Mengapa Wanita Cerewet dan Pria Gak Becus


Mungkin kita sering mendengar keluhan dari teman-teman kita, tentang rekan kerjanya yang berbeda gender.

Tulisan ini saya buat beberapa hari setelah ngobrol-ngobrol dengan teman saya di salman. Ia menceritakan tentang cowo-cewe di lembaganya yang jarang bisa akur.

Si wanita, sering berkata, “ih gimana sih, kerjanya cowo gak rapih!”, atau “mereka ngambil keputusan nggak bilang-bilang dulu”, atau “cowonya nggak mulai-mulai geraknya”. Sedangkan di sisi lain si pria yang dimaksud mungkin berpikir, “ini udah rapih kok menurut saya”, “emangnya saya harus ngadain rapat dulu untuk memutuskan hal kayak begini?”, dan “saya lagi mengonsep gerakannya mau gimana”

Yang harus dilakukan si wanita:

  1. Selain mempermasalahkan masalah, coba kemukakan juga solusinya. Misalnya, kerjaan pria kurang rapi. “Bagus, bagus.. Eh, tapi coba kalo diginiin deh.. Nanti saya ngerjain yang ini. Kamu ngerjain yang itu.”
    Seringkali kita dianggap cerewet karena cuma bisa marah-marah, tanpa ada solusinya. Hal ini membuat pria bingung harus melakukan apa.
  2. Coba utarakan apa yang dimaksud dengan jelas, tapi tidak bersifat mendikte. Misalnya, “Tolong ambilin logistik di sekre ya.. Habis itu tolong taro di lapangan. Kursi-kursinya ditata melingkar aja.. Makasih..”
    Jangan lupa ucapkan tolong dan terima kasih 😀
  3. Hargai pekerjaan mereka. Jika ada yang kurang benar, ingatkan baik-baik.
  4. Jika mereka sedang berpikir, biarkan mereka sesaat tanpa diusik. Namun, jika mereka lupa atau tidak fokus, ingatkan kembali.

Kalo pria:

  1. Libatkan wanita dalam pengambilan keputusan yang penting, walau hanya dengan sms pemberitahuan atau telepon singkat. Misalnya, “eh, ini pembicara materinya tiba-tiba gak bisa dateng. Kita minta si anu aja jadi pembicara ya?”
    Biasanya wanita tidak keberatan dengan pengambilan keputusan secara sepihak seperti itu, asalkan dia diberi tahu tidak mendadak.
  2. Tidak semua masalah yang diutarakan wanita harus kita beri solusi. Pilah-pilah mana masalah yang harus disolusikan dan mana masalah yang hanya perlu didengarkan.
  3. Kalo bisa, beri laporan berkala tentang progres tugas yang kita kerjakan. Hal ini dilakukan supaya mereka juga merasa dilibatkan, dan tidak ‘khawatir’. Kalo kita udah ngasih tau, mereka gak perlu terus bertanya dan membuat kita pusing, kan? Hehe 😀

Sekian ke-sotoy-an saya. Mohon dikoreksi kalo salah ya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s