0

No Title (2)


Aku ingin menang sekali lagi

Lalu sekali lagi

Sekali lagi

Tapi pertempuran apa yang harus dimenangkan?

Menang atas apa?

Menang atas siapa?

Ya,

Mungkin ini hanya ego seorang pencari masalah

Advertisements
1

Tunas Muda


Di halaman rumah kontrakan saya terdapat beberapa tanaman. Ada satu tanaman cabe merah keriting, tiga tanaman cabe rawit, satu pot tanaman sansivera, satu tanaman melati, satu pot lidah buaya, satu pohon mandevila, satu pohon melati merambat, empat pot tanaman merambat daun hijau, tiga pot tanaman merambat daun ungu, satu pot bunga lampion yang hampir mati, dan satu pohon pepaya kecil yang sudah layu. Pohon pepaya ini tadinya tumbuh di halaman belakang, di lantai bersemen dan berdempetan dengan tembok. Setelah memastikan itu adalah tanaman pepaya, bukannya daun ganja, saya ingin memindahkan tanaman itu ke pot karena takut akarnya akan merapuhkan tembok. Akar pohon pepaya itu masuk dalam semen dan dinding, sehingga sulit diambil. Akhirnya pohon pepaya itu berhasil dipindahkan ke pot dengan masih meninggalkan akarnya di dalam tembok -_-”

Pohon cabe merah keriting saya berasal dari pemberian seorang teman. Namanya Canting. Bukan, itu bukan nama teman saya, itu adalah nama pohon cabenya. Nama teman saya Layung. Berawal dari pemberian itu dan naiknya harga cabe, saya pun kemudian membibit beberapa biji cabe rawit. Cabe rawit yang tumbuh pertama namanya Bejo (cabe ijo). Kemudian Bejo punya adik satu pot, beda ayah beda ibu, bernama Ajo (adiknya Bejo). Kemudian Ajo saya kirimkan sebagai pertukaran pelajar ke rumah Layung. Cabe rawit yang tumbuh selanjutnya ada dua. Saya beri nama Chomsky dan Greibach. Nama itu adalah nama penemu teori otomata yang ada di buku Teori Bahasa dan Otomata, buku kuliah saya. Dengan didasari niat tulus, dan motivasi dari Ocha, teman saya, maka jadilah nama itu disematkan pada kedua adik kembar Bejo.

Tadi siang saya menyiram tanaman-tanaman itu. Dan yang menemukan Canting dalam keadaan luka parah. Canting punya dua cabang pohon utama. Kedua cabangnya telah tumbuh lebat daun dan bunga. Mungkin sebentar lagi dia akan berbuah. Tapi kini satu cabangnya patah, sepertinya gara-gara ulah kucing oranye dan oranye-putih yang suka main kucing-kucingan di dekat situ (mereka kan sudah menjadi kucing, ngapain mereka main kucing-kucingan?).

Saya segera melakukan pertolongan pertama. Saya mengambil perban kasa dari dalam kotak P3K. Saya satukan cabang yang patah dan hampir putus itu. Kemudian saya bebat dengan perban. Saking seriusnya saya melakukan operasi itu, saya tidak menyadari kalau ada tunas muda di dekat cabang yang patah tersebut (mungkin karena unsur hara tidak bisa mengalir ke cabang yang hampir putus itu, unsur hara tersebut bisa membentuk tunas baru). Tunas muda tersebut justru kini terputus dan jatuh ke tanah. Dan cabang yang menyedihkan tersebut berdiri kembali disangga oleh berbagai peralatan medis.

Apakah saya melakukan kesalahan dengan terlalu konsen “memperbaiki cabang tua” tersebut dan “membiarkan tunas muda mati”? Mudah-mudahan cabang tua itu berhasil sehat kembali. Supaya saya tidak merasa terlalu bersalah..

0

Pluralitas dan Pluralisme


Kedua kata di atas memang seperti ayah dan anak, yang satu ada karena yang lain ada. Namun maknanya sangatlah berbeda. Banyak perdebatan akhir-akhir ini yang membahas pluralisme, mulai dari munculnya sebuah film, hingga pemikiran masyarakat dewasa ini. Islam sangat menjunjung tinggi pluralitas, atau adanya perbedaan, dan menghormatinya. Tapi Islam tidak menyukai adanya pluralisme agama. Pluralisme agama diketahui sebagai paham yang mengatakan bahwa semua agama itu hanya berbeda jalan, tapi tujuan akhirnya sama, yaitu Tuhan. Tentu hal ini bertentangan dengan ajaran Islam. Saya yakin ini pun bertentangan dengan semua ajaran agama lainnya. Saya yakin semua umat beragama merasa bahwa ajarannya lah yang benar; Tuhan mereka lah yang sepatutnya disembah; cara hidup mereka lah yang seharusnya diikuti. Kalau tidak, tidak mungkin para penganut agama yang taat menyebarkan agamanya ke orang lain (di Islam, disebut dakwah). Setiap penganut agama pasti menginginkan lebih banyak orang yang sejalan dengan mereka. Maka, pluralisme agama tidak dapat dibenarkan.

Namun merasa benar bukan berarti menganggap orang lain sampah. Islam telah menganjurkan setiap umatnya untuk menjunjung tinggi perdamaian dan toleransi. Saya yakin semua agama pun (jika sesuai dengan pelajaran PPKn yang saya terima waktu SD) mengajarkan perdamaian dan toleransi. Maka, kesimpulan kedua diperoleh: orang yang menentang pluralisme bukan berarti tidak saling bertoleransi. Orang yang menentang pluralisme belum tentu menjadi sang provokator perpecahan.

Saya akan menceritakan beberapa penggalan kisah tokoh idola saya: Rasulullah Muhammad SAW. Dan semoga Anda dapat melihat perbedaan pluralisme dan pluralitas yang saya ceritakan di atas.

Tawaran Menarik dari Salah Satu Petinggi Quraisy
Masa-masa awal dakwah terang-terangan Rasulullah merupakan masa yang sulit. Dakwah Muhammad dan para pengikutnya ditentang habis-habisan oleh para kafir Quraisy. Muhammad saat itu berada di bawah “perlindungan” pamannya, Abu Thalib, salah satu pembesar Quraisy yang disegani penduduk Mekah. Tradisi di Mekah saat itu, jika salah satu orang (sebut saja A) dalam suatu kabilah (dalam satu suku) yang melindungi seseorang (sebut saja B), maka si B tidak boleh disakiti oleh siapa pun di suku tersebut *kalau salah, tolong dikoreksi ya*. Itu yang terjadi pada Muhammad. Apalagi pamannya saat itu merupakan salah satu pembesar di sana. Maka penentang dakwah Islam saaat itu tidak berani menyakiti Rasul secara langsung. Mereka mencoba berunding dengan paman Muhammad, namun tidak berhasil. Mereka juga mencoba menawarkan beberapa tawaran menarik langsung kepada Muhammad. Kurang-lebih begini yang saya ingat:

Kafir Quraisy: “Muhammad, saya punya tawaran menarik untukmu. Saya akan memberikanmu kekuasaan, harta yang melimpah, dan wanita yang cantik. Tapi ada imbalannya. Kami akan mengikuti agamamu dan menyembah Tuhanmu selama setahun. Setahun berikutnya kamu dan pengikutmu harus menyembah Tuhan kami dan mengikuti ajaran kami.”

Muhammad: “Seandainya matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berpaling dari ajaran Islam dan menyebarkannya.” *maksudnya, mau dikasih kemewahan dunia segimana pun, Rasulullah tidak akan meninggalkan Islam dan dakwahnya.

Kejadian itulah yang menjadi sebab turunnya surat Al-Kafirun.

Rasul Menjenguk Nenek yang Sakit
Lagi-lagi pada masa-masa penyebaran Islam di Mekah. Rasulullah setiap kali melewati sebuah jalan, selalu diludahi oleh seorang nenek yang belum menganut Islam dan termakan hasutan kafir Quraisy saat itu (mereka bilang kalau Muhammad itu ahli sihir atau gila). Suatu ketika Muhammad melewati jalan itu, tapi nenek tersebut tidak ada. Menurut keterangan dari penduduk sekitar, nenek itu sedang sakit. Rasul pun pergi menjenguk nenek itu.

Tatanan Pemerintahan Madinah
Saat Muhammad tiba di Madinah (hijrah yang ketiga kalinya), ada beberapa hal utama yang dilakukan oleh beliau dalam rangka membangun rangka pemerintahan madani. Pertama dengan membangun masjid dan menjadikannya sebagai pusat aktivitas masyarakat. Kedua, mempersaudarakan antara kaum muhajirin (yang datang dari Mekah bersama Rasulullan) dan kaum muslim Anshar (penduduk asli Madinah). Bahkan saking tingginya rasa cinta Kaum Anshar pada Rasulullah, mereka rela membagi setengah harta mereka pada kaum Muhajirin yang menjadi saudara mereka. Ketiga adalah membuat perjanjian perdamaian dengan seluruh penduduk Madinah. Perjanjian yang disebut piagam Madinah ini diakui dunia sebagai perjanjian terdahsyat di sampai saat ini. Jika Indonesia semaksimal-maksimalnya dalam menentukan sebuah kebijakan hanya mengundang para wakil rakyat, pada pembuatan Piagam Madinah saat itu Rasulullah melibatkan seluruh penduduk Madinah. Madinah saat itu sangat heterogen, tidak semuanya muslim; ada yang Nasrani, ada yang Yahudi, dan lain-lain. Dan perjanjian damai itu juga yang seterusnya membawa keteraturan kehidupan di Madinah seterusnya.

Apakah Rasulullah dan sahabat lainnya memaksa seluruh penduduk untuk menganut Islam? Tidak. Tapi seluruh penduduk harus mengikuti perjanjian yang telah mereka buat bersama.

Perang-perang
Jaman dulu memang sering terjadi perang-perang penaklukan. Kalau suatu kaum tidak menyerang, maka mereka akan diserang. Makanya mau tidak mau mereka harus bisa berperang. Dalm berperang, Allah SWT memerintahkan umat Islam bersikap adil, walaupun terhadap musuh. Mereka ketika berperang tidak melampaui batas, tidak bertindak aniaya, tidak menyiksa tubuh musuh, tidak mencuri, tidak merampok harta, tidak melukai kehormatan, dan tidak membuat derita. Pasukan Islam juga tidak akan mengganggu tempat peribadatan umat beragama lainnya dalam berperang.

Jika menang, mereka juga tidak memaksa lawan mereka untuk masuk Islam. Mereka menawarkan tiga pilihan: masuk Islam, tetap pada agama yang mereka anut tapi membayar pajak (pajak ini maksudnya sebagai pengganti zakat. Jika umat muslim wajib membayar zakat, nonmuslim yang ada di bawah pemerintahan Islam wajib membayar pajak. Pajak dan zakat ini nantinya akan digunakan untuk membiayai roda pemerintahan dan kehidupan masyarakat di sana), atau berperang sampai titik darah penghabisan. Mereka yang hidup di bawah pemerintahan Islam (tidak peduli agama) semuanya diperlakukan adil, haknya diberikan secara adil, tanggung jawabnya diminta secara adil. Dan mereka diperbolehkan beribadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, tanpa saling mengganggu.

Saya juga pernah dengar sebuah cerita terkait Umar, khalifah kedua setelah Rasul wafat. Saya agak-agak lupa cerita lengkapnya, tapi kalo gak salah begini.. Pada suatu ketika pasukan beliau berhasil menaklukan Yerussalem. Umar ditemani oleh seorang Uskup sedang melihat-lihat tempat peribadatan kaum Nasrani. Waktu sholat tiba. Uskup tersebut dengan sopan menawarkan Umar untuk sholat di dalam gereja itu. Umar menolak dan pergi keluar menuju suatu tempat di sudut gereja. Dia sholat di sana. Ketika ditanya alasannya, Umar menjawab, “kalau saya sholat di dalam gereja itu, maka semua pasukan dan umat muslim akan mengikuti saya sholat di sana. Mereka kemudian akan membangun masjid di sana sebagai kenangan atas peristiwa ini. Maka kalian tidak akan punya tempat untuk beribadah lagi.”

Sampai saat ini, gereja tersebut masih berdiri tegak. Dan untuk mengenang peristiwa tersebut, sebuah masjid kecil dibangun di tempat Umar sholat waktu itu. Setelah saya googling, ternyata ada ceritanya di http://sejarah.kompasiana.com/2011/02/19/islam-dan-kemajemukan-masyarakat-teladan-umar-bin-khattab/ .

Penutup
Begitulah Islam sangat menjunjung tinggi dan menghormati perbedaan. Tapi Islam menentang pluralisme. Jika dikatakan semua ajaran agama itu sebenarnya sama, bukan hanya umat Islam, pasti semua umat agama akan menolak. Jadi mungkin saja ide-ide tentang pluralisme itu sebenarnya berasal dari mereka yang takut para umat beragama menjalankan agama dengan semestinya, dari mereka yang takut para umat beragama hidup rukun, atau bahkan dari mereka yang takut akan perbedaan itu sendiri.

Mohon dikoreksi jika ada kesalahan..

0

No Title (1)


Kadang kau terjaga

Bertanya-tanya

Siapa aku?

Di mana aku?

Kenapa aku begini?

Kenapa aku melakukan ini?

Terus bertanya

Menuju keputusasaan

Lalu ia datang

Menggodaimu

Mengejekmu

Membantumu bertanya-tanya

Kenapa kamu begitu?

Aku pun setuju

Kenapa aku begini?

Aku harus bagaimana?

Dia yang mempertanyakan

Kemudian kembali bertanya

Kembali mengolok-olok

Dan aku pun semakin tak tahu

Semakin menghilang

Menghilang ke dalam diri

Dan menerobos keluar entah kemana

Ingin tinggalkan rasa tak nyaman

Namun semakin ketat terjerat olehnya

Ketika kau hampir hilang sempurna

Kembali muncul pertanyaan

Siapa aku?

Apa yang harus kulakukan?

Untuk apa aku ada?

Dan dia hanya tertawa sinis