2

Kuburan?


Kuburan? Apakah saya nggak salah dengar? Kuburan?!?! Saya semakin bingung.

Malam itu, pelanggan terakhir saya datang. Ya, saya adalah pengusaha terkenal di daerah saya, tempat transit truk-truk yang sedang menunaikan tugasnya mondar-mandir dari suatu kota ke kota lain. Bukan, saya bukan pedagang makanan. Saya juga bukan pemilik POM bensin. Saya bukan pengedar jasa wanita murahan. Saya juga bukan makelar saham, apalagi rentenir. Saya adalah penjual jasa penghiasan kendaraan. Terdengar bergengsi bukan? Padahal saya dan beberapa anak buah saya sebenarnya hanya bekerja mengecat truk-truk yang ingin terlihat lebih tidak-biasa. Tapi perkataan saya tentang pengusaha terkenal itu sungguhan. Saya sudah terkenal oleh berbagai macam supir truk seantero Jawa. Mulai dari sekedar tulisan “doa ibu”, “jaga jarak aman”, “kutunggu jandamu”, gambar pemandangan, hingga lukisan artis ibu kota sudah pernah saya torehkan di truk-truk mereka. Bayarannya memang tak seberapa, tapi cukuplah untuk makan saya dan anak buah, juga keluarga kami.

Malam itu, pelanggan terakhir saya datang. Perawakannya biasa saja. Wajahnya mulus tercukur rapi. Ia memakai kaos berkerah berwarna putih gading dan celana panjang dari bahan yang lentur.

“Assalamu’alaykum, Bang! Ini bener tempat cat truk?”

“Iya, bener, Bos! Mau ngecat truk Bos? Sini, sini, masuk dulu. Silakan duduk dulu..”

“Iya, Bang. Ono noh, truk aye nyang di depan sono. Mau dicat penuh, full body” *saya sebenernya nggak ngerti istilah-istilahnya, jadi ngarang aja..-red*

“Mau tulisan, gambar, lukisan pemandangan, atau polos doang, Bos?”

“Gambar aje, Bang”

“Gambar apa, Bos? R*mbo? I*s D*hlia? N*kolas S*putra? D*di P*tet? Rumah adat? Atau yang lain?”

“Nggak, Bang. Aye minte digambarin kuburan. Kate istri aye, biar aye terus-terusan ingat kematian. Biar gak lalai katanye!”

“Kuburan?”

“Iye, Bang, kuburan..”

Aneh sangat. Sungguh. Dulu memang saya sempat tak habis pikir ketika ada Supir truk yang minta digambarkan tokoh kartun Naruto di bagian belakang truknya, karena keinginan anaknya. Tapi sekarang, kuburan? Kini saya benar-benar bingung.

================================================================================

Terinspirasi dari perjalanan Bandung-Bekasi, di travel DayTrans.

Advertisements
0

Seandainya Ada Inspeksi Mendadak


Malam itu saya sedang duduk santai di kosan, mengobrol riang dengan teman-teman melalui fasilitas Yahoo! Messenger. Obrolan kami beraneka ragam, mulai dari urusan organisasi, akademik, koordinasi, iseng, sampai cuma menyapa. Saya sendirian di kosan saat itu. Beberapa teman sedang pulang kampung, menyisakan hanya tiga orang sebagai kuncen kosan. Wawan dan Jono sedang mencari sesuap nasi untuk mengisi perut. Saya yang malas keluar, memilih untuk menitip makanan ayam pecel favorit saja. Kalau sudah mengobrol, saya sering malas kemana-mana, sering lupa makan, bahkan sering lupa waktu.

Tiba-tiba ada ketukan keras di pintu. Mungkin Wawan dan Jono sudah pulang. Eh, tapi kan mereka sudah bawa kunci? Aku melangkah dengan gontai menuju pintu kayu. Kuputar kunci yang menggantung di kediamannya. Kepalaku refleks melongok keluar, menanti pantulan cahaya yang datang ke mataku berupa sosok sang tamu. Tidak ada siapa-siapa.

“Kami di sini! Sudah kuduga, kalian para manusia pasti selalu tidak bisa langsung melihat kami”, tiba-tiba ada suara berat hinggap di telingaku.

“Siapa itu? Dimana kalian? Kalo kalian semut, akan saya jadikan binatang peliharaan. Kalo kalian hantu, akan saya usir (?)”, aku bingung

“Ini, lihat ke bawah, kami di dekat kakimu!”, kali ini suara yang mampir di gendang telingaku lebih cempreng.

Aku melihat ke bawah. Dua orang liliput sedang memandangku dari batas bawah kaki celanaku. Keduanya memakai seragam polisi yang aneh, satu berwarna biru tua dan yang satu berwarna cokelat pramuka. Aku meloncat ke belakang, setengah karena kaget, setengah karena takut ada satu orang liliput lagi yang ternyata terinjak di bawah kakiku.

“Jangan takut, kami bukan hantu. Kami polisi yang mau inspeksi”, suara cempreng bapak berbaju cokelat kembali singgah di telingaku.

“Ada apa ya, Pak?”

“Kami mau inspeksi sms, messenger, dan status-status jejaring sosial Anda”, jawab polisi berbaju biru lebih berwibawa.

“Apa? Inspeksi?”

“Iya, benar, inspeksi”, polisi berbaju biru sudah masuk ke dalam kamarku dalam mulai mengambil HP-ku. Gerakannya lincah sekali.

“Tunggu, inspeksi, Pak?”

“Iya, benar, inspeksi”, polisi berbaju cokelat mulai mengutak-ngatik laptopku.

“Jangan, Pak! Inspeksi?”

“Iya, benar, inspeksi”, mereka mengulang lagi kalimat itu.

Whaaaat? Inspeksi??? Apa yang diinspeksi? Jangan!!! Gimana kalo mereka menemukan sms-sms canda-dan-gak-penting-ku ke mahasiswi-mahasiswi masjid? Gimana kalo mereka kaget karena melihat status-status labilku di jejaring sosial? Oh, no! Obrolan “koordinasi”ku dengan ukhti ************* masih terpampang jelas di layar laptop! Oh, God!

Mereka mencatat banyak sekali di buku catatan pelanggaran mereka. Setelah puas mencatat segalanya di buku mereka, mereka memanggilku.

“Sini, lihat ini, hasil inspeksi kami!”

“Saya tidak mau lihat!”

Mereka memaksakan lembar demi lembar itu memasuki ruang lingkup penglihatanku. Lembar demi lembar yang tidak habis-habisnya. Kata-kata centil dalam sms-smsku. Kata-kata sok akrab dalam chatting-ku. Kata-kata galau sok melankolis dalam statusku. Lembaran-lembarannya dibalik semakin cepat. Kepalaku pusing. Pening. Mual. Gelap. Semua berputar semakin cepat. Tidaaaaaaaakk!!!!!!

Zzzzzz

Ting

Ting

Aku terbangun karena panggilan mengobrol di layar laptop. Huffh, hanya mimpi.

Wawan_dermawan: BUZZ

Wawan_dermawan: Oi, bro, bukain pintu dong! Kunci kita ketinggalan nih..

Wawan_dermawan: YM-an mulu dah ni orang! Woi, kita udah mengkeret nih di luar.

Aku segera menutup semua jendela chat-ku yang memalukan jika diinspeksi, dan berjalan gontai ke pintu.

Aku memutar kunci pintu, dan menariknya. Tak ada siapa-siapa. Dengan takut-takut aku melihat ke bawah lututku. Kumohon, jangan, jangan! Dan benarlah. Dua polisi liliput itu berdehem dan tersenyum ke arahku.

TIDAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

“Bro, bangun oi!”, itu suara Wawan, “Nih, ayam pecelnya..”

=============================================================================

Terinspirasi dari sebuah akun Facebook yang pernah saya wacanakan. Sayangnya, itu cuma jadi wacana bagi saya, dan realisasi bagi orang yang benar-benar membuatnya.

Terinspirasi juga dari film Inception :p

0

Tak Mungkin Kau Menyukai Air Tapi Membenci Basah


Saya sangat suka main air, apalagi di sungai atau pantai. Saya senang merasakan aliran air menarik-narik kaki saya. Saya sangat suka main air. Tapi ada yang saya tidak senangi setelahnya. Saya tidak suka basah setelah bermain air. Rasanya tidak enak. Hal itu menjadikan rasa kering setelahnya menjadi menyenangkan, lebih menyenangkan dari rasa kering sebelumnya. Seperti jika kau harus berdiri lama di metromini, dan tiba-tiba ada seorang penumpang yang turun memberikan kursinya padamu. Pasti kesempatan untuk duduk itu akan sangat-sangat kau syukuri dibandingkan ketika kau duduk di kelas, di ruang tamu, atau di atas kasurmu.

Sama halnya seperti bekerja “dakwah”. Dalam dakwah, kau akan ditemani dengan ukhuwah di antara saudara-saudarimu. Namun selain itu, kau juga harus kehilangan sejenak waktumu untuk belajar demi IP 4, kehilangan waktu bersantaimu, merelakan pikiranmu untuk memikirkan nasib umat, dan mungkin kehilangan kesempatan untuk sedikit memikirkan kesehatanmu.

Tapi janji yang ditawarkan Allah setelahnya terlalu indah untuk dilewatkan: pahalaNya yang berlipat-lipat dan terus mengalir. Hebat bukan? Berlipat-lipat dan terus mengalir! Berlipat-lipat karena ketika kau menginspirasi satu orang kepada jalan cahaya, dan orang itu menginspirasi orang-orang berikutnya, maka pahalanya juga akan sampai kepadamu. Terus mengalir karena walaupun kau sudah tidak bisa berkarya di bumi Allah ini, selama yang kau ajarkan terus dipergunakan, pahalanya akan terus sampai padamu.

Pahala. Mungkin itu adalah sebuah kata-kata abstrak bagimu. Namun mengapa kau tak anggap abstrak kata-kata takut, cinta, kecewa, benci, kasih, dan sebagainya? Yak, dia hanya perlu dipercayai keberadaannya. Sama halnya ketika seseorang tidak mempercayai adanya rasa takut, cinta, atau benci, maka ia tidak akan pernah merasakannya.

===============================================================

*Mulai absurd, loncat-loncat. Yaudahlah ya..

0

Mengejar Pak Tif


18 Desember 2010

Saya melihat pengumuman bahwa akan ada seminar Profesi Pekerjaan Sosial di Aula Rektorat Unpad DU. Dari beberapa nama yang terpampang di publikasi itu, pandangan saya langsung tertarik pada sebuah nama: Ir. Tifatul Sembiring, Menkominfo RI. So, saya ber-azzam untuk hadir ke sana. Pak Tif, saya akan datang!

20 Desember 2010

Acara -katanya- dimulai jam 08.00. Jam 07.50 saya baru berangkat dari rumah di taman sari (mau jadi apa lo, Ga, jam segitu baru berangkat?). Sesampainya di Unpad DU (saya dalam hati sempat merasa bangga, “akhirnya gue bisa pergi sendirian tanpa nyasar!!!”), saya melihat Bapak-Bapak berseragam (kayaknya Sentinel). Bapaknya tegap dan seram. Tapi mau nggak mau, saya nanya juga, “Pak, aula rektorat lantai 4 di mana ya?”

Si Bapak pun menjawab dengan sangat ramah, “Oh, di balik gedung ini, Teh.. Masuk aja dari pintu itu, trus belok kanan”, bahkan dia menunjuk dengan jempol (khas sopan santun orang Sunda). Saya yang masih takjub dengan keramahan Bapak itu, mengucapkan terima kasih dengan sok-imut-penuh-terima-kasih.

Akhirnya saya sampai lah di gedung yang di maksud. Di pintu depan udah banyak mahasiswa-mahasiswi berbatik yang berjaga di depan pintu bak pagar bagus dan pagar ayu penyambut tamu.

Saya ditunjukkan jalan ke tempat acaranya. Ketika sampai di meja pendaftaran tamu, saya ditanya, “Dari mana teh?”.

“Dari ITB”, kata saya masih dengan sok-imut-dan-rendah-hati. Kayaknya teteh-tetehnya langsung bingung gitu, “ngapain anak ITB ikut seminar pekerja sosial”. Tema di seminar itu adalah Perlindungan Anak.

Dalam hati, saya emang mau melindungi anak-anak Indonesia kok! Melindungi mereka dari konten media yang merusak!

Saya masuk ke dalam ruangan, duduk di kursi sendirian, kenalan dengan beberapa alumni poltekes, smsan, gambar-gambar, dll. Acara dimulai jam 9, dengan sambutan dari ketua panitia, sambutan dekan (apa kaprodi ya?) dan pemukulan gong. Trus, yang membuat saya syok sekaligus kagum, rangkaian acara pembukaan selanjutnya adalah, seperti yang dikumandangkan MC, PEMBACAAN AYAT SUCI AL-QUR’AN. Padahal itu bisa dibilang acara yang sangat umum.

Selanjutnya ada Sambutan dari Mrs. Delilah (gak tau gimana nulisnya), perwakilan organisasi Save the Children. Ibu ini dari Filipina (begitu denger ini, para peserta langsung rame. Dan si Ibunya langsung nyambung, “Yes, the football. I’m proud of Indonesia”). Inti sambutannya kalo nggak salah tentang bagaimana mengembalikan pengasuhan anak dari institusi ke pengasuhan keluarga (ibunya ngomong pake english, dan setiap kalimat diterjemahkan oleh teteh panitia).

Selanjutnya adalah yang saya tunggu-tunggu: KEYNOTE SPEECH dari PAK TIF.

Saya bener-bener nunggu kesempatan ketemu Pak Tif. Bukan nge-fans, atau fanatik partai tertentu, saya memang bercita-cita ingin jadi staff ahli di Depkominfo.

Ini beberapa hal yang disampaikan oleh Pak Tif, di sela-sela pantun dan guyonan beliau:

  • Belum ada yang serius dan spesifik mengurusi masalah anak-anak. Paling-paling dititip ke kementerian Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak, Kementerian Pendidikan, Kementerian Sosial.
  • Penggunaan ICT (Information and Communication Technology) berkembang pesat di Indonesia. Bahkan jumlah perbandingan HP:orang=1,8. Amazing! Berarti banyak yang punya HP lebih dari 1 di Indonesia.
  • Dari perkembangan tersebut, yang paling banyak digunakan masih sebatas email, sms, jejaring sosial, dan games. Sedangkan untuk riset dan bisnis masih minim.
  • Dari survey, ternyata 75% remaja di malaysia telah melakukan hubungan seksual di luar nikah, dan di Indonesia 61%. Dan setelah ditanya, ternyata pengaruh utamanya adalah dari Internet dan Film. Kasihan sekali kalian, pemuda harapan bangsa.
  • Software antipornografi yang bisa diterapkan di internet dapat diunduh di web depkominfo.
  • Tahun 2011 nanti, jaringan-jaringan BB akan dapat diakses oleh negara. Jadi berhati-hatilah kalian para koruptor yang memanfaatkan privacy BB! Harr.. harr.. harr..

Bersambung.. *saya mau siap-siap rapat dulu..

0

Berjalan-jalan bersama Angin


Dari tempat yang tinggi ini aku dapat melihat sekelilingku dengan jelas. Angin semilir membuatku kedinginan, aku mengeriutkan badan rapuhku hingga tulang-tulang hijauku berkeretak. Jika angin itu lebih keras lagi, pasti aku akan terbang tertiupnya. Dan benar saja, angin itu menantangku bermain. Sayangnya aku kalah. Kini aku mengeriut lepas dari peganganku dan ikut berlari bersama angin.

Mungkin di hidupku yang satu-satunya ini, Tuhan ingin aku melihat indahnya dunia. Baiklah, aku akan memenuhi titah-Mu!

Pertama aku mengunjungi sebuah gubuk kecil di tepian rel kereta api. Penghuni gubuk itu adalah sebuah keluarga yang beranggotakan sepasang ayah dan ibu beserta belasan anak mereka. Sang ibu sedang membagikan semangkuk sayur bayam ke dalam dua belas piring, untuk bersanding dengan sesendok nasi yang sudah menunggu di sana. Anak-anak kecil itu yang berusia dalam rentang satu hingga lima belas tahun duduk berjejer di depan piring-piring tersebut sambil berharap-harap cemas: benarkah ibu sudah membagi sayurnya sama rata? Apakah ibu memberikanku jatah yang lebih banyak dari saudara-saudaraku yang lain?

Tiba-tiba terdengar ketukan di dinding bilik gubuk itu. Sang ibu keluar tergopoh-gopoh. Di hadapan ibu tersebut kini berdiri seorang kakek tua dengan baju lusuh dan wajah tak karuan. Kakek itu mengobrolkan sesuatu dengan sang ibu, sesekali mengerutkan wajahnya dan mengelus perutnya yang kosong. Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan sampai sang ibu mengangguk dan berbalik kembali masuk ke dalam gubuknya. Ketika ia keluar, ia memegang sebuah piring di tangannya dan memberikan piring itu ke kakek tua, yang langsung makan dengan lahapnya.

Hmmm, gubuk ini damai sekali.. Aku menetap di gubuk ini sampai sore hari. Ketika adzan maghrib berkumandang, sang ayah pulang dari ‘kantor’nya. Ia bekerja sebagai seorang penjaga keamanan di restoran terkemuka ibu kota.

Setelah shalat maghrib, dilanjutkan dengan makan malam dan shalat isya, Bapak yang masih berseragam dinas lengkap itu pun mohon ijin lagi pada istri dan anak-anaknya untuk menggenapkan jam kerjanya kembali. Sebuah kereta api yang lewat dengan kencang ikut mengantar kepergian sang ayah. Aku pun ditarik angin untuk ikut bersama sang ayah.

Angin mengantarkanku hingga sampai pada kantor sang ayah. Setelah melapor ke pos, ia langsung mengambil posisi di tempat jaganya. Sejam berlalu. Dua jam berlalu. Tiga jam berlalu. Aku sudah semakin kelelahan menunggu. Tubuhku sudah kering, kurang nutrisi. Mungkin sebentar lagi aku akan layu, pergi bertemu Sang Pemberi Titah. Senangnya!

Lamunanku yang indah itu dihamburkan oleh suara berisik dari dalam restoran. Sepasang muda-mudi yang sedang terlibat ‘penembakan’ menolak untuk pergi dari restoran yang sudah mau tutup. Sang ayah memaksa mereka keluar dengan meniup peluit yang dari tadi menganggur di pundaknya. Si pemuda yang tersinggung naik pitamnya. Ia memukul sang ayah dengan asbak. Sang ayah pingsan berlumur darah. Muda-mudi itu ketakutan dan langsung lari keluar.

Tuhan, jika sang ayah sakit, dengan apa keluarga mereka akan makan esok hari? Pengganjal perut yang bisa diberikan sang ibu kepada kakek atau nenek tua yang singgah ke rumah mereka esok siang?

Kenapa di menjelang akhir hayatku, aku harus menyaksikan hal seperti ini? Aku pun layu, terseret angin jatuh ke permukaan tanah yang kering. Muda-mudi ini berlalu, kaki-kaki mereka menginjak badanku hingga remuk. Tulang-tulangku kini telah menjadi cokelat dan remuk. Badanku layu dan hancur. Sementara daun-daun yang lain melambai-lambai dari dahannya, karena digoda angin, aku hancur dan remuk.

3

Bukan, Pak! Saya Bukan Mahasiswa!


Bukan, Pak!

Saya bukan mahasiswa.

Saya cuma lulusan SMA.

Yang mendapat kesempatan belajar di perguruan tinggi ternama.

Jangan tanyakan saya perihal aksi massa.

Saya tidak pernah ikut demonstrasi ke istana.

Jangan tanyakan saya soal kabar rakyat Indonesia.

Saya jarang lihat berita.

Maaf juga, saya tak pernah berkontribusi ke sana.

Saya harus kerjakan tugas dan UAS supaya sempurna.

Sudah saya bilang kan, saya bukan mahasiswa.

Bukan, Bu!

Saya bukan mahasiswa.

Saya hanya pemuda.

Yang ingin cepat jadi sarjana.

Supaya mudah cari kerja.

Moga-moga bisa cepat kaya.

Jangan tanyakan saya tentang karya.

Saya hanya pikir tentang IPK yang membuat bangga.

Tentang karya saya buta.

Sudah saya katakan saya bukan mahasiswa.

========================================================

Teruntuk Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berharap banyak pada mahasiswa.

Ingatkan saya untuk tetap berjuang demi Indonesia sejahtera.

0

Tuhan, Jangan Hukum Aku yang Terlalu Cepat Menyerah


Udah lama banget nggak posting, jadi saya bertekad untuk posting hari ini *hari ini sih hari ini, tapi gak 3 jam sebelum UAS juga kaleee*

===========================================================

Tuhan, tolong jangan hukum aku. Jangan hukum aku yang akhir-akhir ini terlalu cepat menyerah. Jangan hukum aku yang sama sekali tidak pantas menjadi pejuang agamaMu. Jangan hukum aku yang terlalu cepat mengambil keputusan untuk memakiMu.

***

Sudah hampir dua jam aku menunggu di sini, di ruangan berukuran 3×3 meter yang berada di tengah-tengah kampus. Di depan pintu ruangan terpampang sebuah plang bertuliskan “Sekre Unit Kajian dan Penelitian”. Aku sedang menunggu belasan staf-ku yang berjanji akan datang di sebuah kajian. Kajian ini sudah tertunda berkali-kali, karena jumlah yang hadir sangat sedikit.Aku pesimis hari ini ada yang datang. Benar saja, sudah ribuan detik berlalu dan tak satu pun mereka tampak rupanya.

Sudahlah, aku sudah menyerah! Kusambar ponselku, kuketikkan beberapa kalimat dengan buru-buru. “Den, gw udh nyerah. Gw mundur aja dr unit ini. Sampe skrg gw blm bs ngumpulin anak2 buat kajian. ”

***

Sudah berulang kali kubalik-balik textbook kuliah ini, sampai kertasnya lusuh. Jika ditutup, buku ini tebalnya sudah hampir dua kali lipatnya, saking leceknya kertas di dalamnya. Namun, lembar jawaban PRku masih bersih. Kosong.

Sudahlah, aku menyerah! Dibaca berapa kali pun tetap tidak mengerti. Biar saja kali ini aku salin saja tugas si Budi.

***

Tiupan peluit terdengar berkali-kali melengking di telinga. Sekarang sedang jam ujian olahraga. Cabang olahraga yang diujikan: lari 2,4 km. Peluh sudah membanjiri baju olahragaku. Teman-temanku yang lain berkelebat meninggalkanku, menyongsong garis finish mereka. Napasku sudah tersengal-sengal.

Sudahlah, aku menyerah! Jalan santai saja. Biar saja nilai olahragaku C. Aku memang tidak jago olahraga.

***

Sore itu kakakku menceritakan sesuatu.

Kala itu, seorang imam menantang murid-muridnya untuk adu lari.

“Berlarilah kalian mengitari lapangan itu semampu kalian, dan aku pun akan berlari semampuku”.

Mereka pun berlari dan berlari. Beberapa menit kemudian, satu per satu murid sang imam mulai berhenti berlari dengan terengah-engah. Mereka terduduk di pinggir trek lari sambil menontoni imam mereka yang masih terus berlari, tak sedetik pun melambatkan kecepatannya. Tiba-tiba sang imam jatuh tersungkur, tidak bergerak lagi. Murid-murid yang panik langsung menghampiri sang imam. Ternyata imam mereka pingsan.

Setelah sang imam siuman, mereka pun bertanya keheranan perihal pingsannya sang imam.

“Imam, kenapa engkau terlalu memaksakan diri untuk berlari?”

“Aku tidak memaksakan diri. Aku hanya memenuhi janjiku untuk berlari SEMAMPUKU”.

Aku terhenyak. Tak pantas aku berkata aku menyerah, padahal usahaku belum keluar SEMAMPUKU.