Siapa Bilang Wanita Butuh Berita?


Kalimat di atas terinspirasi dari sebuah slogan majalah wanita, “Siapa bilang wanita tak butuh berita?”

Saya justru bertanya sebaliknya, emang butuh? But, wait! Berita cem apa yang tak dibutuhkan? Awak numpang nyotoy dulu yak!

  1. Berita gosip artis dan sebagainya
    Acara infotainment (gosip-red) kayaknya ada di hampir semua stasiun tivi, dan semua waktu. Pagi-pagi ada insert, silet. Siang ada insert lagi. Sore ada Kiss. Malam ada sinden sip sip sip. *kok hapal sih, lo, Bos?* Iyee, awak nyari-nyari di google ini.. *penting banget sih*
    Coba bayangkan jika setiap hari kerjaan ibu-ibu cuma nonton berita gosip? Kalo dari psikologinya saya analisis begini. Manusia Indonesia sekarang (apalagi ibu-ibu), tingkat stress-nya sangat tinggi. Mikirin mulai dari biaya makan sehari-hari, anak sekolah, pajak, cicilan rumah, sampe ongkos. Selain itu, kondisi keseharian yang buruk juga nggak bisa dihindari: macet, lingkungan kotor, panas, petugas pemerintah yang tak ramah, kemalingan. *Oke, stop curhatnya, Bos*
    Nah, balik lagi ke tingkat stress yang tinggi. Program infotainment menayangkan banyak berita, mulai dari berita bahagia sampe berita sedih. Tapi kebanyakan berita adalah berita duka. Penonton akan berpikir seperti ini, “Dia yang artis aja ngerasain sedih, jatuh, dan terluka”. Maka kemungkinan besar beban si ornag tersebut akan berkurang, dengan menyaksikan bahwa ada orang lain yang punya beban juga. Tapi live must go on, bu.. Kita harus kembali ke dunia nyata dan nyari solusi (bukan malah nyari temen sepenanggungan)
  2. Berita dari ibu-ibu tetangga sebelah kalo dia beli kulkas baru
    Nggak cuma kulkas baru sih.. Bisa TV baru, AC baru, mesin cuci baru, mobil baru, dst dst. Saya coba liat dari aspek psikologinya lagi *gaya lo, Bos! Anak jurusan psikologi aja bukan!*
    Sesuatu yang sangat menyilaukan wanita adalah harta. Maka, jika ada orang lain yang memiliki sesuatu yang lebih, maka ibu-ibu ini akan cenderung iri dan menginginkan hal yang sama. Akibatnya? Menambah stress si ibu, tuntutan korupsi pada suami (ini kata dosen PKN lho), dan sifat konsumtif pada anak.
  3. Sinetron-sinetron yang nggak mutu (nggak cuma sinetron sih..)
    Remaja putri di Indonesia sekarang disuguhi berbagai adegan-adegan, mulai dari ngebentak orang tua, ngerokok, pacaran, nyontek, nge-gank, sampe dugem-dugem gak jelas. Lama-kelamaan pola pikir yang terbentuk adalah, “kalo gue gak melakukan hal yang sama kayak di tivi, maka gue adalah orang gak gaul, abnormal, ansos, autis”
    Coba bayangkan kalo memori yang masuk ke kepala mereka adalah tentang semangat perjuangan, pengorbanan untuk negara, semangat belajar, semangat ibadah, dll?

Sekian dulu ke-sotoy-an dari saya. Kalo ada yang nggak berkenan, silakan disampaikan 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s