2

Pentingnya Berilmu


Pentingnya berilmu sebelum beramal, tapi jangan lembam juga..

 

Iseng-iseng..

Advertisements
0

Manajemen Resiko


SWOT analysis diagram in English language.

Image via Wikipedia

Saya dapet kuliah ini jumat yang lalu. Tadinya pengen nulis langsung hari jumat, tapi nggak sempet. Mudah-mudahan categorize-nya yang salah bisa dimaklumi..

Kuliah ini adalah kuliah Manajemen Proyek Perangkat Lunak (MPPL).

Identifikasi Resiko:

  1. Brainstorming
  2. Delphi Technique (konsensus di antara para ahli)
  3. Interview
  4. SWOT Analysis

Analisis Kualitatif:

Probability:

Low

Medium

High

Impact:

Low

Medium

High

Kedua poin di atas dibuat tabel 3×3, dan dimasukkan berdasarkan kemungkinan kemunculan (probability) dan dampak yang dihasilkan (impact).

Cara menyikapi resiko yang merugikan:

  • Risk avoidance: eliminasi ancaman spesifik
  • Risk acceptance: menerima resiko yang terjadi
  • Risk transference: memindahkan tanggung jawab resiko ke pihak ketiga
  • Risk mitigation: mengurangi dampak resiko dengan mengurangi probabilitas terjadinya resiko

Tapi jangan salah! Nggak semua resiko itu merugikan. Ada juga resiko yang menguntungkan, cara menyikapinya adalah:

  • Risk exploitation: melakukan apa pun yang dapat membuat terjadinya resiko
  • Risk Sharing: berbagi resiko
  • Risk Enhancement: memperbesar peluang dengan memaksimalkan key driver resiko
  • Risk Acceptance: tidak melakukan apa-apa, resiko datang dengan sendirinya

Bersambung 😀

3

Jangan Tularkan “Penyakit” pada Orang Lain!


Tips sehat-merdeka dan tidak menularkan “penyakit” pada orang lain:

*penyakitnya pake tanda petik, italic, bold, underline, mudah-mudahan pada ngerti..*

  1. Jangan pasang status yang galau dan labil di FB, YM, twitter, dan temen-temennya.
    >> Kalo Anda pasang status yang neko-neko, asian yang baca, kasian yang terpengaruh, kasian yang namanya jadi jelek (termasuk Islam), kasian yang komen, kasian yang terpaksa terlibat.
  2. Hindari mem-bully, men-cie-cie-kan, men-ceng-ceng-i *masih belum nemu bahasa yang tepat* orang  terkait gosip pasangan dsb.
    >> Pengalaman nih, kalo ada dua orang yang di-ceng-ceng-in, padahal gak ada kasus apa-apa, biasanya mereka jadi menjauh-canggung atau bahkan beneran jadian. Apalagi kalo yang ada apa-apanya, kemungkinan bakal semakin menjadi dan fitnahnya makin gencar.
  3. Jika belum siap, jangan katakan pada siapa pun. Jangan biarkan dia tertular penyakit Anda.
    >> Kalo Anda bener-bener inginkan yang terbaik baginya, jangan tulari dia penyakit tersebut. Jangan seret dia ke dalam jurang.
  4. Jika belum mau dan mampu, jangan hunting-hunting dulu.
    >> Ini sih, tambahan dari temen.. Intinya, semua akan indah pada waktunya.
  5. Jangan gampang Ge-eR.
  6. Poin dasarnya, jaga kaidah interaksi.
    >> Pada udah tau lah yaa, kaidah interaksi yang umum ada (dengan tetap memperhatikan konteks tentunya), yaitu:
    • Pakaian syar’i
    • Menjaga pandangan
    • Berbicara seperlunya
    • Tidak berikhtilath dan berkhalwat
    • Menjaga jarak aman (truk aja suka masang “JAGA JARAK AMAN” :p)

Semoga bermanfaat. Ingetin ane juga yak!

===========================================================

*Lagi pengen ngebunuh manusia-manusia penyebar penyakit*

1

Kambing Hitam


… siiiiing …

Mohon maaf, berhubung kambingnya lagi dipingit untuk qurban, kita ganti tokoh utamnya menjadi kelinci hitam. Mudah-mudahan maknanya nggak hilang.

Halo, nama saya adalah Citam, singkatan dari kelinci hitam. Saya lahir di sebuah pulau yang bernama Pulau Kesalahan. Sesuai dengan namaku, aku berwarna hitam. Semua keluarga sampai nenek moyangku juga berwarna hitam. Kami telah tinggal di pulau ini selama berabad-abad. Kami telah ada sejak manusia ada. Bisa dikatakan, kami adalah hewan yang paling dicari-cari oleh manusia. Kalo kami adalah artis, pastilah kami artis yang paling populer. Kalo kami detektif, pastilah kami detektif yang memiliki paling banyak klien. Memang itulah, yang tugas kami: menemani manusia yang menjadi klien kami.

Sejak saya lahir, saya sudah beratus-ratus kali dipanggil untuk menemani manusia. Pekerjaan saya beraneka ragam, mulai dari perkara kecil, hingga perkara rumit yang menyangkut hidup-mati. Golongan kami biasanya bisa dipanggil dengan ketidakpuasan, kesalahan, ketakutan, prasangka, kesombongan, dan khianat manusia.

Saya akan menceritakan beberapa kisah pekerjaan saya yang cukup berkesan.

 

Pertama. Klien saya ini bernama Lia. Suatu hari, saya dipanggilnya ketika ia sedang terengah-engah karena berlari-lari mengejar keterlambatan di kuliah.

“Kenapa Anda baru datang?”

“Maaf, Pak. Tadi macet”, padahal jika aku berangkat lebih awal, nggak bakalan kena macet.

“Ya, kalau begitu, harus berangkat lebih awal, supaya Anda tidak kena macet.”

“Tadi angkotnya juga ngetem, Pak”, ngetemnya cuma beberapa detik sih..

“Ya sudah, silakan duduk”

 

Kedua. Pada kasus ini, klien saya ada dua orang, Oki dan Uka. Katanya sih mereka bersahabat. Percakapan ini terjadi di sebuah evaluasi acara.

“Karena pembicara kita nggak datang, peserta jadi kecewa, dan banyak yang pulang sebelum pembicara datang. Gimana nih? Ada yang bisa jawab kenapa pembicara bisa sampai nggak datang? Oki, kamu kan yang bertugas menjadi LO pembicara ini?”, tanya pemimpin forum.

“Iya, Kak. Sebenernya saya sudah menjemput pembicara ini di rumahnya. Tapi gara-gara Uka yang jadi supir kurang persiapan, kami jadi telat. Di tengah jalan, ada razia oleh polisi. Dia nggak bawa SIM dan STNK, jadinya kami ditilang,” jawab Oki.

“Uka?”

“Habisnya Oki juga datengnya telat sih, Kak.. Saya udah nungguin dia setengah jam, dia nggak datang-datang. Akhirnya saya jemput ke rumahnya. Trus gara-gara berangkatnya buru-buru, STNK sama SIM ketinggalan di rumahnya deh..”, sanggah Uka.

“Yaa, lagian kamu nggak bangunin aku pagi-pagi sih! Janjinya kan mau miskol!” Oki mulai panas.

“Pulsaku habis tau, gara-gara kamu pinjem nelpon sejam”, Uka tak kalah berangnya.

.

.

Sejak saat itu, kedua sahabat itu menjadi musuh.

Ketiga. Di kasus ini, klien awal saya cuma seorang, namun terus bertambah dan bertambah. Begini ceritanya..

Di sebuah organisasi, akan diadakan sebuah acara kaderisasi. Setelah hearing dan wawancara, beberapa orang yang ditunjuk oleh anggota bermusyawarah untuk menentukan ketuanya. Setelah musyawarah berlangsung semalaman suntuk, terpilihlah Ardi sebagai ketuanya, mengalahkan Arif dan Anggi. Keesokan harinya, seluruh anggota organisasi pun berkumpul untuk menerima pengumuman.

“Teman-teman, kemaren kami udah rapat untuk menentukan ketuanya siapa. Dan kami memutuskan, Ardi lah yang pantas menjadi ketua acara kaderisasi kita ini. Mohon kerja sama dari teman-teman semua ya! Kalian bersedia?”

“Iyaaa”, semua menjawab serempak.

“Eh, kenapa dia sih ketuanya?”, salah satu dari mereka berbisik dalam hati, Wawan.

Setelah setengah perjalanan kepemimpinan Ardi, banyak masalah yang mulai menghadang dan menghambat kerja. Hal ini diakibatkan kurang kompaknya tim dan banyak perpecahan. Sayangnya saya (kelinci hitam) lah yang menjadi penyebab perpecahan itu.

“Tuh, kan, gue bilang juga apa! Si Ardi tuh kerjanya gak bener!”, pancing Wawan.

“Iya, ya? Kan pemilihannya udah dirembugin sama petinggi-petinggi. Mereka lebih ngerti lah masalah-masalah beginian..”

“Mereka tuh nggak tau apa-apa. Mereka nggak tau keadaan di lapangannya kayak gimana. Jadinya gini nih..”

“Lo juga bukannya nggak bantuin si Ardi ya, Wan?”

“Gue udah males duluan bantuinnya. Soalnya dia suka bawel. Yang milih dia juga gak ngerti apa-apa.”

Begitulah ketiga pekerjaan yang pernah saya geluti. Dan hampir semuanya tidak dapat diselesaikan baik-baik. Hampir semuanya berakhir dengan putusnya hubungan silaturahmi. Saya sedih, saya lah yang menjadi kambing hitamnya. Eh, salah, kelinci hitam.

 

*Sedang menampari diri sendiri

1

Pemuda Indonesia yang Terlambat Dewasa


Pemuda Indonesia adalah calon pemimpin bangsa di masa depan. Namun sayangnya, pemuda Indonesia saat ini tertinggal dalam hal kedewasaan secara psikologi dan kemandirian. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kasus-kasus kriminal, seks bebas, maupun kemandirian yang berkaitan dengan remaja. Untuk itu, diperlukan sistem pendidikan yang mampu mendewasakan manusia, tidak hanya dari aspek fisik dan pikiran, tetapi juga dari aspek psikologis dan kemandirian sosio-ekonomi.

 

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan penduduk berjumlah 250.000.000, dan lebih dari setengahnya di antaranya telah dikatakan berusia dewasa.

Secara etimologi kedewasaan berasal dari kata dasar dewasa, yang berarti masa sesudah kanak-kanak dan sebelum tua. Artinya masa dewasa adalah masa antara masa kanak-kanak dan masa tua. Dalam bukunya Psikologi Kependidikan, Prof. Din Wahyudin, menyebutkan bahwa usia orang dalam masa dewasa itu adalah antara 19 – masuk masa tuanya.

Dapat disimpulkan bahwa kedewasaan secara istilah ialah keadaan yang terjadi kepada seorang individu setelah melewati masa kanak-kanaknya, kemudian ia masuk pada masa baru dalam hidupnya, dimana pada masa itu, sifat-sifat kekanak-kanakan semakin berkurang dan menghilang.

Sampai saat ini, belum ditemukan standar baku kapan dan dalam usia berapa seseorang akan mencapai kedewasaan karena belum ada ukuran tunggal untuk menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Meskipun demikian, aspek-aspek berikut dapat dijadikan faktor penentu sementara untuk mengukur tingkat kedewasaan seseorang, di antaranya:

  1. Dewasa secara fisik, indikatornya adalah ketika organ-organ reproduksi telah berkembang dan berfungsi secara optimal.
  2. Dewasa secara psikologis, indikatornya adalah adanya kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan.
  3. Dewasa secara sosial-ekonomi, yang ditampakkan dengan kemampuan seseorang untuk mandiri, mampu membiayai kebutuhan hidup sendiri dan menangani berbagai hal dengan kemampuan sendiri.

Pada essay ini, akan difokuskan pada pengertian dewasa aspek psikologis dan sosial ekonomi. Pada kedua aspek tersebut, dapat dilihat tahapan perkembangan kedewasaan sebagai berikut:

  1. Kemampuan untuk mengenali diri sendiri. Orang yang telah dewasa akan mengenali siapa dirinya, untuk apa ia dilahirkan di dunia ini dan apa tujuan hidupnya.
  2. Kemampuan menerima diri sendiri. Setelah mengenali diri sendiri, orang yang dewasa akan mampu memahami dirinya sehingga ia dapat menerima keadaan dirinya dan mampu menyikapi keadaan dirinya dengan baik.
  3. Kemampuan menerima orang lain. Selain mampu menerima keadaan dirinya sendiri, orang yang dewasa juga akan mampu menerima keberadaan orang lain dengan sikap simpati atau empati yang dimilikinya. Berbeda dengan orang yang belum dewasa, ia cenderung tidak akan dapat menerima keberadaan orang lain, terlebih jika orang tersebut berbeda karakter dengan dirinya.
  4. Kemampuan untuk memberi pengarahan kepada orang lain. Orang yang telah mencapai tingkat kedewasaan akan dengan senang hati membagi ilmunya dengan orang lain, karena ia akan berpikir bahwa ilmu akan semakin berkembang jika ia sebarkan juga ke orang lain. Lain halnya dengan orang yang belum dewasa, ia akan cenderung pelit akan ilmu karena khawatir merasa rugi jika ilmunya ia bagi dengan orang lain. Singkatnya, ia akan merasa takut tersaingi.
  5. Kemampuan berpikir dan  bertindak mandiri, berani menyuruh dan melarang diri sendiri, tahu tugas dan tanggung jawab, serta mampu membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Orang yang telah mencapai kedewasaan, akan mampu menggunakan akalnya dengan baik, sehingga ia akan tahu betul mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Kemudian, mengapa pemuda Indonesia dikatakan terlambat menjadi dewasa?

Pertama, banyaknya kasus tawuran antarpelajar, seks bebas, pemakaian narkoba, dan konsumsi alkohol. Hal ini menunujukkan bahwa mereka masih belum mengenali diri sendiri. Mereka belum mengetahui kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki, sehingga waktu yang mereka miliki digunakan untuk hal-hal yang berbau penyimpangan. Selain itu, kemampuan menerima diri sendiri dan orang lain juga dipertanyakan. Apakah seseorang yang mampu menerima perbedaan antara dirinya dan orang lain senang melakukan tawuran? Hal ini merepresentasikan kemampuan untuk berpikir sebelum melakukan masih kurang.

Kedua, dibandingkan dengan pemuda di negara lainnya, pemuda Indonesia masih jauh tertinggal dalam hal kemandirian. Pada usia tujuh belas tahun, pemuda di negara lain telah harus menghidupi dirinya sendiri. Sedangkan saat ini, banyak pemuda Indonesia yang masih bergantung kepada orang tua, bahkan hingga usia lanjut.

Ketiga, orientasi yang dimiliki pemuda saat ini belumlah mengenai tanggung jawab. Yang mereka pikirkan kebanyakan berkisar dari pacar, foya-foya, dan sebagainya.

Keempat, masalah kematangan emosional. Seorang dewasa harusnlah mampu memikirkan dampak dari setiap perbuatan yang ia lakukan, sehingga ia tidak mengutamakan emosi semata.

Untuk mengatasi masalah tersebut, di dalam essay ini ditawarkan solusi, yaitu:

  1. Pendidikan yang mengedepankan proses pendewasaan psikologis dan kemandirian sosio-ekonomi. Pendidikan ini dapat berupa pelatihan entrepreneurship sejak dini, pengenalan visi dan tujuan hidup, dan penyadaran tanggung jawab kepada negara. Kegiatan ekstrakurikuler juga mampu mengembangkan kemampuan sosial anak. Di sana, mereka diajarkan untuk dapat menerima dan bekerja sama dengan orang lain.
  2. Selain itu, diperlukan pengasuhan orang tua yang moderat dan mengembangkan budaya diskusi, tidak otoriter maupun terlalu permisif. Sehingga anak mampu berpikir dan menentukan jalan hidupnya, serta bertanggung jawab atas pilihannya.

Jika kedua tahap di atas telah dipenuhi, diyakini pemuda Indonesia akan mencapai kedewasaannya tepat waktu. Kemudian, hal ini akan berimplikasi pada kepemimpinan Indonesia yang lebih baik di masa depan.

 

Referensi

Blog PROGRAM TUTORIAL MKDU UPI

Human Development Edisi ke sembilan, bagian V-IX, oleh Diane E. Papalia, et. al

=======================================================

Gagal terkirim di lomba essay, masukin sini aja ^^

0

Tidak Pernah Ada Kata Reset Untuk Manusia


Apa yang kalian lakukan jika komputer atau laptop kalian hang/lemot/not responding? Yang saya lakukan:

1. Nungguin tu laptop sampe setidaknya lima belas menit (kalo nggak buru-buru. Kalo buru-buru paling cuma semenit). Kalo nggak ada tanda-tanda kemajuan, saya akan melakukan:

2. Manggil windows task manager pake jurus ctrl+alt+del. Trus kalo si windows task managernya udah muncul, saya akan tekan tombol end task. Dan penyebab kelemotan pun dihilangkan! Dara da da da dad!! Kalo gak berhasil, saya akan melakukan:

3. Mereset laptop! Caranya gampang, tinggal pencet tombol power on atau reset pada laptop/CPU. Dan laptop-pun dipaksa PHK tanpa pesangon. Kemudian saya tinggal menyalakan kembali laptop dan mengulang dari awal lagi pekerjaan.

Biasanya hang pada laptop itu terjadi karena adanya deadlock pada task. Deadlock adalah peristiwa saling menunggu resource yang akan digunakan. Misalnya (kalo dimisalkan dengan kehidupan sehari-hari), Ali mau pake lem yang sedang dipake Budi, sedangkan pekerjaan Budi dengan lem belum akan selesai jika gunting yang sedang dipake Ali belum selesai digunakan. Sedangkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang Ali lakukan, perlu menggunakan gunting dan lem. Jika hal itu sudah terjadi, maka salah satu proses harus di-kill. Bahasanye, salah satu dari Ali atau Budi harus ngalah lah.. Begitulah proses deadlock dihentikan. Tamat.

Yak, sebenernya saya bukan mau cerita tentang itu, kawan-kawan! <– *orang yang mudah dialihkan fokusnya*

Back to the topic!

Sayangnya, gak semua hal dalam hidup dapat di-reset. Contohnya, yang berhubungan dengan manusia. Sudah banyak kejadian yang saya saksikan (atau saya alami) yang dapat mempengaruhi manusia.

Yang saya ingin jabarkan di sini adalah tentang trust (penanaman kebiasaan) dan untrust (pemutusan kebiasaan). *bingung mau pake kata apa*

Penanaman kebiasaan sangat sulit dilakukan. Kebiasaan dibagi menjadi dua, kebiasaan baik dan kebiasaan buruk. Pembiasaan pada awalnya harus dipaksa, yang baik maupun buruk. Misalnya seorang anak yang malas sikat gigi, jika ia selalu dipaksa untuk sikat gigi sebelum tidur, maka itu akan menjadi kebiasaannya hingga tua. Atau seseorang yang tidak pernah merokok, namun ia terpengaruh oleh lingkungannya atau dipaksa teman-temannya untuk merokok. Mungkin pada awalnya dia akan terbatuk-batuk dan pusing, namun lama-kelamaan dia akan terbiasa.

Ini juga berlaku pada kepercayaan. Seseorang akan tumbuh rasa percayanya terhadap orang lain jika orang lain tersebut terus-menerus menjaga amanah. Terkadang juga diperlukan paksaan untuk menumbuhkan kepercayaan di awal. Misalnya seorang pemimpin organisasi yang perfeksionis, ambisius, individual, yang tidak percaya pada pekerjaan orang lain. Pada awalnya dia harus dipaksa untuk percaya pada orang lain, dan membagi pekerjaan.

Kepercayaan sangat sulit dibangun, sedangkan kepercayaan itu sangat mudah diruntuhkan. Maka dari itu kita perlu menjaganya. Seperti yang tertulis pada judul di atas, manusia tidak dapat di-reset. Jika kita berbuat kesalahan, mungkin kita bisa minta maaf, tapi memori tidak bisa di-reset.

 

*Ini sama sekali nggak ilmiah. Cuma ke-sotoy-an saya.*

==============================================================

Sedang memaksakan diri rutin menulis.