0

Ruqiyah dan Kedudukannya dalam Islam


Pengajian Cewe-cewe RCTI *gak rela dibilang pengajian ibu2*
Jumat, 24 Mei 2013

Ruqiyah secara bahasa artinya adalah terapi dengan menggunakan jampi-jampi atau mantra-mantra.

Ruqiyah terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Ruqiyah Syirkiyah, yang sudah ada sejak zaman sebelum Rasulullah, dan banyak diadposi menjadi berbagai jenis mantra seperti “abrakadabra”, “til kotal katil, segala penyakit disentil” *ini salah satu yang dibilang ibunya loh, bukan saya yang ngarang-ngarang*
  2. Ruqiyah Syar’iyah, yaitu terapi dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa perlindungan yang bersumber dari Rasulullah SAW.

Kedudukan Ruqiyah dalam Islam:

  • Sebaiknya kita tidak meminta untuk di-ruqiyah, baik yang syar’iyah, apalagi yang syirkiyah. Ini berdasarkan hadits yang berbunyi:

    Akan masuk al jannah dari umatku tujuh puluh ribu tanpa hisab dan adzab (dalam riwayat lain; wajah-wajah mereka bercahaya bagaikan cahaya rembulan di bulan purnama).” Kemudian Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berdiri dan masuk ke dalam rumah. Sementara para shahabat Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menduga-duga siapakah golongan mereka itu. Diantara para shahabat ada yang menduga; “Semoga mereka adalah orang-orang yang menjadi shahabatnya”. Yang lainnya mengira; “Semoga mereka adalah orang-orang yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak pernah berbuat kesyirikan”, dan perkiraan-perkiraan yang lainnya. Kemudian Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam keluar dari rumahnya dan mengkhabarkan sifat golongan yang bakal menjadi penghuni al jannah tanpa hisab dan adzab. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta kay (praktek pengobatan dengan menempelkan besi panas atau semisalnya pada bagian tubuh yang sakit), tidak meminta ruqyah, dan tidak pula berfirasat sial (dengan sebab melihat sesuatu yang disangka ganjil seperti burung dan semisalnya), serta mereka bertawakkal penuh kepada Rabb mereka.”  Kemudian Ukasyah bin Mihshan berdiri seraya berkata: “(Wahai Rasululloh) berdo’alah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala supaya aku termasuk golongan mereka. Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: “Engkau termasuk dalam golongan tersebut”. (HR: Al Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 374)

    Jadi sebaiknya kita tidak minta di-ruqiyah karena akan menghilangkan kesempatan masuk surga secara langsung, kecuali jika orang lain yang dengan inisiatifnya sendiri yang me-ruqiyah kita.

  • Lebih utama kita melakukan ruqiyah mandiri, yaitu kita sendiri yang membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan doa yang dicontohkan Rasul.
  • Boleh menolong orang lain untuk di-ruqiyah dan boleh menerima upah jika diberi (tentunya dengan tujuan utama bukan untuk menerima upah).

Untuk apa ruqiyah dilakukan?

Ruqiyah dilakukan untuk perlindungan dan penjagaan diri dari pengaruh buruk pandangan jahat manusia dan jin, berupa:

  • Kesurupan
  • Sihir
  • Gangguan kejiwaan, baik yang sifatnya pikiran negatif, perasaan negatif, penyakit hati, atau penyimpangan psikologis

Ternyata salah satu bisikan setan itu adalah KEABADIAN. Begitu banyak orang yang ingin terlihat muda selalu, cantik selalu, kaya selalu, dan lain-lain selalu. Makanya, sering-sering me-ruqiyah diri! Sayangi jiwamu 😀

Pedoman (?) ruqiyah:

  1. Bacaan ruqiyah dari ayat Al-Qur’an atau doa yang dicontohkan Rasulullah
  2. Doa yang dibacakan harus jelas dan diketahui maknanya
  3. Berkeyakinan bahwa ruqiyah tidak akan berpengaruh tanpa izin dari Allah SWT
  4. Tidak meminta pertolongan kepada jin atau apa pun selain Allah
  5. Tidak menggunakan benda-benda yang berpotensi menimbulkan syubhat atau syirik
  6. bersambung… *waktunya keburu abis.. Tapi insyaa Allah pekan depan bakal dibagiin print out slide-nya, yeay~

Terharu :’)

Pengajian cewe-cewe RCTI ini selalu menginspirasi saya..

Advertisements
0

Lagi Ngapain, Nak?


Kemarin saya ikut acara pelatihan mendongeng di Yayasan Karya Pemuda, di dekat rumah. Saya diberi tugas untuk menjaga stand bazar di depan ruangan acara. Di sana ada saya menjaga penjualan wayang-wayangan untuk mendongeng, DVD mendongeng, dan boneka tangan (promosi: ada yang mau beli boneka tangan? Hehe).

Anak-anak kecil yang datang di acara itu senang sekali melihat berbagai macam wayang lucu mampir di depan mereka. Serentak mereka langsung mengambil beberapa untuk dilihat. Ya sudah, sekalian saya saya minta bantuan mereka untuk mengelompokkan wayang berdasarkan gambarnya. Mereka senang membantu. Saya pun senang dibantu.

Tapi beberapa saat kemudian ada beberapa ibu yang bilang ke anaknya, supaya duduk tenang dan tidak mengganggu. Saya jadi mikir, kok banyak ibu-ibu yang mendahulukan negative thinking kepada anak-anaknya sendiri, ya? Setidaknya tanyakan dulu, “lagi ngapain, Nak?”

Kan mereka sedang membantu, bukan memporakporandakan dunia *lebay*. Dulu saya juga kalau mau bantu masak di dapur, pasti selalu diusir. Takut mengganggu katanya. Padahal kan bisa berikan tugas super ringan kepada si anak. Selain melatih tanggung jawab dan kepercayaan diri, membuat anak senang, bisa membantu sepersekian persen kerjaan orang tua juga.

2

Sekelumit Cerita Sekolah Bermain Balon Hijau (1)


Waktu: Sabtu 12 Mei, hari yang telah direncanakan untuk pengajian ibu-ibu (orang tua murid) SBBH.

Lokasi: Masjid Istiqlal Tubagus Ismail, lantai dasar.

Saya datang pas acara sedang dibuka oleh Bu Guru Yangie. Bu Guru yang lain belum datang. Acara dimulai dengan membaca tilawah surat Al-Baqarah ayat 26-50. Saya ikut-ikutan ngaji di samping Bu Guru Yangie, dengan tempo ngaji dan intonasi yang berbeda-beda dari para ibu. Walaupun begitu, saya senang, ibu-ibunya semangat banget ngajinya. Di tengah halaman ketiga, satu dua anak yang ikut serta bersama sang bunda mulai keluar dari ruangan. Dan inilah tanda bagi saya: Yak, Baby Day Care dimulai!

**FYI, di pengajian ibu-ibu sebelumnya, Baby Day Care ini adalah kegiatan yang sangat menguras energi dan suara. Sementara ibu-ibu mendengar materi, anak-anaknya berlarian di luar masjid, ada yang main perosotan di samping tangga batu, ada yang ngubek-ngubek kolam ikan, ada yang naik-naik ke lantai dua, ada yang naik-naik ke tangga vertikal di menara, ada yang manjat pohon kelapa, dan ada yang manjat bedug (walaupun gak begitu tinggi, bener deh, saya takut penyangga bedugnya roboh, trus bedugnya jatuh nimpa mereka)**

Baiklah, saya letakkan Al-Qur’an saya dan mulai mengejar mereka keluar. Ternyata mereka “hanya” berlarian. Oke, aman. Kemudian saya ajak mereka masuk untuk baca buku cerita. Mereka semangat banget kalo udah liat hal baru. Apalagi gambar-gambar di buku cerita. Setiap pergantian detik, pasti ada yang bertanya, “Bu Guru, ini apa?”, “Bu Guru, ini sapi!”, “Bu Guru, ada rumah!”

Beberapa saat kemudian, Alhamdulillah, Bu Guru Susan dateng!! Maka konsentrasi pertanyaan terbagi dua. Kemudian Bu Yangie nyuruh untuk bagi-bagi kue di piring kecil dan dikasih ke ibu-ibunya. Saya rasa ini adalah kesempatan yang bagus untuk melibatkan anak-anak, supaya mereka juga latihan bekerja sama (selain supaya mereka teralihkan dari piikiran untuk manjat-manjat tentunya).

Saya: “Siapa mau bantu Bu Guru bagi kue?”

Anak-anak: “Akuuu!!” << mesti gak ngerti disuruh ngapain, pasti mereka jawab dengan semangat menggebu-gebu “Akuuu!!”

Saya: membagikan piring kertas ke beberapa anak, “piringnya dijejerin di lantai ya, nanti kita isi kue”

Helmi (yang belum kebagian piring): “Helmi juga mau” dengan suara agak merajuk

Saya: “Jaziya, piringnya minta dikit ya..”

Jaziya: “Gak mauuuu” suaranya juga merajuk

Iksal: “Aku piringnya ada tiga”

Adit: “Ibu Guru, aku juga mau tiga piringnyaaa”

Helmi: “Ibu Guru, mau piring”, suaranya tambah memelas

Saya: “Nih, Helmi bagiin kuenya aja ya?”

Helmi: “Gak mauu, mau piriiing” tapi sebungkus kue yang saya sodorkan diambil juga olehnya

Saya: Ngasih kue yang paling terlihat cantik ke Jaziya. “Jaziya, bagiin kuenya ya.. Piringnya ditata dulu di lantai”, ketika dia lengah, saya ambil beberapa piringnya dan saya kasih ke Helmi. Yes, berhasil!

Bu Susan: Membantu menata beberapa piring di lantai

—kehebohan masih berlanjut tentang siapa yang megang piring, siapa yang piringnya tiga, siapa yang belum dapat piring—

Saya: “Nih, kuenya ditaro di piring, kayak gini, satu piring ada tiga jenis kue yaa” sambil naro kue yang dari mie di beberapa piring yang udah ada di lantai

Jaziya: Meletakkan piring-piringnya di lantai, sambil menata kue di piring. Ketika dia sedang menata kue, saya ambil satu per satu piring dan memberikannya ke Adit.

Adit: “Yee, piringnya tiga!” Yes, berhasil!

Helmi: “Piring aku lima!” << saya mulai was-was kalo-kalo Adit minta nambah piring lagi, ternyata nggak

—beberapa saat kemudian mereka asik menata kue-kue di piring di lantai—

Saya: “sekarang siapa yang mau bantu ngasih kuenya ke mama-mama?”

Anak-anak: krik krik krik, gak ada yang jawab, pada asik nyusun kue.

Saya: “Dit, ini kuenya kaih ke mama Adit coba..” Adit dan Aksal mengambil beberapa piring dan mulai membagikannya ke ibu mereka. Mereka lari-lari bawa piring kue itu.

Saya: “Pelan-pelan ya bawanya!”

Mereka berdua: jalan pelan-pelan, terus membagikan kue ke ibu mereka. Nampaknya mereka ketagihan. Mereka balik lagi dan ngambil kue lagi.

Saya: “Jangan yang itu, itu masih belum tiga isinya. Nih, yang kayak gini, udah ada tiga isinya.” Ngasih piring kue yang memenuhi spek. “Kasih ke mama-mama yang lain yaa” << saya takut mereka ngasih ke mama mereka lagi, hehe. Tapi mereka pintar kok 😀

—Beberapa anak ikut membagikan kue. Satu kue sukses ngegelinding, gapapa cuma satu, haha—

Saya: mengambil beberapa piring berisi kue di hadapan Syifa.

Syifa: “itu kan punya akuu!”

Saya: “Lho, ini kan mau dibagiin, Syifa.. Emang Syifa mau makan semua?”

Syifa: masih cemberut, tapi mungkin dia mikir, “o, iya juga!”, soalnya mukanya berubah

Saya: “Nih, Syifa ambil satu aja”

Syifa: masih cemberut, tapi ngambil juga kuenya itu. Dia lalu ‘mengamankannya’

—Kemudian mereka membagikan air mineral—

Setelah acara bagi kue yang heboh itu, kami baca buku cerita (lebih tepatnya Bu Susan membacakan buku cerita, sementara anak-anak mendengarkan), rebutan buku cerita, main petak umpet (yang anehnya, mereka berebut jadi yang jaga. Kalo saya sih dulu berebut untuk gak jaga, hoho).

Yak, Baby Day Care kali ini tidak se-chaos yang pertama. Mereka sangat mau diajak bekerja sama 🙂

-Terkadang mereka hanya perlu contoh-

Oiya, materi pengajian ibu-ibunya bisa dilihat di http://yangiedwimp.wordpress.com/2012/05/12/versi-curcol/

0

Shifu, Oogway, Tai Lung, dan Kita


Ada yang pernah nonton film Kungfu Panda? Film ini menceritakan tentang seekor Panda bernama Po yang sangat tergila-gila pada kungfu. Suatu hari dia ditunjuk oleh guru Oogway  (seekor kura-kura) untuk menjalani kehidupan baru sebagai calon pendekar naga. Namun ia yang memiliki berat badan berlebihan dan selera makan besar sangat kesulitan untuk mengikuti pelatihan kungfu. Ceritanya Pendekar Naga inilah yang nantinya ditakdirkan untuk menjaga desa dari musuh. Salah satu musuhnya bernama Tai Lung, narapidana penjara Chorh Gom (Tai Lung dimasukkan penjara oleh Oogway). Guru Oogway mempunyai seorang (?) murid dan calon pengganti bernama Shifu (yang sepertinya seekor musang atau sejenisnya, saya juga kurang tau pasti). Shifu ini dulunya adalah guru dari Tai Lung. Tapi Tai Lung menjadi jahat karena tidak diizinkan memiliki Dragon Scroll (ceritanya ini isinya jurus rahasia gitu).

Tapi kita tidak akan bercerita tentang si tokoh utama, karena tokoh utama sudah bosan untuk diceritakan. Kita akan menelaah sedikit tentang suatu adegan. Di adegan itu, Oogway memanggil Shifu untuk memberitahukan bahwa dia memiliki firasat akan kedatangan kembali Tai Lung untuk membalas dendam. Karena ketakutan, Shifu segera memanggil anak buahnya yang bernama Zeng (seekor burung, bebek, atau yang sejenisnya). Shifu menyuruh Zeng untuk pergi ke penjara Chorh Gom dan memberitahukan penjaga di sana untuk melipatkan penjagaan. Zeng segera pergi. Adegan di scene ini diakhiri dengan ucapan Oogway yang kurang lebih isinya kayak gini: Kita terkadang mengambil jalan untuk menghindari sesuatu, tapi justru jalan itu membimbing kita lebih cepat menuju sesuatu yang kita hindari itu.

Benar saja, datangnya Zeng ke penjara itu justru membantu Tai Lung untuk lebih cepat membebaskan diri dari belenggu penjara. Salah satu dari bulu Zeng (berhubung dia seekor unggas) tidak sengaja jatuh ke dalam tempat pengurungan Tai Lung, dan justru digunakan Tai Lung untuk membuka kunci belenggunya. Jeng jeng jeng!!! Tai Lung pun bebas!

Kenapa saya tertarik untuk membahas ini? Karena terkadang kita melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Shifu. Kita terlalu tergesa-gesa untuk bertindak karena ingin menghindari sesuatu. Kita terlalu ingin masalah cepat selesai. Kita bahkan ingin agar masalah itu dihindari sedini mungkin. Tapi pernahkah kita berpikir, benarkah masalah itu memang harus dihindari? Atau bahkan benarkah masalah itu sesungguhnya really exist?

Seseorang yang berkata, “eh, si A berantem ya sama si B?”, atau “eh, si akhwat C ada apa-apanya ya dengan ikhwan D”, dengan informasi yang tidak tepat ke orang yang tidak tepat mungkin dapat menjadi representasi shifu dalam studi kasus ini. *sejujurnya kalimat di atas sangat tidak bagus, karena sangat panjang tanpa titik*

Terjadi masalah kecil antara A dan B. Mungkin sang Shifu ingin menghindari pertengkaran yang lebih hebat antara A dan B. Namun, bayangkan Anda sebagai orang ketiga yang mendapat informasi tersebut. Anggap saja nama Anda E. E bertanya ke A, benarkah A bertengkar dengan B. A merasa baik-baik saja. A justru “berprasangka buruk” B-lah yang menyebarkan berita tidak baik tentang hubungan mereka. Akhirnya mereka benar-benar bertengkar.

Begitu pula dengan kasus kedua *saya malas menjabarkannya panjang lebar*

Intinya, mari menjadi lebih bijaksana dan tidak tergesa-gesa *sendirinya juga, ga!*

0

Seandainya Bapak-Bapak Pejabat Itu Ikut Mentoring


Hari ini saya menghadiri mentoring-mentoring agama yang sangat menyenangkan! Di sana saya belajar dan diingatkan tentang banyak hal. Pagi hari, kami membahas tentang sirah Rasulullah Muhammad SAW. Siang hari, kami membahas tentang ukhuwah. Sore hari, kami membahas tentang prioritas amal. Setidaknya, ada beberapa hikmah mentoring yang saya sintesiskan dari hari ini:

  1. Menambah wawasan dan pengetahuan
    Tadi saya baru tahu kalo kebocoran nuklir di Jepang tuh ternyata sudah mereda emisinya. Dan katanya nuklir itu aman, asalkan pelindung nuklirnya digandakan.
  2. Charger ruhiyah
    Ketemu temen-temen yang lain, ngobrol sama adik-adik, tilawah, berdoa, membahas keagamaan, dll bener-bener bisa bikin ruhiyah kita kembali fresh!
  3. Sarana saling mengingatkan
    Tadi kami saling mengingatkan untuk itsar, untuk menggali sirah rasul lebih dalam, untuk tidak menunda-nunda shalat, dll. Kami juga ngebahas tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang keren banget. Bayangkan, ketika anaknya ingin bicara di ruangan Umar, dia pertama bertanya dulu, “hal apa yang ingin dibicarakan, urusan umat atau urusan pribadi”. Anaknya menjawab bahwa itu adalah urusan pribadi. Maka sekonyong-konyong, Umar mematikan lampu yang menerangi ruangannya. Anaknya bertanya, kenapa beliau mematikan lampu. Beliau menjawab, “lampu ini nyalanya dibiayai dari uang umat. Maka ketika kita akan membicarakan urusan pribadi, kita tidak pantas menggunakannya”. Kira-kira begitu lah..
  4. Mengeratkan ukhuwah
    Di sana kami berbagi masalah satu dengan yang lain, dan berusaha bersama mencari solusinya.
  5. Meningkatkan awareness pada keadaan sekitar
    Tadi kami seru banget pas ngobrolin tentang fiqh prioritas dan hubungannya dengan fiqh perbandingan. Sampe menyangkut-nyangkut ke nuklir, rektor, masjid, utang negara, gedung DPR, dll.

Saya jadi mikir, coba pejabat-pejabat di pemerintahan dan di semua tingkatan ikut mentoring.. Pasti korupsi bisa diminimalisir dengan sangat efisien. Kalo ada satu orang yang kesulitan uang, dia bisa sharing dengan teman sekelompoknya. Dan mungkin aja temen sekelompoknya bisa bantuin, jadi dia nggak perlu ngambil uang yang bukan haknya. Kalo ada yang tergoda suap atau korupsi, ada tempat saling mengingatkan. Kalo dia lagi pengen nepotisme, dia teringat lagi dengan kisah-kisah Rasul jaman dahulu yang bahkan pernah berkata bahwa kalo anaknya mencuri, dia gak akan segan-segan memberlakukan hukuman yang sama. Kalo dia lagi capek kerja, dan akhirnya memutuskan untuk korupsi waktu. Maka dengan mentoring, dia akan ter-charge lagi semangat dan ruhiyahnya dengan mentoring.

Ya begitulah kira-kira..

0

Tak Mungkin Kau Menyukai Air Tapi Membenci Basah


Saya sangat suka main air, apalagi di sungai atau pantai. Saya senang merasakan aliran air menarik-narik kaki saya. Saya sangat suka main air. Tapi ada yang saya tidak senangi setelahnya. Saya tidak suka basah setelah bermain air. Rasanya tidak enak. Hal itu menjadikan rasa kering setelahnya menjadi menyenangkan, lebih menyenangkan dari rasa kering sebelumnya. Seperti jika kau harus berdiri lama di metromini, dan tiba-tiba ada seorang penumpang yang turun memberikan kursinya padamu. Pasti kesempatan untuk duduk itu akan sangat-sangat kau syukuri dibandingkan ketika kau duduk di kelas, di ruang tamu, atau di atas kasurmu.

Sama halnya seperti bekerja “dakwah”. Dalam dakwah, kau akan ditemani dengan ukhuwah di antara saudara-saudarimu. Namun selain itu, kau juga harus kehilangan sejenak waktumu untuk belajar demi IP 4, kehilangan waktu bersantaimu, merelakan pikiranmu untuk memikirkan nasib umat, dan mungkin kehilangan kesempatan untuk sedikit memikirkan kesehatanmu.

Tapi janji yang ditawarkan Allah setelahnya terlalu indah untuk dilewatkan: pahalaNya yang berlipat-lipat dan terus mengalir. Hebat bukan? Berlipat-lipat dan terus mengalir! Berlipat-lipat karena ketika kau menginspirasi satu orang kepada jalan cahaya, dan orang itu menginspirasi orang-orang berikutnya, maka pahalanya juga akan sampai kepadamu. Terus mengalir karena walaupun kau sudah tidak bisa berkarya di bumi Allah ini, selama yang kau ajarkan terus dipergunakan, pahalanya akan terus sampai padamu.

Pahala. Mungkin itu adalah sebuah kata-kata abstrak bagimu. Namun mengapa kau tak anggap abstrak kata-kata takut, cinta, kecewa, benci, kasih, dan sebagainya? Yak, dia hanya perlu dipercayai keberadaannya. Sama halnya ketika seseorang tidak mempercayai adanya rasa takut, cinta, atau benci, maka ia tidak akan pernah merasakannya.

===============================================================

*Mulai absurd, loncat-loncat. Yaudahlah ya..