Hujan


Suatu masa di desa Terserah*, terjadi musim paceklik yang membakar. Sudah beberapa bulan hujan tidak turun. Sekalinya hujan turun, paling hanya beberapa detik saja, dan itu pun kejadian dua bulan yang lalu. Kepala desa memutuskan untuk mengajak warganya melakukan sholat istisqa’ (sholat meminta hujan). Sholat akan dilakukan di Lapangan Cinta*, yang ada di tengah-tengah desa. Ketika waktu untuk melakukan sholat tiba, berkumpullah hampir seluruh penduduk desa di lapangan tersebut. Mulai dari kakek yang harus dituntun anaknya, bapak yang bertubuh kekar, hingga anak kecil memenuhi tempat itu. Mereka menggelar alas sholat di lapangan. Kepala desa memperhatikan satu per satu warganya. Ibu-ibu menggerombol di bagian belakang. Bapak-bapak sudah duduk manis di bagian depan. Anak-anak berada di shaf bagian tengah. Salah satu anak mengeluarkan payung dan meletakkannya di hadapannya.

Tiba-tiba kepala desa mengumumkan sesuatu, “sholat istisqa’ hari ini kita tunda sampai besok.”

Warga yang lain hanya keheranan, tapi menurut dan langsung pulang.

Keesokan harinya terjadi hal yang sama. Ketika waktu untuk melakukan sholat tiba, berkumpullah hampir seluruh penduduk desa di lapangan tersebut. Mulai dari kakek yang harus dituntun anaknya, bapak yang bertubuh kekar, hingga anak kecil memenuhi tempat itu. Mereka menggelar alas sholat di lapangan. Kepala desa memperhatikan satu per satu warganya. Ibu-ibu menggerombol di bagian belakang. Bapak-bapak sudah duduk manis di bagian depan. Anak-anak berada di shaf bagian tengah. Salah satu anak mengeluarkan payung dan meletakkannya di hadapannya.

Kepala desa kembali naik ke atas podium dan berteriak, “Sholat hari ini ditunda kembali!”

Warga semakin penasaran, beberapa bahkan ada yang menyahut pengumuman kepala desa, “Pak kepala, kenapa Bapak mengundur-undur terus sholatnya? Kami telah meninggalkan aktivitas kami hanya untuk datang ke sini.”

Kepala desa hanya tersenyum dan menjawab, “karena kalian belum siap. Kalian belum siap untuk meminta. Kalian belum siap untuk berdoa. Dalam berdoa diperlukan keimanan. Coba kalian lihat anak itu!”

Kepala-kepala warga langsung serempak menoleh ke arah yang ditunjuk kepala desa.

“Hanya anak itu yang siap untuk berdoa. Hanya dia yang membawa payung ketika akan melakukan sholat meminta hujan.”

 

*Ini nama-nama yang dikarang peserta eLQi IT n Media waktu cerita ini disampaikan kepada mereka 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s