0

Shifu, Oogway, Tai Lung, dan Kita


Ada yang pernah nonton film Kungfu Panda? Film ini menceritakan tentang seekor Panda bernama Po yang sangat tergila-gila pada kungfu. Suatu hari dia ditunjuk oleh guru Oogway  (seekor kura-kura) untuk menjalani kehidupan baru sebagai calon pendekar naga. Namun ia yang memiliki berat badan berlebihan dan selera makan besar sangat kesulitan untuk mengikuti pelatihan kungfu. Ceritanya Pendekar Naga inilah yang nantinya ditakdirkan untuk menjaga desa dari musuh. Salah satu musuhnya bernama Tai Lung, narapidana penjara Chorh Gom (Tai Lung dimasukkan penjara oleh Oogway). Guru Oogway mempunyai seorang (?) murid dan calon pengganti bernama Shifu (yang sepertinya seekor musang atau sejenisnya, saya juga kurang tau pasti). Shifu ini dulunya adalah guru dari Tai Lung. Tapi Tai Lung menjadi jahat karena tidak diizinkan memiliki Dragon Scroll (ceritanya ini isinya jurus rahasia gitu).

Tapi kita tidak akan bercerita tentang si tokoh utama, karena tokoh utama sudah bosan untuk diceritakan. Kita akan menelaah sedikit tentang suatu adegan. Di adegan itu, Oogway memanggil Shifu untuk memberitahukan bahwa dia memiliki firasat akan kedatangan kembali Tai Lung untuk membalas dendam. Karena ketakutan, Shifu segera memanggil anak buahnya yang bernama Zeng (seekor burung, bebek, atau yang sejenisnya). Shifu menyuruh Zeng untuk pergi ke penjara Chorh Gom dan memberitahukan penjaga di sana untuk melipatkan penjagaan. Zeng segera pergi. Adegan di scene ini diakhiri dengan ucapan Oogway yang kurang lebih isinya kayak gini: Kita terkadang mengambil jalan untuk menghindari sesuatu, tapi justru jalan itu membimbing kita lebih cepat menuju sesuatu yang kita hindari itu.

Benar saja, datangnya Zeng ke penjara itu justru membantu Tai Lung untuk lebih cepat membebaskan diri dari belenggu penjara. Salah satu dari bulu Zeng (berhubung dia seekor unggas) tidak sengaja jatuh ke dalam tempat pengurungan Tai Lung, dan justru digunakan Tai Lung untuk membuka kunci belenggunya. Jeng jeng jeng!!! Tai Lung pun bebas!

Kenapa saya tertarik untuk membahas ini? Karena terkadang kita melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Shifu. Kita terlalu tergesa-gesa untuk bertindak karena ingin menghindari sesuatu. Kita terlalu ingin masalah cepat selesai. Kita bahkan ingin agar masalah itu dihindari sedini mungkin. Tapi pernahkah kita berpikir, benarkah masalah itu memang harus dihindari? Atau bahkan benarkah masalah itu sesungguhnya really exist?

Seseorang yang berkata, “eh, si A berantem ya sama si B?”, atau “eh, si akhwat C ada apa-apanya ya dengan ikhwan D”, dengan informasi yang tidak tepat ke orang yang tidak tepat mungkin dapat menjadi representasi shifu dalam studi kasus ini. *sejujurnya kalimat di atas sangat tidak bagus, karena sangat panjang tanpa titik*

Terjadi masalah kecil antara A dan B. Mungkin sang Shifu ingin menghindari pertengkaran yang lebih hebat antara A dan B. Namun, bayangkan Anda sebagai orang ketiga yang mendapat informasi tersebut. Anggap saja nama Anda E. E bertanya ke A, benarkah A bertengkar dengan B. A merasa baik-baik saja. A justru “berprasangka buruk” B-lah yang menyebarkan berita tidak baik tentang hubungan mereka. Akhirnya mereka benar-benar bertengkar.

Begitu pula dengan kasus kedua *saya malas menjabarkannya panjang lebar*

Intinya, mari menjadi lebih bijaksana dan tidak tergesa-gesa *sendirinya juga, ga!*

0

Tak Akan Sama Lagi


Semua tak akan pernah sama lagi

Tak akan ada hari-hari yang sama

Tak akan ada tempat-tempat yang sama

Tak akan ada kondisi-kondisi yang sama

Maka,

Bermanja-manja dengan masa lalu adalah sebuah kecerobohan

Bimbang akan bergerak atau tidak adalah sebuah kebodohan

Merasa sendirian adalah sebuah kesalahan

Terkecoh akan niat selain untukNya adalah sebuah hambatan

Terlalu mempersoalkan masalah remeh-temeh adalah sebuah kesia-siaan

Semua tak akan pernah sama lagi

Maka,

Diperlukan pejuang-pejuang yang jauh lebih tangguh

Diperlukan kesabaran yang lebih kokoh

Diperlukan kesetiaan yang lebih kuat

Diperlukan mimpi yang lebih besar

Tak ada gunanya keluhan dan cacian

Saling dongkol, saling iri, saling benci, dan saling khianat harus kita musnahkan

Karena semua tak akan pernah sama lagi.