Tidak Pernah Ada Kata Reset Untuk Manusia


Apa yang kalian lakukan jika komputer atau laptop kalian hang/lemot/not responding? Yang saya lakukan:

1. Nungguin tu laptop sampe setidaknya lima belas menit (kalo nggak buru-buru. Kalo buru-buru paling cuma semenit). Kalo nggak ada tanda-tanda kemajuan, saya akan melakukan:

2. Manggil windows task manager pake jurus ctrl+alt+del. Trus kalo si windows task managernya udah muncul, saya akan tekan tombol end task. Dan penyebab kelemotan pun dihilangkan! Dara da da da dad!! Kalo gak berhasil, saya akan melakukan:

3. Mereset laptop! Caranya gampang, tinggal pencet tombol power on atau reset pada laptop/CPU. Dan laptop-pun dipaksa PHK tanpa pesangon. Kemudian saya tinggal menyalakan kembali laptop dan mengulang dari awal lagi pekerjaan.

Biasanya hang pada laptop itu terjadi karena adanya deadlock pada task. Deadlock adalah peristiwa saling menunggu resource yang akan digunakan. Misalnya (kalo dimisalkan dengan kehidupan sehari-hari), Ali mau pake lem yang sedang dipake Budi, sedangkan pekerjaan Budi dengan lem belum akan selesai jika gunting yang sedang dipake Ali belum selesai digunakan. Sedangkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang Ali lakukan, perlu menggunakan gunting dan lem. Jika hal itu sudah terjadi, maka salah satu proses harus di-kill. Bahasanye, salah satu dari Ali atau Budi harus ngalah lah.. Begitulah proses deadlock dihentikan. Tamat.

Yak, sebenernya saya bukan mau cerita tentang itu, kawan-kawan! <– *orang yang mudah dialihkan fokusnya*

Back to the topic!

Sayangnya, gak semua hal dalam hidup dapat di-reset. Contohnya, yang berhubungan dengan manusia. Sudah banyak kejadian yang saya saksikan (atau saya alami) yang dapat mempengaruhi manusia.

Yang saya ingin jabarkan di sini adalah tentang trust (penanaman kebiasaan) dan untrust (pemutusan kebiasaan). *bingung mau pake kata apa*

Penanaman kebiasaan sangat sulit dilakukan. Kebiasaan dibagi menjadi dua, kebiasaan baik dan kebiasaan buruk. Pembiasaan pada awalnya harus dipaksa, yang baik maupun buruk. Misalnya seorang anak yang malas sikat gigi, jika ia selalu dipaksa untuk sikat gigi sebelum tidur, maka itu akan menjadi kebiasaannya hingga tua. Atau seseorang yang tidak pernah merokok, namun ia terpengaruh oleh lingkungannya atau dipaksa teman-temannya untuk merokok. Mungkin pada awalnya dia akan terbatuk-batuk dan pusing, namun lama-kelamaan dia akan terbiasa.

Ini juga berlaku pada kepercayaan. Seseorang akan tumbuh rasa percayanya terhadap orang lain jika orang lain tersebut terus-menerus menjaga amanah. Terkadang juga diperlukan paksaan untuk menumbuhkan kepercayaan di awal. Misalnya seorang pemimpin organisasi yang perfeksionis, ambisius, individual, yang tidak percaya pada pekerjaan orang lain. Pada awalnya dia harus dipaksa untuk percaya pada orang lain, dan membagi pekerjaan.

Kepercayaan sangat sulit dibangun, sedangkan kepercayaan itu sangat mudah diruntuhkan. Maka dari itu kita perlu menjaganya. Seperti yang tertulis pada judul di atas, manusia tidak dapat di-reset. Jika kita berbuat kesalahan, mungkin kita bisa minta maaf, tapi memori tidak bisa di-reset.

 

*Ini sama sekali nggak ilmiah. Cuma ke-sotoy-an saya.*

==============================================================

Sedang memaksakan diri rutin menulis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s