Sayembara Pak Raden


Namanya Broto Kusuma Tirtajaya Widyatmoko. Namun warga desa biasa memanggilnya Pak Raden. Itu karena kumisnya yang membentang lebar dari pipi kanan hingga pipi kiri. Namun suaranya tidak seperti Pak Raden yang menggelegar. Suaranya melengking, bagai tikus terjepit pintu.

 

Kesukaan Pak Raden adalah uang, pekerjaan yang menghasilkan uang, benda yang bisa ditukar dengan uang, orang yang beruang, pokoknya segala hal tentang uang. Namanya terkenal di pasar dan pos-pos siskamling, karena sering jadi buah bibir masyarakat. Banyak orang yang benci pada Pak Raden. Ia adalah lintah darat.

 

Ia adalah rentenir handal. Pekerjaannya itu sudah diwariskan turun temurun dari kakeknya. Dari hasil pendapatannya, Pak Raden bisa membeli sebuah rumah besar bertingkat dua. Di desa itu jarang sekali ada rumah bertingkat dua. Warga masih percaya kalau rumah bertingkat dua lebih mudah tersambar petir. Selain itu, sedikit sekali warga yang punya cukup uang untuk membangun rumah bertingkat. Halaman rumah Pak Raden sangat luas. Istrinya, yang pecinta tanaman hias, memenuhi halaman rumah dengan berbagai tumbuhan, yang nama-namanya pun mungkin sang istri tak tahu. Pak Raden juga mempunyai puluhan sapi, puluhan kambing, dan ratusan ayam, serta berhektar-hektar sawah. Ya, semua adalah hasil yang ia dapatkan dengan profesi rentenirnya.

 

Pak Raden selalu membebankan bunga yang besar pada setiap pinjaman yang ia berikan. Namun warga tidak punya pilihan lain kecuali meminjam uang kepada Pak Raden. Koperasi simpan pinjam belum dikenal di desa itu. Sepertinya belum ada pula bank yang sekedar melirik desa tersebut untuk mendirikan kantor cabang.

 

Pak Raden memiliki dua pengawal bertubuh besar. Pengawal-pengawal ini pun telah mewarisi pekerjaan itu dari kakek mereka. Beberapa hari sebelum masa tempo pinjaman berakhir, Pak Raden dengan ditemani kedua pengawalnya mendatangi satu per satu rumah warga. Sambil menghina-hina si peminjam uang, ia mengingatkan jatuh tempo pembayaran utang. Dengan suara mendekingnya, ia mengungkit-ungkit kebaikan hatinya dan kemiskinan orang-orang. Hal ini mengakibatkan para peminjam sakit hati, yang perempuan menangis sejadi-jadinya, yang laki-laki merah wajahnya akibat naik pitam.

 

Pada hari jatuh tempo, ia menagih pembayaran tanpa ampun. Bunga pinjaman yang tinggi menyebabkan tidak sedikit warga yang tidak bisa membayar utangnya tepat waktu. Pak Raden dan dua kroninya akan menyita barang apa saja yang bisa menutupi utang tersebut, masih dengan menyemburkan cacian dan makiannya.

 

Tak ada yang suka pada Pak Raden.

 

Sudah seminggu ini Pak Raden tidak berkeliling untuk mengingatkan atau menagih utang. Pak Raden jatuh sakit. Badannya sebentar menggigil kedinginan, sebentar berkeringat kepanasan. Ia tak nafsu makan. Badannya menjadi kurus dan wajahnya berubah tirus.

 

Tak ada orang yang tahu apa penyakitnya. Sudah banyak dokter, mantri, tabib, bahkan dukun yang mencoba mengobatinya. Tidak ada yang berhasil. Yang serunya, banyak warga yang mendoakan agar Pak Raden tidak usah sembuh, terlebih warga yang namanya masih tercatat di buku utang Pak Raden.

 

Hari ini ada yang berbeda dari penyakit Pak Raden. Ada berita baru. Berita ini disebarkan dari mulut ke mulut. Hampir semua orang di desa membicarakannya di pasar-pasar, di warung kopi, di sawah, bahkan di toilet umum di atas sungai. Semua orang membicarakan tentang sayembara Pak Raden.

 

Pak Raden semalam bermimpi bertemu dengan kakek berambut putih panjang. Kakek itu memberikannya tiga pertanyaan. Jika ketiga pertanyaan itu berhasil dijawab, sang kakek berjanji akan menyembuhkan Pak Raden. Langsung lunas, tanpa cicilan!

 

Pagi tadi, kedua pengawal Pak Raden mengumumkan berita itu di pasar.

 

“Barang siapa yang berhasil menjawab tiga pertanyaan yang akan diberikan oleh Pak Broto Kusuma Tirtajaya Widyatmoko, akan diberikan hadiah. Karena Pak Broto Kusuma Tirtajaya Widyatmoko sudah punya istri, jika yang berhasil menjawab pertanyaan adalah perempuan, tidak akan dijadikan istri. Juga karena Pak Broto Kusuma Tirtajaya Widyatmoko tidak suka punya adik atau kakak, jika yang berhasil menjawab pertanyaan adalah laki-laki, tidak akan dijadikan saudara. Hadiahnya adalah sepuluh ekor sapi, tiga puluh ekor kambing, dan sepuluh hektar sawah.”

 

Para warga bersemangat sekali mendengar berita itu, membayangkan jika mereka menjadi pemenang sayembara. Sejak pagi, warga sudah memadati rumah Pak Raden. Tersebutlah seorang pemuda cerdik bernama Bintang. Sesuai namanya, Bintang selalu menjadi juara satu di kelasnya. Ia juga berkali-kali memenangkan lomba-lomba yang diadakan di kecamatan. Namun, demi menghadapi pertanyaan pertama yang diajukan oleh Pak Raden, ia mengaku kalah untuk pertama kalinya.

 

Tersebut pulalah seorang gadis desa sebelah bernama Bunga. Ia terkenal cantik dan pintar. Ia telah mengantri berjam-jam untuk menjawab pertanyaan Pak Raden. Namun ketika ia keluar dari ruangan Pak Raden, ia tertunduk lesu. Pak Raden pun sama lesunya, karena belum ada yang bisa menjawab pertanyaannya, pun baru pertanyaan pertama.

 

Kemudian, peserta terakhir juga seorang pemuda, yang tidak mau disebut-sebut namanya.  Beberapa warga yang masih menonton, mengenalinya sebagai anak peternak kerbau. Pemuda tersebut juga sering terlihat sering berbicara kepada kerbau peliharaan bapaknya. Dari sosoknya terpancar sesuatu yang ganjil. Wajahnya bulat kekanak-kanakan. Rambutnya ikal dan sulit diatur. Badannya tidak besar dan tidak kecil. Ia memasuki ruangan Pak Raden sambil melonjak-lonjak.

 

Pak Raden yang sudah hampir patah semangat, mulai melancarkan serangannya, “ini pertanyaan pertama. Jarak dari A ke B dapat diperkirakan. Namun jarak B ke A tidak dapat diperkirakan, padahal jaraknya sangat dekat. Apakah A dan B tersebut?”

 

Sang peserta terakhir tersenyum dan mulai menjawab, “A adalah ketika manusia tidak ada di dunia, sedangkan B adalah ketika manusia ada di dunia. Artinya, kelahiran seseorang dapat diperkirakan waktunya kapan, namun kematian seseorang tidak dapat diketahui kapan datangnya. Padahal kematian itu sangat dekat adanya.”

 

Pak Raden yang mulai bersemangat ketika sang peserta terakhir mengucapkan kata pertamanya, kini justru terlihat semakin pucat setelah mendengar keseluruhan jawaban. Tapi ia tetap melanjutkan dengan pertanyaan kedua, ia puas dengan jawaban pertama.

 

“Apa yang mudah dimasukkan, bisa dikeluarkan, namun sulit dihilangkan bekasnya?” Pak Raden bertanya dengan mencicit.

 

Sang peserta terakhir tampak berpikir sebentar, kemudian menghela napas. “Perkataan kasar seseorang akan sangat mudah masuk ke hati orang lain. Ia bisa dikeluarkan dengan meminta maaf. Namun bagaimana pun, perkataan kasar tersebut akan tetap meninggalkan bekas di hati orang yang mendengarnya, apalagi perkataan adalah senjata yang lebih tajam dari pada pedang,” jawabnya.

 

Kini Pak Raden tersengal kehabisan napas. Ia kemudian memberikan pertanyaan ketiga, “di mana jarum jam dapat berjalan mundur, kebalikan dari pergerakannya yang biasa?”

 

Kali ini sang peserta terakhir berpikir lebih lama. Sambil berpikir, ia menengok ke sekeliling ruangan. Ia juga berkeliling ruangan untuk menjernihkan pikiran. “Jarum jam dapat berjalan mundur, dalam arti kata berkebalikan dengan tabiatnya, adalah di dalam bayangan cermin. Walaupun begitu, hakikatnya waktu tetap tidak bisa berjalan mundur. Sekaya apa pun seseorang, ia tidak bisa membeli waktu dan kembali ke masa lalu. Apa yang ia kerjakan telah dicatat. Apa yang ia katakan pada orang lain telah meninggalkan bekas. Padahal jarak antara ia memasuki dunia hingga ia keluar dari dunia ini sangat singkat, sementara dunia adalah tempat untuk mencari bekal.”

 

Pak Raden mengucurkan keringat deras sekali. Bajunya basah oleh keringat. Ia berkata kembali, “baiklah, karena kamu sudah berhasil menjawab ketiga pertanyaan dariku, kamu akan kuberi hadiah ternak dan lahan yang telah kujanjikan.”

 

“Oo, tidak perlu, Pak… Lha wong uang untuk beli ternak dan lahannya hasil ngerentenir. Saya tidak mau masuk neraka bareng sama Bapak”, anak muda itu kemudian melenggang pergi.

 

Mendengar ucapan sang peserta terakhir, Pak Raden langsung sesak dadanya. Mulutnya megap-megap kehabisan napas. Ia roboh seketika. Para pengawalnya tidak ada yang berdaya. Keduanya hanya bisa membantu membawa Pak Raden ke mantri terdekat.

 

Para warga heran, ketika melihat sang peserta terakhir keluar ruangan dengan bersiul-siul gembira dan mendengar bahwa ia tak mau menerima seujung kuku pun hadiahnya. Warga juga heran ketika melihat Pak Raden dibopong keluar oleh para pengawalnya. Terdengar gosip kalau Pak Raden telah menghembuskan napas terakhir.

 

Namun ada yang lebih mengherankan lagi. Pak Raden kembali ke rumahnya beberapa hari kemudian dengan keadaan segar bugar. Ia mendermakan seluruh hartanya kecuali sedikit uang peninggalan mertuanya. Ia juga menganggap lunas semua utang yang masih tercatat di buku utang. Ia dan istri kemudian membuka usaha tanaman hias yang terkenal hingga kecamatan tetangga.

 

***

Gagal menang lomba, di-post di mari aja, hoho

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s