitam


Ssst, kawan! Aku kemarin baru mengalami peristiwa menyeramkan! Begini ceritanya.. Aku memiliki sebuah tas berwarna hitam. Tas ransel itu memang tidak bermerk terkenal, tapi desainnya simpel dan nyaman digunakan. Tas itu kuperoleh sebagai hadiah ulang tahun dari kakekku. Tapi kakekku wafat dua bulan yang lalu. Sebagai kenang-kenangan dari kakek, aku merawat tas itu dengan baik.

Aku selalu menggunakan tas tersebut untuk pergi ke kampus. Hari Jumat dua minggu yang lalu, aku mentoring bersama lima orang temanku. Teteh mentorku menyuruh kami membuat targetan ibadah harian dalam buku catatan kami. Aku yang merasa tidak mampu berada seharian di masjid pun menuliskan target paling minimal. Setelah mentoring selesai, buku itu kumasukkan ke dalam tas hitam kesayanganku. Hingga malam harinya, aku sibuk mengerjakan PR dan membuat proposal kegiatan BEM. Begitu aku terbangun, cahaya matahari sudah menyelisip di antara celah gordin jendela. Aku tersadar bahwa aku tertidur di depan laptop yang masih menyala. Kursornya berkedip-kedip di atas lembaran microsoft word. Astaghfirullah, proposalnya belum selesai! Aku pun segera ngebut ke kamar mandi mengambil wudhu, shalat subuh, dan melanjutkan mengerjakan proposal tersebut. Setelah proposal selesai, aku langsung mencetaknya dengan printer suntikku. Kumasukkan proposal tersebut ke dalam tas hitamku. Sekilas terlihat buku catatan mentoringku. Aaah, aku lupa ngerjain targetanku… Ya sudah lah ya.. Mandi dulu… Proposalnya lagi ditunggu temen-temen… Kalo aku telat, nanti dapet jitakan masing-masing satu dari teman-temanku.

Hari demi hari pun berlalu. Urusan organisasi dan kuliah sangat menyita waktuku, hingga aku tak punya waktu luang. Bahkan aku bolos mentoring minggu lalu. Tapi yang aneh adalah hari demi hari tas hitamku semakin bertambah berat. Pundakku sampai ngilu membawa tas itu keliling kampus setiap hari. Padahal barang-barang tak penting sudah kukeluarkan: komik, charger HP, text book, kalkulator, radio, televisi, kulkas. Hehe, yang tiga terakhir bohong kok :p

Walaupun kini yang kubawa hanyalah dua buah buku catatan, laptop, dan mushaf Al-Qur’an mini-ku, tas itu tetap saja mengiris pundakku. Dari hari-ke hari bertambah berat. Tepat kemarin akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan laptop tersayang di kamar. Dan aku pun berangkat ke kampus.

Hari ini sangat melelahkan. Punggungku sakit membawa tas yang berat (walaupun laptop kutinggalkan di kamar). Seusai shalat ashar di mushala jurusanku, aku bersandar ke tembok. Tidak ada siapa-siapa di sini. Mungkin karena sedang banyak tugas. Makin banyak anak-anak yang men-deadline shalatnya. Huaaah, anginnya semilir sekali. Aku jadi mengantuk, dan kututup mataku.

Beberapa saat kemudian aku merasa ada yang menyenggol-nyenggol badanku. Aku membuka mata dan melihat tas hitam kesayanganku membesar hingga lima kali lipat. Ada garisan mata dan mulut pada tas raksasa itu. Aku kaget setengah mati dan ingin segera kabur. Tapi kakiku mati rasa, tidak bisa bergerak.

“Kau tau kenapa tasmu terus memberat setiap harinya?”, carikan mulut itu bergerak-gerak dan mengeluarkan suara geraman. Aku ketakutan setengah mati. Aku menggeleng. “Ini dia sebabnya”. Lalu buku catatan mentoringku melayang keluar. Lembar demi lembarnya terbuka hingga sampai pada targetan ibadah harian. Di sana terlihat targetan-targetan tilawahku, shaum sunnah-ku, qiyamul lail-ku. Namun tak satu pun yang memiliki tanda centang, tanda aku memenuhinya.

“Setiap kau melalaikan sebuah ibadah harianmu, buku ini akan bertambah berat. Tapi hari ini beban buku ini sudah melewati batas. Aku akan memakanmu. Hahahahaha..” Aku ketakutan setengah mati. Aku kerahkan segala upaya untuk menarik kakiku lari. Yak, kakiku berhasil digerakkan. Aku segera lari tunggang langgang. Tapi di depan pintu mushala, aku tersandung sepatuku yang juga membesar menjadi seukuran vacuum cleaner. Aku terjatuh. Dan aku pun terbangun dari mimpi mengerikan itu. Aku segera menyambar tasku dan meluncur pulang. Saking terburu-burunya, aku tidak menyadari tasku kini telah sangat ringan.