2

Sarang Semut


Di pojok rumah, terdapat sarang semut. Banyak semut yang tinggal di sarang itu, dan apabila mereka keluar, maka mereka akan mengganggu pemilik rumah dengan “menyemuti” makanan, mengotori dinding dan lantai, bahkan menyengat.

Suatu saat, anak kecil yang tinggal di rumah tersebut disengat oleh semut tersebut. Ia sangat kesal. Rasanya gatal. Kakinya menjadi bengkak. Kesal sekali. Akhirnya ia memutuskan untuk membakar sarang semut tersebut. Namun, karena kurang hati-hati, api justru merambat ke seluruh rumah. Sarang semut berhasil dienyahkan jadi abu, namun seluruh rumah ludes terbakar. Bersyukur seluruh anggota keluarga berhasil menyelamatkan diri.

Kisah ini hanya fiksi karangan saya. Pesan moral:

Jangan menghancurkan sebuah “rumah” hanya untuk membasmi “sarang semut kecil” di pojokan rumah.

Advertisements
5

Surat Cinta Untuk Indonesia


Bandung, 25 Februari 2011

Kepada Ibunda tercinta

di

tempat aku berpijak

 

Selamat pagi, Ibu! Apa kabar?

 

Ibu,

seringkali aku ingin katakan sesuatu padamu. Tapi selalu Ibu bilang, agar aku tidak jadi anak nakal, jangan ikut-ikutan demonstrasi, tak usah terpancing provokasi. Tidak Bu, aku katakan ini dari hati dan pikiranku sendiri. Kau tetap tak dengarkan, hingga kuputuskan membuat sebuah surat cinta untuk Ibu. Ibu harus janji, tak boleh marah atas segala yang akan aku tuliskan. Jangan usir aku keluar dari rumah ya, Bu… Toh, aku hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa.

 

Ibu,

sebenarnya aku tak tahu, apakah aku harus menuliskan surat cinta atau surat benci kepadamu. Jangan marah, ya… Tapi Ibu seperti orang tua jahat yang tak pernah perhatikan anakmu. Kalau ada komisi perlindungan anak datang ke rumah kita, pasti ibu akan dimarahi habis-habisan.

 

Ibu,

aku iri. Aku iri, kenapa Ibu lebihh mementingkan orang lain dibandingkan anak-anakmu sendiri? Kenapa Ibu biarkan China melenggang dengan bebasnya ke rumah kita? Memang sih, dia selalu membawakan makanan yang enak untuk kita.. Kami, anak-anakmu, sangat menyukainya! Tapi karena itu, makanan di rumah menjadi terlupakan dan akhirnya basi. Ibu, kenapa Ibu jual Krakatau Steel dengan murahnya ke orang lain? Bukankah Ibu tahu kalau dari Krakatau Steel-lah kita bisa punya harga diri di hadapan negara lain? Dengannya kita bisa banggakan kita punya pengolah baja terbesar di Asia! Ibu, kenapa Ibu percayakan Natuna kepada orang lain. Padahal kan kita punya Pertamina, Bu! Apakah Ibu tidak percaya kami akan mengelolanya dengan baik?

 

Ibu,

aku malu pada teman-teman yang lain. Mereka katakan bahwa kita tukang utang. Mereka cibir aku dan adik-adik. Mereka tertawakan kami karena kita selalu meminta-minta. Aku malu, Bu… Padahal, kalau Ibu mau sedikit saja lebih mempercayakan perekonomian kepada sektor riil, kita akan bisa maju, Bu. Jadi kaya raya! Kenapa Ibu tak melakukannya? Toh, kita punya banyak sumber daya! Ibu tinggal sebutkan saja! Barang tambang? Ada! Minyak? Melimpah! Kayu? Memenuhi seluruh halaman kita! Bahan pangan? Banyak! Tenaga kerja? Tak sanggup aku menghitung saking banyaknya!

 

Ibu,

aku tak suka orang-orang itu makan uang kita. Padahal kan Ibu mempekerjakan mereka untuk menjaga dan mengatur rumah kita! Aku tahu, Ibu tahu. Kita semua tahu. Tapi kenapa Ibu biarkan saja mereka ongkang-ongkang kaki dengan perut kekenyangan? Kenapa Ibu tak pecat mereka? Kenapa Ibu tak hukum mereka? Padahal ketika adik memecahkan guci kesayanganmu, Ibu bilang bahwa keadilan harus ditegakkan. Hukuman kau berikan tanpa ampun kepada adik yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Sekarang dimana keadilan itu? Ah, aku tahu, pasti Ibu sembunyikan dia di balik lemari! Hahaha, aku tahu! Aku akan mencarinya nanti, Bu!

 

Ibu,

bukankah Ibu sangat pintar? Kenapa Ibu tak ajari kami banyak hal? Kenapa Ibu tak ajari kami membaca? Kenapa Ibu tak ajari kami bercocok tanam? Kenapa Ibu tak ajari kami cara berternak sapi? Kenapa Ibu tak ajari kami berwirausaha? Kenapa Ibu tak ajari kami agar bisa jadi mandiri? Andai saja uang jajan yang Ibu berikan pada kami, bisa kami sulap menjadi usaha kami sendiri.

 

Ibu,

aku ingin seperti anak-anak lain. Aku ingin aku dan adik-adik bisa sekolah sampai jadi profesor. Kami ingin bangunan sekolah yang layak. Kami ingin buku-buku yang berkualitas. Kami ingin guru-guru yang berdedikasi. Kami ingin biaya sekolah yang terjangkau. Kami ingin pelajaran yang membumi. Kami ingin kurikulum pembelajaran yang memanusiakan manusia!

 

Ibu,

aku sedih dengan televisi di rumah kita. Tahukah Ibu kenapa adik-adik suka bergulat satu sama lain? Mereka melihatnya di televisi, Bu! Mereka melihatnya di kartun-kartun kesayangan mereka. Tahukah Ibu kenapa adik dahulu nekat minum obat anti nyamuk? Itu karena ia melihat aktris favoritnya juga minum racun gara-gara putus cinta, di sinetron yang sering kami tonton. Tahukah Ibu kenapa adik-adik mau coba-coba minum alkohol? Karena televisi katakan, itu hal yang lumrah bagi anak remaja jaman sekarang. Aku sarankan sesuatu, Bu: kita cari televisi yang lain. Aku ingin punya televisi seperti anak-anak di Singapura atau Finlandia!

 

Ibu,

aku ingin kembali seperti dahulu. Aku ingin kembali ke rumah kita yang dahulu. Kemana rumah tanpa penjajahan, perpecahan, dan kemiskinan yang dulu kita miliki? Aku rindu. Aku rindu rumah itu. Aku rindu Ibu yang dahulu.

 

Ibu,

mungkin ini juga disebabkan oleh kesalahan kami. Kami masihlah anak-anak yang nakal. Mungkin kami masih sering bertengkar sehingga kita tak bisa kembali ke rumah yang dahulu punya jargon persatuan. Mungkin kami masih terlalu acuh, sehingga tak tahu cara pulang ke rumah tanpa penjajahan, perpecahan, dan kemiskinan. Kami masih harus terus belajar.

 

Sekian yang ingin kukatakan, Bu. Ibu sudah janji tidak akan marah kan? Ibu, maafkan aku yang telah tulis surat macam ini. Aku hanya ingin Ibu tahu, aku benci keadaan ini. Aku benci Ibu yang lemah seperti ini. Tapi, seperti umumnya anak pada Ibunya, aku tetap sayang Ibu. Aku tetap cinta Ibu. Kami akan berusaha kuatkan Ibu, Indonesia.

 

Salam dari anakmu

0

Meniti Jalan Kembali


Ning nang neng noong nong neng ning noong nong neng ning noong..

 

Berbagai melodi terangkai rumit di udara sejuk desa Banjarsari. Belasan tim pemain musik degung berderet-deret di sepanjang sisi ruangan, dengan alat musik di tangannya. Pemain goong seperti dianaktirikan, berada di pojokan ruangan hanya ditemani alat musik raksasa kesayangannya.

 

Plok plok plok! Tiga kali tepukan tangan dari pelatih tari yang berarti latihan disudahi.

 

Cukup latihanna

 

Serentak semua alat musik menjadi bisu. Ibu-ibu sinden pun menghabiskan lagunya pada suku kata terakhir yang telah dilontarkan. Tanganku yang sedang melakukan gerakan mengibaskan selendang terhenti. Selendang kuning itu jatuh lunglai di atas lantai.

 

Aku menegakkan posisi badan dan bergegas mengambil botol air minumku. Sembari meminum berteguk-teguk air, aku memperhatikan teman-temanku yang lain. Bu Romlah, yang menghentikan jalannya latihan tadi, sedang menceramahi Lulu dan Asrina. Mereka masih baru di sanggar tari ini, sehingga gerakan mereka masih kaku. Sudah berkali-kali latihan dihentikan sepihak karena Bu Romlah tidak puas dengan gerakan mereka yang patah-patah. Keringat dingin mengucur deras dari dahi mereka, sedangkan mulut mereka berkali-kali mengalirkan keluar kata “iya, Bu”.

 

Aku teringat enam tahun yang lalu, ketika aku juga baru menginjakkan kaki di tempat ini, aku juga merasakan hal yang sama dengan mereka.

 

Aku diantar ibuku ke sanggar ini sepulang dari sekolah. SMP-ku ketika itu berjarak lima belas menit perjalanan. Perjalanan dengan kaki tentunya, karena desaku belum terjamah oleh kendaraan umum. Sepeda keluarga kami satu-satunya dimonopoli oleh kakakku yang duduk di kelas 2 SMA. Ia bahkan baru akan sampai sekolah setengah jam dari waktu berangkatnya, walaupun sudah berkendara sepeda. Sanggar seni “Melati”, itulah namanya. Aku dan ibuku harus berjalan kaki lima belas menit lagi agar bisa sampai di gerbang hijaunya. Letih memang. Tapi aku senang dan bangga.

 

Aku dibesarkan di keluarga yang turun temurun menjunjung tinggi kecintaan pada kesenian dan kebudayaan Sunda. Sejak kecil, aku diajarkan untuk bangga berkebudayaan Sunda. Sejak kecil, aku dimotivasi agar mau belajar dan melestarikan tarian dan musik Sunda. Mereka berhasil. Sekarang obsesi terbesarku adalah menjadi seniman tarian Sunda yang terkenal di Indonesia, bahkan aku ingin agar tarianku bisa diberi standing applause oleh bule-bule mancanegara. Sejak saat itu, aku giat berlatih di bawah bimbingan Bu Romlah dan beberapa pengajar lainnya. Awalnya aku takut dan gugup. Gerakanku tak bisa gemulai seperti teteh-teteh yang lainnya. Enam tahun kuhabiskan untuk belajar banyak hal dan mengakrabkan diri dengan anggota sanggar lainnya. Di rentang waktu itu aku telah mendengar berita kelahiran anak Mang Jajang, pemain kacapi, yang pertama, kedua, dan ketiga. Aku sempat menghadiri pernikahan anak gadis salah satu sinden dengan pemain suling. Aku pun semakin mahir menarikan berbagai macam tarian khas Sunda; tari Jaipong, Ketuk Tilu, Tari Topeng, Tari Merak, dan lain-lain. Sesekali pun aku diajari oleh Mang Jajang memainkan Kacapi.

 

Ceu, Bu Romlah teh dari tadi manggil-manggil”, Yani menepuk bahuku.

 

Anggota yang lainnya telah berkumpul di tengah ruangan sanggar. Bu Romlah, yang menjadi pusat perhatian mereka, melotot melihatku berlari kecil-kecil ke perkumpulan itu.

 

Buru atuh, Neng!”, Bu Romlah makin terlihat tidak sabar. Sepertinya ada hal benar-benar penting yang ingin ia sampaikan pada kami. Setelah kami semua duduk manis, Bu Romlah mengeluarkan selembar kertas poster dengan biru sebagai warna dominannya.

 

Ieu aya lomba. Kontes Tari Daerah Nasional, opat minggu deui di Bali. Anu meunang kontes dapet duit salapan juta. Geus kitu urang bisa tembong di acara panyambutan presiden Obama bulan hareup.” (Ini ada lomba. Kontes Tari Daerah Nasional, empat minggu lagi di Bali. Yang menang dapat uang sembilan juta. Sudah begitu, kita bisa tampil di acara penyambutan Presiden Obama bulan depan).

 

Saha nu bade jadi pimpinan grup?” (Siapa yang mau jadi pemimpin grup?), Bu Romlah menawarkan.

 

Aku merasa inilah kesempatan emasku untuk mengejar impian sejak kecilku. Aku pun mengacungkan tangan seketika.

 

Nah, eta! Neng Tia nu bakal mimpin kita menangkeun kontes” (Nah itu! Tia yang akan memimpin kita untuk memenangkan kontes)

 

Bu Romlah menyerahkan poster itu kepadaku sebagai simbol pelantikanku menjadi ketua grup. Maka dimulai lah masa-masa latihan keras kami. Aku telah menjelma menjadi seorang diktator. Aku menjadwalkan latihan setiap hari selama tiga jam (padahal pada hari biasanya kami hanya latihan dua jam), kecuali hari Minggu. Beberapa penari silih berganti sehat-sakit-sembuh selama waktu persiapan menjelang kontes akbar itu. Namun aku tidak menyerah sedetik pun. Sanggar tari kami harus bisa menampilkan betapa indahnya kesenian Sunda pada dunia.

 

Hari berganti. Pekan berganti. Kami telah menyaksikan perobekan selembar halaman kalender oleh Mang Didi. Waktu yang dinantikan pun tiba: hari keberangkatan ke Bali.

 

Rombongan kami berangkat dengan menyewa sebuah bis pariwisata dengan penyejuk ruangan. Bis itu kami jejali dengan berbagai macam alat musik dan kostum tari kami. Kami, para penari duduk di bagian depan, sedangkan para sinden dan pemain alat musik berada di urutan kedua dan ketiga. Bu Romlah tidak bisa ikut serta dalam perjalanan ini, karena cucunya memaksa hendak lahir kr dunia.

 

Entah karena gugup atau udara dingin, aku sudah berkali-kali bolak-balik buang air ke kamar mandi. Tentu saja ini merepotkannku. Di pemberhentian bis yang ketiga kalinya, aku menyelinap keluar dari bis untuk kembali menuntaskan urusan ini. Aku melewati supir-supir bis lain yang mengantri di depan toilet umum. Untungnya, toilet umum untuk wanita tidak begitu ramai. Aku pun masuk ke dalam setelah mengantri lima menit.

 

Setelah beres dengan urusanku, aku membereskan sedikit riasanku dan segera melesat kembali ke tempat bisku parkir. Tidak, aku salah. Aku melesat ke tempat bisku tadinya parkir. Sekarang ia sudah tidak berdiri gagah di sana. Bisku sudah berangkat! Aku merogoh kantongku, tidak ada apa-apa di sana. Bahkan aku tidak membawa sepeser pun uang! Aku tidak bisa menyusul sendiri ke sana. Aku perhatikan beberapa bis lain yang tersisa di sekitarku. Semuanya tujuan Jawa Tengah atau Kalimantan, tidak ada kata Bali atau Garut tercetak di tubuhnya.

 

Lemas. Impianku baru saja direbut oleh raksasa jahat dan dilumatkan tepat di depan mataku sendiri. Bukan hanya itu. Bagaimana caraku pulang ke rumah?

 

Sampai malam aku luntang-lantung di daerah tak kukenal ini. Aku mencoba berjalan dan berjalan, siapa tahu bertemu dengan orang baik hati yang bisa mengantarkanku pulang. Namun sang tokoh baik hati belum saatnya muncul di panggung pertunjukanku kali ini. Aku menemukan sebuah masjid di dalam perjalananku. Aku memutuskan untuk menuntaskan malam di sana. Aku menunaikan sholat magrib dan isya di sana. Walaupun masjid ini sederhana dan kecil, setiap waktu sholat tiba, penduduk selalu berbondong-bondong menuju ke sini untuk memperoleh pahala sholat berjamaah yang berkali-kali lipat. Setelah rombongan terakhir jamaah keluar dari masjid, dengan masih menggunakan mukena aku berbaring hendak meluruskan punggung. Lelah seharian berjalan tak tentu arah. Tak lama kemudian aku pun sudah tertidur pulas di kerasnya lantai masjid yang terbuat dari kayu.

 

Ndhuk, ndhuk, bangun..Sebentar lagi adzan subuh”, sebuah suara lembut membangunkanku. Aku membuka mata, dan di hadapanku berdiri seorang wanita setengah baya yang memakai mukena. Ah, sepertinya pahlawan penolongku yang ditunggu-tunggu telah datang.

 

“Kenapa tidur di sini tho, ndhuk?”

 

Aku pun menceritakan kisah-ketinggalan-bis-ku kepada Ibu itu. Setelah sholat subuh, Ibu itu membawaku ke rumahnya di sebelah masjid. Aku disuruh kembali beristirahat di sana, di tempat tidur putrinya. Ia, Bu Aminah, tinggal sendirian sejak kedua putrinya menikah. Ketika matahari telah naik sepenggalah, aku terbangun dari istirahatku. Aku terbangun karena mendengar suara musik yang tak asing di telingaku, musik dedegungan Sunda.

 

Televisi yang dibiarkan menyala di ruang tengah menyiarkan tayangan Kontes Tari Daerah langsung dari Bali. Aku duduk terhenyak di depannya. Tempat itu padat oleh pengunjung. Penonton-penonton kontes itu tampak berasal dari berbagai penjuru daerah. Ada pula penonton dari luar negeri. Bahkan Menteri Pariwisata duduk di barisan paling depan memperhatikan dengan seksama. Itu grupku, tanpa aku, sedang tampil di atas panggung dan disaksikan jutaan penonton. Beberapa kali gerakan mereka terlihat tidak kompak, membuatku agak kesal. Yani sesekali memutar berlawanan arah dengan penari yang lain. Dan Asrina menjatuhkan selendang beberapa detik lebih lambat dari yang lain. Percuma sudah latihan keras selama empat minggu ini.

 

“Kasihan mereka ya tho, Ndhuk?”, ujar Ibu Aminah sambil membawa senampan makanan. Sepiring nasi dan lauk pauk lengkap disajikan di hadapanku.

 

“Iya, Bu. Kasihan mereka. Mereka pasti kalah gara-gara tidak kompak”, aku mengambil makanan yang disajikan dengan ogah-ogahan.

 

“Bukan itu. Kasihan mereka. Tubuh mereka dipajang di depan jutaan pasang mata yang tidak sopan. Mereka dieksploitasi.”

 

“Maksudnya teh apa, Bu?” aku belum menceritakan apa tujuanku sebenarnya ingin pergi ke Bali.

 

“Ibu setiap sore ikut pengajian di masjid sebelah. Ustadzah di sana selalu menekankan tentang berharganya wanita di dalam Islam. Wanita harus dijaga dan dihormati, bukan dipertontonkan, apalagi di depan mata-mata yang tidak sepantasnya memandangi tubuh mereka. Sama saja seperti kue yang tak berbungkus di penjual kue. Ibu sih ndak mau beli kue yang ndak dibungkus. Soalnya pasti udah dipegang-pegang orang, udah kena debu dan kuman. Ibu pasti milih kue yang dibungkus rapi. Itu ungkapan ustadzah di pengajian Ibu, membandingkan wanita yang terekspos bebas dan wanita yang terjaga”.

 

Aku tertegun. Ini hal yang baru kusadari saat ini. Aku memang ikut TPA sejak kecil. Tapi semuanya hanya seperi angin lalu saja bagiku. Baru kali ini kupahami arti pelajaran yang diberikan oleh ustadz-ustadzah di sana tentang indahnya Islam dan tentang mulianya wanita berkerudung.

 

Sore itu, Ibu Aminah meminta menantunya untuk mengantarkan kami ke Desa Banjarsari, rumahku. Di perjalanan pulang, aku mengobrol-ngobrol panjang lebar dengan Bu Aminah, anak perempuannya, dan menantunya. Di perjalanan itu pula lah aku semakin memupuk keyakinan baru.

 

Aku bangga sebagai orang Sunda. Tapi aku juga harus bangga sebagai Muslimah dan berusaha menjadi wanita yang terlindungi. Aku akan tetap melestarikan budaya Sunda, dengan tidak mengesampingkan nilai Islam yang indah.

0

Cerita dari Balik Pepohonan Hutan Borneo


Konvensional. Itulah yang mereka katakan tentang kami. Yah, itu bahasa halusnya. Lebih sering mereka mengatakan kami kuno, terbelakang, atau kolot.

 

Itu kata-kata yang mereka tanamkan dalam kepala kami sebagai identitas. Sebagai salah satu suku asli di tanah borneo ini, kami mengakui hidup kami memang kalah canggih dibandingkan penduduk Kalimantan lainnya. Sangat jarang dari kami yang memiliki banyak uang. Kebanyakan kami termasuk dalam kategori miskinnya pemerintah. Kami memang tidak punya uang, tapi kami tak pernah kelaparan. Hasil alam melimpah ruah di sekeliling kami. Kami bahagia dengan kehidupan kami. Tapi itu dulu, sebelum orang-orang modern ini mengubah kami dengan satu kata: konvensional.

 

Keluargaku merupakan salah satu keluarga biasa di suku kami. Di suku kami, walaupun diajarkan kehidupan yang keras, kami terbiasa untuk bergotong royong dan saling peduli. Keluarga kami juga tergolong keluarga yang beruntung karena bisa tersentuh pendidikan. Ayah dan ibuku, beserta delapan anaknya tinggal di sebuah rumah kayu di pedalaman hutan di Kalimantan Tengah. Aku anak keempat, dengan satu orang kakak laki-laki, dua orang kakak perempuan, tiga orang adik perempuan, dan satu orang adik laki-laki paling kecil. Kakak laki-lakiku meninggal pada usia beberapa hari karena sakit. Maka sebagai anak lelaki tertua, aku sangat diharapkan dalam keluarga. Aku satu-satunya anak yang dipaksa bersekolah, sementara kakak-kakakku diperbolehkan memilih hanya tinggal di rumah. Sekolah pertamaku adalah sekolah kecil di pinggir kota. Di sana aku menamatkan pendidikan dasarku selama enam tahun. Untuk pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, aku harus merantau ke kota, karena sekolah menengah masih sangat jarang di sana.

 

Belasan tahun lalu, ketika aku masih kecil, orang-orang kota itu menginjakkan kaki pertama kalinya di tanah kami. Hari itu aku pulang dari mencari kayu bakar. Aku melihat bapak dan beberapa warga lainnya mengerubungi rumah kepala daerah. Rasa penasaran membuatku ikut menyelinap ke dalam kerumunan. Di dalam rumah kepala daerah, sedang terjadi obrolan serius antara para ketua adat, kepala daerah, dan dua orang laki-laki dari kota. Berkali-kali para tetua terlihat merengutkan wajah dan menggeleng-geleng, lalu angkat bicara. Setelah itu kepala daerah selaku juru bicara menerjemahkan apa yang para tetua sampaikan ke orang-orang kota tersebut. Maka adegan selanjutnya, berpindahlah kerutan di dahi para tetua ke dahi orang-orang kota itu. Setelah beberapa lama, sepertinya diskusi tidak mendapat titik temu. Mereka mulai saling bicara dengan nada tinggi. Kepala daerah sebagai mediator hanya bisa mengangkat tangannya berulang kali, tanda menyuruh tenang.

 

Malam harinya di rumah kayu keluargaku, setelah makan masakan hasil cocok tanam kami, bapak memberitahukan apa yang terjadi di rumah kepala daerah tadi siang.

 

“Mereka ingin membuka hutan untuk kegiatan pertambangan”, kata bapak kepada ibu.

 

“Membuka hutan? Bagaimana cara membuka hutan?” aku baru pertama kali mendengar istilah itu. Aku hanya tahu yang bisa dibuka itu adalah pintu, buku, botol minyak, dan sebagainya. Bagaimana cara orang membuka hutan?

 

“Maksudnya mereka akan menebang pohon-pohon yang ada di hutan kita, karena katanya ada pasokan batu bara melimpah di bawahnya”, ibu menjelaskan sambil mengusap rambutku.

 

“Lalu, apa kata kepala daerah, Pak?”

 

“Kepala daerah tadinya masih belum memutuskan. Tapi setelah melihat ketidaksetujuan dari para ketua adat, kepala daerah tidak mengijinkan hutan kita dijadikan kawasan pertambangan”, bapak menjelaskan kembali.

 

“Tentu saja mereka tidak akan mengijinkan! Lihat apa yang terjadi pada hutan yang ada beberapa kilometer di utara, setelah dijadikan kebun kelapa sawit! Banjir! Tanah longsor! Apalagi jika dijadikan daerah tambang, dengan segala pencemarannya”, ibu mulai sewot. Aku merasa usapan di rambutku berubah menjadi pukulan kecil.

“Para tetua pun mengatakan demikian. Ditambah lagi, para tetua tidak ingin mengkhianati wasiat leluhur. Tampaknya orang-orang kota itu pun telah menyerah, mudah-mudahan mereka tidak kembali lagi”, kata bapak lagi.

 

Namun perkiraan bapak salah. Memang orang-orang kota itu tidak datang kembali membawa ide pembuatan tambang. Mereka kembali datang dengan menyebarkan ide-ide kepada kami. Mulanya mereka tawarkan kepada kami metode pengobatan modern. Umpan itu cukup berhasil. Angka kematian di daerah kami karena penyakit memang cukup tinggi. Maka kesembuhan dari penyakit merupakan hal yang sangat ajaib bagi warga. Jadi warga berbondong-bondong pergi ke klinik kecil yang mereka dirikan di pinggir hutan. Di sana warga diberi berbagai macam obat dan vitamin. Kuakui, itu memang sangat menolong. Tapi lihat apa yang mereka tawarkan seterusnya.

 

Kemudian mereka menjejalkan ide bahwa kami adalah penduduk primitif yang tidak akan bisa bertahan lama. Karena kekolotan kami, kata mereka, kami akan semakin tertinggal, bahkan mungkin bisa punah. Mereka menekankan pentingnya pendidikan bagi kami. Mereka menawarkan metode pengajaran ala kota bagi kami. Mereka memperbaiki fasilitas sekolah dasar dan mendirikan sekolah menengah di perbatasan antara daerah kami dan kota. Anak-anak di daerah kami semakin banyak yang menikmati bangku sekolah. Di sekolah, anak-anak diajarkan membaca, menulis, berhitung. Untuk tahap selanjutnya, mereka diajarkan matematika, berbagai bahasa asing, kimia, fisika, biologi, dan sejarah. Karena jaraknya cukup jauh, anak-anak sekolahan itu berangkat dari rumah ketika matahari baru menampakkan dirinya, dan kembali sesaat sebelum matahari terbenam.

 

Oke, pendidikan di bangku sekolah memang bagus bagi kami. Tapi aku selalu diajari bapak, bahwa pendidikan yang baik itu harus bisa membuat manusia selaras dengan alam lingkungan dan masyarakatnya. Memang baik jika anak-anak bisa mengusai matematika hingga bisa menggunakan persamaan integral tingkat sekian. Memang bagus mengetahui reaksi apa yang terjadi jika larutan kimia tertentu dicampur dengan unsur tertentu. Tapi alangkah lebih baik jika anak-anak Kalimantan diajarkan apa potensi pulau yang dianugerahkan kepada mereka dan bagaimana mengelolanya. Karena terlalu panjangnya waktu anak-anak yang terpakai untuk sekolah, banyak dari mereka yang akhirnya tidak tahu bagaimana cara berteman dengan hewan liar, lupa cara bercocok tanam, bahkan jarang berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.

 

Beberapa tahun kemudian, orang-orang kota itu mencoba menawarkan hal baru lagi bagi kami. Kehidupan kami yang sederhana mereka katakan kuno. Mereka tawarkan suatu gaya hidup baru. Mereka buatkan sebuah kompleks perumahan di pinggiran terluar hutan kami. Katanya, kami akan lebih mudah mencapai sekolah dan pusat peradaban. Sebagai cara pembayaran, kami pun ditawari berbagai pekerjaan, mulai dari buruh penebang pohon, ahli transportasi, sampai pekerjaan kantoran. Satu per satu dari anggota suku kami mulai pindah keluar hutan. Mereka membayar kepada orang asing untuk tinggal di tanah sendiri, hanya karena terlihat lebih elit. Hanya para tetua saja yang bersikeras untuk tetap tinggal bersama kearifan alam. Tapi mereka lama-kelamaan pun berkurang jumlahnya karena meninggal dunia.

 

Keluargaku pun akhirnya terpaksa menempati sebuah rumah petak di tepi kota. Kami meninggalkan rumah kayu kami yang penuh kehangatan menuju rumah sewa yang individualis. Suatu ketika, aku, yang sedang menempuh pendidikan tinggi dan baru pulang bekerja sambilan, bersantai sejenak di halaman rumah petak itu. Kedua orang tuaku telah tiada. Setelah kakak-kakakku berkeluarga, kini di rumah hanya tinggal aku dan adik-adikku. Aku mengipas-ngipaskan koran pagi ke leherku. Lingkungan kami sekarang terasa lebih panas dan gerah. Hujan turun tidak menentu, bahkan keluar dari jadwal musimannya. Orang-orang bilang ini efek global warming. Tiba-tiba aku mendengar gemerisik pohon di dekat perbatasan hutan. Ternyata beberapa hewan sedang bersembunyi di sana. Sekarang banyak hewan liar yang mulai keluar hutan. Mungkin rumah mereka sudah mulai tergusur. Atau mungkin mereka ikut terserang propaganda kalau hidup di hutan itu kuno dan terbelakang. Sebulan lalu ada orang utan mengamuk di perumahan. Orang utan tersebut berhasil ditangkap dengan menggunakan senapan bius. Kali lain ada gajah beserta seekor anaknya bermain-main di alun-alun. Mereka juga berhasil diamankan dan dikirimkan ke penangkaran.

 

Banyak orang yang tidak ambil pusing dengan fenomena-fenomena itu. Mereka sudah tersibukkan dengan urusan mereka masing-masing. Tapi aku tidak bisa tinggal diam. Aku tahu bahwa orang-orang kota yang ingin membuka hutan itu telah kembali. Mereka ingin kami para penduduk hutan keluar dari hutan, agar mereka bisa lebih leluasa menjarah kekayaan alam kami. Mereka mulai menebangi pepohonan dari wilayah yang paling dalam, agar tindakan mereka tidak terendus. Ternyata tak hanya hasil tambang, kayu-kayu hutan kami pun mereka ambil, karena kualitasnya yang bagus. Kemudian di malam hari mereka membawa alat-alat berat untuk melakukan proyek penambangan. Beberapa penebang, buruh tambang, cukong kayu, dan mandor proyek ternyata adalah anggota suku kami juga. Beberapa mantan penduduk hutan telah mereka bayar untuk merusak rumah sendiri.

 

Aku tidak bisa tinggal diam. Suatu hari aku mengumpulkan teman-teman semasa kecilku dulu. Kami dulu membuat semacam geng bermain beranggotakan tujuh orang anak laki-laki dan perempuan. Aku yakin mereka akan mau menolongku menyelamatkan hutan, karena kami sejak kecil telah diajarkan nilai-nilai kearifan lokal yang sama.
Aku coba kumpulkan mereka di suatu kawasan terpencil di pinggir hutan. Satu per satu mereka datang.

 

Harum datang paling awal. Ia menuntun sepeda tuanya melewati bebatuan dan akar pepohonan. Sepertinya dia baru saja pulang dari sekolah. Sebuah tas anyaman duduk manis di keranjang sepedanya. Dia masuk sekolah menengah telat dua tahun dariku, karena ayahnya meninggal ketika ia lulus sekolah dasar. Kemudian menyusul Saduri, Mahmut, dan Seruni. Rumah mereka memang berdekatan. Saduri merupakan keturunan salah satu tetua adat. Mahmut dan Seruni masih memiliki hubungan saudara. Dulunya keluarga besar mereka terkenal sebagai petani yang sukses turun-temurun. Ketika kami sedang mengobrol tentang anak gajah yang tersesat di alun-alun kota, Badrun dan Kamal pun tiba. Mereka bekerja sambilan sebagai buruh kasar. Mereka masih membawa kapak dan cangkul.

 

“Jadi apa rencana kau, Kon?” begitu tiba, Kamal langsung menanyaiku tanpa basa-basi.

 

“Aku ingin membentuk kelompok penyelamat hutan”, aku pun menjawabnya tanpa basa-basi. “Kelompok ini nanti tugasnya adalah melindungi hutan kita dari penebangan liar dan penambangan ilegal. Kalian tahu kan? Semakin banyak hewan yang kabur ke pemukiman warga.  Itu artinya tempat tinggal mereka telah dirusak.”

 

“Ya, aku juga pernah mendengar percakapan dari mandorku tentang proyeknya yang lain. Waktu itu ia menawariku untuk ikut sebagai buruh penebang hutan. Tentu saja aku menolaknya”, ujar Badrun.

 

“Lalu, apa yang bisa kami bantu, Kon?” tanya Seruni.

 

“Aku ingin kalian bergabung dalam kelompok ini. Aku juga butuh bantuan untuk menghimpun dukungan dari warga desa. Dengan adanya dukungan itu, pemerintah daerah akan bertindak. Orang-orang kota itu tidak akan bisa lagi menginjakkan kaki di sini”, jawabku kembali.

 

“Lalu, apa rencana kau?” tanya Kamal lagi.

 

“Sebelum aku memberitahukan rencanaku, aku ingin memastikan, apakah kalian semua ingin bergabung?” tanyaku.

 

“Tentu saja!” Badrun berteriak lantang.

 

“Aku ikut! Aku harus selamatkan tanah nenek moyang kita”, jawab Saduri.

 

Aku menatap satu persatu wajah temanku yang lainnya. Mereka pun mengangguk setuju.

 

“Oke, begini rencananya”, aku mengeluarkan selembar kertas yang semalaman telah kutulisi hingga penuh dari saku kemeja. Mereka mendekat mengerubungi kertas yang kupegang. Setelah kujelaskan panjang lebar tentang rencanaku, kami semua langsung berpencar melaksanakan tugsa masing-masing.

 

Aku, Badrun, dan Kamal mencari bukti-bukti lapangan tentang kerusakan hutan dan bencana alam yang terjadi di wilayah berjarak berkilo-kilo meter di utara daerah kami. Kami meminjam kamera tua milik Mahmut, sehingga kami bisa memperlihatkan bukti-bukti nyata ke warga nantinya.

 

Harum mengumpulkan data-data tentang dampak penambangan ilegal di perpustakaan sekolah. Ia juga mewawancari beberapa guru di sekolahnya tentang bahaya penebangan hutan liar. Saduri menghimpun sesama keturunan ketua adat yang masih ada, dan mengajak bergabung dalam gerakan “menyelamatkan tanah warisan leluhur”. Entah dari mana ia mendapat nama seperti itu.

 

Mahmut dan Seruni mengawasi kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang kota itu di hutan dari jauh. Mereka juga mencocokkannya dengan salinan surat-surat ijin penebangan dari ketua daerah. Mereka menemukan bahwa hampir semua kegiatan penebangan dan penambangan itu adalah ilegal.

 

Setelah tahap pencarian data dilakukan, kemudian kami masuk ke tahap kedua. Tahap kedua ini adalah tahap persuasi ke masyarakat. Kami membawa foto-foto kerusakan hutan di wilayah lain, dan bencana alam yang tidak dapat terhindarkan dari kerusakan hutan tersebut. Kami juga menyodorkan tulisan yangg dibuat dari hasil pencarian Harum di sekolahnya serta laporan apa-apa saja hal-hal ilegal yang dilakukan orang kota tersebut dan apa dampaknya. Kami mendatangi warga-warga didampingi para keturunan ketua adat yang masih ada, agar lebih meyakinkan.

 

Para warga yang mendengar penjelasan kami menjadi marah kepada orang-ornag kota itu, walaupun ada sebagian kecil yang acuh tak acuh. Mereka menandatangani surat penolakan terhadap kegiatan penebangan dan penambangan ilegal yang dilakukan oleh orang-orang kota tersebut. Kepala daerah berjanji akan memproses surat tersebut. Warga juga mengancam akan merusak peralatan yang digunakan untuk penebangan hutan dan penambangan, jika permintaan mereka tidak digubris. Selain itu kayu-kayu dan barang tambang yang dihasilkan dari aktivitas ilegal akan dicegat di perbatasan hutan. Badrun, Kamal, dan belasan warga desa lainnya berjaga silih berganti di perbatasan. Tak satu pun penebang atau buruh tambang yang mereka ijinkan lewat tanpa menunjukkan surat ijin.

 

Dengan begitu, penjajahan orang-ornag kota itu di tanah kami pun sedikit demi sedikit berakhir. Mereka resmi pergi seminggu setelah surat penolakan selesai diproses. Walaupun begitu, kami telah menderita kerugian yang cukup besar karena hutan kami telah rusak parah. Kini nasib hutan kami dikembalikan kepada kami sendiri. Kami akan menjaga dan mengembalikannya seperti sedia kala, atau kami akan termakan oleh satu kata ‘konvensional’ kembali. Mudah-mudahan bukan pilihan kedua yang kami ambil.