Aku adalah Anak Angin dan Awan


April, 2020

“Wahid, itu tadi ibumu menelepon. Katanya dia mau datang besok menjengukmu!”, suara Mbak Astri, pembina yayasan yatim piatu tempat aku tinggal, membuyarkan lamunanku. Beberapa detik diperlukan oleh stimulus itu untuk merambat di sepanjang impuls syarafku.

“Ibu yang mana, Mbak?”

“Ya ibu kandungmu, toh Hid..”

“Oo, iya, Mbak”, aku mencoba menjawab sedatar mungkin.

Wajar saja aku bertanya begitu, setidaknya hingga saat ini aku telah memiliki empat orang ibu.

Aku Wahid. Hanya Wahid. Aku bersama dua puluh anak lainnya tinggal di sebuah yayasan Yatim Piatu Kasih Ibu, sejak enam tahun yang lalu. Mbak Astri adalah salah satu pengasuh anak-anak di yayasan ini. Ia mendaftar menjadi pengasuh ketika aku berusia tiga tahun. Jarang sekali ada orang yang ingin menjadi pengasuh sebuah yayasan yatim piatu. Apalagi penghuni yayasan kami, Yayasan Kasih Ibu, terkenal paling dihindari se-Jabotabek. Karena itu pula, yayasan kami menawarkan gaji yang cukup besar untuk karyawannya. Mbak Astri ingin melanjutkan kuliah, tapi tidak memiliki uang. Makanya ia sepakat menjadi pengasuh kami, para monster cilik.

Kami sepakat, seharusnya yayasan ini tidak diberi nama “Kasih Ibu”. Kami ada di sini toh, karena tidak ada kasih sayang ibu untuk kami. Kami diserahkan – bahasa halus untuk dibuang – sejak kami masih bayi. Kebanyakan karena ibu kami tidak akan sanggup merawat kami dan terlalu takut untuk melakukan aborsi.

Baiklah, sekarang aku akan bercerita tentang ibu-ibuku.

Juni, 2017

Ibu pertama yang kukenal adalah Ibu Reni, orang yang pertama kali menemukanku di depan pintu yayasan. Katanya dia menemukanku dalam kardus makanan ringan, berselimut berlapis-lapis kain handuk. Katanya pula, Bu Dokter bilang, kalau aku terlambat beberapa menit diselamatkan dari gemulan handuk-handuk itu, aku akan mati sesak napas. Kadang-kadang aku berpikir, aku ingin ditemukan beberapa menit lebih lambat. Entahlah, pikiran seperti itu datang ketika aku sedang putus asa dan merasa dibuang.

Aku dianggap anak yang paling nakal di yayasan. Aku selalu mengganggu anak-anak lain yang lebih kecil dariku. Aku juga selalu mencari masalah dengan anak-anak besar. Aku paling suka mengganggu anak perempuan. Aku senang melihat mereka merengek dan marah-marah gara-gara boneka merah jambu mereka kurusak. Pernah pula aku kabur dari yayasan, dan menghilang dua-tiga hari. Orang-orang bilang aku hanya suka cari perhatian, makanya aku jadi bandel. Tidak, sebenarnya aku anak baik. Hanya saja keadaan menyuruhku untuk menjadi tidak baik.

Ibuku yang kedua adalah Mama Habibah. Aku diadopsi oleh Mama Habibah dan suaminya ketika aku berusia tiga tahun. Mereka tinggal di sebuah rumah besar di perumahan elit Jakarta Selatan. Aku cukup senang tinggal di sana. Kamar tidurku luas, kasurnya empuk, warna dindingnya biru laut. Papa bekerja di sebuah perusahaan elektronik internasional. Sedangkan Mama memiliki sebuah usaha butik.

Hampir setiap hari Minggu, mereka membawaku jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Walaupun mereka sering mengabaikanku jika di rumah, mereka mengijinkanku membeli apa saja yang kumau ketika sedang belanja bersama. Aku cukup senang dimanjakan di sana. Makanya, di sana aku menjadi anak yang penurut dan rajin. Sudah kukatakan, aku bukan anak yang nakal. Buktinya aku bisa menjadi anak penurut, jika aku merasa senang.

Suatu hari mereka berkata akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari, aku dititipkan di yayasan kembali. Namun, setelah lewat berminggu-minggu, aku tak kunjung dijemput. Beberapa saat kemudian aku tahu, aku dicampakkan kembali. Mbak Astri bercerita padaku di kamarku di yayasan. Setelah genap setahun bersama mereka, aku dikembalikan ke yayasan. Mereka akan memiliki bayi. “Mereka cuma pengen mancing anak, Hid”, katanya.

Tapi tetap saja aku sedih dan merasa terbuang. ‘Mancing anak’ adalah istilah yang biasa kami gunakan. Jika ada sepasang suami-istri yang sudah lama menikah, namun tak kunjung memiliki buah hati, maka mereka akan mengadopsi seorang anak. Harapannya, anak adopsi tersebut akan memancing lahirnya anak kandung mereka. Aneh juga pemikiran seperti itu. Mungkin aku dianggap umpan atau yang semacamnya bagi mereka. Sekarang aku berharap, aku benar-benar menjadi umpan ikan. Setidaknya, umpan ikan tidak perlu merasa sedih.

Januari, 2018

Ketika aku pulang dari bermain, aku melihat Mbak Astri di depan pintu yayasan. “Wahid, lihat, ada ibu yang akan mengadopsimu lagi!”, itulah kata sambutannya yang pertama.

Lalu ibu itu keluar dari pintu yayasan. Ia memakai blazer putih gading dan bersanggul anggun di belakang tengkuknya. Perawakannya tegap dan wajahnya tegas. Alisnya dicukur hingga menyerupai celurit yang biasa dibawa preman di Pasar Minggu. Pipi dan bibirnya merah karena riasan yang tidak ingin setengah-setengah menampang di wajahnya. Ia menatapku tajam.

Aku merasa ditatap oleh Dewi Kejahatan Hera dari cerita Hercules. Merinding. Ia kah yang akan menjadi ibuku?

Mbak Astri mengajak kami masuk dan duduk di sofa lapuk ruang penyambutan tamu. Ia memperkenalkan sang Dewi Kejahatan tersebut padaku. Namanya Bu Lulu. Mbak Astri tidak menyebut-nyebut bahwa Bu Lulu ingin aku memanggilnya mama atau apa. Jadi aku tetap memanggilnya Bu Lulu di keseharian, dan kupanggil ia Dewi Hera di dalam hati.

Bu Lulu adalah seorang agen penyalur pekerja, mulai dari pembantu, tukang kebun, hingga juru masak restoran. Ia pernah sekali menikah, namun suaminya telah meninggal dunia. Aku iseng berpikir, mungkin sang Dewi mengubah suaminya menjadi katak. Namun aku tetap merasa beruntung akan menemukan sebuah rumah lagi.

Setelah sebulan tinggal bersama Bu Lulu, aku menyesal telah merasa beruntung. Aku tidak dianggap sebagai anak-untuk-disayang-dan-dimanja olehnya. Sebenarnya ia membutuhkan seorang pekerja untuk membantu membersihkan rumah, mengangkat-angkat barang, dan membenarkan bagian rumah yang rusak. Ia bahkan tidak mengijinkanku bersekolah.

Maka, aku melapor kepada pembina yayasan, dan beberapa jam setelah laporanku, mereka langsung datang menjemput dengan mobil van warna hijau. Dengan begitu, berakhirlah nasibku sebagai anak angkat Bu Lulu. Atau lebih tepat, berakhirlah karirku sebagai pekerja rodi Bu Lulu.

Kembali ke masa sekarang

Ibu keempat yang kukenal adalah ibu kandungku sendiri. Sebenarnya aku belum terlalu mengenalnya. Aku hanya pernah mendengar suaranya lewat telepon. Ia mulai meneleponku beberapa minggu belakangan ini. Kata Mbak Astri, ibuku melahirkanku setahun setelah ia lulus SMP. Karena ia ingin melanjutkan sekolah ke SMA, maka ia harus menitipkanku ke yayasan. Ayahku? Tiada yang tahu ia siapa dan ada di mana. Hanya sekian yang dapat kuceritakan tentang orang tua kandungku.

Dari semua ibuku di atas, Ibu Reni lah yang paling baik dan kusayangi. Mungkin karena itu pula lah, ia yang paling cepat meninggalkan dunia. Mbak Astri bilang, “orang baik disayang Tuhan. Makanya, Tuhan ingin segera menemui Bu Reni.”

Namun, ada yang kuanggap sebagai orang tuaku sesungguhnya. Harta karun yang kutemukan dalam pengembaraan berhari-hari di jalanan kumuh Jakarta, masa-masa kabur dari asrama.

Ayahku adalah angin, yang menuntun kemana kakiku harus melangkah. Ayahku selalu berbisik  menguatkanku, seolah berkata, “Nak, teruslah berjuang! Teruslah melangkah! Ayah selalu ada di sampingmu”.

Lalu, Ibuku adalah awan, yang melindungiku dari sengatan matahari. Ibu yang membuatku tenang ketika aku menatapnya. Ibu yang lembut. Ibu yang meneteskan air matanya ketika aku berbuat nakal. Ibu yang rela meluluh ketika aku terbakar terik kota.

Sejak saat itu aku merasa lebih tenang. Aku merasa tidak sendirian lagi, karena mereka selalu ada.

Tapi sekarang, ibuku yang sesungguhnya akan datang. Haruskah aku melupakan orang tua awan dan anginku sekarang?

Hari yang dinantikan pun tiba. Aku, anak laki-laki berusia enam tahun yang memakai kemeja dan celana jins disterika rapi, sedang berdiri di pintu gerbang yayasan dengan harap-harap cemas. Setiap orang yang lewat kuikuti dengan pandangan mataku, “apakah yang itu orangnya?”.

Hari sudah semakin sore. Tak juga nampak kehadiran ibuku itu. Menjelang maghrib, aku masuk ke kamar dan mengunci pintu. Beberapa saat kemudian Mbak Astri mengetok pintuku. Aku membuka pintu dengan berat hati. Aku tidak pernah tega membantah perintah Mbak Astri.

“Hid, ibumu tak jadi datang hari ini. Ia belum siap katanya.. Ia masih mau melanjutkan sekolah yang lebih tinggi”, Mbak Astri mencoba memberitahukanku perlahan.

Aku terhenyak. Aku tidak percaya. Aku kecewa. Aku marah. Aku ingin lari. Ya, aku benar-benar sedang berlari sekarang. Aku ingin lari menjemput kedua orang tuaku yang sebenarnya, angin dan awan.

Menanggapi maraknya seks bebas di kalangan siswa SMP dan SMA saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s