Tunas Muda


Di halaman rumah kontrakan saya terdapat beberapa tanaman. Ada satu tanaman cabe merah keriting, tiga tanaman cabe rawit, satu pot tanaman sansivera, satu tanaman melati, satu pot lidah buaya, satu pohon mandevila, satu pohon melati merambat, empat pot tanaman merambat daun hijau, tiga pot tanaman merambat daun ungu, satu pot bunga lampion yang hampir mati, dan satu pohon pepaya kecil yang sudah layu. Pohon pepaya ini tadinya tumbuh di halaman belakang, di lantai bersemen dan berdempetan dengan tembok. Setelah memastikan itu adalah tanaman pepaya, bukannya daun ganja, saya ingin memindahkan tanaman itu ke pot karena takut akarnya akan merapuhkan tembok. Akar pohon pepaya itu masuk dalam semen dan dinding, sehingga sulit diambil. Akhirnya pohon pepaya itu berhasil dipindahkan ke pot dengan masih meninggalkan akarnya di dalam tembok -_-”

Pohon cabe merah keriting saya berasal dari pemberian seorang teman. Namanya Canting. Bukan, itu bukan nama teman saya, itu adalah nama pohon cabenya. Nama teman saya Layung. Berawal dari pemberian itu dan naiknya harga cabe, saya pun kemudian membibit beberapa biji cabe rawit. Cabe rawit yang tumbuh pertama namanya Bejo (cabe ijo). Kemudian Bejo punya adik satu pot, beda ayah beda ibu, bernama Ajo (adiknya Bejo). Kemudian Ajo saya kirimkan sebagai pertukaran pelajar ke rumah Layung. Cabe rawit yang tumbuh selanjutnya ada dua. Saya beri nama Chomsky dan Greibach. Nama itu adalah nama penemu teori otomata yang ada di buku Teori Bahasa dan Otomata, buku kuliah saya. Dengan didasari niat tulus, dan motivasi dari Ocha, teman saya, maka jadilah nama itu disematkan pada kedua adik kembar Bejo.

Tadi siang saya menyiram tanaman-tanaman itu. Dan yang menemukan Canting dalam keadaan luka parah. Canting punya dua cabang pohon utama. Kedua cabangnya telah tumbuh lebat daun dan bunga. Mungkin sebentar lagi dia akan berbuah. Tapi kini satu cabangnya patah, sepertinya gara-gara ulah kucing oranye dan oranye-putih yang suka main kucing-kucingan di dekat situ (mereka kan sudah menjadi kucing, ngapain mereka main kucing-kucingan?).

Saya segera melakukan pertolongan pertama. Saya mengambil perban kasa dari dalam kotak P3K. Saya satukan cabang yang patah dan hampir putus itu. Kemudian saya bebat dengan perban. Saking seriusnya saya melakukan operasi itu, saya tidak menyadari kalau ada tunas muda di dekat cabang yang patah tersebut (mungkin karena unsur hara tidak bisa mengalir ke cabang yang hampir putus itu, unsur hara tersebut bisa membentuk tunas baru). Tunas muda tersebut justru kini terputus dan jatuh ke tanah. Dan cabang yang menyedihkan tersebut berdiri kembali disangga oleh berbagai peralatan medis.

Apakah saya melakukan kesalahan dengan terlalu konsen “memperbaiki cabang tua” tersebut dan “membiarkan tunas muda mati”? Mudah-mudahan cabang tua itu berhasil sehat kembali. Supaya saya tidak merasa terlalu bersalah..

Advertisements

One thought on “Tunas Muda

  1. kak paragraf terakhir ada meaning ‘tersembunyi’nya ya, wah ini bukan sekedar curcol, tapi ada kesimpulannya (kalau saya yang baca hehe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s