Pendidikan Berkaca pada Pembuatan Perangkat Lunak


matahari terbit

fajar tiba

dan aku melihat delapan juta kanak – kanak

tanpa pendidikan

 

aku bertanya

tetapi pertanyaan – pertanyaanku

membentur meja kekuasaan yang macet

dan papantulis – papan tulis para pendidik

yang terlepas dari persoalan kehidupan

dan di langit

para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas

bahwa bangsa mesti dibangun

mesti di up-grade

disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing

diktat – diktat hanya boleh memberi metode

tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan

kita mesti keluar ke jalan raya

keluar ke desa – desa

mencatat sendiri semua gejala

dan menghayati persoalan yang nyata

 

Sajak Sebatang Lisong – RENDRA ( itb bandung – 19 agustus 1978 )

 

Begitulah Rendra bercerita tentang pendidikan di Indonesia.

 

Pemerintah Indonesia sejak awal telah berkomitmen untuk mencerdaskan kehidupan warga negaranya, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 pada alinea keempat, yang menegaskan: ”Pemerintah   melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah  darah  Indonesia  dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Cita-cita Pembukaan UUD 1945 tersebut, selanjutnya dinyatakan secara tegas dalam Pasal 31 UUD 1945 yang telah diamandemen, sebagai berikut: 1) Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan; 2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; 3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; 4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; serta 5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

 

Kemudian harapan pemerintah Indonesia terhadap majunya pendidikan diperlihatkan dengan diresmikannya Undang-undang Badan Hukum Pendidikan, yang menjadikan Institusi Pendidikan memiliki titel Badan Hukum Pendidikan. Sebagai Badan Hukum Pendidikan, Sang Institusi pun diberikan kebebasan untuk merancang sendiri rencana pendanaannya.

 

Sedangkan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia berarti memenuhi kebutuhan seorang manusia agar ia dapat menjadi manusia seutuhnya yang selaras dengan alam dan lingkungannya. Kebutuhan seorang manusia dapat dibagi menjadi kebutuhan fisik, kebutuhan akal, dan kebutuhan ruhani.

 

Namun, sayangnya pendidikan di Indonesia saat ini, belum dapat mencapai tujuannya. Pendidikan di Indonesia memang berorientasi pemenuhan kebutuhan, tapi kebutuhan yang dipenuhi adalah kebutuhan jangka pendek, yaitu penyediaan sumber tenaga kerja. Sedangkan tiga kebutuhan pokok manusia di atas tidak dapat terpenuhi seutuhnya. Dalam hal pemenuhan kebutuhan pikiran, kurikulum pendidikan yang umumnya ada di Indonesia hanya bersifat menjejalkan pengetahuan-pengetahuan ke peserta didik, yang pengetahuan-pengetahuan tersebut belum tentu dibutuhkan oleh si peserta didik dalam pencapaian visi hidupnya. Selain itu, pemahaman yang diberikan hanyalah teori-teori tidak bersifat aplikatif. Hal ini dapat kita lihat pada sekolah-sekolah tingkat menengah yang ada saat ini. Jam belajar yang padat dibuat agar para siswa menerima materi-materi yang belum tentu mereka perlukan. Tak jarang pula, materi tersebut diberikan tanpa celah untuk ralat dan koreksi.

 

Dari segi pemenuhan kebutuhan fisik dan ruhani, kurikulum pendidikan di Indonesia juga belum dapat dikatakan memadai. Jatah jam pelajaran olahraga, kesenian, etika dan agama hanyalah sepersekian bagian dari total jam pelajaran yang ada di sekolah. Sisanya diisi dengan rumus matematika, hukum fisika, dan reaksi kimia, yang jelas bukan merupakan sarana pembentukan karakter yang baik.

 

Seharusnya para pembuat kurikulum di Indonesia berkaca pada pembuatan perangkat lunak komputer.Tahapan pembuatan perangkat lunak tersebut adalah tahap penentuan kebutuhan, tahap analisis masalah dan solusi, tahap perancangan, tahap implementasi, serta tahap pemeliharaan. Pada tahap penentuan kebutuhan, para calon pengguna, pengembang perangkat lunak, pemberi dana, dan analis sistem duduk bersama untuk menentukan apa sebenarnya kebutuhan yang ada. Lalu, dianalisislah permasalahan yang menyebabkan kebutuhan tersebut tidak dapat terpenuhi beserta solusi permasalahannya. Selanjutnya hasil analisis diimplementasikan dalam pembuatan perangkat lunak. Pemeliharaan merupakan tahapan tersulit dalam pembuatan sebuah perangkat lunak, karena kebutuhan masyarakat yang begitu cepat berubah.

 

Kurikulum pendidikan, yang merupakan salah satu masalah tidak tepatnya implementasi pendidikan, seharusnya disusun dengan analisis kebutuhan siswa yang mendalam. Penyusunan kurikulum pendidikan, seperti halnya penentuan kebutuhan sebuah perangkat lunak, sewajarnyalah melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang terkait, seperti pengajar, orang tua murid, pakar pendidikan, pakar agama, bahkan seniman. Dengan demikian, pengajaran yang diberikan di bangku-bangku sekolah dapat menjadi sarana transformasi peserta didik menjadi manusia yang seutuhnya.

 

Setelah itu, setelah kurikulum itu diimplementasikan menjadi bahan ajar di bangku sekolah, sudah selayaknyalah bahan ajar tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan di mana pendidikan tersebut ditanamkan. Jangan samakan pengajaran anak-anak kota Jakarta dengan anak-anak dari pedalaman Papua. Mungkin saja anak-anak kota perlu diajari tentang penghitungan neraca perusahaan, dan masyarakat pedalaman hanya perlu diajari tentang bercocok tanam.

 

Jika pendidikan Indonesia tetap kaku dan tidak memanusiakan manusia, dapat dibenarkanlah ucapan Rendra, “(pendidikan telah) terlepas dari persoalan kehidupan”.

 

=======================================================

Dibuat sebagai tugas kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi

*daripada cuma mejeng folder kuliah*

**rada sotoy juga sih, habis disuruh ngehubung2in dengan jurusan. Ane kan IF nyasar**

Advertisements

One thought on “Pendidikan Berkaca pada Pembuatan Perangkat Lunak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s