Tuhan, Jangan Hukum Aku yang Terlalu Cepat Menyerah


Udah lama banget nggak posting, jadi saya bertekad untuk posting hari ini *hari ini sih hari ini, tapi gak 3 jam sebelum UAS juga kaleee*

===========================================================

Tuhan, tolong jangan hukum aku. Jangan hukum aku yang akhir-akhir ini terlalu cepat menyerah. Jangan hukum aku yang sama sekali tidak pantas menjadi pejuang agamaMu. Jangan hukum aku yang terlalu cepat mengambil keputusan untuk memakiMu.

***

Sudah hampir dua jam aku menunggu di sini, di ruangan berukuran 3×3 meter yang berada di tengah-tengah kampus. Di depan pintu ruangan terpampang sebuah plang bertuliskan “Sekre Unit Kajian dan Penelitian”. Aku sedang menunggu belasan staf-ku yang berjanji akan datang di sebuah kajian. Kajian ini sudah tertunda berkali-kali, karena jumlah yang hadir sangat sedikit.Aku pesimis hari ini ada yang datang. Benar saja, sudah ribuan detik berlalu dan tak satu pun mereka tampak rupanya.

Sudahlah, aku sudah menyerah! Kusambar ponselku, kuketikkan beberapa kalimat dengan buru-buru. “Den, gw udh nyerah. Gw mundur aja dr unit ini. Sampe skrg gw blm bs ngumpulin anak2 buat kajian. ”

***

Sudah berulang kali kubalik-balik textbook kuliah ini, sampai kertasnya lusuh. Jika ditutup, buku ini tebalnya sudah hampir dua kali lipatnya, saking leceknya kertas di dalamnya. Namun, lembar jawaban PRku masih bersih. Kosong.

Sudahlah, aku menyerah! Dibaca berapa kali pun tetap tidak mengerti. Biar saja kali ini aku salin saja tugas si Budi.

***

Tiupan peluit terdengar berkali-kali melengking di telinga. Sekarang sedang jam ujian olahraga. Cabang olahraga yang diujikan: lari 2,4 km. Peluh sudah membanjiri baju olahragaku. Teman-temanku yang lain berkelebat meninggalkanku, menyongsong garis finish mereka. Napasku sudah tersengal-sengal.

Sudahlah, aku menyerah! Jalan santai saja. Biar saja nilai olahragaku C. Aku memang tidak jago olahraga.

***

Sore itu kakakku menceritakan sesuatu.

Kala itu, seorang imam menantang murid-muridnya untuk adu lari.

“Berlarilah kalian mengitari lapangan itu semampu kalian, dan aku pun akan berlari semampuku”.

Mereka pun berlari dan berlari. Beberapa menit kemudian, satu per satu murid sang imam mulai berhenti berlari dengan terengah-engah. Mereka terduduk di pinggir trek lari sambil menontoni imam mereka yang masih terus berlari, tak sedetik pun melambatkan kecepatannya. Tiba-tiba sang imam jatuh tersungkur, tidak bergerak lagi. Murid-murid yang panik langsung menghampiri sang imam. Ternyata imam mereka pingsan.

Setelah sang imam siuman, mereka pun bertanya keheranan perihal pingsannya sang imam.

“Imam, kenapa engkau terlalu memaksakan diri untuk berlari?”

“Aku tidak memaksakan diri. Aku hanya memenuhi janjiku untuk berlari SEMAMPUKU”.

Aku terhenyak. Tak pantas aku berkata aku menyerah, padahal usahaku belum keluar SEMAMPUKU.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s