1

Cinta dalam Sepotong Kepala Ikan


Oke, ini judul buku. Ceritanya lagi pergi ke gramedia untuk nyari frame foto untuk plakat pembicara diklat kominfo. Trus iseng-iseng ke bagian yang jual buku, berniat nyari buku sastra yang dianjurkan dosen Apresiasi Sastra. Gak jadi beli, bukunya serem-serem semua. Baiklah, saya naik ke lantai 3 1/2, yang dijejali dengan novel-novel beraneka ragam. Trus ngeliat buku ini. Cinta dalam Sepotong Kepala Ikan. Cover-nya ke-Arab-Arab-an gitu. Penerbitnya Salsabila, ditulis oleh Ahmad K. Syamsudin. Di bagian kiri atas ada tulisan “60 Kisah Hikmah Kehidupan untuk Perubahan”.

Berhubung harganya di bawah 20.000 dan kayaknya lumayan untuk bahan tausiyah waktu mentoring, akhirnya saya beli buku ini. Daaann, cerita-ceritanya bagus bangett!

Ada cerita tentang masjid Shanke Yadem di Istanbul, yang dibangun oleh seseorang yang sangat sederhana. Orang-orang bingung kenapa dia bisa membangun masjid tersebut padahal hidupnya sangat sederhana. Orang itu menjawab kalo dia selalu menabung dengan menghemat kebutuhan sehari-harinya dengan mengatakan “shanke yadem” yang artinya “anggap saja saya sudah makan”. Jadi dia kalo ngiler ngeliat suatu makanan yang pengen dia beli, dia selalu mensugesti dirinya dengan kalimat itu dan alih-alih membeli, dia menyimpan uang itu untuk menggapai cita-citanya membangun masjid.

Cerita yang menjadi judul buku ini adalah cerita tentang sepasang suami istri yang sudah menikah selama 50 tahun. Pada perayaan ulang tahunnya yang ke-50, dihidangkan sebuah makanan yang terbuat dari ikan kepada keduanya. Seperti biasa, sang suami langsung mengambil kepala ikan dan memberikan kepada istrinya. Namun sang istri berkata, “sudah puluhan tahun aku tidak makan daging ikan karena menghormatimu. Tapi sekarang aku tidak bisa menahannya lagi” (kurang lebih begitu lah). Si suami membalas, “maafkan aku, istriku. Sebenarnya kepala ikan adalah bagian yang paling kusukai dibanding daging ikan yang banyak durinya. Namun aku ingin memberikan yang terbaik untukmu.” Intinya si penulis menekankan pentingnya komunikasi.

Ada juga kisah nabi Sulaiman dengan semut, beberapa kisah Abu Nawas, beberapa kisah Rasul Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya, dan banyak lagi kisah yang menarik.

Gak nyesel beli buku itu :’)

0

Sudut Pandang Demokrasi dalam Islam


Judul buku: Menikmati Demokrasi

Pengarang: M. Anis Matta

Penerbit: Insan Media Publishing House

Tahun terbit: 2007

Jumlah halaman: ii+187 halaman

 

Indonesia, sejak tumbangnya pemerintahan orde baru, mulai mengusung sistem demokrasi dalam segala bidang kehidupannya. Politik Indonesia pun menggeliat untuk menyesuaikan diri dengan sistem baru ini. Partai-partai politik bermunculan, termasuk partai-partai yang bernapaskan Islam, yang mencoba mengakomodasi idealisme mayoritas warga negara di Indonesia, Muslim. Namun masih banyak umat Muslim itu sendiri yang memisahkan antara kegiatan dakwah dan kegiatan politik. Mereka beranggapan bahwa Islam yang murni, adalah Islam tanpa politik. Tak jarang pula yang menganggap hina orang –orang yang terjun dalam panggung politik di pemerintahan.

Anis Matta melalui tulisan-tulisannya di majalah Saksi, yang kemudian dibukukan, mencoba mengubah paradigma tersebut. Judul “Menikmati Demokrasi” menggambarkan pola pikir penulis yang mencoba menyangkal pendapat demokrasi sama dengan kebebasan tanpa batas. Demokrasi saat ini, tulis beliau, hanya memfasilitasi munculnya semua potret imajinasi akan kebebasan, tapi kemudian melarang orang-orang mempertanyakan bagaimana akhirnya potret itu.

Walaupun saat penulisan buku ini penulis menjabat sebagai sekretaris jenderal salah satu partai politik, tak satu pun tulisannya yang mengarah pada kepartaian atau kampanye. Semuanya hanyalah grand design dakwah yang mengalir dari pikirannya ke dalam tulisan.

Buku kumpulan artikel ini membahas tentang demokrasi, dakwah, bagaimana pandangan serta sikap Islam tentang demokrasi, dan strategi dakwah pada era demokrasi. Kumpulan tulisan ini memang tak ada yang baru. Ini hanya proses cetak ulang. Tak ada revisi maupun tambahan tulisan. Tidak dapat disangkal, mungkin saja ada beberapa tulisan yang sudah tidak berkaitan dengan kondisi sekarang. Tapi tentu banyak hal-hal strategis yang relevan untuk diaplikasikan dalam politik dakwah ini.

Salah satu artikel paling menarik dalam buku ini adalah artikel berjudul “Mari Kita Berhenti Sejenak”. Melalui artikel ini, Anis Matta mengajak para pembaca untuk berhenti sejenak dari rutinitas sehari-hari dan melakukan evaluasi dan re-planning pembangunan Indonesia.

Selain artikel awal tersebut, masih banyak pikiran Anis Matta yang tertuang dalam analisis lugas pada artikel-artikel lainnya. Sehingga berbeda dengan buku lain, buku ini tidak hanya dijejali dengan fakta, tetapi juga dengan kajian mendalam mengenai masalah, potensi, dan solusi yang ditawarkan Islam.

Buku ini sebaiknya dibaca oleh para pengamat politik, para ulama, juga para aktivis nasional, sehingga mereka dapat mendapatkan gambaran tentang politik, Islam, dan pergerakan secara lebih integral. []

 

==========================================================

Dibuat sebagai tugas kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi

*daripada cuma numpuk di folder kuliah*