0

Hujan


Suatu masa di desa Terserah*, terjadi musim paceklik yang membakar. Sudah beberapa bulan hujan tidak turun. Sekalinya hujan turun, paling hanya beberapa detik saja, dan itu pun kejadian dua bulan yang lalu. Kepala desa memutuskan untuk mengajak warganya melakukan sholat istisqa’ (sholat meminta hujan). Sholat akan dilakukan di Lapangan Cinta*, yang ada di tengah-tengah desa. Ketika waktu untuk melakukan sholat tiba, berkumpullah hampir seluruh penduduk desa di lapangan tersebut. Mulai dari kakek yang harus dituntun anaknya, bapak yang bertubuh kekar, hingga anak kecil memenuhi tempat itu. Mereka menggelar alas sholat di lapangan. Kepala desa memperhatikan satu per satu warganya. Ibu-ibu menggerombol di bagian belakang. Bapak-bapak sudah duduk manis di bagian depan. Anak-anak berada di shaf bagian tengah. Salah satu anak mengeluarkan payung dan meletakkannya di hadapannya.

Tiba-tiba kepala desa mengumumkan sesuatu, “sholat istisqa’ hari ini kita tunda sampai besok.”

Warga yang lain hanya keheranan, tapi menurut dan langsung pulang.

Keesokan harinya terjadi hal yang sama. Ketika waktu untuk melakukan sholat tiba, berkumpullah hampir seluruh penduduk desa di lapangan tersebut. Mulai dari kakek yang harus dituntun anaknya, bapak yang bertubuh kekar, hingga anak kecil memenuhi tempat itu. Mereka menggelar alas sholat di lapangan. Kepala desa memperhatikan satu per satu warganya. Ibu-ibu menggerombol di bagian belakang. Bapak-bapak sudah duduk manis di bagian depan. Anak-anak berada di shaf bagian tengah. Salah satu anak mengeluarkan payung dan meletakkannya di hadapannya.

Kepala desa kembali naik ke atas podium dan berteriak, “Sholat hari ini ditunda kembali!”

Warga semakin penasaran, beberapa bahkan ada yang menyahut pengumuman kepala desa, “Pak kepala, kenapa Bapak mengundur-undur terus sholatnya? Kami telah meninggalkan aktivitas kami hanya untuk datang ke sini.”

Kepala desa hanya tersenyum dan menjawab, “karena kalian belum siap. Kalian belum siap untuk meminta. Kalian belum siap untuk berdoa. Dalam berdoa diperlukan keimanan. Coba kalian lihat anak itu!”

Kepala-kepala warga langsung serempak menoleh ke arah yang ditunjuk kepala desa.

“Hanya anak itu yang siap untuk berdoa. Hanya dia yang membawa payung ketika akan melakukan sholat meminta hujan.”

 

*Ini nama-nama yang dikarang peserta eLQi IT n Media waktu cerita ini disampaikan kepada mereka 😀

Advertisements
0

Hama


Beberapa hari yang lalu saya membasmi hama yang ada di tanaman cabe saya (masih ingat dengan Canting, Bejo, Chomsky, dan Greibach kan?). Tanaman-tanaman itu dihamai oleh binatang-binatang super kecil (entah namanya apa), ulat, dan serangga-serangga (laba-laba, semut, dll).

Sebenarnya saya kurang suka membunuh binatang. Saya jarang menepuk nyamuk yang nemplok di saya. Saya jarang membunuh laba-laba. Tapi karena binatang-binatang bandel itu mengganggu pohon yang saya rawat sejak bayi (?), maka saya harus tega membasminya. Akhirnya saya meminjam larutan Decis dari Layung. Decis itu pembasmi hama yang cukup menakutkan (tulisan di kalengnya bilang jangan sampe kena kulit, terhirup, apalagi termakan). Saya melarutkan beberapa tetes Decis dengan sebaskom air dan menyemprotkannya ke tanaman.

Alhasil, tanaman saya sekarang hamanya sudah berkurang. Tapi tetep aja hama itu sudah merusak cukup banyak tanaman saya. Bejo udah jadi bolong-bolong. Chomsky dan Greibach daunnya udah menguning. Canting jadi layu.

Hei, hama! Kamu jangan berani-berani mengganggu apa yang sudah saya rawat sejak lama! Karena mungkin apa yang kamu rusak baru bisa diperbaiki lama kemudian. Dan saya pasti harus menega-negakan diri untuk membasmi kalian.