0

Dan Singa Pun Kembali Menjadi Raja


Concept art for Simba from Kingdom Hearts II

Image via Wikipedia

Di sebuah hutan yang lebat, tinggallah sekolompok binatang yang telah hidup bersama selama ratusan tahun. Dulu, ketika binatang-binatang ini dipimpin oleh raja singa yang adil dan bijaksana, mereka hidup bersama, saling berdampingan, dan tolong menolong. Namun, telah beberapa tahun ini, hutan dikuasai oleh sang kingkong yang bodoh. Sang kingkong memiliki penasihat yang sangat dipercayainya, yaitu burung gagak. Namun karena kebodohannya, ia selalu dimanfaatkan oleh penasihat burung gagak, sehingga sering terjadi perpecahan di kawanan penghuni hutan tersebut.

Saat ini mereka sedang  berada dalam krisis makanan karena ada gunung yang meledak. Asap dan debu dari gunung tersebut mencemari makanan mereka. Atas masukan dari burung gagak kepada raja kingkong, para penghuni hutan mengungsi ke bagian utara hutan. Burung gagak mengusulkan untuk pindah ke sana karena di sana banyak tumbuh pepohonan yang nyaman untuk ditinggali burung gagak dan gerombolannya. Namun, di tempat itu tanahnya sangat tandus, sehingga cadangan makanan tidak terlalu banyak. Hewan-hewan lainnya jadi kelaparan.

Simba, seorang anak singa yang besar di hutan itu, melihat keadaan teman-temannya dengan sedih. Simba adalah keturunan mantan raja hutan, Sang Singa. Simba menemui ayahnya untuk membujuk ayahnya supaya mau menjadi raja hutan kembali. Beberapa hewan hutan lainnya menemani Simba. Simba dan Ayamba (ceritanya nama ayahnya Simba) melakukan percakapan panjang lebar tentang ini. Ini yang mereka omongkan (ralat: kira-kira inilah yang mereka omongkan):

“Ayah, kenapa ayah turun jadi raja hutan? Secara keluarga kita udah dari tahun ke tahun memimpin hutan getooh”

“Memimpin dan mengelola komunitas hutan itu berat tau!”

“Tapi baginda Ayamba, kepemimpinan baginda saya nilai sangat baik. Kami juga merasa hak-hak kami terfasilitasi dengan baik”, ujar Pakde Jerapah.

“Anda juga sangat ramah, murah senyum, rajin menabung, dan tidak suka merokok”, tambah Gajah.

*saya juga nggak tau gimana caranya singa bisa senyum dan merokok*

“Tapi saya ingin hidup yang menyatu dengan alam, boi. Saya mau merenung dan berkontemplasi sendirian. Dengan begini, saya kembali kepada hakikat saya”

“Tapi bos, kalo bos terus-menerus mengasingkan diri seperti ini, si kingkong akan semakin menjadi-jadi. Apalagi si burung gagak serakah itu! Rakyat hutan akan semakin kelaparan. Lagi pula kita diciptakan untuk mengelola hutan. Itulah hakikat kita!”, ujar burung hantu yang bijaksana.

“Tapi bukankah dulu kalianlah yang menentangku dan menyuruhku turun? Kalian bilang kepemimpinanku tidak membawa pengaruh sama sekali. Kalian bilang kepemimpinanku dan kepemimpinan ular (ceritanya ular pernah memimpin selama beberapa dekade, dan si ular itu juga sangat serakah) sama aja. Nggak ada perbedaan!”

“Kami baru menyadarinya sekarang baginda.. Anda tidak menyuruh kami untuk melakukan ini-itu. Tapi Anda menjadi teladan kami. Anda menanamkan nilai-nilai luhur kepada kami, bukan hanya sekedar bungkusnya”, ucap rusa malu-malu.

“Baiklah, kalau begitu, saya akan menantang si kingkong untuk adu duel, untuk merebut kembali kepemimpinan ini. Tapi saya nggak bisa sendiri. Saya butuh kalian untuk membantu saya mengatur strategi. Kalian juga tidak boleh meninggalkan saya ketika saya telah menjadi raja hutan kembali. Rusa, kamu harus berjanji akan menanduk saya jika saya mulai berlaku tidak adil”

Rusa mengangguk.

“Jerapah, kamu harus mengangkat saya tinggi-tinggi, jika saya tergesa-gesa. Agar saya dapat melihat permasalahan dengan lebih luas dalam menentukan keputusan”

Jerapah menundukkan kepalanya, tanda berjanji.

“Gajah, kamu harus menendang saya jika saya mulai serakah”

Gajah setuju.

“Burung hantu, kamu harus selalu mencereweti saya jika saya tidak menjalankan hasil rapat anggota komunitas hutan ini”

Burung hantu ber-uhu setuju.

“Simba, bahkan kamu harus tega meluruskan ayah dengan cakarmu, jika ayah mulai melenceng. Kalo nggak kamu nggak dapet uang jajan *naon, deui!*”

“Sippo, ayah!”

“Dan terakhir yang perlu kalian ketahui, perubahan yang saya lakukan nggak bisa dilakukan sekejap. Saya bukan dewa, saya bukan malaikat. Saya perlu waktu dan dukungan dari kalian.”

Singkat cerita, akhirnya semua penghuni hutan bekerja sama dan berhasil mengangkat singa menjadi raja hutan kembali. Semuanya pun hidup bahagia, ceritanya live happily ever after gitu laah..

===============================================================

Terinspirasi dari buku Isti’ab halaman 152-153 dan obrolan dengan beberapa orang

1

Ibu, jika aku sudah dewasa nanti, apakah …?


“Ibu, jika aku sudah dewasa nanti, apakah aku tidak akan bisa bermain-main lagi?”

“Tentu saja bisa, anakku sayang.. Tapi, setiap apa yang kau lakukan harus dapat kau pertanggungjawabkan.”

“Ibu, apakah nanti setelah aku dewasa, aku masih dapat makan kue cokelat, es krim, dan permen-permen lagi?”

“Tentu saja, anakku.. Namun, kau harus memikirkan masak-masak apa yang akan kau makan. Karena tak kan ada lagi yang akan mengingatkanmu tentang kesehatanmu.”

“Ibu, apakah ketika aku sudah besar nanti, aku masih boleh bercanda-canda dengan teman-temanku?”

“Tentu saja anakku. Namun berhati-hatilah terhadap segala ucapanmu. Berhati-hatilah, sebab segala ucapanmu harus kau terima konsekuensinya.”

“Ibu, apakah nanti ibu masih akan membela dan melindungiku jika orang berbuat jahat kepadaku?”

“Ibu hanya dapat melindungimu lewat doa-doa yang ibu panjatkan. Karena, saat engkau dewasa nanti, engkaulah yang harus melindungi dirimu sendiri.”

“Kalau begitu, ibu.. Aku tak ingin menjadi orang dewasa. Aku ingin seperti ini terus.”

“Kenapa anakku?”

“Aku takut berubah. Aku takut tidak bisa melakukan semuanya sesukaku lagi.”

“…”

==============================================================

Cerpen yang dibikin sejak dahulu kala, dan sampe sekarang belum nemu kalimat yang tepat untuk dilontarkan sang ibu. Ada yang bisa bantu?

*Tua itu pasti, dewasa itu pilihan*

2

Truk Emas Keguling! Apa yang akan kita lakukan?


Hari ini seperti biasanya, aku dan teman-temanku berangkat ke kampus bersama. Yah, kami bertiga sejurusan dan kos-an kami nggak terlalu jauh. Pagi itu kami kuliah jam delapan. Sekarang memang baru jam enam, dan kami nggak buru-buru seperti biasanya (gara-gara terlambat masuk kelas). Kami merencanakan untuk sarapan di bubur ayam balubur dahulu. Biasanya kami selalu numpang di angkot biru SSC (abis numpang, tetep bayar ongkos kok!). Tapi karena kami sedang nggak buru-buru, kami sekarang berjalan kaki dengan santainya, dan semena-menanya. Trotoar kami monopoli dari ujung kanan sampe ujung kiri.

 

Aku dan dua temanku ini teman akrab sejak SMA. Aku sudah tau sifat mereka sampe ke dasar-dasarnya. Dan yang paling aku senangi dari mereka adalah kejujuran dan profesionalitas mereka, sifat yang sama ada pada diriku. Selain itu, mereka juga selalu mengingatkanku jika aku berbuat salah. Itulah gunanya teman sejati, bro!

Setibanya di depan jalan ganesha, kami melihat sebuah mobil truk besar melintas. Truk berwarna biru tua itu bertuliskan sebuah nama perusahaan. Aku melihat truk itu berbelok di pertigaan kebon binatang, dan entah karena apa tiba-tiba truk itu oleng dan terguling.

Truk itu menabrak tiang jemuran, eh nggak ding, tiang listrik kebon binatang hingga bengkok. Kayaknya otomatis rumah-rumah di sekitar situ mati lampu, deh.. Pintu supir terbuka. Pak supir dengan seragam biru tua keluar dari mobil itu sambil tertatih-tatih. Kepalanya berdarah sangat hebat. Maksudnya hebat: darahnya mengucur dengan hebatnya. Lho? Emangnya darahnya bisa terbang, jadi dibilang hebat? Hmmm, ribet deh.. Ralat: Darah mengucur dari kepalanya sangat banyak. Beberapa detik setelah keluar. Bapak itu pingsan di tanah.

Selain itu, pintu belakang truk itu terbuka karena gemboknya patah, dan keluarlah beberapa batang emas dari situ. Ternyata mobil itu berisi batangan emas yang akan diolah oleh perusahaan itu. Orang-orang yang sedang lewat terpana melihat emas yang meloncat-loncat keluar dari dalam truk. Tunggu, mana bisa emas batangan berloncat-loncatan keluar dari truk? Udah terima aja! Itu namanya majas personifikasi. Mereka segera mendekat dan mengambil ancang-ancang, pertanda mau ngantongin emas itu sendiri.

Kami, aku dan temanku –bukan aku dan emas-emas itu–, saling berpandangan. Musyawarah singkat pun dilakukan.

“Woi, kalian amankan keadaan di sini ya! Gue mau lari ke borromeus, manggil ambulan”, kata Ari.

“Trus emas-emas yang lagi direbutin orang-orang itu digimanain ya? Nggak asik banget kalo emas-emas itu mereka ambil seenaknya”, aku kebingungan.

“Rul, lo ambil emas-emas itu sebanyak-banyaknya! Gue mau nolongin si supir itu dulu dan nelpon polisi”, Umar menambahi.

“Gila lo ye? Itu kan bukan punya kita!”, sergahku dengan idealisme tinggi.

“Yeee, bukan buat kita kalee! Buat dibalikin”, Ari menjawab sambil meletakkan tasnya, bersiap-siap lari.

“Kita nggak tau apa yang mau orang-orang itu perbuat dengan emas berjibun-jibun gitu. Yang gue tau, kalo emas itu ada di tangan kita, kita bakal bisa balikin emasnya ke perusahaan, yang notabene emang pemiliknya”, sambung Umar.

“Yoi lah, berangkaaat!”

Kami pun segera melakukan tugas masing-masing. Ari dengan segenap kekuatan berlari ke rumah sakit borromeus yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari sana. Padahal dia belum sarapan. Loh? Kok nyambungnya ke situ? Umar langsung mengambil HP nexian-nya dan menelepon polisi, sambil berjalan menuju si Bapak supir yang sedang tidak berdaya.

Aku pun dengan semangat 45 segera menyusup di antara penjarahan emas dan meraup sebanyak-banyaknya. Eh, ntar gue disangka maling rakus lagi, haus kekayaan? Terserah deh orang mau ngomong apa, yang penting gue udah yakin sama tujuan gue. Kalo gue lupa, nggak sengaja ngantongin sebiji emas gimana? Kan ada temen-temen gue yang bakal ngingetin! Itulah gunanya temen, bro!

Huaaah, aku terlalu capek berebutan emas, sampe nggak sanggup lanjutin cerita detailnya lagi. Mata udah berkunang-kunang, lutut gemeteran, kepala pusing nggak karuan. Yang aku tau hanyalah, kami telah berjuang semaksimal mungkin untuk kebenaran!

1

Pendidikan Berkaca pada Pembuatan Perangkat Lunak


matahari terbit

fajar tiba

dan aku melihat delapan juta kanak – kanak

tanpa pendidikan

 

aku bertanya

tetapi pertanyaan – pertanyaanku

membentur meja kekuasaan yang macet

dan papantulis – papan tulis para pendidik

yang terlepas dari persoalan kehidupan

dan di langit

para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas

bahwa bangsa mesti dibangun

mesti di up-grade

disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing

diktat – diktat hanya boleh memberi metode

tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan

kita mesti keluar ke jalan raya

keluar ke desa – desa

mencatat sendiri semua gejala

dan menghayati persoalan yang nyata

 

Sajak Sebatang Lisong – RENDRA ( itb bandung – 19 agustus 1978 )

 

Begitulah Rendra bercerita tentang pendidikan di Indonesia.

 

Pemerintah Indonesia sejak awal telah berkomitmen untuk mencerdaskan kehidupan warga negaranya, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 pada alinea keempat, yang menegaskan: ”Pemerintah   melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah  darah  Indonesia  dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Cita-cita Pembukaan UUD 1945 tersebut, selanjutnya dinyatakan secara tegas dalam Pasal 31 UUD 1945 yang telah diamandemen, sebagai berikut: 1) Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan; 2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; 3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; 4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; serta 5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

 

Kemudian harapan pemerintah Indonesia terhadap majunya pendidikan diperlihatkan dengan diresmikannya Undang-undang Badan Hukum Pendidikan, yang menjadikan Institusi Pendidikan memiliki titel Badan Hukum Pendidikan. Sebagai Badan Hukum Pendidikan, Sang Institusi pun diberikan kebebasan untuk merancang sendiri rencana pendanaannya.

 

Sedangkan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia berarti memenuhi kebutuhan seorang manusia agar ia dapat menjadi manusia seutuhnya yang selaras dengan alam dan lingkungannya. Kebutuhan seorang manusia dapat dibagi menjadi kebutuhan fisik, kebutuhan akal, dan kebutuhan ruhani.

 

Namun, sayangnya pendidikan di Indonesia saat ini, belum dapat mencapai tujuannya. Pendidikan di Indonesia memang berorientasi pemenuhan kebutuhan, tapi kebutuhan yang dipenuhi adalah kebutuhan jangka pendek, yaitu penyediaan sumber tenaga kerja. Sedangkan tiga kebutuhan pokok manusia di atas tidak dapat terpenuhi seutuhnya. Dalam hal pemenuhan kebutuhan pikiran, kurikulum pendidikan yang umumnya ada di Indonesia hanya bersifat menjejalkan pengetahuan-pengetahuan ke peserta didik, yang pengetahuan-pengetahuan tersebut belum tentu dibutuhkan oleh si peserta didik dalam pencapaian visi hidupnya. Selain itu, pemahaman yang diberikan hanyalah teori-teori tidak bersifat aplikatif. Hal ini dapat kita lihat pada sekolah-sekolah tingkat menengah yang ada saat ini. Jam belajar yang padat dibuat agar para siswa menerima materi-materi yang belum tentu mereka perlukan. Tak jarang pula, materi tersebut diberikan tanpa celah untuk ralat dan koreksi.

 

Dari segi pemenuhan kebutuhan fisik dan ruhani, kurikulum pendidikan di Indonesia juga belum dapat dikatakan memadai. Jatah jam pelajaran olahraga, kesenian, etika dan agama hanyalah sepersekian bagian dari total jam pelajaran yang ada di sekolah. Sisanya diisi dengan rumus matematika, hukum fisika, dan reaksi kimia, yang jelas bukan merupakan sarana pembentukan karakter yang baik.

 

Seharusnya para pembuat kurikulum di Indonesia berkaca pada pembuatan perangkat lunak komputer.Tahapan pembuatan perangkat lunak tersebut adalah tahap penentuan kebutuhan, tahap analisis masalah dan solusi, tahap perancangan, tahap implementasi, serta tahap pemeliharaan. Pada tahap penentuan kebutuhan, para calon pengguna, pengembang perangkat lunak, pemberi dana, dan analis sistem duduk bersama untuk menentukan apa sebenarnya kebutuhan yang ada. Lalu, dianalisislah permasalahan yang menyebabkan kebutuhan tersebut tidak dapat terpenuhi beserta solusi permasalahannya. Selanjutnya hasil analisis diimplementasikan dalam pembuatan perangkat lunak. Pemeliharaan merupakan tahapan tersulit dalam pembuatan sebuah perangkat lunak, karena kebutuhan masyarakat yang begitu cepat berubah.

 

Kurikulum pendidikan, yang merupakan salah satu masalah tidak tepatnya implementasi pendidikan, seharusnya disusun dengan analisis kebutuhan siswa yang mendalam. Penyusunan kurikulum pendidikan, seperti halnya penentuan kebutuhan sebuah perangkat lunak, sewajarnyalah melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang terkait, seperti pengajar, orang tua murid, pakar pendidikan, pakar agama, bahkan seniman. Dengan demikian, pengajaran yang diberikan di bangku-bangku sekolah dapat menjadi sarana transformasi peserta didik menjadi manusia yang seutuhnya.

 

Setelah itu, setelah kurikulum itu diimplementasikan menjadi bahan ajar di bangku sekolah, sudah selayaknyalah bahan ajar tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan di mana pendidikan tersebut ditanamkan. Jangan samakan pengajaran anak-anak kota Jakarta dengan anak-anak dari pedalaman Papua. Mungkin saja anak-anak kota perlu diajari tentang penghitungan neraca perusahaan, dan masyarakat pedalaman hanya perlu diajari tentang bercocok tanam.

 

Jika pendidikan Indonesia tetap kaku dan tidak memanusiakan manusia, dapat dibenarkanlah ucapan Rendra, “(pendidikan telah) terlepas dari persoalan kehidupan”.

 

=======================================================

Dibuat sebagai tugas kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi

*daripada cuma mejeng folder kuliah*

**rada sotoy juga sih, habis disuruh ngehubung2in dengan jurusan. Ane kan IF nyasar**

0

Siapa Bilang Wanita Butuh Berita?


Kalimat di atas terinspirasi dari sebuah slogan majalah wanita, “Siapa bilang wanita tak butuh berita?”

Saya justru bertanya sebaliknya, emang butuh? But, wait! Berita cem apa yang tak dibutuhkan? Awak numpang nyotoy dulu yak!

  1. Berita gosip artis dan sebagainya
    Acara infotainment (gosip-red) kayaknya ada di hampir semua stasiun tivi, dan semua waktu. Pagi-pagi ada insert, silet. Siang ada insert lagi. Sore ada Kiss. Malam ada sinden sip sip sip. *kok hapal sih, lo, Bos?* Iyee, awak nyari-nyari di google ini.. *penting banget sih*
    Coba bayangkan jika setiap hari kerjaan ibu-ibu cuma nonton berita gosip? Kalo dari psikologinya saya analisis begini. Manusia Indonesia sekarang (apalagi ibu-ibu), tingkat stress-nya sangat tinggi. Mikirin mulai dari biaya makan sehari-hari, anak sekolah, pajak, cicilan rumah, sampe ongkos. Selain itu, kondisi keseharian yang buruk juga nggak bisa dihindari: macet, lingkungan kotor, panas, petugas pemerintah yang tak ramah, kemalingan. *Oke, stop curhatnya, Bos*
    Nah, balik lagi ke tingkat stress yang tinggi. Program infotainment menayangkan banyak berita, mulai dari berita bahagia sampe berita sedih. Tapi kebanyakan berita adalah berita duka. Penonton akan berpikir seperti ini, “Dia yang artis aja ngerasain sedih, jatuh, dan terluka”. Maka kemungkinan besar beban si ornag tersebut akan berkurang, dengan menyaksikan bahwa ada orang lain yang punya beban juga. Tapi live must go on, bu.. Kita harus kembali ke dunia nyata dan nyari solusi (bukan malah nyari temen sepenanggungan)
  2. Berita dari ibu-ibu tetangga sebelah kalo dia beli kulkas baru
    Nggak cuma kulkas baru sih.. Bisa TV baru, AC baru, mesin cuci baru, mobil baru, dst dst. Saya coba liat dari aspek psikologinya lagi *gaya lo, Bos! Anak jurusan psikologi aja bukan!*
    Sesuatu yang sangat menyilaukan wanita adalah harta. Maka, jika ada orang lain yang memiliki sesuatu yang lebih, maka ibu-ibu ini akan cenderung iri dan menginginkan hal yang sama. Akibatnya? Menambah stress si ibu, tuntutan korupsi pada suami (ini kata dosen PKN lho), dan sifat konsumtif pada anak.
  3. Sinetron-sinetron yang nggak mutu (nggak cuma sinetron sih..)
    Remaja putri di Indonesia sekarang disuguhi berbagai adegan-adegan, mulai dari ngebentak orang tua, ngerokok, pacaran, nyontek, nge-gank, sampe dugem-dugem gak jelas. Lama-kelamaan pola pikir yang terbentuk adalah, “kalo gue gak melakukan hal yang sama kayak di tivi, maka gue adalah orang gak gaul, abnormal, ansos, autis”
    Coba bayangkan kalo memori yang masuk ke kepala mereka adalah tentang semangat perjuangan, pengorbanan untuk negara, semangat belajar, semangat ibadah, dll?

Sekian dulu ke-sotoy-an dari saya. Kalo ada yang nggak berkenan, silakan disampaikan 😀

0

Budaya Kita yang Hilang


Beberapa saat yang lalu, kita sempat kebakaran jenggot karena banyak budaya kita yang di-claim oleh bangsa lain (atau pun oleh seorang oknum dari bangsa lain), mulai dari lagu hingga makanan khas daerah. Namun apakah kita sadar bahwa sebenarnya banyak sekali kebudayaan kita yang sedikit demi sedikit lepas, seperti air yang merembes keluar dari genggaman tangan? Namun apakah kita sadar, bahwa sedikit demi sedikit kita dilumuri oleh kebudayaan asing, yang nilainya bahkan bertentangan dengan nilai luhur Indonesia?

Berapa sering kita telah meninggalkan budaya ramah tamah? Dahulu Indonesia dikenal sebagai rumahnya orang-orang ramah. Sekarang? Apakah kita masih membiasakan bersapa dan salam dengan tetangga? Apa yang lebih kita utamakan, memperhatikan keadaan orang lain atau ber-BB-ria dalam angkot?

Berapa kali kita telah mengkhianati budaya jujur dan integritas? Berapa sering kita menyontek dalam ujian? Berapa sering kita menyalin laporan praktikum? Berapa sering kita berbohong pada orang tua? Berapa lama lagi kita akan menjadi bangsa nomor sekian terkorup?

Berapa lama kita telah melanggar budaya sopan santun? Masihkah kita menghormati orang yang lebih tua? Masihkah kita menghargai norma tempat kita berpijjak? Masihkah kita memiliki malu untuk berpakaian tidak sopan?

Kemudian, apakah benar pakaian-pakaian mini yang dijejalkan kebudayaan barat ke dalam keseharian kita sesuai dengan nilai-nilai luhur Indonesia? Lalu bagaimana dengan adegan-adegan tidak senonoh yang diumbar sembarangan di depan umum, dan dipaksakan masuk ke dalam memori anak-anak Indonesia?

Saya rasa, selain menjaga budaya fisik, kita juga harus menjaga nilai dari budaya itu sendiri. Apa pendapat Anda?

0

Menulis Jurnalistik yang Menggigit


Semua orang dapat menulis. Namun tidak semua orang dapat menulis dengan baik dan menarik. Diperlukan latihan yang cukup lama hingga seseorang dapat mahir menulis, terlebih lagi menulis jurnalistik di media massa. Menulis di media massa memerlukan sebuah keterampilan khusus dan daya kreatif yang luar biasa. Selain itu diperlukan jam terbang yang tinggi.

 

Media massa dewasa ini

Media massa saat ini merupakan salah satu kebutuhan terpenting manusia di era globalisasi. Sekarang, arus informasi mengalir dengan cepat tanpa ada keterbatasan waktu dan jarak. Manusia yang hidup di era ini harus dengan cepat memperbaharui pengetahuannya, yaitu dengan membaca. Saat ini membaca media massa merupakan sebuah kegiatan penambahan pengetahuan yang cukup efektif.

 

Tidak semua tulisan dapat dimuat di media massa. Tulisan dengan analisis yang dangkal tidak dapat dimuat di media massa. Namun, tulisan dengan analisis terlalu mendalam dan bertele-tele juga akan ditolak oleh media massa. Media massa mencari tulisan yang ringkas, padat, dan dipaparkan dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Selain isi, judul tulisan juga tak kalah pentingnya dalam menarik perhatian pengelola media massa. Jika sebuah tulisan telah memenuhi kedua syarat di atas, kemungkinan besar beberapa hari setelah pengiriman, tulisan tersebut akan terpampang dalam sebuah kolom surat kabar.

 

Wawancara dengan Hawe Setiawan, jurnalis sekaligus budayawan

Hawe Setiawan, seorang penulis kolom budaya di beberapa surat kabar nasional dan daerah, memaparkan beberapa tips menulis jurnalistik yang menggigit. Media massa memiliki tipe berita masing-masing. Ada media yang mengambil pasar para akademis, dengan tingkat pendidikan cukup tinggi. Sedangkan media lainnya lebih menyentuh kalangan masyarakat menengah ke bawah yang haus pengetahuan. Ada pula media yang diperuntukkan hanya untuk wanita. Selain itu, redaktur media massa pun memiliki karakteristik yang beragam. Namun ada beberapa poin penting yang biasanya dijadikan acuan penulis, agar tulisan jurnalismenya dilirik oleh tim redaksi sebuah media massa.

 

 

 

Judul tulisan

Faktor pemikat yang pertama adalah judul yang menarik. Judul merupakan wajah sebuah tulisan. Seperti layaknya impresi manusia pada umumnya, pembaca biasanya melihat wajah sebuah tulisan dahulu, sebelum yang lainnya. Maka judul tulisan haruslah memikat pembaca pada lintas pandangan pertama. Judul tulisan yang baik adalah judul yang padat, singkat, dan dapat menggambarkan isi tulisan. Selain itu, akan lebih baik jika judul tulisan memiliki unsur pengulangan rima. Biasanya pula, pembaca akan tertarik pada tulisan dengan judul provokatif dan mengundang kontroversi.

 

Bagian pembuka tulisan

Faktor penting lainnya adalah paragraf pembukaan. Ibarat sebuah rumah, paragraf pembukaan adalah teras rumah tersebut. Teras rumah merupaka tempat seorang tuan rumah menyambut tamunya. Jika penyambutan di awal kurang menarik, tamu tersebut mungkin akan memilih untuk meninggalkan sang tuan rumah di teras.

 

Paragraf pembukaan haruslah membuat pembaca tidak bosan untuk melanjutkan pembacaan ke alinea-alinea selanjutnya. Hal ini dapat dilakukan dengan awal tulisan yang singkat, padat, dengan kalimat yang pendek, dan membuat penasaran. Alinea pertama dapat pula berupa kutipan kata-kata dari seorang tokoh terkenal, ilustrasi analogi, maupun deksripsi peristiwa.

 

Menulislah sesuai kompetensi yang kita tekuni

Staf-staf media massa merupakan orang-orang yang ahli di bidang jurnalistik, dan tidak ahli di bidang lainnya. Hal ini dihadapkan pada kebutuhan mereka terhadap tulisan-tulisan ilmiah oleh orang yang kompeten di bidangnya. Namun yang perlu diperhatikan, walaupun seseorang menulis sebuah artikel ilmiah, hendaknya pembaca awam tetap menangkap maksud yang hendak disampaikan penulis. Caranya dengan mengurangi penggunaan kata teknis. Kalau pun ada, berikanlah penjelasan mengenai arti kata tersebut. Sehingga masyarakat umum pun dapat mengerti maksud tulisan yang dipaparkan.

 

Proses berpikir kreatif

Menulis merupakan sebuah proses berpikir kreatif. Untuk dapat berpikir kreatif, seseorang dituntut untuk melihat segala sesuatu di luar kotak. Manusia yang kreatif selalu dapat melihat sebuah masalah dari sisi yang lain. Dan itu lah yang pembaca butuhkan saat ini: sebuah pandangan lain.

 

Latihan dan latihan

Teori saja tidak cukup untuk menjadi seorang jurnalis ideal. Diperlukan praktek dan latihan setiap harinya untuk menerapkan teori tersebut. Pak Hawe Setiawan sendiri, sebagai jurnalis andal, pun melakukan hal tersebut. Beliau selalu menyempatkan diri untuk menulis setiap hari, walau hanya beberapa menit. Selain itu, seorang jurnalis sejati mestinya selalu membawa peralatan perangnya ke mana pun ia pergi. Pikiran menarik tidak boleh hilang karena ketiadaan alat tulis. Seseorang tidak akan pernah tahu apa yang akan ditemuinya suatu saat. Bisa saja sedetik kemudian ia menemukan hal menarik untuk dituliskan. Jika hal topik tulisan sudah terlintas di pikiran, maka ia akan dapat dengan segera menuliskan ide-idenya tentang hal tersebut. Ide tidak pernah datang dua kali. Dan sayangnya, ide pun dapat dengan mudah menguap oleh waktu.

 

Setiap orang dapat menulis, baik anak-anak maupun orang tua, pekerja kantoran maupun tukang becak. Hanya saja, diperlukan sedikit upaya lebih untuk menjadi jurnalis yang dapat membuat karya yang menggigit. Untuk itu, sejak saat ini, hendaknya para calon-calon jurnalis telah memulai latihannya. Jangan sampai ada hari yang terlewatkan tanpa menulis. []

 

=============================================================

Dibuat sebagai UAS mata kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi

*daripada cuma numpuk di folder kuliah*

0

Sudut Pandang Demokrasi dalam Islam


Judul buku: Menikmati Demokrasi

Pengarang: M. Anis Matta

Penerbit: Insan Media Publishing House

Tahun terbit: 2007

Jumlah halaman: ii+187 halaman

 

Indonesia, sejak tumbangnya pemerintahan orde baru, mulai mengusung sistem demokrasi dalam segala bidang kehidupannya. Politik Indonesia pun menggeliat untuk menyesuaikan diri dengan sistem baru ini. Partai-partai politik bermunculan, termasuk partai-partai yang bernapaskan Islam, yang mencoba mengakomodasi idealisme mayoritas warga negara di Indonesia, Muslim. Namun masih banyak umat Muslim itu sendiri yang memisahkan antara kegiatan dakwah dan kegiatan politik. Mereka beranggapan bahwa Islam yang murni, adalah Islam tanpa politik. Tak jarang pula yang menganggap hina orang –orang yang terjun dalam panggung politik di pemerintahan.

Anis Matta melalui tulisan-tulisannya di majalah Saksi, yang kemudian dibukukan, mencoba mengubah paradigma tersebut. Judul “Menikmati Demokrasi” menggambarkan pola pikir penulis yang mencoba menyangkal pendapat demokrasi sama dengan kebebasan tanpa batas. Demokrasi saat ini, tulis beliau, hanya memfasilitasi munculnya semua potret imajinasi akan kebebasan, tapi kemudian melarang orang-orang mempertanyakan bagaimana akhirnya potret itu.

Walaupun saat penulisan buku ini penulis menjabat sebagai sekretaris jenderal salah satu partai politik, tak satu pun tulisannya yang mengarah pada kepartaian atau kampanye. Semuanya hanyalah grand design dakwah yang mengalir dari pikirannya ke dalam tulisan.

Buku kumpulan artikel ini membahas tentang demokrasi, dakwah, bagaimana pandangan serta sikap Islam tentang demokrasi, dan strategi dakwah pada era demokrasi. Kumpulan tulisan ini memang tak ada yang baru. Ini hanya proses cetak ulang. Tak ada revisi maupun tambahan tulisan. Tidak dapat disangkal, mungkin saja ada beberapa tulisan yang sudah tidak berkaitan dengan kondisi sekarang. Tapi tentu banyak hal-hal strategis yang relevan untuk diaplikasikan dalam politik dakwah ini.

Salah satu artikel paling menarik dalam buku ini adalah artikel berjudul “Mari Kita Berhenti Sejenak”. Melalui artikel ini, Anis Matta mengajak para pembaca untuk berhenti sejenak dari rutinitas sehari-hari dan melakukan evaluasi dan re-planning pembangunan Indonesia.

Selain artikel awal tersebut, masih banyak pikiran Anis Matta yang tertuang dalam analisis lugas pada artikel-artikel lainnya. Sehingga berbeda dengan buku lain, buku ini tidak hanya dijejali dengan fakta, tetapi juga dengan kajian mendalam mengenai masalah, potensi, dan solusi yang ditawarkan Islam.

Buku ini sebaiknya dibaca oleh para pengamat politik, para ulama, juga para aktivis nasional, sehingga mereka dapat mendapatkan gambaran tentang politik, Islam, dan pergerakan secara lebih integral. []

 

==========================================================

Dibuat sebagai tugas kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi

*daripada cuma numpuk di folder kuliah*

0

IRONi MAN (3)


Hai aku Farhan! Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Hobinya adalah belanja, jalan-jalan, belanja, eh, belanja udah disebut ya tadi?

Hari ini, sebagai kewajibanku sebagai anak laki-laki, aku menemani ibuku belanja ke department store ibu kota. Katanya, “kamu sebagai laki-laki harus melindungi ibu. Kalo ibu kenapa-kenapa di jalan gimana?”. Tapi aku tahu, ‘kenapa-kenapa’-nya ibu adalah: kecapean menenteng belanjaan, kehausan sehingga harus dibelikan minum, atau tangan terlalu penuh belanjaan sehingga tidak bisa menyetop angkot.

Ya, kami biasa menggunakan jasa kendaraan umum jika pergi kemana-mana. Hari ini kami pergi menjelang siang. Seharusnya jam segini, jalanan sudah tidak macet. Tapi nyatanya, walaupun sudah setengah jam, angkot kami hanya berpindah sejauh beberapa meter.

“Ada pejabat lewat, bu. Kendaraan lainnya dilarang lewat dulu”, begitu keterangan yang diberikan bapak sopir.

“Haduuuh, pejabat tuh maunya apa sih? Ini kan jalanan umum. Bukan jalanan punya dia aja. Nggak memperhatikan kepentingan publik! Kok bisa ya jadi pejabat?”, ibu langsung merepet panjang.

Setelah satu jam, akhirnya jalan kembali dibuka, dan angkot kami berjalan mulus. Di halte berikutnya, ada seorang nenek tua melambaikan tangannya, bermaksud menghentikan angkot yang kami naiki. Angkot berhenti, dan nenek itu tergopoh-gopoh naik ke angkot. Aku segera bergeser memberi jalan pada nenek itu. Namun, ibuku masih bergeming di tempatnya di pojokan dekat pintu angkot.

Nenek tua itu berusaha melewati ibu, namun akses masuk terlalu sempit. Nenek itu pun jatuh tersungkur.

Yaaah, saya kecewa.. Habis marah-marah gara-gara penghalangan jalan umum, Ibu menghalangi jalan seorang nenek yang mau masuk ke angkot.. Ckckck.. Ironi..

0

Aku adalah Anak Angin dan Awan


April, 2020

“Wahid, itu tadi ibumu menelepon. Katanya dia mau datang besok menjengukmu!”, suara Mbak Astri, pembina yayasan yatim piatu tempat aku tinggal, membuyarkan lamunanku. Beberapa detik diperlukan oleh stimulus itu untuk merambat di sepanjang impuls syarafku.

“Ibu yang mana, Mbak?”

“Ya ibu kandungmu, toh Hid..”

“Oo, iya, Mbak”, aku mencoba menjawab sedatar mungkin.

Wajar saja aku bertanya begitu, setidaknya hingga saat ini aku telah memiliki empat orang ibu.

Aku Wahid. Hanya Wahid. Aku bersama dua puluh anak lainnya tinggal di sebuah yayasan Yatim Piatu Kasih Ibu, sejak enam tahun yang lalu. Mbak Astri adalah salah satu pengasuh anak-anak di yayasan ini. Ia mendaftar menjadi pengasuh ketika aku berusia tiga tahun. Jarang sekali ada orang yang ingin menjadi pengasuh sebuah yayasan yatim piatu. Apalagi penghuni yayasan kami, Yayasan Kasih Ibu, terkenal paling dihindari se-Jabotabek. Karena itu pula, yayasan kami menawarkan gaji yang cukup besar untuk karyawannya. Mbak Astri ingin melanjutkan kuliah, tapi tidak memiliki uang. Makanya ia sepakat menjadi pengasuh kami, para monster cilik.

Kami sepakat, seharusnya yayasan ini tidak diberi nama “Kasih Ibu”. Kami ada di sini toh, karena tidak ada kasih sayang ibu untuk kami. Kami diserahkan – bahasa halus untuk dibuang – sejak kami masih bayi. Kebanyakan karena ibu kami tidak akan sanggup merawat kami dan terlalu takut untuk melakukan aborsi.

Baiklah, sekarang aku akan bercerita tentang ibu-ibuku.

Juni, 2017

Ibu pertama yang kukenal adalah Ibu Reni, orang yang pertama kali menemukanku di depan pintu yayasan. Katanya dia menemukanku dalam kardus makanan ringan, berselimut berlapis-lapis kain handuk. Katanya pula, Bu Dokter bilang, kalau aku terlambat beberapa menit diselamatkan dari gemulan handuk-handuk itu, aku akan mati sesak napas. Kadang-kadang aku berpikir, aku ingin ditemukan beberapa menit lebih lambat. Entahlah, pikiran seperti itu datang ketika aku sedang putus asa dan merasa dibuang.

Aku dianggap anak yang paling nakal di yayasan. Aku selalu mengganggu anak-anak lain yang lebih kecil dariku. Aku juga selalu mencari masalah dengan anak-anak besar. Aku paling suka mengganggu anak perempuan. Aku senang melihat mereka merengek dan marah-marah gara-gara boneka merah jambu mereka kurusak. Pernah pula aku kabur dari yayasan, dan menghilang dua-tiga hari. Orang-orang bilang aku hanya suka cari perhatian, makanya aku jadi bandel. Tidak, sebenarnya aku anak baik. Hanya saja keadaan menyuruhku untuk menjadi tidak baik.

Ibuku yang kedua adalah Mama Habibah. Aku diadopsi oleh Mama Habibah dan suaminya ketika aku berusia tiga tahun. Mereka tinggal di sebuah rumah besar di perumahan elit Jakarta Selatan. Aku cukup senang tinggal di sana. Kamar tidurku luas, kasurnya empuk, warna dindingnya biru laut. Papa bekerja di sebuah perusahaan elektronik internasional. Sedangkan Mama memiliki sebuah usaha butik.

Hampir setiap hari Minggu, mereka membawaku jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Walaupun mereka sering mengabaikanku jika di rumah, mereka mengijinkanku membeli apa saja yang kumau ketika sedang belanja bersama. Aku cukup senang dimanjakan di sana. Makanya, di sana aku menjadi anak yang penurut dan rajin. Sudah kukatakan, aku bukan anak yang nakal. Buktinya aku bisa menjadi anak penurut, jika aku merasa senang.

Suatu hari mereka berkata akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari, aku dititipkan di yayasan kembali. Namun, setelah lewat berminggu-minggu, aku tak kunjung dijemput. Beberapa saat kemudian aku tahu, aku dicampakkan kembali. Mbak Astri bercerita padaku di kamarku di yayasan. Setelah genap setahun bersama mereka, aku dikembalikan ke yayasan. Mereka akan memiliki bayi. “Mereka cuma pengen mancing anak, Hid”, katanya.

Tapi tetap saja aku sedih dan merasa terbuang. ‘Mancing anak’ adalah istilah yang biasa kami gunakan. Jika ada sepasang suami-istri yang sudah lama menikah, namun tak kunjung memiliki buah hati, maka mereka akan mengadopsi seorang anak. Harapannya, anak adopsi tersebut akan memancing lahirnya anak kandung mereka. Aneh juga pemikiran seperti itu. Mungkin aku dianggap umpan atau yang semacamnya bagi mereka. Sekarang aku berharap, aku benar-benar menjadi umpan ikan. Setidaknya, umpan ikan tidak perlu merasa sedih.

Januari, 2018

Ketika aku pulang dari bermain, aku melihat Mbak Astri di depan pintu yayasan. “Wahid, lihat, ada ibu yang akan mengadopsimu lagi!”, itulah kata sambutannya yang pertama.

Lalu ibu itu keluar dari pintu yayasan. Ia memakai blazer putih gading dan bersanggul anggun di belakang tengkuknya. Perawakannya tegap dan wajahnya tegas. Alisnya dicukur hingga menyerupai celurit yang biasa dibawa preman di Pasar Minggu. Pipi dan bibirnya merah karena riasan yang tidak ingin setengah-setengah menampang di wajahnya. Ia menatapku tajam.

Aku merasa ditatap oleh Dewi Kejahatan Hera dari cerita Hercules. Merinding. Ia kah yang akan menjadi ibuku?

Mbak Astri mengajak kami masuk dan duduk di sofa lapuk ruang penyambutan tamu. Ia memperkenalkan sang Dewi Kejahatan tersebut padaku. Namanya Bu Lulu. Mbak Astri tidak menyebut-nyebut bahwa Bu Lulu ingin aku memanggilnya mama atau apa. Jadi aku tetap memanggilnya Bu Lulu di keseharian, dan kupanggil ia Dewi Hera di dalam hati.

Bu Lulu adalah seorang agen penyalur pekerja, mulai dari pembantu, tukang kebun, hingga juru masak restoran. Ia pernah sekali menikah, namun suaminya telah meninggal dunia. Aku iseng berpikir, mungkin sang Dewi mengubah suaminya menjadi katak. Namun aku tetap merasa beruntung akan menemukan sebuah rumah lagi.

Setelah sebulan tinggal bersama Bu Lulu, aku menyesal telah merasa beruntung. Aku tidak dianggap sebagai anak-untuk-disayang-dan-dimanja olehnya. Sebenarnya ia membutuhkan seorang pekerja untuk membantu membersihkan rumah, mengangkat-angkat barang, dan membenarkan bagian rumah yang rusak. Ia bahkan tidak mengijinkanku bersekolah.

Maka, aku melapor kepada pembina yayasan, dan beberapa jam setelah laporanku, mereka langsung datang menjemput dengan mobil van warna hijau. Dengan begitu, berakhirlah nasibku sebagai anak angkat Bu Lulu. Atau lebih tepat, berakhirlah karirku sebagai pekerja rodi Bu Lulu.

Kembali ke masa sekarang

Ibu keempat yang kukenal adalah ibu kandungku sendiri. Sebenarnya aku belum terlalu mengenalnya. Aku hanya pernah mendengar suaranya lewat telepon. Ia mulai meneleponku beberapa minggu belakangan ini. Kata Mbak Astri, ibuku melahirkanku setahun setelah ia lulus SMP. Karena ia ingin melanjutkan sekolah ke SMA, maka ia harus menitipkanku ke yayasan. Ayahku? Tiada yang tahu ia siapa dan ada di mana. Hanya sekian yang dapat kuceritakan tentang orang tua kandungku.

Dari semua ibuku di atas, Ibu Reni lah yang paling baik dan kusayangi. Mungkin karena itu pula lah, ia yang paling cepat meninggalkan dunia. Mbak Astri bilang, “orang baik disayang Tuhan. Makanya, Tuhan ingin segera menemui Bu Reni.”

Namun, ada yang kuanggap sebagai orang tuaku sesungguhnya. Harta karun yang kutemukan dalam pengembaraan berhari-hari di jalanan kumuh Jakarta, masa-masa kabur dari asrama.

Ayahku adalah angin, yang menuntun kemana kakiku harus melangkah. Ayahku selalu berbisik  menguatkanku, seolah berkata, “Nak, teruslah berjuang! Teruslah melangkah! Ayah selalu ada di sampingmu”.

Lalu, Ibuku adalah awan, yang melindungiku dari sengatan matahari. Ibu yang membuatku tenang ketika aku menatapnya. Ibu yang lembut. Ibu yang meneteskan air matanya ketika aku berbuat nakal. Ibu yang rela meluluh ketika aku terbakar terik kota.

Sejak saat itu aku merasa lebih tenang. Aku merasa tidak sendirian lagi, karena mereka selalu ada.

Tapi sekarang, ibuku yang sesungguhnya akan datang. Haruskah aku melupakan orang tua awan dan anginku sekarang?

Hari yang dinantikan pun tiba. Aku, anak laki-laki berusia enam tahun yang memakai kemeja dan celana jins disterika rapi, sedang berdiri di pintu gerbang yayasan dengan harap-harap cemas. Setiap orang yang lewat kuikuti dengan pandangan mataku, “apakah yang itu orangnya?”.

Hari sudah semakin sore. Tak juga nampak kehadiran ibuku itu. Menjelang maghrib, aku masuk ke kamar dan mengunci pintu. Beberapa saat kemudian Mbak Astri mengetok pintuku. Aku membuka pintu dengan berat hati. Aku tidak pernah tega membantah perintah Mbak Astri.

“Hid, ibumu tak jadi datang hari ini. Ia belum siap katanya.. Ia masih mau melanjutkan sekolah yang lebih tinggi”, Mbak Astri mencoba memberitahukanku perlahan.

Aku terhenyak. Aku tidak percaya. Aku kecewa. Aku marah. Aku ingin lari. Ya, aku benar-benar sedang berlari sekarang. Aku ingin lari menjemput kedua orang tuaku yang sebenarnya, angin dan awan.

Menanggapi maraknya seks bebas di kalangan siswa SMP dan SMA saat ini.