0

Asiknya Berbagi


Bahasa Indonesia: Jalan Negara (Trans Kalimant...

Image via Wikipedia

Banyak hal di bumi ini yang jumlahnya terbatas, makanan, uang, ruang, dll. Ada juga hal yang stock-nya tidak pernah habis. Kali ini saya ingin menulis sedikit tentang doa. Kalian tahu arti doa? Nihh, mbak KBBI mau ngasih definisi: doa adalah permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan.

Saya gak mau bahas tentang adab doa, urgensi berdoa, dan sebagainya. Saya ingin membahas tentang asiknya berbagi doa. Pernahkah teman-teman suatu ketika melihat seorang Bapak sedang mendorong motornya yang mogok, sedangkan teman-teman gak punya keahlian mekanik sama sekali? Saya pernah mengalaminya. Saya kasihan sama Bapak-Bapak itu sebenarnya, ingin membantu. Tapi saya gak punya kemampuan. Lalu saya dengan sotoy-nya berpikir bahwa kalau tidak bisa membantu dengan tangan dan dengan lisan, setidaknya bantulah dengan hati (ini sebenarnya hadist tentang apa yang harus dilakukan jika melihat kemungkaran: cegahlah dengan tangan, kalau tidak bisa dengan lisan, kalau tidak bisa dengan hati. Dan itulah selemah-lemah iman). Jadi saya membantu lewat mendoakan agar motornya bisa jalan kembali.

Berbagi lewat doa juga punya keasikan lain.. Kita gak pernah kehabisan stok doa, insya Allah. Selain itu, jika kita mendoakan saudara kita tanpa diketahuinya, maka malaikat akan berkata “juga untukmu” (maksudnya kalau kita mendoakan saudara kita agar nilai ujiannya bagus, maka doa tersebut juga tertuju untuk kita). Berbagi doa ini juga bisa melatih kita peka dan peduli terhadap orang lain (atau bahkan makhluk hidup lain). Kita akan sibuk memperhatikan sekitar, mencari-cari adakah orang yang sedang kesulitan. Dan kita gak mungkin mendoakan orang lain jika kita gak peduli dengan orang itu kan?

Walaupun begitu, berbagi dengan doa masih berada di level yang cupu. Berbagi dengan tindakan nyata pasti jauh lebih asik! Yeay!

2

Jumat Siang di Korsel


Yap, korsel maksudnya adalah koridor selatan Masjid Salman, bukan Korea Selatan.

Cerita bermulai ketika saya dan teman saya, Nurul, pulang dari makan siang, dan bertemu dengan seorang ibu tua di depan kantin salman. Ibu itu memanggil-manggil kami dan mendekat. Dari bicaranya yang menggunakan bahasa dan logat Sunda, saya mengerti beberapa hal (sebenarnya saya cuma mengerti beberapa kata, dan mencoba-coba merangkai sendiri apa maksudnya. Padahal saya waktu SD dan SLTP belajar basa sunda, tapi tetep gak ngerti apa maksudnya si Ibu). Beliau menawarkan selimut kuning yang berbungkus plastik seharga 10 ribu, hasilnya untuk membeli beras. Suaminya (atau Bapaknya?) sedang dirawat di rumah sakit dan gak nafsu makan, karena makanan di rumah sakit bau anyir.

Saya jadi bingung. Banyaknya penipuan (ingat orang yang pura-pura akan pindah agama karena kesulitan uang? Atau orang yang pura-pura gak punya ongkos pulang?) akhir-akhir ini membuat tingkat kepercayaan masyarakat turun kepada orang-yang-mengibakan-diri, termasuk saya. Tapi itu berarti salah masyarakatnya juga dong? Mungkin masyarakat belum cukup berzakat (zakat yang lengkap) dan membayar pajak. Sehingga orang yang kesulitan terpaksa menjadi orang-yang-mengibakan-diri, bahkan pura-pura menjadi orang-yang-mengibakan-diri.

Setelah itu, saya dan Nurul berjalan ke arah Masjid. Kami segera menuju Korsel. Nurul pergi sebentar untuk men-charge HP. Datanglah Misil. Kemudian seorang ibu yang tadinya duduk di hadapan saya tiba-tiba mengajak kami ngobrol. Dia menanyakan kami kuliah di mana, jurusan apa. Ibu itu juga menanyakan bagaimana cara masuk ITB (padahal kalau mau masuk, tinggal melewati salah satu gerbang aja. Oke, bukan masuk secara denotasi yang dimaksud ibu tersebut). Katanya anaknya sangat ingin sekolah tinggi, biar bisa maju. Sambil berbicara, ibu itu menggelar berbagai macam fotokopi ijazah, surat keterangan tidak mampu, surat dari akademi, dll. Anak ibu itu ikut paket B dan paket C sebagai pengganti SMP dan SMA. Setelah lulus, ibu itu memasukkan anaknya ke Akademi Aryanti (betulkah cara nulisnya begitu?), dengan biaya hasil menjual HP pemberian mantan pacar si anak. Dian, nama anak ibu itu, mengambil D1 manajemen informatika. Namun dia harus di-DO karena tunggakan bayarannya sudah sangat banyak. Dian stress karena mau kuliah lagi, tapi tidak ada dana. Dian merasa gak mungkin dia bisa kuliah lagi, karena udah di-DO dari akademinya itu. Dian juga merasa udah terlalu tua untuk masuk kuliah dari awal (dia kelahiran 1990). Dian juga gak PD untuk ikut tes masuk lagi.

Kata ibu itu, Dian punya nilai yang cukup bagus di paket B, paket C, dan akademinya. Dian juga anak yang berkemauan keras dan kreatif. Akhirnya Misil menjelaskan tentang SNMPTN. Ibu itu gak tau tentang SNMPTN. It means informasi belum nyampe ke orang-orang yang gak SMA (ngambilnya paket C). Ibu itu khawatir tentang biayanya. Misil bilang kalo nanti Dian bisa mencari beasiswa yang banyak ditawarkan di ITB, asal Dian bisa lulus ujian masuk dulu. Saya juga menambahkan kalau ada teman saya yang kuliah di ITB 100% gratis. Kami diberi nomor HP kakaknya Dian untuk mengontak-ngontak kalau ada informasi nanti.

Ketika adzan ashar berkumandang, kami pun berpisah dengan ibu itu. Saya membawa sesuatu, entah apa namanya, mungkin harapan. Ya, harapan untuk Dian supaya bisa kuliah lagi dan jadi orang sukses.

1

Cinta dalam Sepotong Kepala Ikan


Oke, ini judul buku. Ceritanya lagi pergi ke gramedia untuk nyari frame foto untuk plakat pembicara diklat kominfo. Trus iseng-iseng ke bagian yang jual buku, berniat nyari buku sastra yang dianjurkan dosen Apresiasi Sastra. Gak jadi beli, bukunya serem-serem semua. Baiklah, saya naik ke lantai 3 1/2, yang dijejali dengan novel-novel beraneka ragam. Trus ngeliat buku ini. Cinta dalam Sepotong Kepala Ikan. Cover-nya ke-Arab-Arab-an gitu. Penerbitnya Salsabila, ditulis oleh Ahmad K. Syamsudin. Di bagian kiri atas ada tulisan “60 Kisah Hikmah Kehidupan untuk Perubahan”.

Berhubung harganya di bawah 20.000 dan kayaknya lumayan untuk bahan tausiyah waktu mentoring, akhirnya saya beli buku ini. Daaann, cerita-ceritanya bagus bangett!

Ada cerita tentang masjid Shanke Yadem di Istanbul, yang dibangun oleh seseorang yang sangat sederhana. Orang-orang bingung kenapa dia bisa membangun masjid tersebut padahal hidupnya sangat sederhana. Orang itu menjawab kalo dia selalu menabung dengan menghemat kebutuhan sehari-harinya dengan mengatakan “shanke yadem” yang artinya “anggap saja saya sudah makan”. Jadi dia kalo ngiler ngeliat suatu makanan yang pengen dia beli, dia selalu mensugesti dirinya dengan kalimat itu dan alih-alih membeli, dia menyimpan uang itu untuk menggapai cita-citanya membangun masjid.

Cerita yang menjadi judul buku ini adalah cerita tentang sepasang suami istri yang sudah menikah selama 50 tahun. Pada perayaan ulang tahunnya yang ke-50, dihidangkan sebuah makanan yang terbuat dari ikan kepada keduanya. Seperti biasa, sang suami langsung mengambil kepala ikan dan memberikan kepada istrinya. Namun sang istri berkata, “sudah puluhan tahun aku tidak makan daging ikan karena menghormatimu. Tapi sekarang aku tidak bisa menahannya lagi” (kurang lebih begitu lah). Si suami membalas, “maafkan aku, istriku. Sebenarnya kepala ikan adalah bagian yang paling kusukai dibanding daging ikan yang banyak durinya. Namun aku ingin memberikan yang terbaik untukmu.” Intinya si penulis menekankan pentingnya komunikasi.

Ada juga kisah nabi Sulaiman dengan semut, beberapa kisah Abu Nawas, beberapa kisah Rasul Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya, dan banyak lagi kisah yang menarik.

Gak nyesel beli buku itu :’)