Berjalan-jalan bersama Angin


Dari tempat yang tinggi ini aku dapat melihat sekelilingku dengan jelas. Angin semilir membuatku kedinginan, aku mengeriutkan badan rapuhku hingga tulang-tulang hijauku berkeretak. Jika angin itu lebih keras lagi, pasti aku akan terbang tertiupnya. Dan benar saja, angin itu menantangku bermain. Sayangnya aku kalah. Kini aku mengeriut lepas dari peganganku dan ikut berlari bersama angin.

Mungkin di hidupku yang satu-satunya ini, Tuhan ingin aku melihat indahnya dunia. Baiklah, aku akan memenuhi titah-Mu!

Pertama aku mengunjungi sebuah gubuk kecil di tepian rel kereta api. Penghuni gubuk itu adalah sebuah keluarga yang beranggotakan sepasang ayah dan ibu beserta belasan anak mereka. Sang ibu sedang membagikan semangkuk sayur bayam ke dalam dua belas piring, untuk bersanding dengan sesendok nasi yang sudah menunggu di sana. Anak-anak kecil itu yang berusia dalam rentang satu hingga lima belas tahun duduk berjejer di depan piring-piring tersebut sambil berharap-harap cemas: benarkah ibu sudah membagi sayurnya sama rata? Apakah ibu memberikanku jatah yang lebih banyak dari saudara-saudaraku yang lain?

Tiba-tiba terdengar ketukan di dinding bilik gubuk itu. Sang ibu keluar tergopoh-gopoh. Di hadapan ibu tersebut kini berdiri seorang kakek tua dengan baju lusuh dan wajah tak karuan. Kakek itu mengobrolkan sesuatu dengan sang ibu, sesekali mengerutkan wajahnya dan mengelus perutnya yang kosong. Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan sampai sang ibu mengangguk dan berbalik kembali masuk ke dalam gubuknya. Ketika ia keluar, ia memegang sebuah piring di tangannya dan memberikan piring itu ke kakek tua, yang langsung makan dengan lahapnya.

Hmmm, gubuk ini damai sekali.. Aku menetap di gubuk ini sampai sore hari. Ketika adzan maghrib berkumandang, sang ayah pulang dari ‘kantor’nya. Ia bekerja sebagai seorang penjaga keamanan di restoran terkemuka ibu kota.

Setelah shalat maghrib, dilanjutkan dengan makan malam dan shalat isya, Bapak yang masih berseragam dinas lengkap itu pun mohon ijin lagi pada istri dan anak-anaknya untuk menggenapkan jam kerjanya kembali. Sebuah kereta api yang lewat dengan kencang ikut mengantar kepergian sang ayah. Aku pun ditarik angin untuk ikut bersama sang ayah.

Angin mengantarkanku hingga sampai pada kantor sang ayah. Setelah melapor ke pos, ia langsung mengambil posisi di tempat jaganya. Sejam berlalu. Dua jam berlalu. Tiga jam berlalu. Aku sudah semakin kelelahan menunggu. Tubuhku sudah kering, kurang nutrisi. Mungkin sebentar lagi aku akan layu, pergi bertemu Sang Pemberi Titah. Senangnya!

Lamunanku yang indah itu dihamburkan oleh suara berisik dari dalam restoran. Sepasang muda-mudi yang sedang terlibat ‘penembakan’ menolak untuk pergi dari restoran yang sudah mau tutup. Sang ayah memaksa mereka keluar dengan meniup peluit yang dari tadi menganggur di pundaknya. Si pemuda yang tersinggung naik pitamnya. Ia memukul sang ayah dengan asbak. Sang ayah pingsan berlumur darah. Muda-mudi itu ketakutan dan langsung lari keluar.

Tuhan, jika sang ayah sakit, dengan apa keluarga mereka akan makan esok hari? Pengganjal perut yang bisa diberikan sang ibu kepada kakek atau nenek tua yang singgah ke rumah mereka esok siang?

Kenapa di menjelang akhir hayatku, aku harus menyaksikan hal seperti ini? Aku pun layu, terseret angin jatuh ke permukaan tanah yang kering. Muda-mudi ini berlalu, kaki-kaki mereka menginjak badanku hingga remuk. Tulang-tulangku kini telah menjadi cokelat dan remuk. Badanku layu dan hancur. Sementara daun-daun yang lain melambai-lambai dari dahannya, karena digoda angin, aku hancur dan remuk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s