Surat Cinta Untuk Indonesia


Bandung, 25 Februari 2011

Kepada Ibunda tercinta

di

tempat aku berpijak

 

Selamat pagi, Ibu! Apa kabar?

 

Ibu,

seringkali aku ingin katakan sesuatu padamu. Tapi selalu Ibu bilang, agar aku tidak jadi anak nakal, jangan ikut-ikutan demonstrasi, tak usah terpancing provokasi. Tidak Bu, aku katakan ini dari hati dan pikiranku sendiri. Kau tetap tak dengarkan, hingga kuputuskan membuat sebuah surat cinta untuk Ibu. Ibu harus janji, tak boleh marah atas segala yang akan aku tuliskan. Jangan usir aku keluar dari rumah ya, Bu… Toh, aku hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa.

 

Ibu,

sebenarnya aku tak tahu, apakah aku harus menuliskan surat cinta atau surat benci kepadamu. Jangan marah, ya… Tapi Ibu seperti orang tua jahat yang tak pernah perhatikan anakmu. Kalau ada komisi perlindungan anak datang ke rumah kita, pasti ibu akan dimarahi habis-habisan.

 

Ibu,

aku iri. Aku iri, kenapa Ibu lebihh mementingkan orang lain dibandingkan anak-anakmu sendiri? Kenapa Ibu biarkan China melenggang dengan bebasnya ke rumah kita? Memang sih, dia selalu membawakan makanan yang enak untuk kita.. Kami, anak-anakmu, sangat menyukainya! Tapi karena itu, makanan di rumah menjadi terlupakan dan akhirnya basi. Ibu, kenapa Ibu jual Krakatau Steel dengan murahnya ke orang lain? Bukankah Ibu tahu kalau dari Krakatau Steel-lah kita bisa punya harga diri di hadapan negara lain? Dengannya kita bisa banggakan kita punya pengolah baja terbesar di Asia! Ibu, kenapa Ibu percayakan Natuna kepada orang lain. Padahal kan kita punya Pertamina, Bu! Apakah Ibu tidak percaya kami akan mengelolanya dengan baik?

 

Ibu,

aku malu pada teman-teman yang lain. Mereka katakan bahwa kita tukang utang. Mereka cibir aku dan adik-adik. Mereka tertawakan kami karena kita selalu meminta-minta. Aku malu, Bu… Padahal, kalau Ibu mau sedikit saja lebih mempercayakan perekonomian kepada sektor riil, kita akan bisa maju, Bu. Jadi kaya raya! Kenapa Ibu tak melakukannya? Toh, kita punya banyak sumber daya! Ibu tinggal sebutkan saja! Barang tambang? Ada! Minyak? Melimpah! Kayu? Memenuhi seluruh halaman kita! Bahan pangan? Banyak! Tenaga kerja? Tak sanggup aku menghitung saking banyaknya!

 

Ibu,

aku tak suka orang-orang itu makan uang kita. Padahal kan Ibu mempekerjakan mereka untuk menjaga dan mengatur rumah kita! Aku tahu, Ibu tahu. Kita semua tahu. Tapi kenapa Ibu biarkan saja mereka ongkang-ongkang kaki dengan perut kekenyangan? Kenapa Ibu tak pecat mereka? Kenapa Ibu tak hukum mereka? Padahal ketika adik memecahkan guci kesayanganmu, Ibu bilang bahwa keadilan harus ditegakkan. Hukuman kau berikan tanpa ampun kepada adik yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Sekarang dimana keadilan itu? Ah, aku tahu, pasti Ibu sembunyikan dia di balik lemari! Hahaha, aku tahu! Aku akan mencarinya nanti, Bu!

 

Ibu,

bukankah Ibu sangat pintar? Kenapa Ibu tak ajari kami banyak hal? Kenapa Ibu tak ajari kami membaca? Kenapa Ibu tak ajari kami bercocok tanam? Kenapa Ibu tak ajari kami cara berternak sapi? Kenapa Ibu tak ajari kami berwirausaha? Kenapa Ibu tak ajari kami agar bisa jadi mandiri? Andai saja uang jajan yang Ibu berikan pada kami, bisa kami sulap menjadi usaha kami sendiri.

 

Ibu,

aku ingin seperti anak-anak lain. Aku ingin aku dan adik-adik bisa sekolah sampai jadi profesor. Kami ingin bangunan sekolah yang layak. Kami ingin buku-buku yang berkualitas. Kami ingin guru-guru yang berdedikasi. Kami ingin biaya sekolah yang terjangkau. Kami ingin pelajaran yang membumi. Kami ingin kurikulum pembelajaran yang memanusiakan manusia!

 

Ibu,

aku sedih dengan televisi di rumah kita. Tahukah Ibu kenapa adik-adik suka bergulat satu sama lain? Mereka melihatnya di televisi, Bu! Mereka melihatnya di kartun-kartun kesayangan mereka. Tahukah Ibu kenapa adik dahulu nekat minum obat anti nyamuk? Itu karena ia melihat aktris favoritnya juga minum racun gara-gara putus cinta, di sinetron yang sering kami tonton. Tahukah Ibu kenapa adik-adik mau coba-coba minum alkohol? Karena televisi katakan, itu hal yang lumrah bagi anak remaja jaman sekarang. Aku sarankan sesuatu, Bu: kita cari televisi yang lain. Aku ingin punya televisi seperti anak-anak di Singapura atau Finlandia!

 

Ibu,

aku ingin kembali seperti dahulu. Aku ingin kembali ke rumah kita yang dahulu. Kemana rumah tanpa penjajahan, perpecahan, dan kemiskinan yang dulu kita miliki? Aku rindu. Aku rindu rumah itu. Aku rindu Ibu yang dahulu.

 

Ibu,

mungkin ini juga disebabkan oleh kesalahan kami. Kami masihlah anak-anak yang nakal. Mungkin kami masih sering bertengkar sehingga kita tak bisa kembali ke rumah yang dahulu punya jargon persatuan. Mungkin kami masih terlalu acuh, sehingga tak tahu cara pulang ke rumah tanpa penjajahan, perpecahan, dan kemiskinan. Kami masih harus terus belajar.

 

Sekian yang ingin kukatakan, Bu. Ibu sudah janji tidak akan marah kan? Ibu, maafkan aku yang telah tulis surat macam ini. Aku hanya ingin Ibu tahu, aku benci keadaan ini. Aku benci Ibu yang lemah seperti ini. Tapi, seperti umumnya anak pada Ibunya, aku tetap sayang Ibu. Aku tetap cinta Ibu. Kami akan berusaha kuatkan Ibu, Indonesia.

 

Salam dari anakmu

Advertisements

5 thoughts on “Surat Cinta Untuk Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s