Cerita dari Balik Pepohonan Hutan Borneo


Konvensional. Itulah yang mereka katakan tentang kami. Yah, itu bahasa halusnya. Lebih sering mereka mengatakan kami kuno, terbelakang, atau kolot.

 

Itu kata-kata yang mereka tanamkan dalam kepala kami sebagai identitas. Sebagai salah satu suku asli di tanah borneo ini, kami mengakui hidup kami memang kalah canggih dibandingkan penduduk Kalimantan lainnya. Sangat jarang dari kami yang memiliki banyak uang. Kebanyakan kami termasuk dalam kategori miskinnya pemerintah. Kami memang tidak punya uang, tapi kami tak pernah kelaparan. Hasil alam melimpah ruah di sekeliling kami. Kami bahagia dengan kehidupan kami. Tapi itu dulu, sebelum orang-orang modern ini mengubah kami dengan satu kata: konvensional.

 

Keluargaku merupakan salah satu keluarga biasa di suku kami. Di suku kami, walaupun diajarkan kehidupan yang keras, kami terbiasa untuk bergotong royong dan saling peduli. Keluarga kami juga tergolong keluarga yang beruntung karena bisa tersentuh pendidikan. Ayah dan ibuku, beserta delapan anaknya tinggal di sebuah rumah kayu di pedalaman hutan di Kalimantan Tengah. Aku anak keempat, dengan satu orang kakak laki-laki, dua orang kakak perempuan, tiga orang adik perempuan, dan satu orang adik laki-laki paling kecil. Kakak laki-lakiku meninggal pada usia beberapa hari karena sakit. Maka sebagai anak lelaki tertua, aku sangat diharapkan dalam keluarga. Aku satu-satunya anak yang dipaksa bersekolah, sementara kakak-kakakku diperbolehkan memilih hanya tinggal di rumah. Sekolah pertamaku adalah sekolah kecil di pinggir kota. Di sana aku menamatkan pendidikan dasarku selama enam tahun. Untuk pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, aku harus merantau ke kota, karena sekolah menengah masih sangat jarang di sana.

 

Belasan tahun lalu, ketika aku masih kecil, orang-orang kota itu menginjakkan kaki pertama kalinya di tanah kami. Hari itu aku pulang dari mencari kayu bakar. Aku melihat bapak dan beberapa warga lainnya mengerubungi rumah kepala daerah. Rasa penasaran membuatku ikut menyelinap ke dalam kerumunan. Di dalam rumah kepala daerah, sedang terjadi obrolan serius antara para ketua adat, kepala daerah, dan dua orang laki-laki dari kota. Berkali-kali para tetua terlihat merengutkan wajah dan menggeleng-geleng, lalu angkat bicara. Setelah itu kepala daerah selaku juru bicara menerjemahkan apa yang para tetua sampaikan ke orang-orang kota tersebut. Maka adegan selanjutnya, berpindahlah kerutan di dahi para tetua ke dahi orang-orang kota itu. Setelah beberapa lama, sepertinya diskusi tidak mendapat titik temu. Mereka mulai saling bicara dengan nada tinggi. Kepala daerah sebagai mediator hanya bisa mengangkat tangannya berulang kali, tanda menyuruh tenang.

 

Malam harinya di rumah kayu keluargaku, setelah makan masakan hasil cocok tanam kami, bapak memberitahukan apa yang terjadi di rumah kepala daerah tadi siang.

 

“Mereka ingin membuka hutan untuk kegiatan pertambangan”, kata bapak kepada ibu.

 

“Membuka hutan? Bagaimana cara membuka hutan?” aku baru pertama kali mendengar istilah itu. Aku hanya tahu yang bisa dibuka itu adalah pintu, buku, botol minyak, dan sebagainya. Bagaimana cara orang membuka hutan?

 

“Maksudnya mereka akan menebang pohon-pohon yang ada di hutan kita, karena katanya ada pasokan batu bara melimpah di bawahnya”, ibu menjelaskan sambil mengusap rambutku.

 

“Lalu, apa kata kepala daerah, Pak?”

 

“Kepala daerah tadinya masih belum memutuskan. Tapi setelah melihat ketidaksetujuan dari para ketua adat, kepala daerah tidak mengijinkan hutan kita dijadikan kawasan pertambangan”, bapak menjelaskan kembali.

 

“Tentu saja mereka tidak akan mengijinkan! Lihat apa yang terjadi pada hutan yang ada beberapa kilometer di utara, setelah dijadikan kebun kelapa sawit! Banjir! Tanah longsor! Apalagi jika dijadikan daerah tambang, dengan segala pencemarannya”, ibu mulai sewot. Aku merasa usapan di rambutku berubah menjadi pukulan kecil.

“Para tetua pun mengatakan demikian. Ditambah lagi, para tetua tidak ingin mengkhianati wasiat leluhur. Tampaknya orang-orang kota itu pun telah menyerah, mudah-mudahan mereka tidak kembali lagi”, kata bapak lagi.

 

Namun perkiraan bapak salah. Memang orang-orang kota itu tidak datang kembali membawa ide pembuatan tambang. Mereka kembali datang dengan menyebarkan ide-ide kepada kami. Mulanya mereka tawarkan kepada kami metode pengobatan modern. Umpan itu cukup berhasil. Angka kematian di daerah kami karena penyakit memang cukup tinggi. Maka kesembuhan dari penyakit merupakan hal yang sangat ajaib bagi warga. Jadi warga berbondong-bondong pergi ke klinik kecil yang mereka dirikan di pinggir hutan. Di sana warga diberi berbagai macam obat dan vitamin. Kuakui, itu memang sangat menolong. Tapi lihat apa yang mereka tawarkan seterusnya.

 

Kemudian mereka menjejalkan ide bahwa kami adalah penduduk primitif yang tidak akan bisa bertahan lama. Karena kekolotan kami, kata mereka, kami akan semakin tertinggal, bahkan mungkin bisa punah. Mereka menekankan pentingnya pendidikan bagi kami. Mereka menawarkan metode pengajaran ala kota bagi kami. Mereka memperbaiki fasilitas sekolah dasar dan mendirikan sekolah menengah di perbatasan antara daerah kami dan kota. Anak-anak di daerah kami semakin banyak yang menikmati bangku sekolah. Di sekolah, anak-anak diajarkan membaca, menulis, berhitung. Untuk tahap selanjutnya, mereka diajarkan matematika, berbagai bahasa asing, kimia, fisika, biologi, dan sejarah. Karena jaraknya cukup jauh, anak-anak sekolahan itu berangkat dari rumah ketika matahari baru menampakkan dirinya, dan kembali sesaat sebelum matahari terbenam.

 

Oke, pendidikan di bangku sekolah memang bagus bagi kami. Tapi aku selalu diajari bapak, bahwa pendidikan yang baik itu harus bisa membuat manusia selaras dengan alam lingkungan dan masyarakatnya. Memang baik jika anak-anak bisa mengusai matematika hingga bisa menggunakan persamaan integral tingkat sekian. Memang bagus mengetahui reaksi apa yang terjadi jika larutan kimia tertentu dicampur dengan unsur tertentu. Tapi alangkah lebih baik jika anak-anak Kalimantan diajarkan apa potensi pulau yang dianugerahkan kepada mereka dan bagaimana mengelolanya. Karena terlalu panjangnya waktu anak-anak yang terpakai untuk sekolah, banyak dari mereka yang akhirnya tidak tahu bagaimana cara berteman dengan hewan liar, lupa cara bercocok tanam, bahkan jarang berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.

 

Beberapa tahun kemudian, orang-orang kota itu mencoba menawarkan hal baru lagi bagi kami. Kehidupan kami yang sederhana mereka katakan kuno. Mereka tawarkan suatu gaya hidup baru. Mereka buatkan sebuah kompleks perumahan di pinggiran terluar hutan kami. Katanya, kami akan lebih mudah mencapai sekolah dan pusat peradaban. Sebagai cara pembayaran, kami pun ditawari berbagai pekerjaan, mulai dari buruh penebang pohon, ahli transportasi, sampai pekerjaan kantoran. Satu per satu dari anggota suku kami mulai pindah keluar hutan. Mereka membayar kepada orang asing untuk tinggal di tanah sendiri, hanya karena terlihat lebih elit. Hanya para tetua saja yang bersikeras untuk tetap tinggal bersama kearifan alam. Tapi mereka lama-kelamaan pun berkurang jumlahnya karena meninggal dunia.

 

Keluargaku pun akhirnya terpaksa menempati sebuah rumah petak di tepi kota. Kami meninggalkan rumah kayu kami yang penuh kehangatan menuju rumah sewa yang individualis. Suatu ketika, aku, yang sedang menempuh pendidikan tinggi dan baru pulang bekerja sambilan, bersantai sejenak di halaman rumah petak itu. Kedua orang tuaku telah tiada. Setelah kakak-kakakku berkeluarga, kini di rumah hanya tinggal aku dan adik-adikku. Aku mengipas-ngipaskan koran pagi ke leherku. Lingkungan kami sekarang terasa lebih panas dan gerah. Hujan turun tidak menentu, bahkan keluar dari jadwal musimannya. Orang-orang bilang ini efek global warming. Tiba-tiba aku mendengar gemerisik pohon di dekat perbatasan hutan. Ternyata beberapa hewan sedang bersembunyi di sana. Sekarang banyak hewan liar yang mulai keluar hutan. Mungkin rumah mereka sudah mulai tergusur. Atau mungkin mereka ikut terserang propaganda kalau hidup di hutan itu kuno dan terbelakang. Sebulan lalu ada orang utan mengamuk di perumahan. Orang utan tersebut berhasil ditangkap dengan menggunakan senapan bius. Kali lain ada gajah beserta seekor anaknya bermain-main di alun-alun. Mereka juga berhasil diamankan dan dikirimkan ke penangkaran.

 

Banyak orang yang tidak ambil pusing dengan fenomena-fenomena itu. Mereka sudah tersibukkan dengan urusan mereka masing-masing. Tapi aku tidak bisa tinggal diam. Aku tahu bahwa orang-orang kota yang ingin membuka hutan itu telah kembali. Mereka ingin kami para penduduk hutan keluar dari hutan, agar mereka bisa lebih leluasa menjarah kekayaan alam kami. Mereka mulai menebangi pepohonan dari wilayah yang paling dalam, agar tindakan mereka tidak terendus. Ternyata tak hanya hasil tambang, kayu-kayu hutan kami pun mereka ambil, karena kualitasnya yang bagus. Kemudian di malam hari mereka membawa alat-alat berat untuk melakukan proyek penambangan. Beberapa penebang, buruh tambang, cukong kayu, dan mandor proyek ternyata adalah anggota suku kami juga. Beberapa mantan penduduk hutan telah mereka bayar untuk merusak rumah sendiri.

 

Aku tidak bisa tinggal diam. Suatu hari aku mengumpulkan teman-teman semasa kecilku dulu. Kami dulu membuat semacam geng bermain beranggotakan tujuh orang anak laki-laki dan perempuan. Aku yakin mereka akan mau menolongku menyelamatkan hutan, karena kami sejak kecil telah diajarkan nilai-nilai kearifan lokal yang sama.
Aku coba kumpulkan mereka di suatu kawasan terpencil di pinggir hutan. Satu per satu mereka datang.

 

Harum datang paling awal. Ia menuntun sepeda tuanya melewati bebatuan dan akar pepohonan. Sepertinya dia baru saja pulang dari sekolah. Sebuah tas anyaman duduk manis di keranjang sepedanya. Dia masuk sekolah menengah telat dua tahun dariku, karena ayahnya meninggal ketika ia lulus sekolah dasar. Kemudian menyusul Saduri, Mahmut, dan Seruni. Rumah mereka memang berdekatan. Saduri merupakan keturunan salah satu tetua adat. Mahmut dan Seruni masih memiliki hubungan saudara. Dulunya keluarga besar mereka terkenal sebagai petani yang sukses turun-temurun. Ketika kami sedang mengobrol tentang anak gajah yang tersesat di alun-alun kota, Badrun dan Kamal pun tiba. Mereka bekerja sambilan sebagai buruh kasar. Mereka masih membawa kapak dan cangkul.

 

“Jadi apa rencana kau, Kon?” begitu tiba, Kamal langsung menanyaiku tanpa basa-basi.

 

“Aku ingin membentuk kelompok penyelamat hutan”, aku pun menjawabnya tanpa basa-basi. “Kelompok ini nanti tugasnya adalah melindungi hutan kita dari penebangan liar dan penambangan ilegal. Kalian tahu kan? Semakin banyak hewan yang kabur ke pemukiman warga.  Itu artinya tempat tinggal mereka telah dirusak.”

 

“Ya, aku juga pernah mendengar percakapan dari mandorku tentang proyeknya yang lain. Waktu itu ia menawariku untuk ikut sebagai buruh penebang hutan. Tentu saja aku menolaknya”, ujar Badrun.

 

“Lalu, apa yang bisa kami bantu, Kon?” tanya Seruni.

 

“Aku ingin kalian bergabung dalam kelompok ini. Aku juga butuh bantuan untuk menghimpun dukungan dari warga desa. Dengan adanya dukungan itu, pemerintah daerah akan bertindak. Orang-orang kota itu tidak akan bisa lagi menginjakkan kaki di sini”, jawabku kembali.

 

“Lalu, apa rencana kau?” tanya Kamal lagi.

 

“Sebelum aku memberitahukan rencanaku, aku ingin memastikan, apakah kalian semua ingin bergabung?” tanyaku.

 

“Tentu saja!” Badrun berteriak lantang.

 

“Aku ikut! Aku harus selamatkan tanah nenek moyang kita”, jawab Saduri.

 

Aku menatap satu persatu wajah temanku yang lainnya. Mereka pun mengangguk setuju.

 

“Oke, begini rencananya”, aku mengeluarkan selembar kertas yang semalaman telah kutulisi hingga penuh dari saku kemeja. Mereka mendekat mengerubungi kertas yang kupegang. Setelah kujelaskan panjang lebar tentang rencanaku, kami semua langsung berpencar melaksanakan tugsa masing-masing.

 

Aku, Badrun, dan Kamal mencari bukti-bukti lapangan tentang kerusakan hutan dan bencana alam yang terjadi di wilayah berjarak berkilo-kilo meter di utara daerah kami. Kami meminjam kamera tua milik Mahmut, sehingga kami bisa memperlihatkan bukti-bukti nyata ke warga nantinya.

 

Harum mengumpulkan data-data tentang dampak penambangan ilegal di perpustakaan sekolah. Ia juga mewawancari beberapa guru di sekolahnya tentang bahaya penebangan hutan liar. Saduri menghimpun sesama keturunan ketua adat yang masih ada, dan mengajak bergabung dalam gerakan “menyelamatkan tanah warisan leluhur”. Entah dari mana ia mendapat nama seperti itu.

 

Mahmut dan Seruni mengawasi kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang kota itu di hutan dari jauh. Mereka juga mencocokkannya dengan salinan surat-surat ijin penebangan dari ketua daerah. Mereka menemukan bahwa hampir semua kegiatan penebangan dan penambangan itu adalah ilegal.

 

Setelah tahap pencarian data dilakukan, kemudian kami masuk ke tahap kedua. Tahap kedua ini adalah tahap persuasi ke masyarakat. Kami membawa foto-foto kerusakan hutan di wilayah lain, dan bencana alam yang tidak dapat terhindarkan dari kerusakan hutan tersebut. Kami juga menyodorkan tulisan yangg dibuat dari hasil pencarian Harum di sekolahnya serta laporan apa-apa saja hal-hal ilegal yang dilakukan orang kota tersebut dan apa dampaknya. Kami mendatangi warga-warga didampingi para keturunan ketua adat yang masih ada, agar lebih meyakinkan.

 

Para warga yang mendengar penjelasan kami menjadi marah kepada orang-ornag kota itu, walaupun ada sebagian kecil yang acuh tak acuh. Mereka menandatangani surat penolakan terhadap kegiatan penebangan dan penambangan ilegal yang dilakukan oleh orang-orang kota tersebut. Kepala daerah berjanji akan memproses surat tersebut. Warga juga mengancam akan merusak peralatan yang digunakan untuk penebangan hutan dan penambangan, jika permintaan mereka tidak digubris. Selain itu kayu-kayu dan barang tambang yang dihasilkan dari aktivitas ilegal akan dicegat di perbatasan hutan. Badrun, Kamal, dan belasan warga desa lainnya berjaga silih berganti di perbatasan. Tak satu pun penebang atau buruh tambang yang mereka ijinkan lewat tanpa menunjukkan surat ijin.

 

Dengan begitu, penjajahan orang-ornag kota itu di tanah kami pun sedikit demi sedikit berakhir. Mereka resmi pergi seminggu setelah surat penolakan selesai diproses. Walaupun begitu, kami telah menderita kerugian yang cukup besar karena hutan kami telah rusak parah. Kini nasib hutan kami dikembalikan kepada kami sendiri. Kami akan menjaga dan mengembalikannya seperti sedia kala, atau kami akan termakan oleh satu kata ‘konvensional’ kembali. Mudah-mudahan bukan pilihan kedua yang kami ambil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s