2

Sekelumit Cerita Sekolah Bermain Balon Hijau (1)


Waktu: Sabtu 12 Mei, hari yang telah direncanakan untuk pengajian ibu-ibu (orang tua murid) SBBH.

Lokasi: Masjid Istiqlal Tubagus Ismail, lantai dasar.

Saya datang pas acara sedang dibuka oleh Bu Guru Yangie. Bu Guru yang lain belum datang. Acara dimulai dengan membaca tilawah surat Al-Baqarah ayat 26-50. Saya ikut-ikutan ngaji di samping Bu Guru Yangie, dengan tempo ngaji dan intonasi yang berbeda-beda dari para ibu. Walaupun begitu, saya senang, ibu-ibunya semangat banget ngajinya. Di tengah halaman ketiga, satu dua anak yang ikut serta bersama sang bunda mulai keluar dari ruangan. Dan inilah tanda bagi saya: Yak, Baby Day Care dimulai!

**FYI, di pengajian ibu-ibu sebelumnya, Baby Day Care ini adalah kegiatan yang sangat menguras energi dan suara. Sementara ibu-ibu mendengar materi, anak-anaknya berlarian di luar masjid, ada yang main perosotan di samping tangga batu, ada yang ngubek-ngubek kolam ikan, ada yang naik-naik ke lantai dua, ada yang naik-naik ke tangga vertikal di menara, ada yang manjat pohon kelapa, dan ada yang manjat bedug (walaupun gak begitu tinggi, bener deh, saya takut penyangga bedugnya roboh, trus bedugnya jatuh nimpa mereka)**

Baiklah, saya letakkan Al-Qur’an saya dan mulai mengejar mereka keluar. Ternyata mereka “hanya” berlarian. Oke, aman. Kemudian saya ajak mereka masuk untuk baca buku cerita. Mereka semangat banget kalo udah liat hal baru. Apalagi gambar-gambar di buku cerita. Setiap pergantian detik, pasti ada yang bertanya, “Bu Guru, ini apa?”, “Bu Guru, ini sapi!”, “Bu Guru, ada rumah!”

Beberapa saat kemudian, Alhamdulillah, Bu Guru Susan dateng!! Maka konsentrasi pertanyaan terbagi dua. Kemudian Bu Yangie nyuruh untuk bagi-bagi kue di piring kecil dan dikasih ke ibu-ibunya. Saya rasa ini adalah kesempatan yang bagus untuk melibatkan anak-anak, supaya mereka juga latihan bekerja sama (selain supaya mereka teralihkan dari piikiran untuk manjat-manjat tentunya).

Saya: “Siapa mau bantu Bu Guru bagi kue?”

Anak-anak: “Akuuu!!” << mesti gak ngerti disuruh ngapain, pasti mereka jawab dengan semangat menggebu-gebu “Akuuu!!”

Saya: membagikan piring kertas ke beberapa anak, “piringnya dijejerin di lantai ya, nanti kita isi kue”

Helmi (yang belum kebagian piring): “Helmi juga mau” dengan suara agak merajuk

Saya: “Jaziya, piringnya minta dikit ya..”

Jaziya: “Gak mauuuu” suaranya juga merajuk

Iksal: “Aku piringnya ada tiga”

Adit: “Ibu Guru, aku juga mau tiga piringnyaaa”

Helmi: “Ibu Guru, mau piring”, suaranya tambah memelas

Saya: “Nih, Helmi bagiin kuenya aja ya?”

Helmi: “Gak mauu, mau piriiing” tapi sebungkus kue yang saya sodorkan diambil juga olehnya

Saya: Ngasih kue yang paling terlihat cantik ke Jaziya. “Jaziya, bagiin kuenya ya.. Piringnya ditata dulu di lantai”, ketika dia lengah, saya ambil beberapa piringnya dan saya kasih ke Helmi. Yes, berhasil!

Bu Susan: Membantu menata beberapa piring di lantai

—kehebohan masih berlanjut tentang siapa yang megang piring, siapa yang piringnya tiga, siapa yang belum dapat piring—

Saya: “Nih, kuenya ditaro di piring, kayak gini, satu piring ada tiga jenis kue yaa” sambil naro kue yang dari mie di beberapa piring yang udah ada di lantai

Jaziya: Meletakkan piring-piringnya di lantai, sambil menata kue di piring. Ketika dia sedang menata kue, saya ambil satu per satu piring dan memberikannya ke Adit.

Adit: “Yee, piringnya tiga!” Yes, berhasil!

Helmi: “Piring aku lima!” << saya mulai was-was kalo-kalo Adit minta nambah piring lagi, ternyata nggak

—beberapa saat kemudian mereka asik menata kue-kue di piring di lantai—

Saya: “sekarang siapa yang mau bantu ngasih kuenya ke mama-mama?”

Anak-anak: krik krik krik, gak ada yang jawab, pada asik nyusun kue.

Saya: “Dit, ini kuenya kaih ke mama Adit coba..” Adit dan Aksal mengambil beberapa piring dan mulai membagikannya ke ibu mereka. Mereka lari-lari bawa piring kue itu.

Saya: “Pelan-pelan ya bawanya!”

Mereka berdua: jalan pelan-pelan, terus membagikan kue ke ibu mereka. Nampaknya mereka ketagihan. Mereka balik lagi dan ngambil kue lagi.

Saya: “Jangan yang itu, itu masih belum tiga isinya. Nih, yang kayak gini, udah ada tiga isinya.” Ngasih piring kue yang memenuhi spek. “Kasih ke mama-mama yang lain yaa” << saya takut mereka ngasih ke mama mereka lagi, hehe. Tapi mereka pintar kok 😀

—Beberapa anak ikut membagikan kue. Satu kue sukses ngegelinding, gapapa cuma satu, haha—

Saya: mengambil beberapa piring berisi kue di hadapan Syifa.

Syifa: “itu kan punya akuu!”

Saya: “Lho, ini kan mau dibagiin, Syifa.. Emang Syifa mau makan semua?”

Syifa: masih cemberut, tapi mungkin dia mikir, “o, iya juga!”, soalnya mukanya berubah

Saya: “Nih, Syifa ambil satu aja”

Syifa: masih cemberut, tapi ngambil juga kuenya itu. Dia lalu ‘mengamankannya’

—Kemudian mereka membagikan air mineral—

Setelah acara bagi kue yang heboh itu, kami baca buku cerita (lebih tepatnya Bu Susan membacakan buku cerita, sementara anak-anak mendengarkan), rebutan buku cerita, main petak umpet (yang anehnya, mereka berebut jadi yang jaga. Kalo saya sih dulu berebut untuk gak jaga, hoho).

Yak, Baby Day Care kali ini tidak se-chaos yang pertama. Mereka sangat mau diajak bekerja sama 🙂

-Terkadang mereka hanya perlu contoh-

Oiya, materi pengajian ibu-ibunya bisa dilihat di http://yangiedwimp.wordpress.com/2012/05/12/versi-curcol/