0

Essay: Sukses Terbesar dalam Hidupku


Perkenalkan nama saya Mega. Saya adalah orang yang selama ini agak penakut, yang jarang bisa tampil di muka umum, dan terlalu perhitungan dengan risiko. Maka inilah yang menurut saya merupakan keberhasilan terbesar saya: Sekolah Bermain Balon Hijau. Itu adalah tempat saya bisa keluar dari diri saya yang penakut, tempat saya belajar tampil di muka umum, dan tempat kejadian langka terjadi: kespontanan terjadi dari diri saya.

Saat itu merupakan tahun-tahun terakhir masa perkuliahan saya. Saya dan dua orang teman sedang merenungi tentang kontribusi kami untuk masyarakat sekitar. Saat itu karena kami sudah menjadi angkatan tua, maka kami sudah tidak banyak mengikuti organisasi-organisasi di kampus, dan kami merasa hampa. Maka tercetuslah ide tersebut, ide untuk membuat sebuah sekolah anak-anak.

Kami secara spontan menyetujui ide tersebut. Kami bertiga merupakan mahasiswa jurusan teknik yang tidak memiliki latar belakang kuliah pendidikan, atau psikologi, atau yang sejenisnya. Kami yang akan mengajar langsung. Yang diajar adalah anak-anak usia dini yang bahkan belum lancar berkomunikasi dan memahami perkataan orang lain. Maka saya anggap itu adalah ide yang cukup gila.

Kespontanan itu berlanjut. Keesokan harinya kami langsung mendatangi sebuah PAUD, dimana teman kami yang jurusan Psikologi UI mengajar. Kami meminta panduan kurikulum dari beliau. Setelah itu, kami mendatangi teman lainnya yang mempunyai usaha cafe di daerah Tubagus Ismail. Cafe tersebut baru buka di sore hari, sehingga kami meminta izin untuk menggunakannya di pagi hari. Gayung bersambut, permintaan kami disetujui. Beberapa hari kemudian, kami langsung mengunjungi ketua RT/RW setempat untuk meminta izin, dan jalan kami ternyata mulus.

Namun ada masalah selanjutnya. Bagaimana mengumpulkan murid-murid yang akan belajar? Ketua RW waktu itu mengusulkan untuk menyebar brosur di kegiatan posyandu yang akan digelar minggu depan. Maka kami langsung membuat brosur sederhana, dan tiga orang ini mencemplungkan diri di kegiatan posyandu hari itu. Kami menyelinap di antara ibu-ibu yang sedang menimbang berat badan bayi, untuk menyebarkan brosur dan memberikan penjelasan. Saat itu hanya sedikit ibu-ibu yang mendaftar.

Hari pertama sekolah dimulai, dan kami bertiga yang langsung terjun mengajar anak-anak itu. Jumlah yang sedikit saat pendaftaran ternyata berkembang pesat menjadi tiga kali lipat saat hari pertama sekolah, berkat kekuatan gosip ibu-ibu.

Kami pun mengajak teman-teman sesama mahasiswa lainnya yang peduli pendidikan anak-anak untuk bergabung, dan mereka antusias. Kami bermimpi, kami belajar, kami mengajar, kami mengevaluasi. Semuanya sudah seperti keluarga waktu itu. Semuanya bersemangat. Bahkan ada seorang guru yang pindah ke kota lain untuk meneruskan kuliah, dan membuka sekolah bermain yang baru di kota tempat tinggalnya. Namanya Sekolah Bermain Matahari. Dia pun mengajak rekan-rekan mahasiswa lainnya untuk bergabung.

Selain mengajar anak-anak, kami juga mengadakan kajian bulanan untuk orang tua murid. Materi yang diberikan seputar parenting, seperti psikologi anak, kebutuhan gizi, dan lain-lain. Kami mengundang narasumber-narasumber yang kompeten, sesuai dengan materi yang disampaikan. Sambutan dari orang tua murid? Cukup antusias.

Dari sekolah ini, saya banyak belajar. Kami banyak belajar. Kami belajar pendidikan. Kami banyak berinteraksi dengan masyarakat. Kami juga termotivasi untuk mempersiapkan diri menjadi orang tua yang baik bagi generasi selanjutnya. Terutama bagi saya, saya berhasil keluar dari diri saya yang lama, menjadi diri saya yang sekarang ini lebih optimis dan berani mengambil risiko.

Sampai saat ini, sekolah tersebut masih berjalan, dengan diteruskan dari generasi ke generasi adik kelas. Sekarang pengajar di sana sudah menginjak generasi ke-6, dan sekolah tersebut sudah berjalan kurang lebih 5 tahun.

*Dibuat untuk memenuhi syarat beasiswa LPDP. Apa daya berkasnya kurang, jadi gak bisa di-submit -___-”

Advertisements
0

Essay: Kontribusi


Perkenalkan nama saya Mega. Saya merupakan anak yang lahir di keluarga biasa, namun memiliki cita-cita yang tak ingin hanya jadi biasa-biasa saja. Saya tinggal dan besar di ibu kota, dengan segala macam kehidupan keras dan dinamisnya.

Saya menjalani pendidikan sarjana di Institut Teknologi Bandung, dimana saya mengambil jurusan Teknik Informatika. Selain berkuliah, saya aktif di Kabinet Keluarga Mahasiswa (BEM) ITB, di bagian Kementerian Komunikasi dan Informasi, dan beberapa kepanitiaan kampus lainnya. Di sanalah saya banyak belajar tentang organisasi, berinteraksi dengan orang lain, keadaan bangsa Indonesia, dan mulai membangun cita-cita saya.

Saya memiliki cita-cita Indonesia madani, yang pemimpinnya merakyat, dan rakyatnya punya jiwa kepemimpinan (punya inisiatif untuk bersama-sama membangun Indonesia). Saya berharap Indonesia bisa jadi negara yang kuat dan berdiri di atas kaki sendiri. Lalu dimanakah saya ingin mengambil peran? Saya tertarik pada pendidikan, propaganda, dan pembinaan komunitas. Saya ingin menjadi seorang social engineer, yang bisa menggerakkan masyarakat untuk berubah menjadi lebih baik.

Dahulu semasa beberapa tahun di akhir-akhir masa kuliah, saya dan beberapa teman berinisiatif untuk membuat sebuah PAUD, kami beri nama Sekolah Bermain Balon Hijau (biasa disingkat SBBH). Di sana kami mengumpulkan mahasiswa-mahasiswa yang peduli pendidikan untuk mengajar anak-anak usia dini. Kami banyak meriset kurikulum yang akan diberikan melalui internet dan kunjungan ke PAUD sekitarnya. Kami ingin memberikan pendidikan terbaik sesuai usia mereka, karena banyak anak-anak usia dini sekarang yang tidak diberikan pendidikan sesuai dengan umurnya, baik oleh orang tua mau pun guru di PAUD. Lalu kami menyadari sesuatu: kami hanya bisa bertemu dengan anak-anak itu kira-kira 3 jam dalam seminggu, mereka menghabiskan waktu lebih banyak dengan orang tua mereka, terutama Ibu. Oleh karena itu kami juga membuat pelatihan dengan berbagai materi parenting yang bermanfaat bagi pada ibu-ibu murid.

Kegiatan tersebut saya lakukan selama kurang lebih 2 tahun. Ketika saya harus mulai bekerja, saya terpaksa meninggalkan SBBH dan mewariskannya pada adik-adik kelas. Saya saat ini bekerja di sebuah media, lebih tepatnya sebuah channel PayTV: MNC Muslim. Saya bertugas mengatur jadwal tayangan program di MNC Muslim tersebut. Masih dengan niat untuk menggerakkan masyarakat menjadi lebih baik, saya dengan sebaik mungkin berusaha menyajikan tayangan-tayangan yang berkualitas dan inspiratif untuk penonton.

Namun sayangnya, selama saya bekerja, saya merasa kurang terjun langsung ke masyarakat seperti ketika saya masih berkuliah. Ketika saya kuliah nanti, saya ingin berhenti bekerja dan kembali memaksimalkan interaksi dengan masyarakat. Saya ingin menjadi social engineer, maka dari itu saya mengambil jurusan Psikologi Intervensi Sosial. Saya ingin sekali mendapatkan ilmu yang diperlukan agar bisa menggerakkan masyarakat.

Setelah lulus kuliah, cita-cita jangka panjang saya adalah tentang pendidikan. Saya ingin membangun sebuah sekolah terintegrasi, dimana yang dididik bukan hanya murid, tetapi juga orang tua murid dan lingkungan di sekitar sekolah. Kemudian tujuan yang lebih utama lagi, saya ingin mengembalikan peran orang tua, terutama Ibu dalam pendidikan anak yang utama.

Selain itu, saya memiliki cita-cita untuk membuat sebuah production house yang bisa menyajikan tayangan-tayangan bermutu untuk penonton di seluruh Indonesia, yang tidak hanya bisa menghibur tapi juga bisa menginspirasi.
Untuk mewujudkan hal tersebut, langkah yang saya ambil adalah:
1. Belajar tentang intervensi sosial
2. Berinteraksi dengan masyarakat
3. Membangun jaringan

*Dibuat untuk memenuhi syarat beasiswa LPDP. Apa daya berkasnya kurang, jadi gak bisa di-submit -___-”

0

Pluralitas dan Pluralisme


Kedua kata di atas memang seperti ayah dan anak, yang satu ada karena yang lain ada. Namun maknanya sangatlah berbeda. Banyak perdebatan akhir-akhir ini yang membahas pluralisme, mulai dari munculnya sebuah film, hingga pemikiran masyarakat dewasa ini. Islam sangat menjunjung tinggi pluralitas, atau adanya perbedaan, dan menghormatinya. Tapi Islam tidak menyukai adanya pluralisme agama. Pluralisme agama diketahui sebagai paham yang mengatakan bahwa semua agama itu hanya berbeda jalan, tapi tujuan akhirnya sama, yaitu Tuhan. Tentu hal ini bertentangan dengan ajaran Islam. Saya yakin ini pun bertentangan dengan semua ajaran agama lainnya. Saya yakin semua umat beragama merasa bahwa ajarannya lah yang benar; Tuhan mereka lah yang sepatutnya disembah; cara hidup mereka lah yang seharusnya diikuti. Kalau tidak, tidak mungkin para penganut agama yang taat menyebarkan agamanya ke orang lain (di Islam, disebut dakwah). Setiap penganut agama pasti menginginkan lebih banyak orang yang sejalan dengan mereka. Maka, pluralisme agama tidak dapat dibenarkan.

Namun merasa benar bukan berarti menganggap orang lain sampah. Islam telah menganjurkan setiap umatnya untuk menjunjung tinggi perdamaian dan toleransi. Saya yakin semua agama pun (jika sesuai dengan pelajaran PPKn yang saya terima waktu SD) mengajarkan perdamaian dan toleransi. Maka, kesimpulan kedua diperoleh: orang yang menentang pluralisme bukan berarti tidak saling bertoleransi. Orang yang menentang pluralisme belum tentu menjadi sang provokator perpecahan.

Saya akan menceritakan beberapa penggalan kisah tokoh idola saya: Rasulullah Muhammad SAW. Dan semoga Anda dapat melihat perbedaan pluralisme dan pluralitas yang saya ceritakan di atas.

Tawaran Menarik dari Salah Satu Petinggi Quraisy
Masa-masa awal dakwah terang-terangan Rasulullah merupakan masa yang sulit. Dakwah Muhammad dan para pengikutnya ditentang habis-habisan oleh para kafir Quraisy. Muhammad saat itu berada di bawah “perlindungan” pamannya, Abu Thalib, salah satu pembesar Quraisy yang disegani penduduk Mekah. Tradisi di Mekah saat itu, jika salah satu orang (sebut saja A) dalam suatu kabilah (dalam satu suku) yang melindungi seseorang (sebut saja B), maka si B tidak boleh disakiti oleh siapa pun di suku tersebut *kalau salah, tolong dikoreksi ya*. Itu yang terjadi pada Muhammad. Apalagi pamannya saat itu merupakan salah satu pembesar di sana. Maka penentang dakwah Islam saaat itu tidak berani menyakiti Rasul secara langsung. Mereka mencoba berunding dengan paman Muhammad, namun tidak berhasil. Mereka juga mencoba menawarkan beberapa tawaran menarik langsung kepada Muhammad. Kurang-lebih begini yang saya ingat:

Kafir Quraisy: “Muhammad, saya punya tawaran menarik untukmu. Saya akan memberikanmu kekuasaan, harta yang melimpah, dan wanita yang cantik. Tapi ada imbalannya. Kami akan mengikuti agamamu dan menyembah Tuhanmu selama setahun. Setahun berikutnya kamu dan pengikutmu harus menyembah Tuhan kami dan mengikuti ajaran kami.”

Muhammad: “Seandainya matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berpaling dari ajaran Islam dan menyebarkannya.” *maksudnya, mau dikasih kemewahan dunia segimana pun, Rasulullah tidak akan meninggalkan Islam dan dakwahnya.

Kejadian itulah yang menjadi sebab turunnya surat Al-Kafirun.

Rasul Menjenguk Nenek yang Sakit
Lagi-lagi pada masa-masa penyebaran Islam di Mekah. Rasulullah setiap kali melewati sebuah jalan, selalu diludahi oleh seorang nenek yang belum menganut Islam dan termakan hasutan kafir Quraisy saat itu (mereka bilang kalau Muhammad itu ahli sihir atau gila). Suatu ketika Muhammad melewati jalan itu, tapi nenek tersebut tidak ada. Menurut keterangan dari penduduk sekitar, nenek itu sedang sakit. Rasul pun pergi menjenguk nenek itu.

Tatanan Pemerintahan Madinah
Saat Muhammad tiba di Madinah (hijrah yang ketiga kalinya), ada beberapa hal utama yang dilakukan oleh beliau dalam rangka membangun rangka pemerintahan madani. Pertama dengan membangun masjid dan menjadikannya sebagai pusat aktivitas masyarakat. Kedua, mempersaudarakan antara kaum muhajirin (yang datang dari Mekah bersama Rasulullan) dan kaum muslim Anshar (penduduk asli Madinah). Bahkan saking tingginya rasa cinta Kaum Anshar pada Rasulullah, mereka rela membagi setengah harta mereka pada kaum Muhajirin yang menjadi saudara mereka. Ketiga adalah membuat perjanjian perdamaian dengan seluruh penduduk Madinah. Perjanjian yang disebut piagam Madinah ini diakui dunia sebagai perjanjian terdahsyat di sampai saat ini. Jika Indonesia semaksimal-maksimalnya dalam menentukan sebuah kebijakan hanya mengundang para wakil rakyat, pada pembuatan Piagam Madinah saat itu Rasulullah melibatkan seluruh penduduk Madinah. Madinah saat itu sangat heterogen, tidak semuanya muslim; ada yang Nasrani, ada yang Yahudi, dan lain-lain. Dan perjanjian damai itu juga yang seterusnya membawa keteraturan kehidupan di Madinah seterusnya.

Apakah Rasulullah dan sahabat lainnya memaksa seluruh penduduk untuk menganut Islam? Tidak. Tapi seluruh penduduk harus mengikuti perjanjian yang telah mereka buat bersama.

Perang-perang
Jaman dulu memang sering terjadi perang-perang penaklukan. Kalau suatu kaum tidak menyerang, maka mereka akan diserang. Makanya mau tidak mau mereka harus bisa berperang. Dalm berperang, Allah SWT memerintahkan umat Islam bersikap adil, walaupun terhadap musuh. Mereka ketika berperang tidak melampaui batas, tidak bertindak aniaya, tidak menyiksa tubuh musuh, tidak mencuri, tidak merampok harta, tidak melukai kehormatan, dan tidak membuat derita. Pasukan Islam juga tidak akan mengganggu tempat peribadatan umat beragama lainnya dalam berperang.

Jika menang, mereka juga tidak memaksa lawan mereka untuk masuk Islam. Mereka menawarkan tiga pilihan: masuk Islam, tetap pada agama yang mereka anut tapi membayar pajak (pajak ini maksudnya sebagai pengganti zakat. Jika umat muslim wajib membayar zakat, nonmuslim yang ada di bawah pemerintahan Islam wajib membayar pajak. Pajak dan zakat ini nantinya akan digunakan untuk membiayai roda pemerintahan dan kehidupan masyarakat di sana), atau berperang sampai titik darah penghabisan. Mereka yang hidup di bawah pemerintahan Islam (tidak peduli agama) semuanya diperlakukan adil, haknya diberikan secara adil, tanggung jawabnya diminta secara adil. Dan mereka diperbolehkan beribadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, tanpa saling mengganggu.

Saya juga pernah dengar sebuah cerita terkait Umar, khalifah kedua setelah Rasul wafat. Saya agak-agak lupa cerita lengkapnya, tapi kalo gak salah begini.. Pada suatu ketika pasukan beliau berhasil menaklukan Yerussalem. Umar ditemani oleh seorang Uskup sedang melihat-lihat tempat peribadatan kaum Nasrani. Waktu sholat tiba. Uskup tersebut dengan sopan menawarkan Umar untuk sholat di dalam gereja itu. Umar menolak dan pergi keluar menuju suatu tempat di sudut gereja. Dia sholat di sana. Ketika ditanya alasannya, Umar menjawab, “kalau saya sholat di dalam gereja itu, maka semua pasukan dan umat muslim akan mengikuti saya sholat di sana. Mereka kemudian akan membangun masjid di sana sebagai kenangan atas peristiwa ini. Maka kalian tidak akan punya tempat untuk beribadah lagi.”

Sampai saat ini, gereja tersebut masih berdiri tegak. Dan untuk mengenang peristiwa tersebut, sebuah masjid kecil dibangun di tempat Umar sholat waktu itu. Setelah saya googling, ternyata ada ceritanya di http://sejarah.kompasiana.com/2011/02/19/islam-dan-kemajemukan-masyarakat-teladan-umar-bin-khattab/ .

Penutup
Begitulah Islam sangat menjunjung tinggi dan menghormati perbedaan. Tapi Islam menentang pluralisme. Jika dikatakan semua ajaran agama itu sebenarnya sama, bukan hanya umat Islam, pasti semua umat agama akan menolak. Jadi mungkin saja ide-ide tentang pluralisme itu sebenarnya berasal dari mereka yang takut para umat beragama menjalankan agama dengan semestinya, dari mereka yang takut para umat beragama hidup rukun, atau bahkan dari mereka yang takut akan perbedaan itu sendiri.

Mohon dikoreksi jika ada kesalahan..

1

Pemuda Indonesia yang Terlambat Dewasa


Pemuda Indonesia adalah calon pemimpin bangsa di masa depan. Namun sayangnya, pemuda Indonesia saat ini tertinggal dalam hal kedewasaan secara psikologi dan kemandirian. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kasus-kasus kriminal, seks bebas, maupun kemandirian yang berkaitan dengan remaja. Untuk itu, diperlukan sistem pendidikan yang mampu mendewasakan manusia, tidak hanya dari aspek fisik dan pikiran, tetapi juga dari aspek psikologis dan kemandirian sosio-ekonomi.

 

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan penduduk berjumlah 250.000.000, dan lebih dari setengahnya di antaranya telah dikatakan berusia dewasa.

Secara etimologi kedewasaan berasal dari kata dasar dewasa, yang berarti masa sesudah kanak-kanak dan sebelum tua. Artinya masa dewasa adalah masa antara masa kanak-kanak dan masa tua. Dalam bukunya Psikologi Kependidikan, Prof. Din Wahyudin, menyebutkan bahwa usia orang dalam masa dewasa itu adalah antara 19 – masuk masa tuanya.

Dapat disimpulkan bahwa kedewasaan secara istilah ialah keadaan yang terjadi kepada seorang individu setelah melewati masa kanak-kanaknya, kemudian ia masuk pada masa baru dalam hidupnya, dimana pada masa itu, sifat-sifat kekanak-kanakan semakin berkurang dan menghilang.

Sampai saat ini, belum ditemukan standar baku kapan dan dalam usia berapa seseorang akan mencapai kedewasaan karena belum ada ukuran tunggal untuk menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Meskipun demikian, aspek-aspek berikut dapat dijadikan faktor penentu sementara untuk mengukur tingkat kedewasaan seseorang, di antaranya:

  1. Dewasa secara fisik, indikatornya adalah ketika organ-organ reproduksi telah berkembang dan berfungsi secara optimal.
  2. Dewasa secara psikologis, indikatornya adalah adanya kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan.
  3. Dewasa secara sosial-ekonomi, yang ditampakkan dengan kemampuan seseorang untuk mandiri, mampu membiayai kebutuhan hidup sendiri dan menangani berbagai hal dengan kemampuan sendiri.

Pada essay ini, akan difokuskan pada pengertian dewasa aspek psikologis dan sosial ekonomi. Pada kedua aspek tersebut, dapat dilihat tahapan perkembangan kedewasaan sebagai berikut:

  1. Kemampuan untuk mengenali diri sendiri. Orang yang telah dewasa akan mengenali siapa dirinya, untuk apa ia dilahirkan di dunia ini dan apa tujuan hidupnya.
  2. Kemampuan menerima diri sendiri. Setelah mengenali diri sendiri, orang yang dewasa akan mampu memahami dirinya sehingga ia dapat menerima keadaan dirinya dan mampu menyikapi keadaan dirinya dengan baik.
  3. Kemampuan menerima orang lain. Selain mampu menerima keadaan dirinya sendiri, orang yang dewasa juga akan mampu menerima keberadaan orang lain dengan sikap simpati atau empati yang dimilikinya. Berbeda dengan orang yang belum dewasa, ia cenderung tidak akan dapat menerima keberadaan orang lain, terlebih jika orang tersebut berbeda karakter dengan dirinya.
  4. Kemampuan untuk memberi pengarahan kepada orang lain. Orang yang telah mencapai tingkat kedewasaan akan dengan senang hati membagi ilmunya dengan orang lain, karena ia akan berpikir bahwa ilmu akan semakin berkembang jika ia sebarkan juga ke orang lain. Lain halnya dengan orang yang belum dewasa, ia akan cenderung pelit akan ilmu karena khawatir merasa rugi jika ilmunya ia bagi dengan orang lain. Singkatnya, ia akan merasa takut tersaingi.
  5. Kemampuan berpikir dan  bertindak mandiri, berani menyuruh dan melarang diri sendiri, tahu tugas dan tanggung jawab, serta mampu membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Orang yang telah mencapai kedewasaan, akan mampu menggunakan akalnya dengan baik, sehingga ia akan tahu betul mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Kemudian, mengapa pemuda Indonesia dikatakan terlambat menjadi dewasa?

Pertama, banyaknya kasus tawuran antarpelajar, seks bebas, pemakaian narkoba, dan konsumsi alkohol. Hal ini menunujukkan bahwa mereka masih belum mengenali diri sendiri. Mereka belum mengetahui kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki, sehingga waktu yang mereka miliki digunakan untuk hal-hal yang berbau penyimpangan. Selain itu, kemampuan menerima diri sendiri dan orang lain juga dipertanyakan. Apakah seseorang yang mampu menerima perbedaan antara dirinya dan orang lain senang melakukan tawuran? Hal ini merepresentasikan kemampuan untuk berpikir sebelum melakukan masih kurang.

Kedua, dibandingkan dengan pemuda di negara lainnya, pemuda Indonesia masih jauh tertinggal dalam hal kemandirian. Pada usia tujuh belas tahun, pemuda di negara lain telah harus menghidupi dirinya sendiri. Sedangkan saat ini, banyak pemuda Indonesia yang masih bergantung kepada orang tua, bahkan hingga usia lanjut.

Ketiga, orientasi yang dimiliki pemuda saat ini belumlah mengenai tanggung jawab. Yang mereka pikirkan kebanyakan berkisar dari pacar, foya-foya, dan sebagainya.

Keempat, masalah kematangan emosional. Seorang dewasa harusnlah mampu memikirkan dampak dari setiap perbuatan yang ia lakukan, sehingga ia tidak mengutamakan emosi semata.

Untuk mengatasi masalah tersebut, di dalam essay ini ditawarkan solusi, yaitu:

  1. Pendidikan yang mengedepankan proses pendewasaan psikologis dan kemandirian sosio-ekonomi. Pendidikan ini dapat berupa pelatihan entrepreneurship sejak dini, pengenalan visi dan tujuan hidup, dan penyadaran tanggung jawab kepada negara. Kegiatan ekstrakurikuler juga mampu mengembangkan kemampuan sosial anak. Di sana, mereka diajarkan untuk dapat menerima dan bekerja sama dengan orang lain.
  2. Selain itu, diperlukan pengasuhan orang tua yang moderat dan mengembangkan budaya diskusi, tidak otoriter maupun terlalu permisif. Sehingga anak mampu berpikir dan menentukan jalan hidupnya, serta bertanggung jawab atas pilihannya.

Jika kedua tahap di atas telah dipenuhi, diyakini pemuda Indonesia akan mencapai kedewasaannya tepat waktu. Kemudian, hal ini akan berimplikasi pada kepemimpinan Indonesia yang lebih baik di masa depan.

 

Referensi

Blog PROGRAM TUTORIAL MKDU UPI

Human Development Edisi ke sembilan, bagian V-IX, oleh Diane E. Papalia, et. al

=======================================================

Gagal terkirim di lomba essay, masukin sini aja ^^

1

Pendidikan Berkaca pada Pembuatan Perangkat Lunak


matahari terbit

fajar tiba

dan aku melihat delapan juta kanak – kanak

tanpa pendidikan

 

aku bertanya

tetapi pertanyaan – pertanyaanku

membentur meja kekuasaan yang macet

dan papantulis – papan tulis para pendidik

yang terlepas dari persoalan kehidupan

dan di langit

para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas

bahwa bangsa mesti dibangun

mesti di up-grade

disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing

diktat – diktat hanya boleh memberi metode

tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan

kita mesti keluar ke jalan raya

keluar ke desa – desa

mencatat sendiri semua gejala

dan menghayati persoalan yang nyata

 

Sajak Sebatang Lisong – RENDRA ( itb bandung – 19 agustus 1978 )

 

Begitulah Rendra bercerita tentang pendidikan di Indonesia.

 

Pemerintah Indonesia sejak awal telah berkomitmen untuk mencerdaskan kehidupan warga negaranya, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 pada alinea keempat, yang menegaskan: ”Pemerintah   melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah  darah  Indonesia  dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Cita-cita Pembukaan UUD 1945 tersebut, selanjutnya dinyatakan secara tegas dalam Pasal 31 UUD 1945 yang telah diamandemen, sebagai berikut: 1) Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan; 2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; 3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; 4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; serta 5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

 

Kemudian harapan pemerintah Indonesia terhadap majunya pendidikan diperlihatkan dengan diresmikannya Undang-undang Badan Hukum Pendidikan, yang menjadikan Institusi Pendidikan memiliki titel Badan Hukum Pendidikan. Sebagai Badan Hukum Pendidikan, Sang Institusi pun diberikan kebebasan untuk merancang sendiri rencana pendanaannya.

 

Sedangkan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia berarti memenuhi kebutuhan seorang manusia agar ia dapat menjadi manusia seutuhnya yang selaras dengan alam dan lingkungannya. Kebutuhan seorang manusia dapat dibagi menjadi kebutuhan fisik, kebutuhan akal, dan kebutuhan ruhani.

 

Namun, sayangnya pendidikan di Indonesia saat ini, belum dapat mencapai tujuannya. Pendidikan di Indonesia memang berorientasi pemenuhan kebutuhan, tapi kebutuhan yang dipenuhi adalah kebutuhan jangka pendek, yaitu penyediaan sumber tenaga kerja. Sedangkan tiga kebutuhan pokok manusia di atas tidak dapat terpenuhi seutuhnya. Dalam hal pemenuhan kebutuhan pikiran, kurikulum pendidikan yang umumnya ada di Indonesia hanya bersifat menjejalkan pengetahuan-pengetahuan ke peserta didik, yang pengetahuan-pengetahuan tersebut belum tentu dibutuhkan oleh si peserta didik dalam pencapaian visi hidupnya. Selain itu, pemahaman yang diberikan hanyalah teori-teori tidak bersifat aplikatif. Hal ini dapat kita lihat pada sekolah-sekolah tingkat menengah yang ada saat ini. Jam belajar yang padat dibuat agar para siswa menerima materi-materi yang belum tentu mereka perlukan. Tak jarang pula, materi tersebut diberikan tanpa celah untuk ralat dan koreksi.

 

Dari segi pemenuhan kebutuhan fisik dan ruhani, kurikulum pendidikan di Indonesia juga belum dapat dikatakan memadai. Jatah jam pelajaran olahraga, kesenian, etika dan agama hanyalah sepersekian bagian dari total jam pelajaran yang ada di sekolah. Sisanya diisi dengan rumus matematika, hukum fisika, dan reaksi kimia, yang jelas bukan merupakan sarana pembentukan karakter yang baik.

 

Seharusnya para pembuat kurikulum di Indonesia berkaca pada pembuatan perangkat lunak komputer.Tahapan pembuatan perangkat lunak tersebut adalah tahap penentuan kebutuhan, tahap analisis masalah dan solusi, tahap perancangan, tahap implementasi, serta tahap pemeliharaan. Pada tahap penentuan kebutuhan, para calon pengguna, pengembang perangkat lunak, pemberi dana, dan analis sistem duduk bersama untuk menentukan apa sebenarnya kebutuhan yang ada. Lalu, dianalisislah permasalahan yang menyebabkan kebutuhan tersebut tidak dapat terpenuhi beserta solusi permasalahannya. Selanjutnya hasil analisis diimplementasikan dalam pembuatan perangkat lunak. Pemeliharaan merupakan tahapan tersulit dalam pembuatan sebuah perangkat lunak, karena kebutuhan masyarakat yang begitu cepat berubah.

 

Kurikulum pendidikan, yang merupakan salah satu masalah tidak tepatnya implementasi pendidikan, seharusnya disusun dengan analisis kebutuhan siswa yang mendalam. Penyusunan kurikulum pendidikan, seperti halnya penentuan kebutuhan sebuah perangkat lunak, sewajarnyalah melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang terkait, seperti pengajar, orang tua murid, pakar pendidikan, pakar agama, bahkan seniman. Dengan demikian, pengajaran yang diberikan di bangku-bangku sekolah dapat menjadi sarana transformasi peserta didik menjadi manusia yang seutuhnya.

 

Setelah itu, setelah kurikulum itu diimplementasikan menjadi bahan ajar di bangku sekolah, sudah selayaknyalah bahan ajar tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan di mana pendidikan tersebut ditanamkan. Jangan samakan pengajaran anak-anak kota Jakarta dengan anak-anak dari pedalaman Papua. Mungkin saja anak-anak kota perlu diajari tentang penghitungan neraca perusahaan, dan masyarakat pedalaman hanya perlu diajari tentang bercocok tanam.

 

Jika pendidikan Indonesia tetap kaku dan tidak memanusiakan manusia, dapat dibenarkanlah ucapan Rendra, “(pendidikan telah) terlepas dari persoalan kehidupan”.

 

=======================================================

Dibuat sebagai tugas kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi

*daripada cuma mejeng folder kuliah*

**rada sotoy juga sih, habis disuruh ngehubung2in dengan jurusan. Ane kan IF nyasar**

0

Siapa Bilang Wanita Butuh Berita?


Kalimat di atas terinspirasi dari sebuah slogan majalah wanita, “Siapa bilang wanita tak butuh berita?”

Saya justru bertanya sebaliknya, emang butuh? But, wait! Berita cem apa yang tak dibutuhkan? Awak numpang nyotoy dulu yak!

  1. Berita gosip artis dan sebagainya
    Acara infotainment (gosip-red) kayaknya ada di hampir semua stasiun tivi, dan semua waktu. Pagi-pagi ada insert, silet. Siang ada insert lagi. Sore ada Kiss. Malam ada sinden sip sip sip. *kok hapal sih, lo, Bos?* Iyee, awak nyari-nyari di google ini.. *penting banget sih*
    Coba bayangkan jika setiap hari kerjaan ibu-ibu cuma nonton berita gosip? Kalo dari psikologinya saya analisis begini. Manusia Indonesia sekarang (apalagi ibu-ibu), tingkat stress-nya sangat tinggi. Mikirin mulai dari biaya makan sehari-hari, anak sekolah, pajak, cicilan rumah, sampe ongkos. Selain itu, kondisi keseharian yang buruk juga nggak bisa dihindari: macet, lingkungan kotor, panas, petugas pemerintah yang tak ramah, kemalingan. *Oke, stop curhatnya, Bos*
    Nah, balik lagi ke tingkat stress yang tinggi. Program infotainment menayangkan banyak berita, mulai dari berita bahagia sampe berita sedih. Tapi kebanyakan berita adalah berita duka. Penonton akan berpikir seperti ini, “Dia yang artis aja ngerasain sedih, jatuh, dan terluka”. Maka kemungkinan besar beban si ornag tersebut akan berkurang, dengan menyaksikan bahwa ada orang lain yang punya beban juga. Tapi live must go on, bu.. Kita harus kembali ke dunia nyata dan nyari solusi (bukan malah nyari temen sepenanggungan)
  2. Berita dari ibu-ibu tetangga sebelah kalo dia beli kulkas baru
    Nggak cuma kulkas baru sih.. Bisa TV baru, AC baru, mesin cuci baru, mobil baru, dst dst. Saya coba liat dari aspek psikologinya lagi *gaya lo, Bos! Anak jurusan psikologi aja bukan!*
    Sesuatu yang sangat menyilaukan wanita adalah harta. Maka, jika ada orang lain yang memiliki sesuatu yang lebih, maka ibu-ibu ini akan cenderung iri dan menginginkan hal yang sama. Akibatnya? Menambah stress si ibu, tuntutan korupsi pada suami (ini kata dosen PKN lho), dan sifat konsumtif pada anak.
  3. Sinetron-sinetron yang nggak mutu (nggak cuma sinetron sih..)
    Remaja putri di Indonesia sekarang disuguhi berbagai adegan-adegan, mulai dari ngebentak orang tua, ngerokok, pacaran, nyontek, nge-gank, sampe dugem-dugem gak jelas. Lama-kelamaan pola pikir yang terbentuk adalah, “kalo gue gak melakukan hal yang sama kayak di tivi, maka gue adalah orang gak gaul, abnormal, ansos, autis”
    Coba bayangkan kalo memori yang masuk ke kepala mereka adalah tentang semangat perjuangan, pengorbanan untuk negara, semangat belajar, semangat ibadah, dll?

Sekian dulu ke-sotoy-an dari saya. Kalo ada yang nggak berkenan, silakan disampaikan 😀

0

Budaya Kita yang Hilang


Beberapa saat yang lalu, kita sempat kebakaran jenggot karena banyak budaya kita yang di-claim oleh bangsa lain (atau pun oleh seorang oknum dari bangsa lain), mulai dari lagu hingga makanan khas daerah. Namun apakah kita sadar bahwa sebenarnya banyak sekali kebudayaan kita yang sedikit demi sedikit lepas, seperti air yang merembes keluar dari genggaman tangan? Namun apakah kita sadar, bahwa sedikit demi sedikit kita dilumuri oleh kebudayaan asing, yang nilainya bahkan bertentangan dengan nilai luhur Indonesia?

Berapa sering kita telah meninggalkan budaya ramah tamah? Dahulu Indonesia dikenal sebagai rumahnya orang-orang ramah. Sekarang? Apakah kita masih membiasakan bersapa dan salam dengan tetangga? Apa yang lebih kita utamakan, memperhatikan keadaan orang lain atau ber-BB-ria dalam angkot?

Berapa kali kita telah mengkhianati budaya jujur dan integritas? Berapa sering kita menyontek dalam ujian? Berapa sering kita menyalin laporan praktikum? Berapa sering kita berbohong pada orang tua? Berapa lama lagi kita akan menjadi bangsa nomor sekian terkorup?

Berapa lama kita telah melanggar budaya sopan santun? Masihkah kita menghormati orang yang lebih tua? Masihkah kita menghargai norma tempat kita berpijjak? Masihkah kita memiliki malu untuk berpakaian tidak sopan?

Kemudian, apakah benar pakaian-pakaian mini yang dijejalkan kebudayaan barat ke dalam keseharian kita sesuai dengan nilai-nilai luhur Indonesia? Lalu bagaimana dengan adegan-adegan tidak senonoh yang diumbar sembarangan di depan umum, dan dipaksakan masuk ke dalam memori anak-anak Indonesia?

Saya rasa, selain menjaga budaya fisik, kita juga harus menjaga nilai dari budaya itu sendiri. Apa pendapat Anda?