0

IRONi MAN (2)


Hai aku Farhan! Ayahku seorang pengusaha di bidang perikanan. Perusahaannya mengolah ikan mentah menjadi ikan kalengan. Hari ini ia pulang dari kantor sambil bersungut-sungut, “dasar pabrik-pabrik kurang ajar!”

“Kenapa sih, Yah?”

“Itu, tuh.. Mereka buang limbah sembarangan ke laut. Ikan-ikan laut pada mabok semuanya! Bulan ini ikan yang bisa diolah cuma setengah dari jumlah biasanya! Yang lainnya rusak semua!”

“Jadi gimana dong, Yah?”

“Besok Ayah mau ke sana, menuntut mereka,” Ayahku mengeluarkan rokok kretek dari dalam sakunya. Ia memantiknya dengan korek api gas. Dihirupnya tiga kali dalam-dalam. Kemudian dihembuskannya ke udara, membiarkan asap putih menari-nari bersatu dengan udara.

Yaaah, saya kecewa.. Habis marah-marah gara-gara pencemaran lingkungan, Ayah mencemari udara dengan asap rokoknya.. Ckckck.. Ironi..

Advertisements
0

Mengapa Wanita Cerewet dan Pria Gak Becus


Mungkin kita sering mendengar keluhan dari teman-teman kita, tentang rekan kerjanya yang berbeda gender.

Tulisan ini saya buat beberapa hari setelah ngobrol-ngobrol dengan teman saya di salman. Ia menceritakan tentang cowo-cewe di lembaganya yang jarang bisa akur.

Si wanita, sering berkata, “ih gimana sih, kerjanya cowo gak rapih!”, atau “mereka ngambil keputusan nggak bilang-bilang dulu”, atau “cowonya nggak mulai-mulai geraknya”. Sedangkan di sisi lain si pria yang dimaksud mungkin berpikir, “ini udah rapih kok menurut saya”, “emangnya saya harus ngadain rapat dulu untuk memutuskan hal kayak begini?”, dan “saya lagi mengonsep gerakannya mau gimana”

Yang harus dilakukan si wanita:

  1. Selain mempermasalahkan masalah, coba kemukakan juga solusinya. Misalnya, kerjaan pria kurang rapi. “Bagus, bagus.. Eh, tapi coba kalo diginiin deh.. Nanti saya ngerjain yang ini. Kamu ngerjain yang itu.”
    Seringkali kita dianggap cerewet karena cuma bisa marah-marah, tanpa ada solusinya. Hal ini membuat pria bingung harus melakukan apa.
  2. Coba utarakan apa yang dimaksud dengan jelas, tapi tidak bersifat mendikte. Misalnya, “Tolong ambilin logistik di sekre ya.. Habis itu tolong taro di lapangan. Kursi-kursinya ditata melingkar aja.. Makasih..”
    Jangan lupa ucapkan tolong dan terima kasih 😀
  3. Hargai pekerjaan mereka. Jika ada yang kurang benar, ingatkan baik-baik.
  4. Jika mereka sedang berpikir, biarkan mereka sesaat tanpa diusik. Namun, jika mereka lupa atau tidak fokus, ingatkan kembali.

Kalo pria:

  1. Libatkan wanita dalam pengambilan keputusan yang penting, walau hanya dengan sms pemberitahuan atau telepon singkat. Misalnya, “eh, ini pembicara materinya tiba-tiba gak bisa dateng. Kita minta si anu aja jadi pembicara ya?”
    Biasanya wanita tidak keberatan dengan pengambilan keputusan secara sepihak seperti itu, asalkan dia diberi tahu tidak mendadak.
  2. Tidak semua masalah yang diutarakan wanita harus kita beri solusi. Pilah-pilah mana masalah yang harus disolusikan dan mana masalah yang hanya perlu didengarkan.
  3. Kalo bisa, beri laporan berkala tentang progres tugas yang kita kerjakan. Hal ini dilakukan supaya mereka juga merasa dilibatkan, dan tidak ‘khawatir’. Kalo kita udah ngasih tau, mereka gak perlu terus bertanya dan membuat kita pusing, kan? Hehe 😀

Sekian ke-sotoy-an saya. Mohon dikoreksi kalo salah ya 🙂

0

Insya Allah


“Ma, adek kangen.. Masih lama nggak nyampe rumahnya?”

“Nggak, sayang.. Jam delapan mama pasti udah nyampe ke rumah. Nanti adek mama kasih kue enak!”

“Asiiik, janji ya, ma?”

“Iya, sayang… Besok jadi ke rumah eyang kan?”

“Iya, ma. Adek juga udah nggak sabar pengen ketemu eyang.”

“Sayang, udah dulu ya.. Kereta mama udah datang. Dadah..”, dengan terburu-buru aku menutup panggilan telepon dari anak bungsuku. Kereta jurusan Yogya-Jakarta yang akan kutumpangi sedang berjalan mulus di atas rel, di depan tempatku menunggu.

Satu, dua, tiga, empat, lima. Yak, seluruh tas belanjaku sudah kupegang. Tumpukan oleh-oleh sudah berjejalan di dalamnya; gantungan kunci, baju batik, kue, sendal, dan tas. Semuanya kupegang dengan erat. Aku memasuki kereta merah tersebut dan langsung mencari tempat duduk. Semua belanjaan kuletakkan di kabin, dan aku langsung menghempaskan badan ke kursi.

Tak berapa lama kemudian, kereta berangkat. Entah kenapa, penumpang di kereta ini tidak cukup penuh. Kursi-kursi di sekitarku banyak yang gaji-buta (halah, emang kursi digaji?). Aah, masih tujuh jam lagi.. Istirahat dulu lah.. Semalaman begadang untuk menyiapkan presentasi ke direktur perusahaan pusat. Aku pun tertidur lelap dalam sekejap, diiringi deru mesin kereta.

Beberapa saat kemudian, aku terbangun, karena suara-suara marah di sekelilingku. Aku menengok jam. Hmm, masih jam setengah lima. Ada apa sih? Getaran mesin kereta sudah tak terasa lagi. Kereta telah berhenti.

“Mohon maaf, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Mesin kereta mengalami sedikit gangguan. Teknisi kami sedang berusaha memeperbaikinya”

Sudah setengah jam berlalu dari pengumuman pertama itu. Kereta masih saja belum jalan. Penat.

“Mohon maaf, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Sepertinya diperlukan waktu lebih lama untuk memperbaiki mesinnya”, terdengar suara desahan marah dari penumpang yang jumlahnya hanya sedikit ini.

Satu setengah jam berlalu. Bajuku basah oleh keringat.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, kereta akan berjalan kembali. Harap kembali duduk di tempat masing-masing. Mohon maaf telah membuat Anda menunggu”

Aku pun lega. Tak berapa lama kemudian aku tertidur kembali.

Kereta kami tiba di stasiun Jatinegara terlambat dua jam. Begitu pintu dibuka, aku langsung menyambar tas-tas belanjaan dari kabin, dan melesat keluar. Di depan stasiun, aku menyetop taksi yang lewat.

“Pondok kopi, ya Pak!”

Supir taksi langsung menekan tombol argonya. Setelah melewati dua lampu merah, aku menengok ke tas belanjaanku. Satu, dua, tiga, empat, … Hah? Mana satu lagi? Ya Allah, kuenya si adek ketinggalan di kereta kayaknya! Haduh, gimana ya? Udah terlanjur janji lagi!

“Pak, di perempatan depan, mampir ke toko kue dulu ya..”

Toko kue itu buka 24 jam. Aku memasuki toko, dan langsung lemas melihat stok kue yang dipajang di etalase.

“Maaf, Bu. Hari ini pembelinya banyak sekali. Kuenya sudah habis.”

Aku kembali ke taksi dengan lunglai. Supir taksi kembali memacu mobilnya. Aku sampai di rumah jam sebelas malam. Anak bungsuku masih menunggu di depan televisi, dengan mata setengah terpejam. Melihatku datang, ia langsung semangat.

“Mamaaaa!! Kok baru sampe? Katanya jam lapan?”

“Kereta mama mogok sayang…”

“Mau oleh-oleh, Ma!”

“Nih, ada baju batik sama sendal buat Adek. Tapi kuenya tadi ketinggalan di kereta, sayang..”

“Yaaaaaah..”, tangannya masih membongkar-bongkar tas belanjaan. “Ma, besok jadi ke rumah eyang, kan?”

“Jadi, dong, sayang..”

“Janji?”

“Iya..”, ups..

“Iya, insya Allah”, aku menambahkan.

2

Barisan Shalat


Kemarin saya shalat ashar di salman. Sebelum shalat, sang imam seperti biasa mengingatkan para jamaah untuk merapikan dan merapatkan shaf-nya. Beliau juga bilang nggak akan mulai sebelum barisannya rapi, soalnya semua akan berdosa kalo barisannya masih nggak rapi.

Beda banget dengan masjid deket rumah saya. Jamaah wanita dan pria shalat di satu gedung, tapi beda lantai. Sebelum shalat imam mengingatkan untuk merapikan barisan. Tapi yang dilihatnya cuma barisan pria. Barisan wanita yang ada di lantai dua kacau sekali. Baris pertama dan kedua dari depan penuh, baris pertama dari belakang penuh. Tengah-tengahnya bolong-bonteng (istilah dari mana itu?).

Bagaimana dong?

0

IRONi MAN (1)


Hai aku Farhan! Aku punya seorang kakak, namanya Rudi. Kami sering mengobrol bersama. Kakakku seorang mahasiswa di universitas negeri ternama. Hari ini dia bercerita tentang aksi yang dia lakukan bersama teman-temannya. Katanya sih, mereka menuntut supaya para koruptor dijebloskan ke dalam penjara atau dihukum gantung. Katanya juga, koruptor itu telah mengambil uang rakyat sebanyak ratusan miliar! Di sela-sela ceritanya, HP nokia kakakku berdering. Ia menjawabnya. Di seberang terdengar suara teman dekat kakakku. Mereka berbicara cukup lama. Di tengah-tengah pembicaraan, kakakku berkata, “Eh, gue belon ngerjain laporan kimia nih.. Pinjem punya lo dong..”

Yaaah, saya kecewa.. Habis aksi menuntut koruptor, dia mau nyontek laporan orang lain.. Ckckck.. Ironi..