0

Kuasa


Ceritanya saya kemarin pulang dr Kebon Jeruk ke Cimanggis. Seperti biasa, saya naik transjakarta. Setelah penantian panjang, akhirnya bus gandeng merah gagah tiba di halte. Saya dan banyak penumpang yang lain pun naik ke dalam bus yg sudah bejubel.

Bersama saya, naik juga seorang ibu-ibu tua. Karena bangku sudah penuh terisi oleh cewe-cewe muda, maka si ibu itu terpaksa berdiri. Dan yang saya kesalkan adalah petugas bis yang tidak menunjukkan effort lebih untuk mengusir penumpang muda, agar si ibu tua bisa duduk.

Setelah lewat beberapa halte, penumpang yang duduk di depan tempat saya berdiri, turun. Otomatis ada bangku kosong. Saya melihat ke arah ibu tua tersebut hendak memanggilnya. Eeeh, baru nengok sedikit, sudah ada mba-mba yang menduduki bangku tersebut. Saya sebegitu menyesalnya. Kenapa bangku tersebut tidak saya kuasai terlebih dahulu, agar kemudian bisa saya berikan kepada orang yang berhak?

Sepanjang beberapa meter berikutnya saya (berusaha) memberikan pandangan “menakutkan” ke si mba tersebut. Haha..

Alhamdulillah, akhirnya ada lagi salah seorang penumpang di depan saya yang turun. Segera saya hadangkan kaki untuk melindungi tempat duduk tersebut (walaupun saya jadi agak menggencet mba-mba yang berdiri di samping saya. Heu, maaf ya, mba -,-). Saya panggil si ibu tua, dan saya tunjuk tempat duduk kosong. Si ibu duduk dan saya senang, nyohoho 🙂

Mungkin ini terdengar menyeramkan. Tapi saya menyukai kekuasaan. Sangat suka. Yang mana kekuasaan tersebut bisa saya gunakan untuk kepentingan yang benar. Termasuk sesimpel kekuasaan atas satu bangku kosong di bus TransJakarta.

May Allah always guides us!

Advertisements