Insya Allah


“Ma, adek kangen.. Masih lama nggak nyampe rumahnya?”

“Nggak, sayang.. Jam delapan mama pasti udah nyampe ke rumah. Nanti adek mama kasih kue enak!”

“Asiiik, janji ya, ma?”

“Iya, sayang… Besok jadi ke rumah eyang kan?”

“Iya, ma. Adek juga udah nggak sabar pengen ketemu eyang.”

“Sayang, udah dulu ya.. Kereta mama udah datang. Dadah..”, dengan terburu-buru aku menutup panggilan telepon dari anak bungsuku. Kereta jurusan Yogya-Jakarta yang akan kutumpangi sedang berjalan mulus di atas rel, di depan tempatku menunggu.

Satu, dua, tiga, empat, lima. Yak, seluruh tas belanjaku sudah kupegang. Tumpukan oleh-oleh sudah berjejalan di dalamnya; gantungan kunci, baju batik, kue, sendal, dan tas. Semuanya kupegang dengan erat. Aku memasuki kereta merah tersebut dan langsung mencari tempat duduk. Semua belanjaan kuletakkan di kabin, dan aku langsung menghempaskan badan ke kursi.

Tak berapa lama kemudian, kereta berangkat. Entah kenapa, penumpang di kereta ini tidak cukup penuh. Kursi-kursi di sekitarku banyak yang gaji-buta (halah, emang kursi digaji?). Aah, masih tujuh jam lagi.. Istirahat dulu lah.. Semalaman begadang untuk menyiapkan presentasi ke direktur perusahaan pusat. Aku pun tertidur lelap dalam sekejap, diiringi deru mesin kereta.

Beberapa saat kemudian, aku terbangun, karena suara-suara marah di sekelilingku. Aku menengok jam. Hmm, masih jam setengah lima. Ada apa sih? Getaran mesin kereta sudah tak terasa lagi. Kereta telah berhenti.

“Mohon maaf, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Mesin kereta mengalami sedikit gangguan. Teknisi kami sedang berusaha memeperbaikinya”

Sudah setengah jam berlalu dari pengumuman pertama itu. Kereta masih saja belum jalan. Penat.

“Mohon maaf, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Sepertinya diperlukan waktu lebih lama untuk memperbaiki mesinnya”, terdengar suara desahan marah dari penumpang yang jumlahnya hanya sedikit ini.

Satu setengah jam berlalu. Bajuku basah oleh keringat.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, kereta akan berjalan kembali. Harap kembali duduk di tempat masing-masing. Mohon maaf telah membuat Anda menunggu”

Aku pun lega. Tak berapa lama kemudian aku tertidur kembali.

Kereta kami tiba di stasiun Jatinegara terlambat dua jam. Begitu pintu dibuka, aku langsung menyambar tas-tas belanjaan dari kabin, dan melesat keluar. Di depan stasiun, aku menyetop taksi yang lewat.

“Pondok kopi, ya Pak!”

Supir taksi langsung menekan tombol argonya. Setelah melewati dua lampu merah, aku menengok ke tas belanjaanku. Satu, dua, tiga, empat, … Hah? Mana satu lagi? Ya Allah, kuenya si adek ketinggalan di kereta kayaknya! Haduh, gimana ya? Udah terlanjur janji lagi!

“Pak, di perempatan depan, mampir ke toko kue dulu ya..”

Toko kue itu buka 24 jam. Aku memasuki toko, dan langsung lemas melihat stok kue yang dipajang di etalase.

“Maaf, Bu. Hari ini pembelinya banyak sekali. Kuenya sudah habis.”

Aku kembali ke taksi dengan lunglai. Supir taksi kembali memacu mobilnya. Aku sampai di rumah jam sebelas malam. Anak bungsuku masih menunggu di depan televisi, dengan mata setengah terpejam. Melihatku datang, ia langsung semangat.

“Mamaaaa!! Kok baru sampe? Katanya jam lapan?”

“Kereta mama mogok sayang…”

“Mau oleh-oleh, Ma!”

“Nih, ada baju batik sama sendal buat Adek. Tapi kuenya tadi ketinggalan di kereta, sayang..”

“Yaaaaaah..”, tangannya masih membongkar-bongkar tas belanjaan. “Ma, besok jadi ke rumah eyang, kan?”

“Jadi, dong, sayang..”

“Janji?”

“Iya..”, ups..

“Iya, insya Allah”, aku menambahkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s