Kereta Api


Bahasa Melayu: Stesen kereta api Tanah Merah

Image via Wikipedia

Ada sebuah lokomotif kereta api. Ia sedang menuju ke sebuah tempat yang sangat jauh. Kereta itu memiliki satu gerbong, dan terus bertambah seiring dengan meningkatnya kapasitas kereta. Penambahan jumlah gerbong kereta juga bertujuan untuk memberikan kebermanfaatan lebih luas dan mengantarkan lebih banyak orang yang menuju tempat tujuan si kereta.

Orang-orang yang menempati setiap gerbong memiliki tugas yang berbeda, sesuai dengan ranah pekerjaannya. Karakteristik mereka juga berbeda. Berbeda dengan penghuni gerbong-gerbong awal yang lurus, kalem, santun, dan bersahaja, penghuni gerbong-gerbong akhir adalah orang-orang yang suka cari perhatian, agak begajulan (?), bandel, dan dinamis. Karena itulah gerbong belakang akan terlihat lebih heboh bagi penumpang gerbong yang lain.

Seperti yang kita semua tahu, dan penghuni gerbong belakang juga menyadarinya, gerbong depan adalah gerbong yang sangat krusial bagi perjalanan kereta api tersebut. Jika gerbong itu lepas dari rel, maka gerbong-gerbong yang mengikut di belakangnya tidak akan pernah sampai ke tujuan. Kita semua tau.

Gerbong belakang tugasnya mungkin tidak terlihat penting. Jika ia tak ada, kereta masih dapat terus berjalan. Namun jika gerbong belakang tak ada, maka kepada siapakah fungsi “memberikan kebermanfaatan yang lebih luas” akan diberikan? Yah, mau tak mau, setelah gerbong ke satu pasti ada gerbong kedua, kemudian ketiga, keempat, dan seterusnya.

Namun dengan semakin bertambah panjangnya kereta tersebut, komunikasi antar penghuni gerbong semakin sulit dilakukan. Kadang kala, terjadi kesalahpahaman antarmereka. Maka, harus ada inisiatif dari salah satu penghuni gerbong (yang mana pun) untuk mengunjungi gerbong-gerbong lainnya.

Karena panjang kereta yang semakin bertambah pula, penghuni gerbong depan akan kesulitan melihat hasil kerja gerbong belakang. Di mana pun, akan lebih mudah melihat ke depan dari pada terus menengok ke belakang kan? *yah, kecuali lalat yang matanya hampir setengah lingkaran dan melingkupi hampir seluruh kepalanya* Percayalah, semua penghuni sedang bekerja. Mereka bekerja untuk membangun gerbong baru. Mereka bekerja untuk menambah kapasitas kereta api. Mereka bekerja untuk mengajak orang-orang baru. Mereka bekerja untuk menuju tujuan yang sama.

Jika kebetulan penghuni gerbong depan sedang menengok ke belakang dan melihat gerbong belakang agak keluar rel, maka penghuni gerbong depan akan dengan senang hati mengingatkan saudaranya. Jika suatu ketika penghuni gerbong belakang merasa laju gerbong depan melambat, maka mereka akan mengingatkan penghuni gerbong depan, bahkan jika bisa mereka akan mendorong agar kereta berjalan lebih cepat (bisa ya, gerbong belakang ngedorong gerbong depan?).

Dan janganlah berpikir untuk melepaskan gerbong belakang agar beban lebih ringan, karena kita ingin memberi manfaat yang lebih luas 🙂

Jika kereta tersebut adalah dakwah yang sedang menuju kejayaan Islam dan tiap gerbong merepresentasikan tiap ranah dakwah yang mulai dimasuki, maka bekerja sama lah lebih keras!

*maaf alurnya agak random :p

Advertisements

One thought on “Kereta Api

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s