0

Essay: Sukses Terbesar dalam Hidupku


Perkenalkan nama saya Mega. Saya adalah orang yang selama ini agak penakut, yang jarang bisa tampil di muka umum, dan terlalu perhitungan dengan risiko. Maka inilah yang menurut saya merupakan keberhasilan terbesar saya: Sekolah Bermain Balon Hijau. Itu adalah tempat saya bisa keluar dari diri saya yang penakut, tempat saya belajar tampil di muka umum, dan tempat kejadian langka terjadi: kespontanan terjadi dari diri saya.

Saat itu merupakan tahun-tahun terakhir masa perkuliahan saya. Saya dan dua orang teman sedang merenungi tentang kontribusi kami untuk masyarakat sekitar. Saat itu karena kami sudah menjadi angkatan tua, maka kami sudah tidak banyak mengikuti organisasi-organisasi di kampus, dan kami merasa hampa. Maka tercetuslah ide tersebut, ide untuk membuat sebuah sekolah anak-anak.

Kami secara spontan menyetujui ide tersebut. Kami bertiga merupakan mahasiswa jurusan teknik yang tidak memiliki latar belakang kuliah pendidikan, atau psikologi, atau yang sejenisnya. Kami yang akan mengajar langsung. Yang diajar adalah anak-anak usia dini yang bahkan belum lancar berkomunikasi dan memahami perkataan orang lain. Maka saya anggap itu adalah ide yang cukup gila.

Kespontanan itu berlanjut. Keesokan harinya kami langsung mendatangi sebuah PAUD, dimana teman kami yang jurusan Psikologi UI mengajar. Kami meminta panduan kurikulum dari beliau. Setelah itu, kami mendatangi teman lainnya yang mempunyai usaha cafe di daerah Tubagus Ismail. Cafe tersebut baru buka di sore hari, sehingga kami meminta izin untuk menggunakannya di pagi hari. Gayung bersambut, permintaan kami disetujui. Beberapa hari kemudian, kami langsung mengunjungi ketua RT/RW setempat untuk meminta izin, dan jalan kami ternyata mulus.

Namun ada masalah selanjutnya. Bagaimana mengumpulkan murid-murid yang akan belajar? Ketua RW waktu itu mengusulkan untuk menyebar brosur di kegiatan posyandu yang akan digelar minggu depan. Maka kami langsung membuat brosur sederhana, dan tiga orang ini mencemplungkan diri di kegiatan posyandu hari itu. Kami menyelinap di antara ibu-ibu yang sedang menimbang berat badan bayi, untuk menyebarkan brosur dan memberikan penjelasan. Saat itu hanya sedikit ibu-ibu yang mendaftar.

Hari pertama sekolah dimulai, dan kami bertiga yang langsung terjun mengajar anak-anak itu. Jumlah yang sedikit saat pendaftaran ternyata berkembang pesat menjadi tiga kali lipat saat hari pertama sekolah, berkat kekuatan gosip ibu-ibu.

Kami pun mengajak teman-teman sesama mahasiswa lainnya yang peduli pendidikan anak-anak untuk bergabung, dan mereka antusias. Kami bermimpi, kami belajar, kami mengajar, kami mengevaluasi. Semuanya sudah seperti keluarga waktu itu. Semuanya bersemangat. Bahkan ada seorang guru yang pindah ke kota lain untuk meneruskan kuliah, dan membuka sekolah bermain yang baru di kota tempat tinggalnya. Namanya Sekolah Bermain Matahari. Dia pun mengajak rekan-rekan mahasiswa lainnya untuk bergabung.

Selain mengajar anak-anak, kami juga mengadakan kajian bulanan untuk orang tua murid. Materi yang diberikan seputar parenting, seperti psikologi anak, kebutuhan gizi, dan lain-lain. Kami mengundang narasumber-narasumber yang kompeten, sesuai dengan materi yang disampaikan. Sambutan dari orang tua murid? Cukup antusias.

Dari sekolah ini, saya banyak belajar. Kami banyak belajar. Kami belajar pendidikan. Kami banyak berinteraksi dengan masyarakat. Kami juga termotivasi untuk mempersiapkan diri menjadi orang tua yang baik bagi generasi selanjutnya. Terutama bagi saya, saya berhasil keluar dari diri saya yang lama, menjadi diri saya yang sekarang ini lebih optimis dan berani mengambil risiko.

Sampai saat ini, sekolah tersebut masih berjalan, dengan diteruskan dari generasi ke generasi adik kelas. Sekarang pengajar di sana sudah menginjak generasi ke-6, dan sekolah tersebut sudah berjalan kurang lebih 5 tahun.

*Dibuat untuk memenuhi syarat beasiswa LPDP. Apa daya berkasnya kurang, jadi gak bisa di-submit -___-”

0

Essay: Kontribusi


Perkenalkan nama saya Mega. Saya merupakan anak yang lahir di keluarga biasa, namun memiliki cita-cita yang tak ingin hanya jadi biasa-biasa saja. Saya tinggal dan besar di ibu kota, dengan segala macam kehidupan keras dan dinamisnya.

Saya menjalani pendidikan sarjana di Institut Teknologi Bandung, dimana saya mengambil jurusan Teknik Informatika. Selain berkuliah, saya aktif di Kabinet Keluarga Mahasiswa (BEM) ITB, di bagian Kementerian Komunikasi dan Informasi, dan beberapa kepanitiaan kampus lainnya. Di sanalah saya banyak belajar tentang organisasi, berinteraksi dengan orang lain, keadaan bangsa Indonesia, dan mulai membangun cita-cita saya.

Saya memiliki cita-cita Indonesia madani, yang pemimpinnya merakyat, dan rakyatnya punya jiwa kepemimpinan (punya inisiatif untuk bersama-sama membangun Indonesia). Saya berharap Indonesia bisa jadi negara yang kuat dan berdiri di atas kaki sendiri. Lalu dimanakah saya ingin mengambil peran? Saya tertarik pada pendidikan, propaganda, dan pembinaan komunitas. Saya ingin menjadi seorang social engineer, yang bisa menggerakkan masyarakat untuk berubah menjadi lebih baik.

Dahulu semasa beberapa tahun di akhir-akhir masa kuliah, saya dan beberapa teman berinisiatif untuk membuat sebuah PAUD, kami beri nama Sekolah Bermain Balon Hijau (biasa disingkat SBBH). Di sana kami mengumpulkan mahasiswa-mahasiswa yang peduli pendidikan untuk mengajar anak-anak usia dini. Kami banyak meriset kurikulum yang akan diberikan melalui internet dan kunjungan ke PAUD sekitarnya. Kami ingin memberikan pendidikan terbaik sesuai usia mereka, karena banyak anak-anak usia dini sekarang yang tidak diberikan pendidikan sesuai dengan umurnya, baik oleh orang tua mau pun guru di PAUD. Lalu kami menyadari sesuatu: kami hanya bisa bertemu dengan anak-anak itu kira-kira 3 jam dalam seminggu, mereka menghabiskan waktu lebih banyak dengan orang tua mereka, terutama Ibu. Oleh karena itu kami juga membuat pelatihan dengan berbagai materi parenting yang bermanfaat bagi pada ibu-ibu murid.

Kegiatan tersebut saya lakukan selama kurang lebih 2 tahun. Ketika saya harus mulai bekerja, saya terpaksa meninggalkan SBBH dan mewariskannya pada adik-adik kelas. Saya saat ini bekerja di sebuah media, lebih tepatnya sebuah channel PayTV: MNC Muslim. Saya bertugas mengatur jadwal tayangan program di MNC Muslim tersebut. Masih dengan niat untuk menggerakkan masyarakat menjadi lebih baik, saya dengan sebaik mungkin berusaha menyajikan tayangan-tayangan yang berkualitas dan inspiratif untuk penonton.

Namun sayangnya, selama saya bekerja, saya merasa kurang terjun langsung ke masyarakat seperti ketika saya masih berkuliah. Ketika saya kuliah nanti, saya ingin berhenti bekerja dan kembali memaksimalkan interaksi dengan masyarakat. Saya ingin menjadi social engineer, maka dari itu saya mengambil jurusan Psikologi Intervensi Sosial. Saya ingin sekali mendapatkan ilmu yang diperlukan agar bisa menggerakkan masyarakat.

Setelah lulus kuliah, cita-cita jangka panjang saya adalah tentang pendidikan. Saya ingin membangun sebuah sekolah terintegrasi, dimana yang dididik bukan hanya murid, tetapi juga orang tua murid dan lingkungan di sekitar sekolah. Kemudian tujuan yang lebih utama lagi, saya ingin mengembalikan peran orang tua, terutama Ibu dalam pendidikan anak yang utama.

Selain itu, saya memiliki cita-cita untuk membuat sebuah production house yang bisa menyajikan tayangan-tayangan bermutu untuk penonton di seluruh Indonesia, yang tidak hanya bisa menghibur tapi juga bisa menginspirasi.
Untuk mewujudkan hal tersebut, langkah yang saya ambil adalah:
1. Belajar tentang intervensi sosial
2. Berinteraksi dengan masyarakat
3. Membangun jaringan

*Dibuat untuk memenuhi syarat beasiswa LPDP. Apa daya berkasnya kurang, jadi gak bisa di-submit -___-”

0

Bandel


Suatu obrolan sebelum tidur dengan Mama.

Mama: “Za, kalo ada anak SBBH (Sekolah Bermain Balon Hijau -red) yang nakal, diapain?

Mega: “Iza ajak bandel lagi aja! Hehe..”

Mama: “Kok gitu?”

Mega: “Biarin.. Yang penting bandelnya bandel belajar dan nyari tau hal baru, bukan bandel marah atau pengen membangkang..”

*dan seketika saya merasa sangat (sok) wise, halah..*

2

Sekelumit Cerita Sekolah Bermain Balon Hijau (1)


Waktu: Sabtu 12 Mei, hari yang telah direncanakan untuk pengajian ibu-ibu (orang tua murid) SBBH.

Lokasi: Masjid Istiqlal Tubagus Ismail, lantai dasar.

Saya datang pas acara sedang dibuka oleh Bu Guru Yangie. Bu Guru yang lain belum datang. Acara dimulai dengan membaca tilawah surat Al-Baqarah ayat 26-50. Saya ikut-ikutan ngaji di samping Bu Guru Yangie, dengan tempo ngaji dan intonasi yang berbeda-beda dari para ibu. Walaupun begitu, saya senang, ibu-ibunya semangat banget ngajinya. Di tengah halaman ketiga, satu dua anak yang ikut serta bersama sang bunda mulai keluar dari ruangan. Dan inilah tanda bagi saya: Yak, Baby Day Care dimulai!

**FYI, di pengajian ibu-ibu sebelumnya, Baby Day Care ini adalah kegiatan yang sangat menguras energi dan suara. Sementara ibu-ibu mendengar materi, anak-anaknya berlarian di luar masjid, ada yang main perosotan di samping tangga batu, ada yang ngubek-ngubek kolam ikan, ada yang naik-naik ke lantai dua, ada yang naik-naik ke tangga vertikal di menara, ada yang manjat pohon kelapa, dan ada yang manjat bedug (walaupun gak begitu tinggi, bener deh, saya takut penyangga bedugnya roboh, trus bedugnya jatuh nimpa mereka)**

Baiklah, saya letakkan Al-Qur’an saya dan mulai mengejar mereka keluar. Ternyata mereka “hanya” berlarian. Oke, aman. Kemudian saya ajak mereka masuk untuk baca buku cerita. Mereka semangat banget kalo udah liat hal baru. Apalagi gambar-gambar di buku cerita. Setiap pergantian detik, pasti ada yang bertanya, “Bu Guru, ini apa?”, “Bu Guru, ini sapi!”, “Bu Guru, ada rumah!”

Beberapa saat kemudian, Alhamdulillah, Bu Guru Susan dateng!! Maka konsentrasi pertanyaan terbagi dua. Kemudian Bu Yangie nyuruh untuk bagi-bagi kue di piring kecil dan dikasih ke ibu-ibunya. Saya rasa ini adalah kesempatan yang bagus untuk melibatkan anak-anak, supaya mereka juga latihan bekerja sama (selain supaya mereka teralihkan dari piikiran untuk manjat-manjat tentunya).

Saya: “Siapa mau bantu Bu Guru bagi kue?”

Anak-anak: “Akuuu!!” << mesti gak ngerti disuruh ngapain, pasti mereka jawab dengan semangat menggebu-gebu “Akuuu!!”

Saya: membagikan piring kertas ke beberapa anak, “piringnya dijejerin di lantai ya, nanti kita isi kue”

Helmi (yang belum kebagian piring): “Helmi juga mau” dengan suara agak merajuk

Saya: “Jaziya, piringnya minta dikit ya..”

Jaziya: “Gak mauuuu” suaranya juga merajuk

Iksal: “Aku piringnya ada tiga”

Adit: “Ibu Guru, aku juga mau tiga piringnyaaa”

Helmi: “Ibu Guru, mau piring”, suaranya tambah memelas

Saya: “Nih, Helmi bagiin kuenya aja ya?”

Helmi: “Gak mauu, mau piriiing” tapi sebungkus kue yang saya sodorkan diambil juga olehnya

Saya: Ngasih kue yang paling terlihat cantik ke Jaziya. “Jaziya, bagiin kuenya ya.. Piringnya ditata dulu di lantai”, ketika dia lengah, saya ambil beberapa piringnya dan saya kasih ke Helmi. Yes, berhasil!

Bu Susan: Membantu menata beberapa piring di lantai

—kehebohan masih berlanjut tentang siapa yang megang piring, siapa yang piringnya tiga, siapa yang belum dapat piring—

Saya: “Nih, kuenya ditaro di piring, kayak gini, satu piring ada tiga jenis kue yaa” sambil naro kue yang dari mie di beberapa piring yang udah ada di lantai

Jaziya: Meletakkan piring-piringnya di lantai, sambil menata kue di piring. Ketika dia sedang menata kue, saya ambil satu per satu piring dan memberikannya ke Adit.

Adit: “Yee, piringnya tiga!” Yes, berhasil!

Helmi: “Piring aku lima!” << saya mulai was-was kalo-kalo Adit minta nambah piring lagi, ternyata nggak

—beberapa saat kemudian mereka asik menata kue-kue di piring di lantai—

Saya: “sekarang siapa yang mau bantu ngasih kuenya ke mama-mama?”

Anak-anak: krik krik krik, gak ada yang jawab, pada asik nyusun kue.

Saya: “Dit, ini kuenya kaih ke mama Adit coba..” Adit dan Aksal mengambil beberapa piring dan mulai membagikannya ke ibu mereka. Mereka lari-lari bawa piring kue itu.

Saya: “Pelan-pelan ya bawanya!”

Mereka berdua: jalan pelan-pelan, terus membagikan kue ke ibu mereka. Nampaknya mereka ketagihan. Mereka balik lagi dan ngambil kue lagi.

Saya: “Jangan yang itu, itu masih belum tiga isinya. Nih, yang kayak gini, udah ada tiga isinya.” Ngasih piring kue yang memenuhi spek. “Kasih ke mama-mama yang lain yaa” << saya takut mereka ngasih ke mama mereka lagi, hehe. Tapi mereka pintar kok 😀

—Beberapa anak ikut membagikan kue. Satu kue sukses ngegelinding, gapapa cuma satu, haha—

Saya: mengambil beberapa piring berisi kue di hadapan Syifa.

Syifa: “itu kan punya akuu!”

Saya: “Lho, ini kan mau dibagiin, Syifa.. Emang Syifa mau makan semua?”

Syifa: masih cemberut, tapi mungkin dia mikir, “o, iya juga!”, soalnya mukanya berubah

Saya: “Nih, Syifa ambil satu aja”

Syifa: masih cemberut, tapi ngambil juga kuenya itu. Dia lalu ‘mengamankannya’

—Kemudian mereka membagikan air mineral—

Setelah acara bagi kue yang heboh itu, kami baca buku cerita (lebih tepatnya Bu Susan membacakan buku cerita, sementara anak-anak mendengarkan), rebutan buku cerita, main petak umpet (yang anehnya, mereka berebut jadi yang jaga. Kalo saya sih dulu berebut untuk gak jaga, hoho).

Yak, Baby Day Care kali ini tidak se-chaos yang pertama. Mereka sangat mau diajak bekerja sama 🙂

-Terkadang mereka hanya perlu contoh-

Oiya, materi pengajian ibu-ibunya bisa dilihat di http://yangiedwimp.wordpress.com/2012/05/12/versi-curcol/