Meniti Jalan Kembali


Ning nang neng noong nong neng ning noong nong neng ning noong..

 

Berbagai melodi terangkai rumit di udara sejuk desa Banjarsari. Belasan tim pemain musik degung berderet-deret di sepanjang sisi ruangan, dengan alat musik di tangannya. Pemain goong seperti dianaktirikan, berada di pojokan ruangan hanya ditemani alat musik raksasa kesayangannya.

 

Plok plok plok! Tiga kali tepukan tangan dari pelatih tari yang berarti latihan disudahi.

 

Cukup latihanna

 

Serentak semua alat musik menjadi bisu. Ibu-ibu sinden pun menghabiskan lagunya pada suku kata terakhir yang telah dilontarkan. Tanganku yang sedang melakukan gerakan mengibaskan selendang terhenti. Selendang kuning itu jatuh lunglai di atas lantai.

 

Aku menegakkan posisi badan dan bergegas mengambil botol air minumku. Sembari meminum berteguk-teguk air, aku memperhatikan teman-temanku yang lain. Bu Romlah, yang menghentikan jalannya latihan tadi, sedang menceramahi Lulu dan Asrina. Mereka masih baru di sanggar tari ini, sehingga gerakan mereka masih kaku. Sudah berkali-kali latihan dihentikan sepihak karena Bu Romlah tidak puas dengan gerakan mereka yang patah-patah. Keringat dingin mengucur deras dari dahi mereka, sedangkan mulut mereka berkali-kali mengalirkan keluar kata “iya, Bu”.

 

Aku teringat enam tahun yang lalu, ketika aku juga baru menginjakkan kaki di tempat ini, aku juga merasakan hal yang sama dengan mereka.

 

Aku diantar ibuku ke sanggar ini sepulang dari sekolah. SMP-ku ketika itu berjarak lima belas menit perjalanan. Perjalanan dengan kaki tentunya, karena desaku belum terjamah oleh kendaraan umum. Sepeda keluarga kami satu-satunya dimonopoli oleh kakakku yang duduk di kelas 2 SMA. Ia bahkan baru akan sampai sekolah setengah jam dari waktu berangkatnya, walaupun sudah berkendara sepeda. Sanggar seni “Melati”, itulah namanya. Aku dan ibuku harus berjalan kaki lima belas menit lagi agar bisa sampai di gerbang hijaunya. Letih memang. Tapi aku senang dan bangga.

 

Aku dibesarkan di keluarga yang turun temurun menjunjung tinggi kecintaan pada kesenian dan kebudayaan Sunda. Sejak kecil, aku diajarkan untuk bangga berkebudayaan Sunda. Sejak kecil, aku dimotivasi agar mau belajar dan melestarikan tarian dan musik Sunda. Mereka berhasil. Sekarang obsesi terbesarku adalah menjadi seniman tarian Sunda yang terkenal di Indonesia, bahkan aku ingin agar tarianku bisa diberi standing applause oleh bule-bule mancanegara. Sejak saat itu, aku giat berlatih di bawah bimbingan Bu Romlah dan beberapa pengajar lainnya. Awalnya aku takut dan gugup. Gerakanku tak bisa gemulai seperti teteh-teteh yang lainnya. Enam tahun kuhabiskan untuk belajar banyak hal dan mengakrabkan diri dengan anggota sanggar lainnya. Di rentang waktu itu aku telah mendengar berita kelahiran anak Mang Jajang, pemain kacapi, yang pertama, kedua, dan ketiga. Aku sempat menghadiri pernikahan anak gadis salah satu sinden dengan pemain suling. Aku pun semakin mahir menarikan berbagai macam tarian khas Sunda; tari Jaipong, Ketuk Tilu, Tari Topeng, Tari Merak, dan lain-lain. Sesekali pun aku diajari oleh Mang Jajang memainkan Kacapi.

 

Ceu, Bu Romlah teh dari tadi manggil-manggil”, Yani menepuk bahuku.

 

Anggota yang lainnya telah berkumpul di tengah ruangan sanggar. Bu Romlah, yang menjadi pusat perhatian mereka, melotot melihatku berlari kecil-kecil ke perkumpulan itu.

 

Buru atuh, Neng!”, Bu Romlah makin terlihat tidak sabar. Sepertinya ada hal benar-benar penting yang ingin ia sampaikan pada kami. Setelah kami semua duduk manis, Bu Romlah mengeluarkan selembar kertas poster dengan biru sebagai warna dominannya.

 

Ieu aya lomba. Kontes Tari Daerah Nasional, opat minggu deui di Bali. Anu meunang kontes dapet duit salapan juta. Geus kitu urang bisa tembong di acara panyambutan presiden Obama bulan hareup.” (Ini ada lomba. Kontes Tari Daerah Nasional, empat minggu lagi di Bali. Yang menang dapat uang sembilan juta. Sudah begitu, kita bisa tampil di acara penyambutan Presiden Obama bulan depan).

 

Saha nu bade jadi pimpinan grup?” (Siapa yang mau jadi pemimpin grup?), Bu Romlah menawarkan.

 

Aku merasa inilah kesempatan emasku untuk mengejar impian sejak kecilku. Aku pun mengacungkan tangan seketika.

 

Nah, eta! Neng Tia nu bakal mimpin kita menangkeun kontes” (Nah itu! Tia yang akan memimpin kita untuk memenangkan kontes)

 

Bu Romlah menyerahkan poster itu kepadaku sebagai simbol pelantikanku menjadi ketua grup. Maka dimulai lah masa-masa latihan keras kami. Aku telah menjelma menjadi seorang diktator. Aku menjadwalkan latihan setiap hari selama tiga jam (padahal pada hari biasanya kami hanya latihan dua jam), kecuali hari Minggu. Beberapa penari silih berganti sehat-sakit-sembuh selama waktu persiapan menjelang kontes akbar itu. Namun aku tidak menyerah sedetik pun. Sanggar tari kami harus bisa menampilkan betapa indahnya kesenian Sunda pada dunia.

 

Hari berganti. Pekan berganti. Kami telah menyaksikan perobekan selembar halaman kalender oleh Mang Didi. Waktu yang dinantikan pun tiba: hari keberangkatan ke Bali.

 

Rombongan kami berangkat dengan menyewa sebuah bis pariwisata dengan penyejuk ruangan. Bis itu kami jejali dengan berbagai macam alat musik dan kostum tari kami. Kami, para penari duduk di bagian depan, sedangkan para sinden dan pemain alat musik berada di urutan kedua dan ketiga. Bu Romlah tidak bisa ikut serta dalam perjalanan ini, karena cucunya memaksa hendak lahir kr dunia.

 

Entah karena gugup atau udara dingin, aku sudah berkali-kali bolak-balik buang air ke kamar mandi. Tentu saja ini merepotkannku. Di pemberhentian bis yang ketiga kalinya, aku menyelinap keluar dari bis untuk kembali menuntaskan urusan ini. Aku melewati supir-supir bis lain yang mengantri di depan toilet umum. Untungnya, toilet umum untuk wanita tidak begitu ramai. Aku pun masuk ke dalam setelah mengantri lima menit.

 

Setelah beres dengan urusanku, aku membereskan sedikit riasanku dan segera melesat kembali ke tempat bisku parkir. Tidak, aku salah. Aku melesat ke tempat bisku tadinya parkir. Sekarang ia sudah tidak berdiri gagah di sana. Bisku sudah berangkat! Aku merogoh kantongku, tidak ada apa-apa di sana. Bahkan aku tidak membawa sepeser pun uang! Aku tidak bisa menyusul sendiri ke sana. Aku perhatikan beberapa bis lain yang tersisa di sekitarku. Semuanya tujuan Jawa Tengah atau Kalimantan, tidak ada kata Bali atau Garut tercetak di tubuhnya.

 

Lemas. Impianku baru saja direbut oleh raksasa jahat dan dilumatkan tepat di depan mataku sendiri. Bukan hanya itu. Bagaimana caraku pulang ke rumah?

 

Sampai malam aku luntang-lantung di daerah tak kukenal ini. Aku mencoba berjalan dan berjalan, siapa tahu bertemu dengan orang baik hati yang bisa mengantarkanku pulang. Namun sang tokoh baik hati belum saatnya muncul di panggung pertunjukanku kali ini. Aku menemukan sebuah masjid di dalam perjalananku. Aku memutuskan untuk menuntaskan malam di sana. Aku menunaikan sholat magrib dan isya di sana. Walaupun masjid ini sederhana dan kecil, setiap waktu sholat tiba, penduduk selalu berbondong-bondong menuju ke sini untuk memperoleh pahala sholat berjamaah yang berkali-kali lipat. Setelah rombongan terakhir jamaah keluar dari masjid, dengan masih menggunakan mukena aku berbaring hendak meluruskan punggung. Lelah seharian berjalan tak tentu arah. Tak lama kemudian aku pun sudah tertidur pulas di kerasnya lantai masjid yang terbuat dari kayu.

 

Ndhuk, ndhuk, bangun..Sebentar lagi adzan subuh”, sebuah suara lembut membangunkanku. Aku membuka mata, dan di hadapanku berdiri seorang wanita setengah baya yang memakai mukena. Ah, sepertinya pahlawan penolongku yang ditunggu-tunggu telah datang.

 

“Kenapa tidur di sini tho, ndhuk?”

 

Aku pun menceritakan kisah-ketinggalan-bis-ku kepada Ibu itu. Setelah sholat subuh, Ibu itu membawaku ke rumahnya di sebelah masjid. Aku disuruh kembali beristirahat di sana, di tempat tidur putrinya. Ia, Bu Aminah, tinggal sendirian sejak kedua putrinya menikah. Ketika matahari telah naik sepenggalah, aku terbangun dari istirahatku. Aku terbangun karena mendengar suara musik yang tak asing di telingaku, musik dedegungan Sunda.

 

Televisi yang dibiarkan menyala di ruang tengah menyiarkan tayangan Kontes Tari Daerah langsung dari Bali. Aku duduk terhenyak di depannya. Tempat itu padat oleh pengunjung. Penonton-penonton kontes itu tampak berasal dari berbagai penjuru daerah. Ada pula penonton dari luar negeri. Bahkan Menteri Pariwisata duduk di barisan paling depan memperhatikan dengan seksama. Itu grupku, tanpa aku, sedang tampil di atas panggung dan disaksikan jutaan penonton. Beberapa kali gerakan mereka terlihat tidak kompak, membuatku agak kesal. Yani sesekali memutar berlawanan arah dengan penari yang lain. Dan Asrina menjatuhkan selendang beberapa detik lebih lambat dari yang lain. Percuma sudah latihan keras selama empat minggu ini.

 

“Kasihan mereka ya tho, Ndhuk?”, ujar Ibu Aminah sambil membawa senampan makanan. Sepiring nasi dan lauk pauk lengkap disajikan di hadapanku.

 

“Iya, Bu. Kasihan mereka. Mereka pasti kalah gara-gara tidak kompak”, aku mengambil makanan yang disajikan dengan ogah-ogahan.

 

“Bukan itu. Kasihan mereka. Tubuh mereka dipajang di depan jutaan pasang mata yang tidak sopan. Mereka dieksploitasi.”

 

“Maksudnya teh apa, Bu?” aku belum menceritakan apa tujuanku sebenarnya ingin pergi ke Bali.

 

“Ibu setiap sore ikut pengajian di masjid sebelah. Ustadzah di sana selalu menekankan tentang berharganya wanita di dalam Islam. Wanita harus dijaga dan dihormati, bukan dipertontonkan, apalagi di depan mata-mata yang tidak sepantasnya memandangi tubuh mereka. Sama saja seperti kue yang tak berbungkus di penjual kue. Ibu sih ndak mau beli kue yang ndak dibungkus. Soalnya pasti udah dipegang-pegang orang, udah kena debu dan kuman. Ibu pasti milih kue yang dibungkus rapi. Itu ungkapan ustadzah di pengajian Ibu, membandingkan wanita yang terekspos bebas dan wanita yang terjaga”.

 

Aku tertegun. Ini hal yang baru kusadari saat ini. Aku memang ikut TPA sejak kecil. Tapi semuanya hanya seperi angin lalu saja bagiku. Baru kali ini kupahami arti pelajaran yang diberikan oleh ustadz-ustadzah di sana tentang indahnya Islam dan tentang mulianya wanita berkerudung.

 

Sore itu, Ibu Aminah meminta menantunya untuk mengantarkan kami ke Desa Banjarsari, rumahku. Di perjalanan pulang, aku mengobrol-ngobrol panjang lebar dengan Bu Aminah, anak perempuannya, dan menantunya. Di perjalanan itu pula lah aku semakin memupuk keyakinan baru.

 

Aku bangga sebagai orang Sunda. Tapi aku juga harus bangga sebagai Muslimah dan berusaha menjadi wanita yang terlindungi. Aku akan tetap melestarikan budaya Sunda, dengan tidak mengesampingkan nilai Islam yang indah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s