Ting Tong


Ting tong..

Ah, itu pasti Lathif! Tunggu sebentar, kawan!

Aku menekan tombol pada kursi rodaku, ting tong, sehingga mesin alumunium ini meluncur melewati ruang tamu menuju pintu depan. Aku mengintip dari layar di samping pintu, wajah Lathif muncul di sana, dengan cengiran khasnya.

Aku kembali ke beberapa masa yang lalu, saat aku pertama kali melihatnya dengan cengiran khasnya itu.

Kejadian itu terjadi tiga tahun yang lalu. Aku sedang menunggu pengantar makanan tiba di halaman rumah. Orang tuaku sedang berkerja di dua tahun mendatang. Mereka adalah pekerja lintas waktu. Mereka bolak-balik masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan mesin waktu, untuk memperbaiki beberapa hal yang tidak sesuai. Hal yang tidak sesuai itu misalnya: jika ada akar pohon yang terlalu dekat ke jalan raya sehingga mengakibatkan aspal retak, maka orang tuaku akan pergi ke masa lalu untuk memberitahukan si penanam pohon, agar ia menanam sekian sentimeter lebih ke dalam. Huff, dengan kemajuan teknologi, semua jadi lebih mudah untuk dikendalikan manusia. Manusia pun jadi semakin malas untuk bergerak dan berusaha. Manusia semakin malas untuk bertatap muka untuk sekedar bersosialisasi dengan manusia lainnya.

Menunggu pengantar makanan adalah saat-saat yang sangat kunantikan. Pengantar makanan inilah satu-satunya manusia yang dapat kuajak bicara dalam kurun waktu seminggu ini (jika orang tuaku tidak salah memasukkan tujuan waktu di mesin waktu dan tersasar ke masa kini, pasti aku sudah tidak bicara dengan orang lain selama hampir satu bulan). Bicara dalam arti harfiah. Soalnya, teman-temanku yang lain lebih memilih mengobrol lewat jendela messenger atau berbalas komentar di jejaring sosial.

Dia lewat di depan rumahku, melangkah riang di depan bapak tua yang terlihat gugup. Dan yang kuheran, mereka melangkah masuk ke halaman rumahku. Si Bapak tua ternyata pengantar makanan yang baru, cerita yang disampaikan oleh nametag, seragam baru, dan kegugupannya. Ternyata Lathif mengantarkan bapak itu ke rumahku, menunjukkan jalan.

Setelah aku membayar makanan dan bapak tua itu pergi, ting tong, aku bergegas untuk masuk ke dalam rumah. Namun tertangkap olehku bayangannya yang tetap berdiri santai di sampingku, seolah ingin meminta sedikit waktu. Aku menoleh dan tersenyum, “mau ikut masuk?”

“Boleh, kak?”

Aku mengangguk, lumayan untuk teman ngobrol.. Ting tong..

“Kakak kenapa pake kursi roda?”

“Hmmm.. Ini.. Kakak dulu malas olahraga, kerjaannya cuma main games di depan komputer. Dan karena semua serba canggih, kakak gak perlu jalan kemana-mana, semua serba dilayani. Lama-kelamaan, kaki kakak jadi gak berfungsi lagi.”

“Hoo, begitu..”

Sejak saat itulah dia selalu menyempatkan diri main ke rumahku. Kami banyak berdiskusi tentang berbagai hal, berbagi mimpi, dan mencurahkan rasa. Aku bersyukur, di tengah kemajuan teknologi dan individualitas, aku masih bisa berteman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s