Seandainya Ada Inspeksi Mendadak


Malam itu saya sedang duduk santai di kosan, mengobrol riang dengan teman-teman melalui fasilitas Yahoo! Messenger. Obrolan kami beraneka ragam, mulai dari urusan organisasi, akademik, koordinasi, iseng, sampai cuma menyapa. Saya sendirian di kosan saat itu. Beberapa teman sedang pulang kampung, menyisakan hanya tiga orang sebagai kuncen kosan. Wawan dan Jono sedang mencari sesuap nasi untuk mengisi perut. Saya yang malas keluar, memilih untuk menitip makanan ayam pecel favorit saja. Kalau sudah mengobrol, saya sering malas kemana-mana, sering lupa makan, bahkan sering lupa waktu.

Tiba-tiba ada ketukan keras di pintu. Mungkin Wawan dan Jono sudah pulang. Eh, tapi kan mereka sudah bawa kunci? Aku melangkah dengan gontai menuju pintu kayu. Kuputar kunci yang menggantung di kediamannya. Kepalaku refleks melongok keluar, menanti pantulan cahaya yang datang ke mataku berupa sosok sang tamu. Tidak ada siapa-siapa.

“Kami di sini! Sudah kuduga, kalian para manusia pasti selalu tidak bisa langsung melihat kami”, tiba-tiba ada suara berat hinggap di telingaku.

“Siapa itu? Dimana kalian? Kalo kalian semut, akan saya jadikan binatang peliharaan. Kalo kalian hantu, akan saya usir (?)”, aku bingung

“Ini, lihat ke bawah, kami di dekat kakimu!”, kali ini suara yang mampir di gendang telingaku lebih cempreng.

Aku melihat ke bawah. Dua orang liliput sedang memandangku dari batas bawah kaki celanaku. Keduanya memakai seragam polisi yang aneh, satu berwarna biru tua dan yang satu berwarna cokelat pramuka. Aku meloncat ke belakang, setengah karena kaget, setengah karena takut ada satu orang liliput lagi yang ternyata terinjak di bawah kakiku.

“Jangan takut, kami bukan hantu. Kami polisi yang mau inspeksi”, suara cempreng bapak berbaju cokelat kembali singgah di telingaku.

“Ada apa ya, Pak?”

“Kami mau inspeksi sms, messenger, dan status-status jejaring sosial Anda”, jawab polisi berbaju biru lebih berwibawa.

“Apa? Inspeksi?”

“Iya, benar, inspeksi”, polisi berbaju biru sudah masuk ke dalam kamarku dalam mulai mengambil HP-ku. Gerakannya lincah sekali.

“Tunggu, inspeksi, Pak?”

“Iya, benar, inspeksi”, polisi berbaju cokelat mulai mengutak-ngatik laptopku.

“Jangan, Pak! Inspeksi?”

“Iya, benar, inspeksi”, mereka mengulang lagi kalimat itu.

Whaaaat? Inspeksi??? Apa yang diinspeksi? Jangan!!! Gimana kalo mereka menemukan sms-sms canda-dan-gak-penting-ku ke mahasiswi-mahasiswi masjid? Gimana kalo mereka kaget karena melihat status-status labilku di jejaring sosial? Oh, no! Obrolan “koordinasi”ku dengan ukhti ************* masih terpampang jelas di layar laptop! Oh, God!

Mereka mencatat banyak sekali di buku catatan pelanggaran mereka. Setelah puas mencatat segalanya di buku mereka, mereka memanggilku.

“Sini, lihat ini, hasil inspeksi kami!”

“Saya tidak mau lihat!”

Mereka memaksakan lembar demi lembar itu memasuki ruang lingkup penglihatanku. Lembar demi lembar yang tidak habis-habisnya. Kata-kata centil dalam sms-smsku. Kata-kata sok akrab dalam chatting-ku. Kata-kata galau sok melankolis dalam statusku. Lembaran-lembarannya dibalik semakin cepat. Kepalaku pusing. Pening. Mual. Gelap. Semua berputar semakin cepat. Tidaaaaaaaakk!!!!!!

Zzzzzz

Ting

Ting

Aku terbangun karena panggilan mengobrol di layar laptop. Huffh, hanya mimpi.

Wawan_dermawan: BUZZ

Wawan_dermawan: Oi, bro, bukain pintu dong! Kunci kita ketinggalan nih..

Wawan_dermawan: YM-an mulu dah ni orang! Woi, kita udah mengkeret nih di luar.

Aku segera menutup semua jendela chat-ku yang memalukan jika diinspeksi, dan berjalan gontai ke pintu.

Aku memutar kunci pintu, dan menariknya. Tak ada siapa-siapa. Dengan takut-takut aku melihat ke bawah lututku. Kumohon, jangan, jangan! Dan benarlah. Dua polisi liliput itu berdehem dan tersenyum ke arahku.

TIDAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

“Bro, bangun oi!”, itu suara Wawan, “Nih, ayam pecelnya..”

=============================================================================

Terinspirasi dari sebuah akun Facebook yang pernah saya wacanakan. Sayangnya, itu cuma jadi wacana bagi saya, dan realisasi bagi orang yang benar-benar membuatnya.

Terinspirasi juga dari film Inception :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s