0

Dua Sisi Koin


Jika kau merasa sedih tak berkesudahan, mungkin kau terlalu lama memandangi hanya satu sisi saja dari koin yang kau pegang. Coba lakukan langkah-langkah berikut ini!

1. Coba buka tanganmu. Jangan lewatkan langkah ini! Karena jika tidak, kau tidak akan bisa melakukan langkah nomor 2.
2. Balikkan koinmu, tangkupkan pada tanganmu yang satu lagi.
3. Sekarang tatap sisi koin satu lagi, yang selama ini selalu tersembunyi, sedang tersenyum padamu.

Sekarang, apa hal pertama yang terlintas di pikiranmu dengan kata-kata berikut ini:
– rumah kecil
– rumah besar
– rumah jauh
– rumah dekat
– mobil mewah
– mobil mogok

Apa yang kau pikirkan bisa sedikit banyak menjadi refleksi, bagian koin mana yang terlalu lama kau lihat.

Karena, bersama kesulitan ada kemudahan.

#Self-talking

0

Kuasa


Ceritanya saya kemarin pulang dr Kebon Jeruk ke Cimanggis. Seperti biasa, saya naik transjakarta. Setelah penantian panjang, akhirnya bus gandeng merah gagah tiba di halte. Saya dan banyak penumpang yang lain pun naik ke dalam bus yg sudah bejubel.

Bersama saya, naik juga seorang ibu-ibu tua. Karena bangku sudah penuh terisi oleh cewe-cewe muda, maka si ibu itu terpaksa berdiri. Dan yang saya kesalkan adalah petugas bis yang tidak menunjukkan effort lebih untuk mengusir penumpang muda, agar si ibu tua bisa duduk.

Setelah lewat beberapa halte, penumpang yang duduk di depan tempat saya berdiri, turun. Otomatis ada bangku kosong. Saya melihat ke arah ibu tua tersebut hendak memanggilnya. Eeeh, baru nengok sedikit, sudah ada mba-mba yang menduduki bangku tersebut. Saya sebegitu menyesalnya. Kenapa bangku tersebut tidak saya kuasai terlebih dahulu, agar kemudian bisa saya berikan kepada orang yang berhak?

Sepanjang beberapa meter berikutnya saya (berusaha) memberikan pandangan “menakutkan” ke si mba tersebut. Haha..

Alhamdulillah, akhirnya ada lagi salah seorang penumpang di depan saya yang turun. Segera saya hadangkan kaki untuk melindungi tempat duduk tersebut (walaupun saya jadi agak menggencet mba-mba yang berdiri di samping saya. Heu, maaf ya, mba -,-). Saya panggil si ibu tua, dan saya tunjuk tempat duduk kosong. Si ibu duduk dan saya senang, nyohoho 🙂

Mungkin ini terdengar menyeramkan. Tapi saya menyukai kekuasaan. Sangat suka. Yang mana kekuasaan tersebut bisa saya gunakan untuk kepentingan yang benar. Termasuk sesimpel kekuasaan atas satu bangku kosong di bus TransJakarta.

May Allah always guides us!

2

Jenuh


Barusan sms-an sama Linda Studiyanti (Iin). Dia bilang saya punya energi yang terlalu besar (untuk hanya mengerjakan hal yang kecil).. Iin selalu bisa mencetuskan ungkapan yang unik. Haha..

Saya sekarang benar-benar merasa kurang alive, jika tidak punya karya apa-apa. Jenuh, kalo gak ada kerjaan yang menantang, selain pekerjaan rutin. Ada yang mau nawarin kerjaan? (Loh?)

Jadi pengen balik ke kampus lagi, haha.. Kayaknya lagi rame di kampus.

 

*tulisan random sambil nunggu pulang kantor*

0

Aku Ingin Aku Merdeka


Aku ingin aku merdeka!

Aku?

Ya, aku!

Yakin?

Ya, aku!

Bukan kita?

Aku!

Mungkin kalian?

Aku!

Aku?

Aku, aku, aku!

 

Pokoknya, aku ingin aku merdeka!

Ingin?

Ya, ingin!

Seberapa ingin?

Saaaangat ingin!

Kuantifikasikan!

Ah, tak terhitung inginku!

 

Pokoknya, aku ingin aku merdeka!

Harus?

Ya, harus merdeka!

Bebas? Lepas? Tanpa belenggu?

Bukan.. Aku ingin aku merdeka!

Merdeka? Apa itu?

Merdeka, ya merdeka! Titik.

Kenapa?

Pokoknya, aku ingin aku merdeka!

Bagaimana?

Itu aku belum tau..

0

Rasional dalam Masalah


Setiap orang yang hidup pasti pernah mengalami masalah. Tak sedikit yang menanggapi masalah itu sampai stress. Kadang kala kalau kita sudah stress, perasaan bisa mengalahkan logika. Bagaimana caranya agar bisa tetap bersikap dan berpikir rasional dalam menghadapi masalah?

  1. Jangan buat fisik ikut menderita gara-gara beban pikiran. Tetaplah jaga kesehatan dengan makan teratur dan istirahat cukup. Ini adalah sikap rasional yang dibutuhkan. Bagaimana bisa menyelesaikan masalah jika fisik lemah?
  2. Masalah itu adalah ujian dari Allah. Mungkin itu adalah cara Allah mengingatkan kita bahwa kita lagi jauh dari Dia. Mungkin Allah “kangen” mendengar rintihan doa-doa kita. Maka, dekatkanlah diri pada Allah.
  3. Jangan korbankan amanah (apa pun) gara-gara otak kita dipakai melamun ke sana kemari. Otak kita adalah aset berharga! Coba bandingkan, berapa pekerjaan yang bisa selesai selama kita mengurung diri dalam pikiran yang tidak menentu (apalagi pikiran negatif)!
  4. Cari data dan fakta yang yang lengkap, jelas, dan akurat. Jangan berkutat dalam asumsi dan perasaan. Percuma! Masalah tidak akan selesai dengan baik.

Nah, itulah tahapan-tahapan yang saya rancang sendiri (dengan sotoy-nya) agar bisa tetap rasionalistis dalam menghadapi masalah. It’s work!

Hidup waras! Hidup!

2

Sekelumit Cerita Sekolah Bermain Balon Hijau (1)


Waktu: Sabtu 12 Mei, hari yang telah direncanakan untuk pengajian ibu-ibu (orang tua murid) SBBH.

Lokasi: Masjid Istiqlal Tubagus Ismail, lantai dasar.

Saya datang pas acara sedang dibuka oleh Bu Guru Yangie. Bu Guru yang lain belum datang. Acara dimulai dengan membaca tilawah surat Al-Baqarah ayat 26-50. Saya ikut-ikutan ngaji di samping Bu Guru Yangie, dengan tempo ngaji dan intonasi yang berbeda-beda dari para ibu. Walaupun begitu, saya senang, ibu-ibunya semangat banget ngajinya. Di tengah halaman ketiga, satu dua anak yang ikut serta bersama sang bunda mulai keluar dari ruangan. Dan inilah tanda bagi saya: Yak, Baby Day Care dimulai!

**FYI, di pengajian ibu-ibu sebelumnya, Baby Day Care ini adalah kegiatan yang sangat menguras energi dan suara. Sementara ibu-ibu mendengar materi, anak-anaknya berlarian di luar masjid, ada yang main perosotan di samping tangga batu, ada yang ngubek-ngubek kolam ikan, ada yang naik-naik ke lantai dua, ada yang naik-naik ke tangga vertikal di menara, ada yang manjat pohon kelapa, dan ada yang manjat bedug (walaupun gak begitu tinggi, bener deh, saya takut penyangga bedugnya roboh, trus bedugnya jatuh nimpa mereka)**

Baiklah, saya letakkan Al-Qur’an saya dan mulai mengejar mereka keluar. Ternyata mereka “hanya” berlarian. Oke, aman. Kemudian saya ajak mereka masuk untuk baca buku cerita. Mereka semangat banget kalo udah liat hal baru. Apalagi gambar-gambar di buku cerita. Setiap pergantian detik, pasti ada yang bertanya, “Bu Guru, ini apa?”, “Bu Guru, ini sapi!”, “Bu Guru, ada rumah!”

Beberapa saat kemudian, Alhamdulillah, Bu Guru Susan dateng!! Maka konsentrasi pertanyaan terbagi dua. Kemudian Bu Yangie nyuruh untuk bagi-bagi kue di piring kecil dan dikasih ke ibu-ibunya. Saya rasa ini adalah kesempatan yang bagus untuk melibatkan anak-anak, supaya mereka juga latihan bekerja sama (selain supaya mereka teralihkan dari piikiran untuk manjat-manjat tentunya).

Saya: “Siapa mau bantu Bu Guru bagi kue?”

Anak-anak: “Akuuu!!” << mesti gak ngerti disuruh ngapain, pasti mereka jawab dengan semangat menggebu-gebu “Akuuu!!”

Saya: membagikan piring kertas ke beberapa anak, “piringnya dijejerin di lantai ya, nanti kita isi kue”

Helmi (yang belum kebagian piring): “Helmi juga mau” dengan suara agak merajuk

Saya: “Jaziya, piringnya minta dikit ya..”

Jaziya: “Gak mauuuu” suaranya juga merajuk

Iksal: “Aku piringnya ada tiga”

Adit: “Ibu Guru, aku juga mau tiga piringnyaaa”

Helmi: “Ibu Guru, mau piring”, suaranya tambah memelas

Saya: “Nih, Helmi bagiin kuenya aja ya?”

Helmi: “Gak mauu, mau piriiing” tapi sebungkus kue yang saya sodorkan diambil juga olehnya

Saya: Ngasih kue yang paling terlihat cantik ke Jaziya. “Jaziya, bagiin kuenya ya.. Piringnya ditata dulu di lantai”, ketika dia lengah, saya ambil beberapa piringnya dan saya kasih ke Helmi. Yes, berhasil!

Bu Susan: Membantu menata beberapa piring di lantai

—kehebohan masih berlanjut tentang siapa yang megang piring, siapa yang piringnya tiga, siapa yang belum dapat piring—

Saya: “Nih, kuenya ditaro di piring, kayak gini, satu piring ada tiga jenis kue yaa” sambil naro kue yang dari mie di beberapa piring yang udah ada di lantai

Jaziya: Meletakkan piring-piringnya di lantai, sambil menata kue di piring. Ketika dia sedang menata kue, saya ambil satu per satu piring dan memberikannya ke Adit.

Adit: “Yee, piringnya tiga!” Yes, berhasil!

Helmi: “Piring aku lima!” << saya mulai was-was kalo-kalo Adit minta nambah piring lagi, ternyata nggak

—beberapa saat kemudian mereka asik menata kue-kue di piring di lantai—

Saya: “sekarang siapa yang mau bantu ngasih kuenya ke mama-mama?”

Anak-anak: krik krik krik, gak ada yang jawab, pada asik nyusun kue.

Saya: “Dit, ini kuenya kaih ke mama Adit coba..” Adit dan Aksal mengambil beberapa piring dan mulai membagikannya ke ibu mereka. Mereka lari-lari bawa piring kue itu.

Saya: “Pelan-pelan ya bawanya!”

Mereka berdua: jalan pelan-pelan, terus membagikan kue ke ibu mereka. Nampaknya mereka ketagihan. Mereka balik lagi dan ngambil kue lagi.

Saya: “Jangan yang itu, itu masih belum tiga isinya. Nih, yang kayak gini, udah ada tiga isinya.” Ngasih piring kue yang memenuhi spek. “Kasih ke mama-mama yang lain yaa” << saya takut mereka ngasih ke mama mereka lagi, hehe. Tapi mereka pintar kok 😀

—Beberapa anak ikut membagikan kue. Satu kue sukses ngegelinding, gapapa cuma satu, haha—

Saya: mengambil beberapa piring berisi kue di hadapan Syifa.

Syifa: “itu kan punya akuu!”

Saya: “Lho, ini kan mau dibagiin, Syifa.. Emang Syifa mau makan semua?”

Syifa: masih cemberut, tapi mungkin dia mikir, “o, iya juga!”, soalnya mukanya berubah

Saya: “Nih, Syifa ambil satu aja”

Syifa: masih cemberut, tapi ngambil juga kuenya itu. Dia lalu ‘mengamankannya’

—Kemudian mereka membagikan air mineral—

Setelah acara bagi kue yang heboh itu, kami baca buku cerita (lebih tepatnya Bu Susan membacakan buku cerita, sementara anak-anak mendengarkan), rebutan buku cerita, main petak umpet (yang anehnya, mereka berebut jadi yang jaga. Kalo saya sih dulu berebut untuk gak jaga, hoho).

Yak, Baby Day Care kali ini tidak se-chaos yang pertama. Mereka sangat mau diajak bekerja sama 🙂

-Terkadang mereka hanya perlu contoh-

Oiya, materi pengajian ibu-ibunya bisa dilihat di http://yangiedwimp.wordpress.com/2012/05/12/versi-curcol/

0

Asiknya Berbagi


Bahasa Indonesia: Jalan Negara (Trans Kalimant...

Image via Wikipedia

Banyak hal di bumi ini yang jumlahnya terbatas, makanan, uang, ruang, dll. Ada juga hal yang stock-nya tidak pernah habis. Kali ini saya ingin menulis sedikit tentang doa. Kalian tahu arti doa? Nihh, mbak KBBI mau ngasih definisi: doa adalah permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan.

Saya gak mau bahas tentang adab doa, urgensi berdoa, dan sebagainya. Saya ingin membahas tentang asiknya berbagi doa. Pernahkah teman-teman suatu ketika melihat seorang Bapak sedang mendorong motornya yang mogok, sedangkan teman-teman gak punya keahlian mekanik sama sekali? Saya pernah mengalaminya. Saya kasihan sama Bapak-Bapak itu sebenarnya, ingin membantu. Tapi saya gak punya kemampuan. Lalu saya dengan sotoy-nya berpikir bahwa kalau tidak bisa membantu dengan tangan dan dengan lisan, setidaknya bantulah dengan hati (ini sebenarnya hadist tentang apa yang harus dilakukan jika melihat kemungkaran: cegahlah dengan tangan, kalau tidak bisa dengan lisan, kalau tidak bisa dengan hati. Dan itulah selemah-lemah iman). Jadi saya membantu lewat mendoakan agar motornya bisa jalan kembali.

Berbagi lewat doa juga punya keasikan lain.. Kita gak pernah kehabisan stok doa, insya Allah. Selain itu, jika kita mendoakan saudara kita tanpa diketahuinya, maka malaikat akan berkata “juga untukmu” (maksudnya kalau kita mendoakan saudara kita agar nilai ujiannya bagus, maka doa tersebut juga tertuju untuk kita). Berbagi doa ini juga bisa melatih kita peka dan peduli terhadap orang lain (atau bahkan makhluk hidup lain). Kita akan sibuk memperhatikan sekitar, mencari-cari adakah orang yang sedang kesulitan. Dan kita gak mungkin mendoakan orang lain jika kita gak peduli dengan orang itu kan?

Walaupun begitu, berbagi dengan doa masih berada di level yang cupu. Berbagi dengan tindakan nyata pasti jauh lebih asik! Yeay!