Jumat Siang di Korsel


Yap, korsel maksudnya adalah koridor selatan Masjid Salman, bukan Korea Selatan.

Cerita bermulai ketika saya dan teman saya, Nurul, pulang dari makan siang, dan bertemu dengan seorang ibu tua di depan kantin salman. Ibu itu memanggil-manggil kami dan mendekat. Dari bicaranya yang menggunakan bahasa dan logat Sunda, saya mengerti beberapa hal (sebenarnya saya cuma mengerti beberapa kata, dan mencoba-coba merangkai sendiri apa maksudnya. Padahal saya waktu SD dan SLTP belajar basa sunda, tapi tetep gak ngerti apa maksudnya si Ibu). Beliau menawarkan selimut kuning yang berbungkus plastik seharga 10 ribu, hasilnya untuk membeli beras. Suaminya (atau Bapaknya?) sedang dirawat di rumah sakit dan gak nafsu makan, karena makanan di rumah sakit bau anyir.

Saya jadi bingung. Banyaknya penipuan (ingat orang yang pura-pura akan pindah agama karena kesulitan uang? Atau orang yang pura-pura gak punya ongkos pulang?) akhir-akhir ini membuat tingkat kepercayaan masyarakat turun kepada orang-yang-mengibakan-diri, termasuk saya. Tapi itu berarti salah masyarakatnya juga dong? Mungkin masyarakat belum cukup berzakat (zakat yang lengkap) dan membayar pajak. Sehingga orang yang kesulitan terpaksa menjadi orang-yang-mengibakan-diri, bahkan pura-pura menjadi orang-yang-mengibakan-diri.

Setelah itu, saya dan Nurul berjalan ke arah Masjid. Kami segera menuju Korsel. Nurul pergi sebentar untuk men-charge HP. Datanglah Misil. Kemudian seorang ibu yang tadinya duduk di hadapan saya tiba-tiba mengajak kami ngobrol. Dia menanyakan kami kuliah di mana, jurusan apa. Ibu itu juga menanyakan bagaimana cara masuk ITB (padahal kalau mau masuk, tinggal melewati salah satu gerbang aja. Oke, bukan masuk secara denotasi yang dimaksud ibu tersebut). Katanya anaknya sangat ingin sekolah tinggi, biar bisa maju. Sambil berbicara, ibu itu menggelar berbagai macam fotokopi ijazah, surat keterangan tidak mampu, surat dari akademi, dll. Anak ibu itu ikut paket B dan paket C sebagai pengganti SMP dan SMA. Setelah lulus, ibu itu memasukkan anaknya ke Akademi Aryanti (betulkah cara nulisnya begitu?), dengan biaya hasil menjual HP pemberian mantan pacar si anak. Dian, nama anak ibu itu, mengambil D1 manajemen informatika. Namun dia harus di-DO karena tunggakan bayarannya sudah sangat banyak. Dian stress karena mau kuliah lagi, tapi tidak ada dana. Dian merasa gak mungkin dia bisa kuliah lagi, karena udah di-DO dari akademinya itu. Dian juga merasa udah terlalu tua untuk masuk kuliah dari awal (dia kelahiran 1990). Dian juga gak PD untuk ikut tes masuk lagi.

Kata ibu itu, Dian punya nilai yang cukup bagus di paket B, paket C, dan akademinya. Dian juga anak yang berkemauan keras dan kreatif. Akhirnya Misil menjelaskan tentang SNMPTN. Ibu itu gak tau tentang SNMPTN. It means informasi belum nyampe ke orang-orang yang gak SMA (ngambilnya paket C). Ibu itu khawatir tentang biayanya. Misil bilang kalo nanti Dian bisa mencari beasiswa yang banyak ditawarkan di ITB, asal Dian bisa lulus ujian masuk dulu. Saya juga menambahkan kalau ada teman saya yang kuliah di ITB 100% gratis. Kami diberi nomor HP kakaknya Dian untuk mengontak-ngontak kalau ada informasi nanti.

Ketika adzan ashar berkumandang, kami pun berpisah dengan ibu itu. Saya membawa sesuatu, entah apa namanya, mungkin harapan. Ya, harapan untuk Dian supaya bisa kuliah lagi dan jadi orang sukses.

Advertisements

2 thoughts on “Jumat Siang di Korsel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s