Kambing Hitam


… siiiiing …

Mohon maaf, berhubung kambingnya lagi dipingit untuk qurban, kita ganti tokoh utamnya menjadi kelinci hitam. Mudah-mudahan maknanya nggak hilang.

Halo, nama saya adalah Citam, singkatan dari kelinci hitam. Saya lahir di sebuah pulau yang bernama Pulau Kesalahan. Sesuai dengan namaku, aku berwarna hitam. Semua keluarga sampai nenek moyangku juga berwarna hitam. Kami telah tinggal di pulau ini selama berabad-abad. Kami telah ada sejak manusia ada. Bisa dikatakan, kami adalah hewan yang paling dicari-cari oleh manusia. Kalo kami adalah artis, pastilah kami artis yang paling populer. Kalo kami detektif, pastilah kami detektif yang memiliki paling banyak klien. Memang itulah, yang tugas kami: menemani manusia yang menjadi klien kami.

Sejak saya lahir, saya sudah beratus-ratus kali dipanggil untuk menemani manusia. Pekerjaan saya beraneka ragam, mulai dari perkara kecil, hingga perkara rumit yang menyangkut hidup-mati. Golongan kami biasanya bisa dipanggil dengan ketidakpuasan, kesalahan, ketakutan, prasangka, kesombongan, dan khianat manusia.

Saya akan menceritakan beberapa kisah pekerjaan saya yang cukup berkesan.

 

Pertama. Klien saya ini bernama Lia. Suatu hari, saya dipanggilnya ketika ia sedang terengah-engah karena berlari-lari mengejar keterlambatan di kuliah.

“Kenapa Anda baru datang?”

“Maaf, Pak. Tadi macet”, padahal jika aku berangkat lebih awal, nggak bakalan kena macet.

“Ya, kalau begitu, harus berangkat lebih awal, supaya Anda tidak kena macet.”

“Tadi angkotnya juga ngetem, Pak”, ngetemnya cuma beberapa detik sih..

“Ya sudah, silakan duduk”

 

Kedua. Pada kasus ini, klien saya ada dua orang, Oki dan Uka. Katanya sih mereka bersahabat. Percakapan ini terjadi di sebuah evaluasi acara.

“Karena pembicara kita nggak datang, peserta jadi kecewa, dan banyak yang pulang sebelum pembicara datang. Gimana nih? Ada yang bisa jawab kenapa pembicara bisa sampai nggak datang? Oki, kamu kan yang bertugas menjadi LO pembicara ini?”, tanya pemimpin forum.

“Iya, Kak. Sebenernya saya sudah menjemput pembicara ini di rumahnya. Tapi gara-gara Uka yang jadi supir kurang persiapan, kami jadi telat. Di tengah jalan, ada razia oleh polisi. Dia nggak bawa SIM dan STNK, jadinya kami ditilang,” jawab Oki.

“Uka?”

“Habisnya Oki juga datengnya telat sih, Kak.. Saya udah nungguin dia setengah jam, dia nggak datang-datang. Akhirnya saya jemput ke rumahnya. Trus gara-gara berangkatnya buru-buru, STNK sama SIM ketinggalan di rumahnya deh..”, sanggah Uka.

“Yaa, lagian kamu nggak bangunin aku pagi-pagi sih! Janjinya kan mau miskol!” Oki mulai panas.

“Pulsaku habis tau, gara-gara kamu pinjem nelpon sejam”, Uka tak kalah berangnya.

.

.

Sejak saat itu, kedua sahabat itu menjadi musuh.

Ketiga. Di kasus ini, klien awal saya cuma seorang, namun terus bertambah dan bertambah. Begini ceritanya..

Di sebuah organisasi, akan diadakan sebuah acara kaderisasi. Setelah hearing dan wawancara, beberapa orang yang ditunjuk oleh anggota bermusyawarah untuk menentukan ketuanya. Setelah musyawarah berlangsung semalaman suntuk, terpilihlah Ardi sebagai ketuanya, mengalahkan Arif dan Anggi. Keesokan harinya, seluruh anggota organisasi pun berkumpul untuk menerima pengumuman.

“Teman-teman, kemaren kami udah rapat untuk menentukan ketuanya siapa. Dan kami memutuskan, Ardi lah yang pantas menjadi ketua acara kaderisasi kita ini. Mohon kerja sama dari teman-teman semua ya! Kalian bersedia?”

“Iyaaa”, semua menjawab serempak.

“Eh, kenapa dia sih ketuanya?”, salah satu dari mereka berbisik dalam hati, Wawan.

Setelah setengah perjalanan kepemimpinan Ardi, banyak masalah yang mulai menghadang dan menghambat kerja. Hal ini diakibatkan kurang kompaknya tim dan banyak perpecahan. Sayangnya saya (kelinci hitam) lah yang menjadi penyebab perpecahan itu.

“Tuh, kan, gue bilang juga apa! Si Ardi tuh kerjanya gak bener!”, pancing Wawan.

“Iya, ya? Kan pemilihannya udah dirembugin sama petinggi-petinggi. Mereka lebih ngerti lah masalah-masalah beginian..”

“Mereka tuh nggak tau apa-apa. Mereka nggak tau keadaan di lapangannya kayak gimana. Jadinya gini nih..”

“Lo juga bukannya nggak bantuin si Ardi ya, Wan?”

“Gue udah males duluan bantuinnya. Soalnya dia suka bawel. Yang milih dia juga gak ngerti apa-apa.”

Begitulah ketiga pekerjaan yang pernah saya geluti. Dan hampir semuanya tidak dapat diselesaikan baik-baik. Hampir semuanya berakhir dengan putusnya hubungan silaturahmi. Saya sedih, saya lah yang menjadi kambing hitamnya. Eh, salah, kelinci hitam.

 

*Sedang menampari diri sendiri

Advertisements

One thought on “Kambing Hitam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s